Showing posts with label kesaksian. Show all posts
Showing posts with label kesaksian. Show all posts

Wednesday, June 30, 2010

Terperangkap Lima Jam Dalam Perut Tanpa Air Ketuban

Ayat bacaan: Markus 9:23b
=====================
"Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!"

keajaiban Tuhan, kesaksianKemarin saya kaget ketika istri saya menelepon saat saya sedang berada di luar. Ternyata ia mengabarkan bahwa saat untuk melahirkan bagi anjing chihuahua betina kami sudah tiba. Bagi kami yang belum punya pengalaman, tentu ada perasaan khawatir dan bingung. Maka saya pun segera bergegas pulang agar istri saya tidak sendirian menghadapinya. Satu jam lebih berjuang, anak pertama pun lahir. Disusul sejam berikutnya anak kedua, yang bermasalah dengan pernafasan. Saya pun segera memberikan nafas bantuan langsung ke mulutnya, dan menyedot cairan yang masuk ke dalam hidungnya sesegera mungkin. Ia pun selamat. Masih ada satu lagi, menurut hasil rontgen, tetapi anak berikutnya itu tidak kunjung keluar. Semalaman kami tidak tidur dan terus menunggu, tapi Jazzel, anjing betina kami tidak juga menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan lagi. Agaknya ia kecapaian setelah melahirkan dua anak, dan ia pun terkulai lemas. Tidak ada satupun dokter hewan yang bersedia datang, dan tidak ada satupun klinik hewan yang buka pada tengah malam seperti itu. Kami pun berdoa dan terus berdoa, menyerahkan semuanya ke dalam tangan Tuhan.

Setelah memutuskan untuk tidur satu jam, sekitar jam 7 pagi istri saya melihat bahwa di dalam kotak kardus tempatnya bersalin ada genangan air yang berwarna kehijauan. Itu tandanya air ketuban sudah pecah. Namun Jazzel tidak juga melakukan apa-apa. Praktek dokter hewan paling cepat buka pukul 9, dan kamipun harus menanti sampai waktunya. Secara normal, anjing yang masih tinggal di dalam perut tanpa air ketuban hanya akan mampu bertahan sekitar 15 menit, paling lama setengah jam. Lebih dari itu? Secara medis anjing akan mati. Jazzel mendapat giliran ditangani kurang lebih pukul sepuluh lebih. Artinya, anak anjing di dalam perutnya sudah tanpa air ketuban kurang lebih empat jam. Dokter pun sudah berkata bahwa anak dalam perutnya tidak ada harapan lagi. Setelah disuntik perangsang untuk kontraksi, dokter pun segera membantu untuk menarik anaknya keluar dari dalam perut. Kami terus berdoa sambil menenangkan Jazzel. Ternyata mukjizat ajaib Tuhan terjadi! Anaknya masih hidup, meski ia sudah tanpa air ketuban selama empat setengah hingga lima jam! Tidak saja masih hidup, malah masih sangat sehat. Dokter pun tercengang, kaget, bahkan sempat berkata, "it's a miracle!" Dan keajaiban berikutnya, ternyata ada "bonus" dengan kelahiran anak keempat yang juga sehat. Tuhan itu baik, kuasaNya tak terbatas, dan puji Tuhan, kami kembali menyaksikan sebuah keajaiban Tuhan sebagai sebuah kesaksian yang hari ini saya bagikan kepada teman-teman pembaca RHO.

Berbagai kondisi kesehatan, gejala penyakit dan lamanya orang bisa bertahan terhadap sakit yang dideritanya memang bisa diprediksi oleh para ahli secara medis. Kondisi-kondisi dalam melahirkan, ketahanan janin dalam kandungan setelah air ketuban pecah, itupun bisa diperkirakan secara ilmiah. Tetapi kita tidak boleh lupa, bahwa secanggih apapun manusia meneliti, Tuhan berkuasa lebih dari itu semua. Mukjizat Tuhan sudah, masih dan akan terus terjadi sebagai hadiah yang indah bagi anak-anakNya yang percaya dan berpegang kepadaNya. Yesus sudah menyatakan hal itu dengan jelas. "Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!" (Markus 9:23b). Mengapa bisa demikian? "Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil." (Lukas 1:37). Apa yang kita perlukan adalah iman, walau sekecil biji sesawi sekalipun. Sesungguhnya kekurang percayaan dan lemahnya iman kitalah yang sering menjadi penghambat kita mengalami mukjizat-mukjizat Tuhan dalam hidup kita. Untuk hal ini Yesus juga sudah menegaskannya. "Ia berkata kepada mereka: "Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, --maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu." (Matius 17:20).

Berdoa disertai rasa percaya penuh pada Tuhan, itu juga merupakan kunci dari turunnya berkat-berkat Tuhan, termasuk mukjizatNya yang ajaib. Ingatlah bahwa Tuhan Yesus sudah berkata "Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu." (Markus 11:24). Ada kuasa di dalam doa, dan agar itu tidak terhambat, kita harus terus berusaha sebaik-baiknya untuk hidup sebagai orang benar. Sebab firman Tuhan berkata: "Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya." (Yakobus 5:16b). Jangan lupa pula, bahwa apa yang kita minta dalam doa haruslah sesuatu yang benar-benar berguna, bukan untuk sekedar memuaskan hawa nafsu atau keinginan akan kemewahan saja. "Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu." (Yakobus 4:3). Ingat juga bahwa kita tidak boleh statis, hanya berada di "tepi" saja, tetapi kita harus terus berusaha lebih dalam lagi dalam berhubungan dengan Tuhan, lebih mengenalNya dan mengetahui firman-firmanNya. Kepada Simon Petrus yang pada suatu hari tidak mendapatkan ikan tangkapan sama sekali, Yesus berkata: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." (Lukas 5:4). Masuklah lebih dalam lagi, dan alamilah berbagai mukjizat Tuhan, sebab hanya di tempat dalam itulah berbagai keajaiban kuasa Tuhan terdapat.

Semua ini adalah kunci-kunci yang akan mampu membawa kita untuk mengalami banyak keajaiban Tuhan. Secara logika manusia, secara medis, secara teknis, manusia bisa memprediksi sesuatu, namun semua itu tidak berlaku ketika kita berbicara dalam konteks kuasa Tuhan yang tidak terbatas. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, dan semua itu disediakan Tuhan kepada orang-orang percaya yang selalu hidup benar. 5 jam dalam kandungan tanpa air ketuban, itu sama sekali mustahil secara medis, tetapi itu hanyalah satu dari milyaran keajaiban Tuhan yang siap Dia limpahkan kepada kita semua.

Tidak ada yang mustahil bagi orang percaya yang mengandalkan kuasa Tuhan yang tidak terbatas

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, May 5, 2010

Near Death Experience

Ayat bacaan: Filipi 1:22a
===================
"Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah."

hidup untuk memberi buahHari ini saya menulis dengan jempol kaki yang diperban. Sakit, tapi saya harus bersyukur karena itu adalah luka "minimal" dari kejadian seram yang saya alami tadi pagi. Ketika bangun, saya berdiri di pinggir terali di ruang tamu. Bentuk rumah saya memang agak bertingkat, dengan posisi ruang makan yang lebih rendah dari ruang tamu, berjarak 3 anak tangga. Dan di pinggir terali itu saya merenggangkan tubuh. Saya mungkin merenggangkan tubuh agak terlalu kebelakang, dan tiba-tiba dunia serasa berputar. Saya pun terjengkang ke belakang dengan kepala yang menghantam meja makan dari kaca terlebih dahulu. Saya mendengar bunyi pecahan kaca dan saya tahu, saya berada dalam masalah! Tubuh saya terus terbanting berdebam ke atas kaca dan kemudian berguling jatuh ke lantai. Entah bagaimana, puji Tuhan, mukjizat ternyata terjadi. Kaca meja makan ternyata tidak pecah. Jika pecah, mungkin kaca itu akan membelah kepala saya. Tidak ada lecet di tubuh saya sama sekali, hanya saja kuku jempol kaki saya ternyata terbelah dan berdarah. Rasanya tidak ada logika yang bisa menjelaskan bagaimana kaca tidak pecah ketika dihantam tubuh saya dari ketinggian yang cukup jauh. Saya bersyukur masih diberikan kesempatan hidup, meski saya masih gemetar mengingat peristiwa "near death experience" seperti itu. Tetapi malam ini saya merenungkan seandainya saya tadi pagi dipanggil pulang, apakah saya sudah siap untuk itu?

Seringkali kita terlena ketika hidup terasa baik-baik saja. Kita merasa bahwa kita masih punya kesempatan, jadi sekarang kita masih bisa bersenang-senang melakukan apapun termasuk hal-hal yang sebenarnya tidak berkenan di mata Tuhan. Bertobat nanti saja, toh waktu masih banyak. Ada banyak orang yang berpikir demikian. Menyia-nyiakan waktu seolah tahu kapan saatnya kita dipanggil pulang lalu harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan dan perkataan yang pernah kita keluarkan di masa hidup. Kejadian saya tadi pagi menyadarkan saya, dan semoga bisa menggugah teman-teman juga untuk lebih waspada dalam menyikapi waktu. Sesungguhnya tidak ada yang tahu berapa lama kita diberikan waktu di dunia ini.

Daud menyadari betapa singkatnya hidup manusia. "Manusia sama seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang yang lewat." (Mazmur 144:4). Masa hidup manusia ini sesungguhnya sekelebat saja, seperti angin berhembus, seperti bayang-bayang lewat. Begitulah singkatnya. Dalam doanya Musa mengatakan "Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap." (90:10). Begitu singkatnya, berlalu buru-buru. Hari ini ada, sebentar lagi melayang lenyap. Itulah sebabnya kita harus menghargai waktu yang diberikan, seperti kata Musa: "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana." (ay 12). Paulus mengajarkan kita untuk mau mempergunakan waktu yang ada dengan baik. "Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat." (Efesus 5:15-16). Dalam surat lain ia berkata "..Tetapi jikalau engkau mendapat kesempatan untuk dibebaskan, pergunakanlah kesempatan itu." (1 Korintus 7:21). Dan Petrus mengingatkan kita, hendaklah .."waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah." (1 Petrus 4:2). Semua ini berbicara mengenai menghargai waktu dan kesempatan yang masih diberikan.

Disamping itu, saya pun merenungkan makna dari kehidupan ini. Apakah saya sudah menjalankan tugas-tugas yang diberikan Tuhan? Apakah saya sudah melakukan segala sesuatu sesuai rencana Tuhan ketika menciptakan saya? Dan yang tidak kalah penting, apakah kehidupan saya sudah memberi buah? Paulus pernah mencurahkan perasaannya dari dalam penjara dalam surat Filipi. Ia "sharing" bagaimana ia ditangkap bukan karena melakukan kesalahan kriminal tetapi justru karena mewartakan kebenaran tentang Kristus. Ia tidak bersungut-sungut dan mengeluh mengalami perlakuan tidak adil karena ia tahu benar bahwa kalaupun ia mati, itu bukan kerugian melainkan keuntungan. "Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan." (Filipi 1:21). Keuntungan? Tentu saja. Dalam versi Bahasa Inggris dijelaskan mengenai keuntungan ini, yaitu "the gain of the glory of eternity." Bagi orang-orang yang tetap setia dan taat hingga akhir, semuanya akan pergi ke tempat dimana .."Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu." (Wahyu 21:4). Sebuah tempat yang telah disediakan langsung oleh Yesus Kristus. (Yohanes 14:2-3). Dan Paulus tahu bahwa apabila ia tetap menjalani hidup seperti yang dikehendaki Tuhan, maka sebuah tempat yang disediakan Kristus pun akan tersedia pula baginya. "Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat  kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat  kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat  kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia." (2 Korintus 5:1). Itulah yang ia sebut sebagai "keuntungan". Tetapi jika ia masih diberikan kesempatan untuk hidup, maka sisa hidup itu haruslah diisi dengan sesuatu yang bermakna, melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sanggup menghasilkan buah demi kemuliaan Allah. "Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah." (Filipi 1:22a). "Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu." lanjut Paulus. Kalau mati, itu artinya lepas dari penderitaan dan masuk ke dalam kemuliaan bersama dengan Allah selamanya, tetapi kalaupun memang masih harus hidup, maka hidup haruslah diisi dengan segala sesuatu yang mampu memberikan buah. Itulah yang seharusnya menjadi dasar pemikiran kita dalam menjalani hidup dari hari ke hari. Maka sembari menulis saya pun merenungkan hal yang sama. Ketika saya masih diberi kesempatan untuk hidup lewat mukjizat luar biasa tadi pagi, sudahkah saya bekerja memberi buah yang cukup, dan akankah saya terus bekerja untuk menghasilkan lebih banyak buah lagi?

Ada rencana Tuhan yang besar bagi setiap kita. Ada tugas-tugas yang dibebankan Tuhan kepada kita. Hendaknya kita menjalankannya dengan hasil gemilang, sehingga kelak ketika kita mempertanggungjawabkan semua itu di hadapan Tuhan kita bisa melakukannya dengan kepala tegak. Lewat peristiwa "near death experience" yang saya alami, hari ini saya menyadari betapa berharganya waktu yang dipercayakan Tuhan kepada saya, dan saya bertekad untuk mengisi sisa waktu yang masih ada untuk menghasilkan buah demi memuliakanNya. Itulah sebabnya dalam keadaan sakit pada jempol kaki dan kepala yang masih pusing, saya tidak memutuskan untuk beristirahat. Saya masih bersemangat menulis renungan ini dengan penuh rasa syukur dan sukacita. Kita tidak pernah tahu berapa lama lagi waktu yang diberikan, bisa lima puluh tahun, sepuluh tahun, sehari bahkan semenit lagi. Oleh karena itu marilah kita belajar untuk lebih menghargai waktu dan mengisinya dengan segala sesuatu yang berharga, menghasilkan buah-buah manis yang berkenan bagi Tuhan.

Jika masih harus hidup, itu untuk bekerja menghasilkan buah. Sudahkah kita berbuah?

Thursday, May 14, 2009

Kesaksian: "Use Me or Take Me, God.."

From: jefky q
=============================

Syalom team renungan harian online,

Nama saya Jefky dan saya sangat diberkati dengan adanya RH-online ini. saya juga tergerak untuk menjadi berkat bagi orang lain melalui kesaksian hidup saya bersama Tuhan Yesus..baiklah saya akan bersaksi

Pada saat saya memasuki usia 19 thn, waktu itu saya masih kelas 3 SMA..saya tiba2 mendapat penyakit sinusitis akut, waktu itu penyakit saya tersebut sudah menyebabkan pendarahan pada hidung saya sehingga muka saya menjadi bengkak dan sakit.bukan hanya itu, Dokter juga mengatakan ada daging menumpang(kanker) pada bag.belakang kepala saya.

Saya sudah melayani Tuhan di bidang musik sejak kls 6 SD, saya selalu setia didalam pelayanan saya. Waktu mendapat vonis seperti itu saya sangat kaget dan sempat kecewa sama Tuhan. parahnya lagi setelah pemeriksaan sinar X-ray, dokter mengharuskan saya segera di operasi. kalau tidak saya hanya bisa hidup selama 6 bulan saja karena pendarahan yg terjadi pada hidung saya sudah mulai mengenai paru-paru.

Dokter juga melarang saya untuk bermain alamat musik karena setiap kali saya bergerak banyak dan berpikir, maka darah akan keluar dari kedua lubang hidung saya(mimisan). saya berdoa pada Tuhan, saya berkata :"Tuhan kalau Engkau masih mau memakaiku sebagai alatmu, maka sembuhkanlah saya. Kalau tidak bawalah saya kepadaMu". singkat cerita saya dioperasi selama beberapa jam dan operasi berjalan lancar. Saya keluar dari RS setelah satu minggu.

Tetapi ada masalah yang timbul, pendarahan di hidung saya tidak bisa di hentikan pasca operasi. Akhirnya saya harus ke dokter ahli THT untuk sedot darah dari hidung saya seminggu dua kali. Saya merasa sangat kecewa pada Tuhan, kenapa saya yang setia melayani Tuhan harus mengalami ini? Kemudian papi saya melarang saya untuk melayani dulu (bid.musik, drum & bass) sampai saya sembuh total.

Akhirnya saya tidak kuat lagi dan sering membenturkan kepala saya ditembok karena rasa sakit yang tidak tertahankan dan keadaan semakin buruk sampai-sampai saya harus bernapas melalui mulut karena kedua lubang hidung saya diganjal kapas yg tebal oleh dokter.

Hingga pada suatu hari minggu saya tidak bisa lagi ke gereja karena tidak bisa kena debu. Lalu saya berdoa; "God...use me or take me away with you" saya sudah pasrah dan sudah siap untuk dipanggil Tuhan. Kira-kira jam 3 atau 4 sore, saya nonton acara rohani yg dibawakan oleh Rev.Jhon Hartman (maaf kl salah tulis) dan di penghujung acara Ev.Evelyn mendapat penglihatan dari Tuhan mengenai anak muda yg mengalami pendarahan di hidung dan tidak bisa sembuh yang mana ciri2nya sama dengan saya,seketika itu saya tiba2 dipenuhi kuasa ROh Kudus dan kedua HambaNYA tersebut mendoakan saya via TV dan meyakinkan saya bahwa saya sudah sembuh.

Besoknya saya check up ke dokter ahli THT.....dan....hasilnya....Puji Tuhan...dokter tersebut kaget setengah mati :) karena dia melihat hidung saya sudah normal seperti tidak pernah terjadi apa2....haleluyah..saya sembuh total! saya mengalami mujizat penciptaan baru....haleluyah..Yesus luar biasa...sampai sekarang saya tetap melayani Tuhan, semoga kesaksian ini bisa menjadi berkat bagi semua orang.

Tuhan tidak pernah meninggalkan anak-anakNya yang setia, karena disaat kita tidak setia pun Tuhan tetap setia
Tuhan mengasihi kita lebih dari apapun juga di dunia ini...GBU

Tolong kesaksian saya dimuat ya..thx team renungan harian online

Tuesday, May 12, 2009

Kesaksian: ”Terima kasih TUHAN untuk pelajarannya..”

From: Nova Js
============================

Aku mengawali hari itu dengan keluhan-keluhan kecil....
Tugas-tugas yang menumpuk membuat aku sulit untuk memilih dari mana aku harus memulainya sedangkan waktu penyelesaiannya hampir bersamaan. Ditambah lagi kondisi fisik tubuhku rasanya tak mampu. Keadaan-keadaan inilah yang membebaniku pagi itu, yang membuatku mengabaikan saat teduh pribadiku bersama DIA. Hanya sebuah kalimat sederhana yang sempat terucap ”Thanks GOD for today..." sebelum aku menyiapkan diri dan bergegas ke tempat kerjaku.
Mobil yang kutumpangi melaju dengan cepat, membawa diriku dengan berbagai kekesalan di hati. Kupandangi tumpukan kertas yang berisi tugas-tugas yang harus kuselesaikan. ”...mengapa semalam aku harus sakit sehingga aku tak bisa mengerjakan tugas-tugas itu?..sedangkan di kantor seseorang telah siap menanti hasil penyelesaiannya..."

Tiba-tiba mobil berhenti...aku kaget...apa sebenarnya yang terjadi? Ternyata ada seorang yang terganggu jiwanya berdiri tepat di depan mobil. Sosok dengan penampilan yang acak-acakan serta senyum kecut di bibirnya, berlalu begitu saja tanpa menghiraukan gertakan dari sang sopir. Spontan air mataku menetes... ”TUHAN mengapa mereka harus seperti ini...? Bukankah mereka juga adalah ciptaanMU yang termulia??..aku tahu ENGKAU juga mengasihi mereka..” Selang beberapa menit, seorang penumpang harus turun jadi mobil pun berhenti. Mataku tertuju pada seorang nenek tua yang duduk di kursi roda.. ”TUHAN, mengapa ENGKAU memberikan umur yang panjang kalau akhirnya harus menderita seperti itu?..hati kecilku pun bertanya sekaligus berusaha menjawab..”pasti ada maksud TUHAN di balik semua itu..” Belum lepas pandanganku dari sosok nenek tua dengan kursi rodanya..sebuah mobil jenazah lewat..aku bergumam ”...ya, inilah hidup..TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN..” Kini mobil yang kutumpangi menyusuri jalan di antara hamparan kebun sayur yang tertata indah laksana ukiran-ukiran yang membentuk perbukitan yang hijau... Untuk kesekian kalinya aku terkagum...”sungguh, tiada yang seperti ENGKAU TUHAN, betapa indahnya alam ini..”.

Tanpa terasa perjalanan selama hampir satu jam telah membawaku ke tempat kerjaku. Belum juga kulangkahkan kakiku menyeberangi jalan di depan kantorku, mataku terpaku pada seorang pedagang kaki lima dengan jualannya yang tampak tak ringan...juga seorang kakek tua dengan bendi tuanya sibuk mencari penumpang.. Hatiku tersentak.. ”..ya..inilah hidup yang harus diperjuangkan..” Pikiran dan perasaanku berkecamuk, berusaha untuk mengerti maksud TUHAN di balik semua peristiwa yang kusaksikan.. Aku tak kuasa membendung air mataku,,yang sejak tadi terus menggenangi mataku..”TUHAN yang akan memberikan pengertian kepadaku..” Aku melangkahkan kakiku ke arah pintu kantor...Apa yang terjadi? Ooh..aku baru ingat seorang temanku berhari ulang tahun.. Suasana ceria meliputi ruangan kantorku..Kami berjabatan tangan, bercanda tawa sambil menikmati makanan ringan yang telah disiapkan..aku pun bergumam..”..hidup itu anugerah dan kita harus mensyukurinya..” Setelah semuanya selesai, seperti tanpa beban aku mulai mengerjakan tugas yang harus diselesaikan hari itu.. Lembar demi lembar kertas berpindah tempat setelah aku meyelesaikan perhitungan-perhitungan di dalamnya.. Kuraih sebuah lembaran kertas..aku kaget..”benarkah ini lembaran terakhir?.. seakan tak percaya aku kembali memeriksa kembali tumpukan kertas yang telah berpindah tempat.. Oh ”Thanks GOD” ini benar-benar lembar yang terakhir.. Tanpa menunggu lama aku pun langsung menyelesaikan semuanya.. ”Sudah selesai?..” seseorang mengagetkanku.. ”Iya Pak...ini hasilnya..” jawabku sambil menyerahkan tumpukan kertas yang telah kususun rapi.. ”Terima kasih”..ujarnya kembali..

Peritiwa sepanjang hari itu kembali terbayang di benakku.. Kekesalanku di pagi hari...kejadian-kejadian yang kusaksikan saat berada dalam perjalanan sampai suasana sukacita di kantorku yang membuatku lupa akan bebanku di pagi hari.. Aku tersenyum.. ’Thanks GOD, ENGKAU mengajarkan banyak hal untukku hari ini..terima kasih karena ENGKAU mengganti kekesalanku dengan sukacita yang kuperoleh dari apa yang kusaksikan...tak seharusnya aku terpaku pada besarnya masalah yang sepertinya harus kuselesaikan..tak seharusnya aku mengabaikan saat teduhku karena sepertinya dikejar aktivitas..ampuni aku TUHAN..tak seharusnya aku tidak bersyukur..aku harus belajar untuk menghargai hidup sebelum terlambat..aku harus belajar menjalani hidup dengan sukacita..aku harus berjuang tanpa keluhan-keluhan yang justru menghalangi perjuanganku..aku harus terus belajar melihat karya ALLAH dalam semua hal yang kualami dan kusaksikan.. ”Terima kasih TUHAN..”.. Inilah kalimat-kalimat yang terus menghiasi hatiku hingga akhirnya jam kantor selesai.. Aku pulang dengan sukacita..”terima kasih TUHAN, betapa luar biasanya ENGKAU...sungguh semuanya baik ketika itu kujalani bersamaMU dan tanpaMU aku tak kan bisa berbuat apa-apa karena aku bukan siapa-siapa. Biarlah apa yang kudapatkan hari itu bisa dirasakan oleh saudara-saudaraku, sahabat-sahabatku dan sesamaku.. ”Terima kasih Tuhan...”

Monday, May 11, 2009

Kesaksian: Harga Kejujuran di Mata Tuhan

From: lomak tiodinar
==========================================

Kejadian ini sekitar 13 tahun yang lalu, tapi saya rasa masih up to date untuk diceritakan sekarang.

Sejak menjadi mahasiswa semester awal saya telah berkomitmen untuk selalu berlaku jujur. Empat tahun masa kuliah dapat saya lewati tanpa menitip absensi untuk satu haripun. Apalagi menyontek, memberikan contekan dlsb kepada teman. ”JUJUR”, kata itu yang selalu saya junjung tinggi. Saya ingin selalu menyenangkan Tuhan dalam perkuliahan saya.

Hingga satu saat, waktu menyusun skripsi saya terpentok pada dosen pembimbing 2. Dia dengan tenang mengatakan, ” Saudara mau lewat jalan mana? Jalan tikus atau jalan tol ? Kalau lewat jalan tikus, ya agak lama karena banyak lobang, macet dan berbau, ”katanya. ”Kalau lewat jalan tol ya mulus, tapi tau kan konsekwensinya,” lanjutnya lagi.

Saat dosen pembimbing 2 menyampaikan hal itu, saya belum sepenuhnya mengerti apa yang dimaksudkan. Tapi lama kelamaan setelah saya renungkan arti perkataan dosen itu, saya pun mengerti bahwa saya diharuskan membayar uang pelicin agar skripsi saya dapat di-acc. Terus terang, hati saya sangat marah. Tapi saya tidak berani melawan. Zaman saya dulu, mahasiswa belum seberani saat ini yang langsung berani menyuarakan suara hatinya.

Dalam kebingungan, mudah saja bagi saya untuk mengikuti keinginan sang dosen. Apalagi saat itu keluarga kami tidak memiliki kesulitan finansial. Saya mencoba berdoa, tapi saya tidak bisa berkonsentrasi. Saya bingung, terlebih ketika sang dosen menyuruh saya datang ke rumahnya pada hari Kamis sore. Tapi hari itu hujan, jadi saya punya alasan untuk tidak datang.

Jumat siang, untuk menenangkan diri saya menonton midnite di Bioskop. Tapi film yang diputar tetap tidak menenangkan saya. Keluar dari bioskop, saya melihat orang-orang memakai sarung dan peci keluar dari sebuah mesjid habis sembayang jumat. Lalu saya mendengar bisikan Tuhan. ”Sekarang waktunya kamu datang ke rumah dosenMu, mumpung dia baru menjalankan ibadah agamanya.”

Saya yakin dan percaya itu suara Tuhan. Cepat-cepat saya pulang ke tempat kost, berdoa. Kemudian saya ingat satu ayat firman Tuhan, yang bunyinya kira-kira seperti ini ”Hati raja seperti batang air di hadapan Tuhan, dialirkanNya kemanapun Tuhan ingini.” Amin.

Saya langsung mohon ampun kepada Tuhan, karena saya terlalu panik dan tidak berserah pada pimpinan Tuhan. Lalu saya berangkat ke rumah dosen tersebut dengan satu semangat baru dan percaya pada pimpinan Tuhan.

Sampai di rumahnya, dosen tersebut langsung menyambut saya dengan senyum lebar. Mungkin karena mengira saya datang dengan membawa sesuatu. Saya disambut ramah sekali. ”Skripsinya sudah langsung saya tanda tangan,” katanya . Lalu saya langsung berdiri, mengambil skripsi tersebut dari tangannya dan menjabat tangannya. Saya ucapkan, ” terima kasih pak.” Tanpa banyak basa-basi saya langsung pulang. Dosen tersebut bengong, mungkin karena saya tidak memberinya apapun.

Waktu sidang skripsi, beliau habis-habisan memojokkan saya, mungkin karena kesal dengan tingkah laku saya. Padahal dosen pembimbing dan penguji lainnya menyatakan saya layak lulus dengan nilai A, tapi dia menolak untuk memberi saya nilai. Akhirnya setelah reses beberapa saat, saya dinyatakan lulus dengan nilai B.

Tapi tak mengapa, sekalipun hanya nilai B yang ditangan, tapi saya bangga karena saya melakukan tugas saya dengan baik dan Tuhan beserta saya.

Setelah selesai sidang dan menjelang wisuda, saya mendatangi rumah dosen tersebut dengan membawa sepasang batik untuk dosen saya tersebut. Saya ingin menunjukkan bahwa saya menolak untuk memberikan uang pelicin, tapi saya tahu bagaimana caranya berterima kasih.

Sunday, April 26, 2009

Saved By An Angel

Ayat bacaan: Mazmur 34:8-9
======================
"Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka. Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!"

saved by an angel, malaikat, perlindungan, luput dari bencanaMasihkah Malaikat hadir ditengah-tengah kita? Kira-kira setahun lalu, teman saya seorang musisi jazz pemain saxophone mengalami sebuah kesaksian yang luar biasa. Dia seorang musisi yang berasal dari Amerika yang selalu menjaga kekudusannya dengan baik. Ketika ia hadir di Java Jazz tahun 2008 lalu, ia bercerita meskipun sempat mengalami kekecewaan ketika teman baiknya meninggal saat mendaki gunung bersama-sama, namun ia tetap mengambil komitmen untuk setia pada Tuhan. Kira-kira 2 bulan setelah ia kembali ke Amerika, ia mengalami sebuah musibah. Sepulangnya dari sebuah show, mobil yang ia kendarai menabrak sebuah truk besar. Tabrakan itu cukup mengerikan. Mobilnya remuk tak berbentuk. Dalam kondisi seperti itu, rasanya sulit membayangkan ada orang yang bisa selamat. Setidaknya mungkin mengalami luka berat. "I should have died at that time, because the crash was terrible" katanya.Saat itu ketika musibah tabrakan terjadi, ia mengaku melihat sebuah sosok yang mengulurkan tangan dan menariknya keluar dari mobil. Luar biasa, meskipun sempat diopname selama seminggu, ia tidak mengalami masalah berarti. Dua minggu setelah kejadian itu, ia sudah tampil lagi di panggung.  "He sent His Angel to save me. I'm very thankful, and I'm gonna praise him forever.." katanya dalam email.

Luar biasa ketika kita melihat kesaksian-kesaksian yang bisa semakin meneguhkan iman seperti ini. Lihatlah bahwa Tuhan tetaplah peduli dengan kehidupan kita. Dia masih tetap, dan akan tetap siap mengutus Malaikat-MalaikatNya untuk hadir di tengah-tengah kita, dan meluputkan kita dari bencana, jika kita tetap hidup dengan takut akan Tuhan.  Daud menulis demikian: "Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka. Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!" (Mazmur 34:8-9). Yang dimaksud dengan takut akan Tuhan bukanlah bentuk ketakutan duniawi, sebab untuk bentuk-bentuk ketakutan duniawi ini kita telah dilepaskan. "Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban." (2 Timotius 1:7) Dan jika kita tetap takut, artinya kita belumlah sempurna dalam kasih. "Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih." (1 Yohanes 4:18). Takut akan Tuhan menjelaskan tentang bagaimana kekuatan, kebesaran, kekudusan dan otoritas Tuhan. Tidak seperti ketakutan duniawi, takut akan Tuhan adalah bentuk rasa takut yang sehat. Takut akan Tuhan berarti kita patuh pada perintahNya, hidup dengan menghormatiNya, berpegang kepadaNya, mengenal pribadiNya dan kemudian hidup memuliakanNya. Rasa takut akan Tuhan akan membawa kita lebih dekat lagi kepadaNya, bukan sebaliknya menjauhkan. Takut akan Tuhan juga bukan berarti bahwa kita hidup benar semata-mata karena takut akan hukuman yang dijatuhkan Tuhan, tapi lebih kepada besarnya kasih kita kepadaNya, dan menyadari betapa besar kasihNya pada kita, sehingga kita tidak ingin ada hal yang bisa merusak hubungan harmonis antara kita dengan Sang Pencipta kita. Ketika hidup kita selalu didasarkan pada takut akan Tuhan, lihatlah bagaimana Tuhan menjanjikan perlindungan dalam setiap langkah kita, termasuk dengan menurunkan MalaikatNya untuk berkemah di sekitar kita untuk senantiasa menjaga dan meluputkan kita dari bencana.

Di atas segala upaya manusia untuk membuat sistem perlindungan yang terbaik, ingatlah bahwa ada Tuhan di atas segalanya yang mampu memberikan perlindungan dan rasa aman pada jiwa anda beserta keluarga. Mari kita baca Mazmur 91:9-16. "Sebab TUHAN ialah tempat perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kaubuat tempat perteduhanmu, malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu; sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. Mereka akan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepada batu.Singa dan ular tedung akan kaulangkahi, engkau akan menginjak anak singa dan ular naga." (Mazmur 91:9-13). Bagaimana agar kita bisa mendapat janji Tuhan yang sungguh luar biasa ini? Ayat berikutnya memberi penjelasan. "Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku." (ay 14). Ya, dengan mengenal nama Tuhan, dengan takut akan Tuhan. Selanjutnya Allah berfirman: "Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya. Dengan panjang umur akan Kukenyangkan dia, dan akan Kuperlihatkan kepadanya keselamatan dari pada-Ku." (ay 15-16). Haleluya.

Apa yang terjadi pada musisi peniup saxophone Amerika di atas bisa juga terjadi pada kita, karena Tuhan menjanjikan sebuah perlindungan yang pasti pada semua orang yang hidup dengan takut akan Tuhan. Sudahkah kita menjaga hidup kita dengan benar? Sudahkah kita mentaati perintah Tuhan, menjauhi laranganNya, bukan semata-mata karena kita merasa takut berdosa atau takut masuk neraka, tapi terlebih karena kita mengasihiNya dan tidak ingin mengecewakan Dia yang sudah begitu baik pada kita? Ketika kita mengamalkan pola hidup seperti ini, bersiaplah untuk mendapati para Malaikat Tuhan berkemah di sekitar kita. Lalu kecaplah, dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan!

Tuhan menjaga hidup kita yang takut akan Tuhan dan siap meluputkan kita dari bencana