Wednesday, May 13, 2009

From RHO-ers: "Kemenangan Mutlak dalam Pencobaan"

From: darwin wijaya
===================================

Kemarin saya sempat berdiskusi dengan teman-teman yang
saya anggap sudah makin melenceng dari hidup yang
benar tentang dosa dan penghakiman, dan ketika saya
tegur, dia menjawab “yang sekarang urusan sekarang,
yang nanti urusan nanti, dan saya tidak pernah tau apa
yang akan terjadi nanti. kalau memang benar ada
penghakiman nantinya, saya akan bertobat jika saya
sudah tua nanti”. Saya ingin mengkaitkan dengan
sedikit dari yang saya dapat dari khotbah hari ini di
gereja.

Sebuah renungan singkat.

Ada sebuah sekolah untuk anak-anak yang tuli dan bisu,
dan mereka pada umunya berumur 6-7 tahun. Sekolah itu
sekolah kristen, dan ada seorang evangelis yang datang
untuk mengajar disana. Sang penginjil melontarkan
begitu banyak pertanyaan, dan di akhir khotbah nya, ia
mempertanyakan 3 pertanyaan penting.

1. Siapakah yang menciptakan langit dan bumi juga
engkau? lalu ada satu anak mengacungkan tangannya. ia
pun menuliskan dipapan tulis “Tuhan Yesus Kristus”

2. Apakah Tuhan Yesus Kristus yang menciptakan langit
dan bumi juga engkau adalah Tuhan yang penuh kasih?
lalu ada anak yang lain mengacungkan tangannya. ia
menulis “iya, Tuhan yesus adalah Tuhan yang penuh
kasih”

Pertanyaan ke 3 adalah pertanyaan yang menggentarkan
murid tersebut. pertanyaan ke 3 adalah:

3. Lalu jika Tuhan Yesus kristus adalah Tuhan yang
penuh kasih, mengapa ia menciptakan kalian bisu dan
tuli?

Begitu pertanyaan itu dituliskan di papan tulis,
langsung airmata menetes dengan sendirinya. Semua
anak-anak itu tertunduk, tak ada satu pun anak yang
berani mengacungkan tangannya ke atas. Lalu dengan
tegar seorang anak berdiri dengan terisak-isak dan
mengacungkan tangannya. Lalu ia menuliskan satu
jawaban yang begitu mengagetkan evangelis itu.
Jawabannya adalah “Supaya nama ALLAH dipermuliakan”.

Begitu mendengar semua itu, saya tersentak. Mengapa
anak yang baru berumur 6-7 tahun bisa menjawab dengan
demikian. Saya langsung membayangkan bagaimana bila
saya yang berada di posisi anak itu, atau ketika
pertanyaan yang memiliki konsep yang sama
dipertanyakan kepada saya ketika saya mengalami
pencobaan. Mungkin saya akan memaki-maki Tuhan, atau
paling tidak saya hanya bisa terdiam. Saya tak bisa
mempertanggung jawabkan iman saya, tapi anak yang
berumur 6 tahun bisa mempertanggung jawabkan. Setan
akan selalu mencobai manusia. Ia akan selalu memakai
cara-cara yang hebat dan mungkin saja memakai orang
terdekat kita untuk mencobai kita. Supaya kita jatuh
dalam tipu msulihat yang setan berikan.

Apakah kita yang telah Tuhan beri lebih sempurna
dibanding anak tadi, dan ketika kita masuk dalam
pencobaan kita selalu menyalahkan Tuhan?

Apakah kita yang telah Tuhan tebus diatas kayu salib,
tidak mau memiliki iman sejati seperti anak yang bisu
dan tuli itu?

Jika kita bagian dari orang-orang tersebut, marilah
kita bersama-sama kembali ke jalan kebenaran. Tuhan
selalu memelihara kita. Coba tanyakan dalam diri kita
masing-masing, apakah kita lebih banyak berbuat dosa
yang menyakitkan Tuhan atau perbuatan yang berkenan di
hati Tuhan? Lalu bandingkanlah dengan berkat dan
karunia yang telah kita terima dengan hukuman-NYA!
Yang mana yang telah engkau terima lebih banyak,
berkat atau hukuman-NYA?

Marilah kita berserah total di dalam setiap pencobaan
kepada-NYA, supaya kita dapat memenangkan setiap
percobaan yang diberikan setan, seperti ketika Tuhan
Yesus kristus memenangkan pencobaan di padang gurun
tanpa kebutuhan yang terpenuhi, tanpa mujizat dan
tanpa kemuliaan yang diperlihatkan. Seperti itulah
kita percaya pada-NYA!

Semoga blog ini boleh menjadi berkat bagi semua yang
membacanya, AMIN

Tuesday, May 12, 2009

Kesaksian: ”Terima kasih TUHAN untuk pelajarannya..”

From: Nova Js
============================

Aku mengawali hari itu dengan keluhan-keluhan kecil....
Tugas-tugas yang menumpuk membuat aku sulit untuk memilih dari mana aku harus memulainya sedangkan waktu penyelesaiannya hampir bersamaan. Ditambah lagi kondisi fisik tubuhku rasanya tak mampu. Keadaan-keadaan inilah yang membebaniku pagi itu, yang membuatku mengabaikan saat teduh pribadiku bersama DIA. Hanya sebuah kalimat sederhana yang sempat terucap ”Thanks GOD for today..." sebelum aku menyiapkan diri dan bergegas ke tempat kerjaku.
Mobil yang kutumpangi melaju dengan cepat, membawa diriku dengan berbagai kekesalan di hati. Kupandangi tumpukan kertas yang berisi tugas-tugas yang harus kuselesaikan. ”...mengapa semalam aku harus sakit sehingga aku tak bisa mengerjakan tugas-tugas itu?..sedangkan di kantor seseorang telah siap menanti hasil penyelesaiannya..."

Tiba-tiba mobil berhenti...aku kaget...apa sebenarnya yang terjadi? Ternyata ada seorang yang terganggu jiwanya berdiri tepat di depan mobil. Sosok dengan penampilan yang acak-acakan serta senyum kecut di bibirnya, berlalu begitu saja tanpa menghiraukan gertakan dari sang sopir. Spontan air mataku menetes... ”TUHAN mengapa mereka harus seperti ini...? Bukankah mereka juga adalah ciptaanMU yang termulia??..aku tahu ENGKAU juga mengasihi mereka..” Selang beberapa menit, seorang penumpang harus turun jadi mobil pun berhenti. Mataku tertuju pada seorang nenek tua yang duduk di kursi roda.. ”TUHAN, mengapa ENGKAU memberikan umur yang panjang kalau akhirnya harus menderita seperti itu?..hati kecilku pun bertanya sekaligus berusaha menjawab..”pasti ada maksud TUHAN di balik semua itu..” Belum lepas pandanganku dari sosok nenek tua dengan kursi rodanya..sebuah mobil jenazah lewat..aku bergumam ”...ya, inilah hidup..TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN..” Kini mobil yang kutumpangi menyusuri jalan di antara hamparan kebun sayur yang tertata indah laksana ukiran-ukiran yang membentuk perbukitan yang hijau... Untuk kesekian kalinya aku terkagum...”sungguh, tiada yang seperti ENGKAU TUHAN, betapa indahnya alam ini..”.

Tanpa terasa perjalanan selama hampir satu jam telah membawaku ke tempat kerjaku. Belum juga kulangkahkan kakiku menyeberangi jalan di depan kantorku, mataku terpaku pada seorang pedagang kaki lima dengan jualannya yang tampak tak ringan...juga seorang kakek tua dengan bendi tuanya sibuk mencari penumpang.. Hatiku tersentak.. ”..ya..inilah hidup yang harus diperjuangkan..” Pikiran dan perasaanku berkecamuk, berusaha untuk mengerti maksud TUHAN di balik semua peristiwa yang kusaksikan.. Aku tak kuasa membendung air mataku,,yang sejak tadi terus menggenangi mataku..”TUHAN yang akan memberikan pengertian kepadaku..” Aku melangkahkan kakiku ke arah pintu kantor...Apa yang terjadi? Ooh..aku baru ingat seorang temanku berhari ulang tahun.. Suasana ceria meliputi ruangan kantorku..Kami berjabatan tangan, bercanda tawa sambil menikmati makanan ringan yang telah disiapkan..aku pun bergumam..”..hidup itu anugerah dan kita harus mensyukurinya..” Setelah semuanya selesai, seperti tanpa beban aku mulai mengerjakan tugas yang harus diselesaikan hari itu.. Lembar demi lembar kertas berpindah tempat setelah aku meyelesaikan perhitungan-perhitungan di dalamnya.. Kuraih sebuah lembaran kertas..aku kaget..”benarkah ini lembaran terakhir?.. seakan tak percaya aku kembali memeriksa kembali tumpukan kertas yang telah berpindah tempat.. Oh ”Thanks GOD” ini benar-benar lembar yang terakhir.. Tanpa menunggu lama aku pun langsung menyelesaikan semuanya.. ”Sudah selesai?..” seseorang mengagetkanku.. ”Iya Pak...ini hasilnya..” jawabku sambil menyerahkan tumpukan kertas yang telah kususun rapi.. ”Terima kasih”..ujarnya kembali..

Peritiwa sepanjang hari itu kembali terbayang di benakku.. Kekesalanku di pagi hari...kejadian-kejadian yang kusaksikan saat berada dalam perjalanan sampai suasana sukacita di kantorku yang membuatku lupa akan bebanku di pagi hari.. Aku tersenyum.. ’Thanks GOD, ENGKAU mengajarkan banyak hal untukku hari ini..terima kasih karena ENGKAU mengganti kekesalanku dengan sukacita yang kuperoleh dari apa yang kusaksikan...tak seharusnya aku terpaku pada besarnya masalah yang sepertinya harus kuselesaikan..tak seharusnya aku mengabaikan saat teduhku karena sepertinya dikejar aktivitas..ampuni aku TUHAN..tak seharusnya aku tidak bersyukur..aku harus belajar untuk menghargai hidup sebelum terlambat..aku harus belajar menjalani hidup dengan sukacita..aku harus berjuang tanpa keluhan-keluhan yang justru menghalangi perjuanganku..aku harus terus belajar melihat karya ALLAH dalam semua hal yang kualami dan kusaksikan.. ”Terima kasih TUHAN..”.. Inilah kalimat-kalimat yang terus menghiasi hatiku hingga akhirnya jam kantor selesai.. Aku pulang dengan sukacita..”terima kasih TUHAN, betapa luar biasanya ENGKAU...sungguh semuanya baik ketika itu kujalani bersamaMU dan tanpaMU aku tak kan bisa berbuat apa-apa karena aku bukan siapa-siapa. Biarlah apa yang kudapatkan hari itu bisa dirasakan oleh saudara-saudaraku, sahabat-sahabatku dan sesamaku.. ”Terima kasih Tuhan...”

Monday, May 11, 2009

Kesaksian: Harga Kejujuran di Mata Tuhan

From: lomak tiodinar
==========================================

Kejadian ini sekitar 13 tahun yang lalu, tapi saya rasa masih up to date untuk diceritakan sekarang.

Sejak menjadi mahasiswa semester awal saya telah berkomitmen untuk selalu berlaku jujur. Empat tahun masa kuliah dapat saya lewati tanpa menitip absensi untuk satu haripun. Apalagi menyontek, memberikan contekan dlsb kepada teman. ”JUJUR”, kata itu yang selalu saya junjung tinggi. Saya ingin selalu menyenangkan Tuhan dalam perkuliahan saya.

Hingga satu saat, waktu menyusun skripsi saya terpentok pada dosen pembimbing 2. Dia dengan tenang mengatakan, ” Saudara mau lewat jalan mana? Jalan tikus atau jalan tol ? Kalau lewat jalan tikus, ya agak lama karena banyak lobang, macet dan berbau, ”katanya. ”Kalau lewat jalan tol ya mulus, tapi tau kan konsekwensinya,” lanjutnya lagi.

Saat dosen pembimbing 2 menyampaikan hal itu, saya belum sepenuhnya mengerti apa yang dimaksudkan. Tapi lama kelamaan setelah saya renungkan arti perkataan dosen itu, saya pun mengerti bahwa saya diharuskan membayar uang pelicin agar skripsi saya dapat di-acc. Terus terang, hati saya sangat marah. Tapi saya tidak berani melawan. Zaman saya dulu, mahasiswa belum seberani saat ini yang langsung berani menyuarakan suara hatinya.

Dalam kebingungan, mudah saja bagi saya untuk mengikuti keinginan sang dosen. Apalagi saat itu keluarga kami tidak memiliki kesulitan finansial. Saya mencoba berdoa, tapi saya tidak bisa berkonsentrasi. Saya bingung, terlebih ketika sang dosen menyuruh saya datang ke rumahnya pada hari Kamis sore. Tapi hari itu hujan, jadi saya punya alasan untuk tidak datang.

Jumat siang, untuk menenangkan diri saya menonton midnite di Bioskop. Tapi film yang diputar tetap tidak menenangkan saya. Keluar dari bioskop, saya melihat orang-orang memakai sarung dan peci keluar dari sebuah mesjid habis sembayang jumat. Lalu saya mendengar bisikan Tuhan. ”Sekarang waktunya kamu datang ke rumah dosenMu, mumpung dia baru menjalankan ibadah agamanya.”

Saya yakin dan percaya itu suara Tuhan. Cepat-cepat saya pulang ke tempat kost, berdoa. Kemudian saya ingat satu ayat firman Tuhan, yang bunyinya kira-kira seperti ini ”Hati raja seperti batang air di hadapan Tuhan, dialirkanNya kemanapun Tuhan ingini.” Amin.

Saya langsung mohon ampun kepada Tuhan, karena saya terlalu panik dan tidak berserah pada pimpinan Tuhan. Lalu saya berangkat ke rumah dosen tersebut dengan satu semangat baru dan percaya pada pimpinan Tuhan.

Sampai di rumahnya, dosen tersebut langsung menyambut saya dengan senyum lebar. Mungkin karena mengira saya datang dengan membawa sesuatu. Saya disambut ramah sekali. ”Skripsinya sudah langsung saya tanda tangan,” katanya . Lalu saya langsung berdiri, mengambil skripsi tersebut dari tangannya dan menjabat tangannya. Saya ucapkan, ” terima kasih pak.” Tanpa banyak basa-basi saya langsung pulang. Dosen tersebut bengong, mungkin karena saya tidak memberinya apapun.

Waktu sidang skripsi, beliau habis-habisan memojokkan saya, mungkin karena kesal dengan tingkah laku saya. Padahal dosen pembimbing dan penguji lainnya menyatakan saya layak lulus dengan nilai A, tapi dia menolak untuk memberi saya nilai. Akhirnya setelah reses beberapa saat, saya dinyatakan lulus dengan nilai B.

Tapi tak mengapa, sekalipun hanya nilai B yang ditangan, tapi saya bangga karena saya melakukan tugas saya dengan baik dan Tuhan beserta saya.

Setelah selesai sidang dan menjelang wisuda, saya mendatangi rumah dosen tersebut dengan membawa sepasang batik untuk dosen saya tersebut. Saya ingin menunjukkan bahwa saya menolak untuk memberikan uang pelicin, tapi saya tahu bagaimana caranya berterima kasih.

Sunday, May 10, 2009

Introspeksi dan Evaluasi

Ayat bacaan: Efesus 5:15
===================
"Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif"

evaluasi, introspeksi, berdoa, memperhatikan cara hidupBeberapa hari yang lalu saya mengikuti rapat sebuah komunitas jazz di kota saya. Rapat itu mengenai evaluasi bagaimana perjalanan dan penampilan mereka di sebuah event jazz besar di negeri ini. Apa yang sudah dicapai, apa yang dirasa masih kurang, dan apa harapan ke depan. Itu intinya. Betapa pentingnya sebuah proses evaluasi dalam sebuah lembaga, apakah itu komunitas, perusahaan atau organisasi. Langkah-langkah perbaikan bisa disusun agar bisa lebih baik lagi ke depannya, dan strong point atau kekuatan yang sudah ada selama ini bisa dipertahankan bahkan ditingkatkan. Evaluasi seperti ini juga sangatlah baik dilakukan oleh kita masing-masing. Adalah sangat baik jika kita rajin mengevaluasi apa yang sudah kita capai dalam hidup kita, mengetahui apa yang masih menjadi titik lemah kita, agar kita bisa memperbaikinya. Sebuah introspeksi, itu biasanya sebutan buat kita yang menganalisa atau mengevaluasi pencapaian kita selama ini.

Introspeksi menjadi bagian hidup saya selama beberapa tahun belakangan ini. Terutama setelah saya menikah, terlebih setelah situs musik saya menanjak naik dan aktif dalam pelayanan, baik di Gereja maupun di renungan harian yang setiap hari saya tulis. Saya merasa penting untuk terus introspeksi, mengevaluasi seperti apa saya saat ini sebagai seorang suami, seorang pengajar dan pemilik sebuah situs yang mengalami peningkatan signifikan selama bulan-bulan terakhir ini. Saya ingin menjadi suami yang terbaik bagi istri saya, menjadi kepala rumah tangga yang bertanggungjawab dan bisa memimpin dengan cinta. Saya ingin menjadi pengajar yang baik, peka terhadap siswa, menjadi seorang teman yang mengenal mereka dengan baik. Saya ingin mengelola situs dengan baik dan serius, karena segala kesuksesan disana adalah titipan Tuhan yang harus saya kerjakan dengan semaksimal mungkin dengan talenta-talenta yang telah Dia berikan. Saya ingin melayani lebih baik lagi, bisa memberkati lebih lagi lewat pelayanan saya. Do my best in every aspects of life, itu intinya, dimana segala sesuatu yang saya perbuat, mudah-mudahan bisa terus memuliakan Tuhan di atasnya. Saya sadar betul bahwa saya masih jauh dari sempurna. Ada banyak kelemahan yang masih harus diperbaiki. Semua itu tidaklah mungkin jika saya terlalu santai dan tidak pernah introspeksi, mengevaluasi diri, melihat apa yang sudah saya capai, dimana kelemahan saya dan berusaha menjadi lebih baik lagi dari hari ke hari. Kesuksesan bisa membuat orang jatuh pada dosa kesombongan, ketamakan, lupa diri dan sebagainya. Sebaliknya kegagalan bisa membuat patah semangat bahkan kepahitan. Lengah sedikit, kita bisa terpeleset. Maka itu bagi saya adalah sangat penting untuk terus melakukan introspeksi dan evaluasi.

Untuk jemaat Efesus, Paulus berpesan agar mereka tetap memperhatikan bagaimana hidup mereka. "Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif". (Efesus 5:15). Ini adalah sebuah pesan penting agar tidak lupa diri, jangan menyia-nyiakan waktu dan agar bisa tetap bijaksana. Paulus melanjutkan pula, "dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat." (ay 16). Jika hari-hari waktu itu adalah jahat, sekarang pun tidak ada bedanya. Mungkin malah lebih parah. Dosa mengintip dari segala aspek kehidupan kita. Hiburan, lingkungan rumah/pekerjaan/pendidikan, di mana-mana kita bisa setiap saat tersandung dalam dosa. Paulus menggambarkan celah masuknya dosa-dosa ini lewat tiga hal yang saling berhubungan, yaitu dunia, kedagingan dan iblis. (Efesus 2:1-3). Keterkaitan ketiga aspek ini bagaikan pusaran air yang bisa menyeret kita untuk masuk ke dalamnya jika tidak hati-hati. Yesus pun mengajarkan agar kita senantiasa berjaga-jaga dan berdoa untuk mencegah masuknya pencobaan lewat kelemahan daging kita. "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah."(Matius 26:41).

Semua pencapaian kita bisa sia-sia seketika jika kita akhirnya jatuh ke dalam dosa kedagingan. Sangat ironis ketika kita telah mulai dengan Roh, namun berakhir dalam daging dan kehilangan janji-janji Tuhan. Itulah yang juga disinggung oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat Galatia. "Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging? Sia-siakah semua yang telah kamu alami sebanyak itu? Masakan sia-sia!" (Galatia 3:3-4). Sering mengevaluasi diri dan melakukan introspeksi akan membuat kita lebih awas dan waspada dalam berbagai kejatuhan itu, karena ada kalanya kita terpeleset tanpa sadar. Disamping itu, tekunlah berdoa dengan kerinduan akan Tuhan. Biarkan Roh Tuhan bekerja dan memimpin langkah-langkah kita, sehingga kita bisa terhindar dari jebakan yang mengarah kepada maut. Marilah kita senantiasa menjaga keberadaan diri kita agar tetap hidup bijaksana, bertumbuh lebih baik dari waktu ke waktu, dan tetap memuliakan Tuhan dalam setiap langkah hidup kita.


Tetaplah bertumbuh dan memperbaiki diri hingga kedatangan Yesus kedua kalinya

Saturday, May 9, 2009

Melangkah Dengan Iman

Ayat bacaan: Matius 14:31
======================
"Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"

melangkah dengan iman, berjalan di atas airSering berdoa ternyata tidak selalu menghasilkan pertumbuhan iman. Ada banyak orang yang melakukan doa hanya sebatas seremonial atau rutinitas semata. Mereka berdoa bukan karena kerinduan untuk bersekutu dengan Tuhan, mendengar kata-kata Tuhan, bersatu dalam hadiratNya, namun karena itu sudah menjadi sebuah kebiasaan tanpa makna. Ketika masalah menerpa mereka, mereka tetap tidak yakin bahwa Tuhan mampu melepaskan mereka. "ah, masa sih saya bisa mengalami mukjizat.. siapa saya, nggak bakalan deh.." kata-kata itu pernah saya dengar dari seorang teman yang dilahirkan dalam keluarga Kristen dan masih Kristen hingga kini. Sering berdoa, namun ketika sesuatu terjadi malah ragu dan tidak percaya. Ada seorang teman yang pernah mendapat penglihatan. Ia menceritakannya pada teman-teman gerejanya, namun ia malah ditertawakan. Hari ini ia menjadi orang yang dipakai Tuhan secara luar biasa di kotanya. Ia bekerja penuh untuk Tuhan bersama istrinya dan berkata betapa hidupnya dipelihara Tuhan dengan amat sangat baik. Berdoa itu baik, namun jika tidak disertai dengan iman, malah dipenuhi kebimbangan atau ketidakpercayaan akan kuasa Tuhan akan membawa kita kepada kesia-siaan, bahkan kejatuhan.

Hari ini saya hendak mengangkat kisah dari Injil Matius 14:22-32. Pada sebuah subuh Yesus menghampiri murid-muridnya yang sudah berada di tengah laut dengan berjalan di atas air. (ay 25). Terkejutlah murid-muridNya melihat Yesus berdiri dan berjalan di atas air. Reaksi mereka bukannya kagum melihat kuasa Yesus, namun malah terkejut dan berteriak-teriak ketakutan, mengira yang datang itu hantu. (ay 26). Meskipun mereka sudah mengikuti Yesus dan melihat mukjizat-mukjizat dengan mata mereka sendiri, namun ternyata iman yang masih lemah membuat murid-murid Yesus masih gampang diombang-ambingkan ketakutan. Reaksi pertama mereka yang malah takut dan menyangka yang datang itu hantu menunjukkan betapa lemahnya keyakinan mereka. Yesus pun menjawab: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" (ay 27). Mendengar itu, mereka masih juga belum percaya. Maka Petrus berkata: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." (ay 28). Yesus pun menyuruhnya datang. Petrus turun dari perahu dan mulai melangkah, berjalan di atas air menuju Yesus. (ay 29). Setelah beberapa saat berjalan di atas air, rupanya angin kencang yang menerpa Petrus mulai membuatnya takut. Dan ketika ia mulai takut, Petrus pun mulai tenggelam. Maka berteriaklah Petrus minta tolong kepada Yesus. (ay 30). Yesus kemudian menolong dan menegur Petrus. "Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" (ay 31).

Kebimbangan seringkali menghampiri kita, dan itu seringkali menghambat pekerjaan Tuhan berlaku atas kita. Yesus mengajarkan, ketika kita meminta, memintalah dengan iman. Maka dari itu, kita perlu melangkah dengan iman. Percayalah akan kuasa Tuhan yang memungkinkan sesuatu yang mustahil sekalipun untuk terjadi. "Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu." (Markus 11:24). Memang ketika logika kita bekerja, sulit rasanya percaya bahwa sesuatu yang diluar logika bisa terjadi, karena itu kita haruslah percaya dengan iman. Penulis Ibrani mengatakan bahwa "iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1). Hal-hal luar biasa bisa terjadi ketika kita mengimani apa yang kita doakan. Kebimbangan hanyalah akan menghambat sesuatu yang besar berlaku atas diri kita. Demikian kata Yesus: "Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu percaya dan tidak bimbang, kamu bukan saja akan dapat berbuat apa yang Kuperbuat dengan pohon ara itu, tetapi juga jikalau kamu berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! hal itu akan terjadi." (Matius 21:21). Apa yang dikatakan Yesus pada Petrus dan murid-murid lainnya pada kisah berjalan di atas air setelah Petrus jatuh ("Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?") mengambarkan diri kita yang seringkali diliputi keraguan ketika menghadapi masalah. Mungkin pada awalnya kita percaya, namun ketika angin mulai bertiup kencang, kita bisa menjadi bimbang, ragu, khawatir, cemas atau takut, dan akibatnya kita bisa tenggelam. Hal ini juga dijelaskan oleh Yakobus. "Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin." (Yakobus 1:6). Dan ia melanjutkan: "Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan." (ay 7).

Abraham, Bapa orang beriman mengalami berbagai situasi yang jauh dari jangkauan logika manusia. Namun ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, melainkan malah diperkuat dalam imannya dan tetap memuliakan Allah. (Roma 4:20). Demikian pula kita harus selalu melatih diri kita agar memiliki iman yang teguh dan kokoh untuk menerima janji-janji Tuhan. Yakinkan diri anda bahwa tidak ada satu pun yang mustahil bagi Tuhan. Dia sanggup, bahkan lebih dari sanggup melakukan segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi diri kita. Berserulah kepada Tuhan dalam setiap permasalahan anda, teruslah tekun berdoa dalam nama Yesus, jangan lupa mengucap syukur, dan lakukan semuanya dengan iman yang baik. Berdoalah karena kerinduan yang dalam akan Tuhan, bukan karena sebatas seremonial atau rutinitas belaka. Dan percayalah! Seperti gunung yang dapat dilemparkan ke laut dengan iman yang kecil sekalipun, demikian pula dengan masalah-masalah kita. Agar tidak tercebur dan tenggelam, melangkahlah selalu dengan iman.

Percayalah maka engkau akan menerima