Showing posts with label Renungan Kiriman RHO-ers. Show all posts
Showing posts with label Renungan Kiriman RHO-ers. Show all posts

Tuesday, June 8, 2010

From RHO-ers: Bunuh Diri!

From: D. Adhi Surya
Ayat Bacaan: 2 Samuel 17:23
=======================

“Ketika dilihat Ahitofel, bahwa nasihatnya tidak dipedulikan, dipasangnyalah pelana keledainya, lalu berangkatlah ia ke rumahnya, ke kotanya; ia mengatur urusan rumah tangganya, kemudian menggantung diri. Demikianlah ia mati, lalu ia dikuburkan dalam kuburan ayahnya.”



Kalau kota Ambon pada tanggal 29 Mei 2009 kemarin dihebohkan dengan gempa bumi, maka pada tanggal 30 Mei 2009 dihebohkan kembali dengan berita seorang pemuda yang bunuh diri dengan menggantung diri di menara Gereja Maranatha (http://news.okezone.com/read/2009/05/30/1/224505/seorang-pemuda-gantung-diri-di-menara-gereja). Motif dan penyebab pria ini bunuh diri belumlah jelas. Akan tetapi pikiran dan perasaan yang berkecamuk di dalam jiwa saya adalah pertanyaan: “apakah yang terjadi di dalam jiwa pria ini sehingga ia merencanakan, mengusahakan, mewujudnyatakan, dan mensukseskan dirinya untuk mati tergantung di menara Gereja?”
Beberapa penduduk yang ikut menyaksikan proses mayat pria tersebut diturunkan dari menara gereja ada yang mengatakan bahwa pria tersebut putus asa karena terlilit hutang. Lalu apakah yang membuat pria ini sampai berpikir begitu sempitnya sehingga memutuskan untuk menyelesaikan masalah hutangnya dengan mengakhiri nyawanya sendiri? Inilah misteri yang hanya dapat dijawab oleh pria tersebut.
Di dalam kutipan firman Tuhan hari ini kita membaca apa yang menjadi motif dari Ahitofel menggantung dirinya sendiri: karena nasihatnya tidak dipedulikan! Ahitofel adalah penasihat Raja Daud yang setia, sampai akhirnya Ahitofel memutuskan untuk berkhianat dengan mendukung kudeta yang dilakukan oleh Absalom. Tetapi kedaulatan Tuhan sekali lagi kita lihat di dalam kisah ini, Tuhan sungguh melindungi Raja Daud dari rencana dan nasihat jahat Ahitofel yang ia coba berikan kepada Absalom. Tuhan memakai Husai untuk memberikan nasihat perbandingan kepada Absalom. Dan akhirnya Absalom justru lebih mendengarkan nasihat Husai daripada nasihat Ahitofel. Sebab memang nasihat Husai adalah bermaksud untuk menyelamatkan Raja Daud dari tangan Absalom yang ambisius dan haus kedudukan.
Alkitab mencatat bahwa setelah Ahitofel melihat bahwa nasihatnya tidak diindahkan oleh Absalom, ia: (1) memasang pelana keledainya, (2) berangkat ke rumahnya, (3) mengatur urusan rumah tangganya, kemudian barulah ia (4) menggantung diri! [perhatikanlah urut-urutan perilaku Ahitofel sebelum ia melakukan bunuh diri!] Tidakkah urut-urutan perilaku Ahitofel juga terjadi pada pria yang belum dikenali identitasnya di atas tadi? Ia pada pukul 06.00 pagi pergi ke Gereja, ia menaiki bambu yang ada di menara Gereja, ia melilitkan tali tersebut pada lehernya, ia merenungi sekali lagi (mungkin) niatnya, akhirnya… ia menjatuhkan dirinya sambil lehernya terikat tali, dan ia mati!
Apakah yang terjadi dengan dunia kita hari ini? Manusia sudah tidak lagi menghargai bukan saja nyawa sesamanya manusia, melainkan manusia sudah tidak lagi menghargai nyawanya sendiri! Bunuh diri seolah-olah sudah menjadi solusi paling praktis untuk menyelesaikan masalah. Apakah yang menyebabkan manusia senekad dan secupet demikian di dalam pikirannya akan hidup ini? Jawaban yang mungkin menjawab pertanyaan ini adalah karena manusia jauh lebih berani mati daripada berani hidup! Manusia sudah tidak lagi memandang kehidupan sebagai sesuatu yang optimistic dan yang menjanjikan. Justru kematian jauh lebih menjanjikan “jalan keluar” dari kesusahan hidup! Tidakkah “mind-set” ini yang sebenarnya sedang “mewabah” pada pikiran dan jiwa manusia yang semakin hari semakin rapuh dan irritated dengan hidup? Manusia menjadi begitu sulit untuk menguasai diri dan menjadi tenang serta cermat menyikapi kehidupan ini. Bukankah Petrus di dalam 1 Petrus 4:7 mengingatkan kita semua bahwa “Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.”
Saya pikir jawaban atas pertanyaan “Apakah yang menyebabkan manusia senekad dan secupet demikian di dalam pikirannya akan hidup ini?” adalah: karena manusia salah menaruh pusat perhatian jiwa-raga-dan-pikirannya! Manusia menjadi begitu “asyik” dengan problema dan tekanan hidup yang ia alami, sampai-sampai membuat ia lupa bahwa ia mempunyai Tuhan yang Maha Pemelihara! Seandainya saja focus kebanyakan dari kita (apalagi yang sudah menjadi anak-anak Tuhan) tidak kita letakkan pada masalah tetapi pada Tuhan, maka pasti kita tidak akan berani berpikir senekad dan secupet seperti Ahitofel dan pria tersebut. Kita akan mulai melihat “remang” dari “kegelapan” masalah hidup yang kita hadapi, lalu perlahan-lahan “remang” itu menjadi “terang siang hari” di dalam ketenangan dan self-control. Sebab hanya di dalam penguasaan diri dan ketenanganlah kita baru dapat berdoa dan menyelaraskan lagi “mind-set” kita dengan “mind-set” firman Tuhan.
Kiranya perenungan ini boleh membukakan cakrawala hati dan pikiran kita semua bahwa masalah hidup boleh datang silih berganti, akan tetapi fokus kita haruslah kita letakkan sepenuh-penuhnya kepada DIA yang Maha Pemelihara. Ingatkah kita akan doa Tuhan Yesus di dalam Yohanes 17 yang meminta kepada Bapa-Nya agar Bapa memelihar kita (anak-anak-Nya) senantiasa – “Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, PELIHARALAH mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.” (Yohanes 17:11)


“Perhatikanlah burung-burung gagak yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mempunyai gudang atau lumbung, namun demikian diberi makan oleh Allah. Betapa jauhnya kamu melebihi burung-burung itu!” (Lukas 12:24)

Monday, June 7, 2010

From RHO-ers: Menolong Dengan Iman

From: Berto

Ayat Bacaan:
Markus 16:1-8
======================

Setelah lewat hari sabat, hari pertama dalam minggu itu pergilah Maria Magdalena dan Maria Ibu Yakobus serta Salome membeli rempah-rempah dan pergi ke kubur dan meminyaki Yesus.

“ Namun mereka berkata seorang kepada yang lain, siapakah yang akan menggulingkan batu itu kepada kita dari pintu kubur”(16:3)

Setiap orang percaya yang mau untuk melakukan perbuatan baik bagi orang lain ada saja tantangan, ada saja halangan yang merintangi niat baik kita, seperti batu kubur/ batu penghalang tersebut. Apa yang diperkatakan Maria dan Maria Ibu Yakobus serta Salome terjadi setelah mereka sudah mendekati pintu kubur, artinya mereka tidak menempatkan tantangan itu pada urutan/posisi yang pertama mereka dalam membuat keputusan untuk pergi meminyaki Yesus.Sebab jika hal itu yang mereka pertimbangkan , maka tentu batu/penghalang itu akan membuat rencana mereka gagal , tetapi mereka melangkah dengan Iman bahwa mereka mau pergi dan akan meminyaki Yesus di dalam kubur. Dan Tuhan menyediakan pintu kubur yang terbuka dan mau menerima dan memberi jawaban yang menggembirakan hati mereka. Inilah jawaban atas Iman mereka walaupun mereka tidak melihat apakah pintu kubur itu sudah terbuka atau dalam keadaan tertutup, tapi dengan Iman mereka melangkah menuju kuburan.

Seringkali kita terlalu banyak mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang akan kita alami bila kita ingin melakukan perbuatan baik, tidak sering orang gagal berbuat baik karena terlalu banyak pertimbangan. Pertimbangan itu perlu tetapi kita harus membiarkan bisikan Roh Kudus yang sangat halus dan lembut dari dalam hati kita sehingga kita tidak salah dalam mengambil keputusan. Segala hal yang akan kita alami bukan karena kita telah melihat tantangan didepan mata kita, tetapi kita mau melihat segala hal dengan mata iman, untuk melakukan perbuatan baik bagi orang lain yang di dasari dengan kasih.

Saya mempunyai pengalaman, ketika itu saya sedang mengikuti studi lanjut di Semarang, malam itu adalah malam minggu,Saat saya tidur dan dalam ketiduran itu saya bermimpi, bahwa saya sedang pergi ke gereja, saya melihat gereja yang saya tujui itu adalah sebuah gereja yang berada di atas bukit di Semarang. Saat saya masuk dan duduk disamping saya ada seorang wanita dan mendahului saya memberi salam. Sampai disitu saya terbangun dari mimpi, keesokan harinya, saya pergi ibadah minggu digereja yang ada di dalam mimpi saya tersebut. Saat tiba didepan pintu gereja saya melihat wanita dengan wajah yang sama didalam mimpi saya semalam berdiri didepan pintu gereja memberi salam dan jabat tangan dengan saya,saya langsung teringat wajah wanita ini yang ada dalam mimpi saya, padahal kita tidak pernah bertemu sebelumnya, akhirnya kita masuk ke dalam gereja dan duduk berdekatan, setelah selesai ibadah kita pulang karena kita naik angkot sama maka disaat seperti itu dia menceritakan sesuatu yang sedang dia alami, bahwa dia kehilangan Uang sebesar Rp 300.000 dan uang itu adalah uang study tour teman sekelas yang mereka percayakan kepada dia, saat itu dia bingung dan tidak bisa untuk menggantinya, lalu dia berkata, “Mas bisa bantu saya tolong pinjamkan uang sebesar itu, nanti saya gantikan.” Saya bilang bisa saya bantu asal ini bukan sebuah kebohongan,saya berkata,”Kamu berdoa semoga besok saya bisa menolongmu kalau tidak ada halangan”.

Besoknya,ketika saya pulang kuliah, dia menelpon saya dan saya pergi ke tempat yang ada ATM dan saya mengatakan kepadanya, “Kalau persoalanmu adalah benar-benar terjadi padamu,bukan suatu kebohongan maka saya bersedia menolongmu, dan jangan pikir untuk menggantinya.”

Besok saya pergi besuk teman saya yang anaknya masuk rumah sakit, dan setelah dirawat 3 hari,anaknya telah sembuh, untuk itu dia harus memberes administrasi sebelum keluar tapi saat itu uangnya kurang lalu dia minta tolong pinjam dari saya dan saya dengan senang hati mau membantu dia, saat saya melihat saldo di kartu ATM ada sejumlah uang yang telah masuk yaitu sebesar Rp 2.100.000 Uang itu dikirim oleh pimpinan kita.

Jadi ketika kita melakukan perbuatan baik dengan didasari dengan Iman, Tuhan tahu apa yang harus Ia lakukan untuk kita, Dia siapkan segala sesuatu untuk hidup kita, tanpa kita mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang sarat dengan alasan, yang membuat kita tidak mampu untuk melakukan yang terbaik bagi orang lain. Ingat: Maria, Maria Ibu Yakobus dan Salome bukan melihat pintu kubur telah terbuka baru mereka pergi meminyaki Yesus. Saya bukan melihat nanti ada kiriman uang ke tabungan saya baru saya mau membantu orang, tetapi semua yang dilakukan berdasarkan iman maka jawabannya adalah Jawaban Iman. Pintu kubur terbuka sama seperti kiriman uang Ke Kartu ATM saya yang sama sekali tak pernah ada dalam pikiran saya, tapi Tuhan tahu apa yang harus dilakukanNya, bagian kitalah untuk mempercayaiNya. Tuhan Yesus memberkati.

Semoga Perenungan Firman Ttuhan ini membuat setiap orang percaya mengalami Mujizat karena perbuatan yang mereka dilakukan dengan Iman.

Sunday, June 6, 2010

From RHO-ers: Relasional VS. Kondisional

From: D. Adhi Surya
Ayat Bacaan: Habakuk 3:16
====================

“Ketika aku mendengarnya, gemetarlah hatiku, mendengar bunyinya, menggigillah bibirku; tulang-tulangku seakan-akan kemasukan sengal, dan aku gemetar di tempat aku berdiri; namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan …”


Pengalaman mengamati doa-doa yang dinaikkan oleh orang-orang (termasuk para hamba Tuhan) di dalam pelayanan ke orang-orang yang sakit keras membuat saya jadi merenungi bagaimana sebenarnya iman di dalam hati manusia itu bekerja. Entah itu iman di dalam hati orang yang sakit keras maupun iman di dalam hati orang yang mendoakan.

Salah satu pengalaman yang menarik adalah ketika saya melayani di salah satu Gereja di Semarang. Salah seorang rekan hamba Tuhan mengajak saya mendoakan seorang Bapak koster Gereja yang sedang sakit leukemia. Rekan hamba Tuhan ini, seperti biasa, membacakan satu bagian firman Tuhan sebelum ia mendoakan Bapak koster Gereja ini. Setelah membacakan satu bagian firman Tuhan, ia kemudian menjelaskan sedikit dan lalu mengajak Bapak koster ini untuk berdoa. Di dalam doanya ia seperti “menjatuhkan” rasa bersalah dan rasa tersudut kepada Bapak koster ini. Seolah-olah di dalam doanya, rekan hamba Tuhan ini hendak mengatakan bahwa penyebab dari sakit leukemia yang dihadapi oleh Bapak koster ini adalah karena ia tidak beriman kepada Tuhan! Rekan hamba Tuhan ini menekankan bahwa Bapak koster ini harus berani mengklaim janji Tuhan dengan iman yang penuh. Dan jika klaim itu tidak terkabul maka berarti yang salah adalah pada diri si Bapak koster ini. Bapak koster ini kurang beriman sih!

Demikian kurang-lebih “pesan” yang saya tangkap dari isi doa rekan hamba Tuhan ini.
Lalu beberapa hari kemudian setelah didoakan, Bapak koster ini akhirnya “sembuh” dari penyakit leukimianya. Tuhan “menyembuhkan” dia dengan memanggil dia “pulang”. Pertanyaan yang menggema di benak dan di dalam hati saya setelah “kepulangannya” adalah: apa sih sebenarnya arti beriman kepada Tuhan? Apakah beriman kepada Tuhan berarti bahwa segala kondisi kita akan berubah seperti yang kita doakan dan mintakan kepada Tuhan? Atau beriman kepada Tuhan itu berarti bahwa segala kondisi di sekitar kita boleh seperti apapun jadinya tetapi aku tidak akan pernah meninggalkan Tuhanku?

Habakuk di dalam pergumulannya melihat kelaliman, penindasan dan kejahatan di sekelilingnya membuat ia sempat “down” dan putus asa sebab keadaan di sekelilingnya tak kunjung berubah walaupun ia telah menjeritkan keadaan sekelilingnya kepada Tuhan --- “Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: ‘Penindasan!’ tetapi tidak Kautolong? Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi …” (Habakuk 1:2-3)

Akan tetapi di dalam perjalanan pergumulan iman Habakuk, Tuhan menolong Habakuk dan menghidupkan kesadaran di dalam batinnya bahwa daripada ia terus mempertanyakan pertanyaan “kapan”, “mengapa”, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya, jauh lebih baik jika ia “berdiam diri di hadapan-Nya.” (Habakuk 2:20). Sebab hanya di dalam “… tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.” (Yesaya 30:15)
Di dalam tinggal diam biasanya kita baru “ter-bangun-kan” bahwa sebenarnya yang terpenting di dalam beriman kepada Tuhan adalah bukan perubahan kondisi di sekeliling kita yang carut-marut, melainkan relasi kita dengan Tuhan yang semakin kokoh melalui kondisi di sekeliling kita yang carut-marut sekalipun! Surat Ibrani mengingatkan bahwa “Iman adalah DASAR dari segala sesuatu yang kita harapkan dan BUKTI dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1)

Iman Kristiani (bukan iman orang Kristen lho – sebab banyak orang Kristen yang tidak Kristiani imannya) adalah iman yang mengharapkan BUKTI dari segala sesuatu yang TIDAK KITA LIHAT! Jadi iman kita memang adalah iman yang tidak melihat – sebab apalah artinya beriman jika kita sudah dapat melihat? – akan tetapi iman Kristiani tidaklah berarti sebuah iman yang “melompat” di dalam kegelapan. Iman kita adalah iman yang “melompat” berdasarkan (berfondasikan) pada pengenalan [RELASIONAL] akan Allah yang berdaulat itu, dan bukan pada keadaan [KONDISIONAL] sekitar kita!

Iman Kristiani adalah iman yang “sekalipun” dan iman yang “namun”… Iman Kristiani bukanlah iman yang “karena”!! Contoh: “Karena” Allah menyembuhkan maka aku sekarang percaya bahwa Ia adalah Allah yang berdaulat dan berkuasa atas segala macam penyakit!”
Iman seperti contoh di atas memang tidak salah dan sah-sah saja, TETAPI iman seperti di atas adalah iman yang berdasarkan KONDISIONAL saja dan bukan berdasarkan RELASIONAL! Iman yang tergantung pada kondisi bukan pada relasi! Kelemahan dari iman yang tergantung pada kondisi adalah ketika kondisi tidak seperti yang kita harapkan maka kita akan mudah untuk menjadi kecewa dan meninggalkan Tuhan! Tetapi ketika iman kita adalah iman yang relasional, maka kondisi apapun yang menimpa kita, kita tetap dapat berdiri teguh karena kita tahu BERSAMA SIAPA kita berjalan di dunia ini! (Contoh: Lihatlah teladan iman dari Sadrakh, Mesakh dan Abednego di dalam Daniel 3:17-18 --- “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi SEANDAINYA TIDAK, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”)

Sadrakh, Mesakh dan Abednego tetap beriman kepada Allah-nya karena mereka kenal betul Allah yang dengan-Nya mereka berelasi. Kondisi di hadapan mereka boleh semenakutkan apapun, Allah mau tolong silahkan, Allah tidak tolongpun silahkan, kami (Sadrakh, Mesakh dan Abednego) tidak akan menyembah patung emas buatan raja!! Luar biasa bukan!! Iman relasional vs. iman kondisional!

Marilah kita yang masih menaruh iman kita kepada Tuhan berdasarkan kondisi beralih kepada iman yang berdasarkan relasi! Jalinan relasional dengan Allah jauh lebih memberikan rasa aman daripada jalinan iman kondisional! Kesusahan yang membuat kita “gemetar”, “menggigil” dan “kemasukan sengal” boleh datang silih berganti, “namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan itu…” karena aku tahu aku berjalan (menjalin relasi) dengan Siapa! Imanku bukan berdasarkan APA tapi berdasarkan SIAPA!


"Faith cannot be inherited or gained by being baptized into a Church. Faith is a matter between the individual and God." (Martin Luther)

"Faith takes God without any ifs." (D.L. Moody)

Saturday, June 5, 2010

From RHO-ers: Pikirkanlah Semuanya Itu!

From: D. Adhi Surya
Ayat Bacaan:
Filipi 4:8
========================

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”


Seorang teolog pernah mengatakan bahwa “change always starts first in your mind, the way you think determines the way you feel, and the way you feel influences the way you act.” (perubahan selalu diawali dari dalam pikiran kita, cara kita berpikir menentukan cara kita merasa, dan cara kita merasa mempengaruhi cara kita bertindak-tanduk/berprilaku.)

Seorang sahabat karib bercerita kepada saya bagaimana ia dikecewakan di dalam pelayanan Gerejawi. Ia seorang yang “fight” untuk kebenaran. Ia memang bukan seorang yang “suci” dan tanpa noda, akan tetapi ia menunjukkan komitmen dan kesungguhannya untuk “fight a good fight” di dalam pelayanannya. Slogan salah satu Seminary di Jakarta menjadi iluminasi bagi dirinya. Slogan itu berbunyi: “SEEK the truth, COME whence it may, COST what it will.” (jika diterjemahkan secara bebas kira-kira berbunyi demikian: “CARILAH kebenaran, DATANGLAH darimanapun asalmu, BAYARLAH berapapun harga kebenaran itu.”)

Akan tetapi “serangan” yang menimpa dirinya membuat ia “down” dan kecewa dengan Gereja dan para pemimpin Gereja dengan segala politik kotornya. Ia mulai berubah jadi lebih sensitif (dahulu memang sudah peka, akan tetapi sekarang jadi “terlalu” peka). Ketika ia berbicara dengan orang lain, maka ia bisa dengan mudahnya tersinggung dan meledak marah-marah. Lalu setelah meledak marah-marah, ia menyesal kepada orang yang dengannya ia sudah menunjukkan sikap yang kurang baik. Akan tetapi partner dia tidak pernah menyerah untuk terus mengingatkan dia bahwa dirinya adalah “korban” daripada kelicikan dan kemunafikan Gereja.

Ketika saya merenungkan apa yang terjadi dengan dirinya dan Gereja tempat ia melayani, tiba-tiba saya teringat kisah yang terjadi di dalam Gereja di Filipi. Pada waktu rasul Paulus menulis suratnya kepada jemaatnya di Filipi, ia sedang berada di dalam penjara di Roma. Hati Paulus begitu bersukacita melihat keadaan rohani jemaatnya di Filipi, akan tetapi pada penutup akhir suratnya (LAI memberi judul: “Nasihat-nasihat terakhir” [Filipi 4:2-9]), Paulus teringat akan kasus Euodia dan Sintikhe yang terdengar hingga keluar kota Filipi. Kita tidak tahu secara persis apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua, akan tetapi sepertinya perselisihan mereka bisa berbahaya bagi keutuhan jemaat di Filipi. Itu sebab rasul Paulus dengan sangat meminta bantuan Sunsugos “temannya yang setia” untuk jadi perpanjangan tangan rasul Paulus menyelesaikan perselisihan di antara Euodia dan Sintikhe.

Hal yang menarik dari “surat penjara” ini adalah si penulis surat itu sendiri! Rasul Paulus! Bagaimana mungkin kok Paulus bisa begitu peduli dengan keadaan jemaatnya sedangkan dirinya sendiri sedang berada di dalam penjara?! Ternyata salah satu “ingredients” (resep) mengapa Paulus bisa menuliskan surat sukacitanya ini dari balik penjara adalah karena Paulus tidak menekan focus hidupnya pada dirinya sendiri yang terpenjara! Paulus menolak untuk mengasihani dirinya sendiri! Paulus memilih untuk mengasihani dan mempedulikan dan menguatkan jemaatnya di Filipi! Itu sebab surat ini sarat dengan pesan: BERSUKACITALAH! Di dalam Filipi 4:4 rasul Paulus mengatakan: “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi (berarti Paulus ingin menekankan hal ini) kukatakan: Bersukacitalah!”

Pertanyaannya sekarang adalah: “Bagaimana nih Om Paulus untuk kita dapat senantiasa bersukacita di dalam Tuhan?” Om Paulus tidak berlama-lama menjawab, Paulus menuliskan jawabannya demikian: Jika kalian mau ada sukacita yang senantiasa di dalam Tuhan, maka “janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (4:6) Sebab hanya dengan membawa SEMUA kekhawatiran kita, di sana kita mendapat SELURUH kepenuhan akan damai sejahtera Allah. Paulus melanjutkan, “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (4:7)
Setelah kita belajar untuk menyerahkan semua kekhawatiran kita kepada Tuhan, Paulus melanjutkan pesan terakhirnya dengan mengatakan, “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang BENAR, semua yang MULIA, semua yang ADIL, semua yang SUCI, semua yang MANIS, semua yang SEDAP DIDENGAR, semua yang DISEBUT KEBAJIKAN dan PATUT DIPUJI, PIKIRKANLAH SEMUANYA ITU (!)” (4:8)

Pada akhir nasihatnya Paulus kembali mengingatkan kita prinsip sederhana dari sebuah kemenangan dan kesukacitaan hidup: PIKIRKANLAH SEMUANYA (yang benar, mulia, adil, suci, manis, dsb.) itu!! – mengapa perjalanan hidup kekristenan dan pelayanan yang Tuhan percayakan kepada kita terlalu banyak dipenuhi oleh kegeraman, kepahitan, kebencian, akal jahat, dsb? Jawabannya mungkin karena kita memfokuskan pikiran dan hati kita pada SEMUA yang salah, yang menjijikan, yang unfair, yang tidak suci/tidak pantas, yang pahit, yang tidak patut dipuji, dsb.

Marilah kita sama-sama belajar bukan saja dari ISI surat Paulus ini, tetapi juga dari ISI hati Paulus. Ia terpenjara secara fisik, tetapi jiwanya terbebas dan dilingkupi sukacita. Bahkan sukacita itu begitu bergeloranya di hati Paulus sehingga ia tidak tahan untuk tidak membagikannya kepada jemaatnya yang ia kasihi! Sungguh, “perubahan selalu diawali dari dalam pikiran kita, cara kita berpikir menentukan cara kita merasa, dan cara kita merasa mempengaruhi cara kita bertindak-tanduk/berprilaku.”


“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh PIKIRAN dan PERASAAN yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” (Filipi 2:5)

Friday, June 4, 2010

From RHO-ers: Kaya Nggak, Miskin Juga Nggak

From: D. Adhi Surya
Ayat Bacaan: Amsal 30:7-9
======================

“Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kautolak sebelum aku mati, yakni: Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.”

Ulang tahun adalah moment yang paling special dan membahagiakan bagi kita semua. Tidak ada di antara kita yang tidak menanti-nantikan hari “H” ulang tahun kita. Setiap kita pasti merindukan moment hari “H” ulang tahun itu tiba. Kita mengharap-harapkan banyak hal penting di hari ulang tahun kita. Dan kita juga mengharapkan hari-hari yang lebih baik di tahun ulang tahun mendatang.

Ketika kita kecil, kita menantikan hari “H” ulang tahun kita seperti orang yang “sakit rindu,” yang menantikan moment hari “H” itu tiba. Kita menantikan hari “H” ulang tahun sewaktu anak-anak karena kita mengharapkan pada hari “H” itu ada hadiah mainan yang sudah menjadi impian kita sejak lama. Atau bagi yang anak perempuan mungkin boneka kesayangan.

Ketika kita beranjak dewasa, penantian akan hari “H” ulang tahun tetap menjadi hal yang menggebu-gebu dan yang menyenangkan. Walaupun kali ini harapan kita bukan pada mainan atau boneka impian. Melainkan mungkin pada ucapan selamat atau perhatian dari kawan-kawan lama semasa kecil kita yang saat ini mungkin sudah terpisah jarak dengan kita. Ucapan selamat atau perhatian mereka menjadi “hadiah” yang sangat berarti bagi kita yang sudah beranjak dewasa. Kita merasa diperhatikan dan diingat oleh mereka. Kehadiran kita di dalam hidup mereka berarti begitu membekas dan memberikan kesan yang indah.

Baik ketika kita kecil maupun ketika kita dewasa, moment ulang tahun merupakan moment yang indah dan yang selalu kita nantikan. Selain itu, di moment hari “H” ulang tahun kita biasanya diajukan pertanyaan: “Apa yang mau didoain di hari ulang tahun ini?” atau pertanyaan: “Apa yang jadi harapan kamu di hari ulang tahun, tahun ini?” dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang intinya adalah menanyakan tentang HARAPAN. Nah, biasanya jawaban kita terhadap pertanyaan di atas adalah: “Ya, doain aja deh supaya aku diberi rejeki, tubuh yang sehat dan umur yang panjang!”

Rejeki, tubuh yang sehat dan umur yang panjang memang menjadi permintaan umum (atau setidaknya harapan) setiap kita di hari “H” ulang tahun. Ketiga permintaan (atau harapan) di atas memang tidak salah. Akan tetapi permintaan kita di atas jika kita renungkan tidaklah jauh berbeda dengan permintaan mereka yang belum percaya kepada Tuhan. Bukankah mereka juga memintakan yang sama: rejeki, tubuh yang sehat dan umur yang panjang? Lalu apakah yang seharusnya menjadi perbedaan antara kita (orang yang sudah percaya) dengan mereka (yang belum percaya)?

Agur bin Yake di dalam Amsalnya ini mengajarkan kita satu prinsip yang menarik tentang arti hidup. Agur bin Yake tidak memohonkan rejeki (kaya), tubuh yang sehat dan umur yang panjang di dalam perjalanan hidupnya. Melainkan ia memohonkan 2 (dua) hal yang paling penting bagi manusia untuk dapat menjalani hidup yang bermakna di hadapan Tuhan seberapapun panjang umur yang Tuhan berikan kepada kita, kedua hal itu ialah: (1) Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan, dan (2) Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan.

Dan yang paling menarik adalah TUJUAN atau GOAL utama dan satu-satunya mengapa Agur bin Yake memintakan dua hal di atas. Ia mengatakan: “Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.” (ay. 9) --- Bagi Agur bin Yake yang TERPENTING bukan soal kaya atau miskin (rejeki atau bokek), sehat atau sakit, panjang umur atau umur pendek. Yang UTAMA bagi Agur bin Yake adalah agar ia, baik hidup maupun matinya kelak, (1) tidak melupakan Tuhan dan (2) tidak mencemarkan nama Tuhan!

Bagaimana agar kita dapat hidup tidak melupakan Tuhan dan sekaligus juga tidak mencemarkan nama Tuhan? Kita harus belajar apa yang Paulus katakan bahwa dalam segala hal “aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.” (Filipi 4:11-12)

Bagaimana Paulus dapat belajar “mencukupkan diri dalam segala keadaan”? Bukankah suratnya kepada jemaatnya di Filipi lahir dari dalam penjara? Bagaimana mungkin Paulus dapat belajar “mencukupkan diri” ketika ia di dalam penjara? Jawaban atas pertanyaan ini ada di dalam ayat selanjutnya ketika Paulus mengatakan, “Allahku (yang) akan memenuhi segala keperluanmu (ku) menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:19)

Sungguh benar apa yang pemazmur katakan ketika ia menyampaikan bahwa “Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau…” (Mazmur 84:6) dan juga sang peratap ketika ia menyerukan “…Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!” (Yeremia 17:5)
Marilah kepada kita yang masih (atau yang belum) Tuhan berikan rejeki, tubuh yang sehat dan umur yang panjang agar mengandalkan hidup dan diri bukan pada hal-hal yang fana lagi. Melainkan biarlah andalan utama dan satu-satunya kita adalah berasal dari pada TUHAN! Yeremia mengatakan, “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.” (Yeremia 17:7-8)

Thursday, June 3, 2010

From RHO-ers: God's Provide - nce

From: D. Adhi Surya

For I also withheld you from sinning against Me; therefore I did not let you touch her” (Genesis 20:6b – NKJV)
“… Aku pun telah mencegah engkau untuk berbuat dosa terhadap Aku; sebab itu Aku tidak membiarkan engkau menjamah dia.” (Kejadian 20:6b - LAI)

“… God also gave them up to uncleanness…” (Rome 1:24 –NKJV)
“… Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran…” (Roma 1:24)

“… God gave them up to vile passions…” (Rome 1:26 – NKJV)
“… Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan…” (Roma 1:26)

“… God gave them over to a debased mind…” (Rome 1:28 – NKJV)
“… Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk…” (Roma 1:28)

====================================================

Seseorang pernah bersaksi bagaimana ia dicegah oleh Tuhan untuk tidak dapat mengakses website pornografi yang menjadi kegemarannya. Di dalam kesaksiannya ia mengatakan bahwa di dalam batinnya sendiri sebenarnya sudah “hidup” kesadaran bahwa kebiasaannya membuka website tersebut adalah sesuatu yang bersalah di mata Tuhan. Akan tetapi “belenggu” dari website ini begitu kuat dan “mencengkram” jiwanya. Sehingga setiap kali ia membukanya ia selalu “diserang” oleh rasa bersalah yang besar!
Pada suatu kali ia bersaksi bagaimana Roh Kudus itu “membantu” dia agar tidak menyakiti hati-Nya dengan membuat ia “kesulitan” mengakses website kegemarannya itu di kala “kemudahan” (Kemudahan yang dimaksud olehnya adalah suasana sepi dan sendiri serta akses internet yang sedang bagus) itu ada di depan matanya! Ini merupakan peristiwa yang tidak biasa bagi dirinya. Sebab biasanya ia tidak pernah mengalami hambatan sedikitpun – secara teknis – pada saat membuka website tersebut, kecuali hambatan perasaan bersalah yang kerap kali “dimatikan” olehnya.

Oleh karena rasa penasarannya, ia mencoba untuk “diskonek” saluran internetnya, lalu ia mencoba “rekonek” lagi. Lalu ia mencoba masuk lagi dan lagi-lagi gagal! Lalu ia mencoba lagi “men-diskonek” kemudian “me-rekonek” lagi. Lalu ia mencoba lagi masuk ke halaman website “favorit”-nya itu. Akan tetapi lagi-lagi ia gagal!! Selagi ia merasa kesal karena gagal dan gagal lagi, perasaan bersalah yang hadir di dalam jiwanya pun semakin besar pula! Pada saat kejadian itulah, ia baru menyadari bahwa sebenarnya Tuhan sedang mencegah dirinya untuk tidak melakukan dosa – LAGI! – di hadapan Tuhan!

Abimelekh, sang raja Gerar, mempunyai pengalaman yang serupa keunikannya (tapi tidak sama persis) dengan pemuda di atas. Abimelekh ketika melihat Abraham dan Sara memasuki Gerar, maka di dalam hatinya timbul “chemistry” (“setrum”) kepada Sara. Dan setelah Abimelekh mencari informasi tentang Sara dan Abraham maka ia di dalam ketulusannya dan kekuasaan yang dipunyainya mengambil Sara untuk dijadikan istrinya. Akan tetapi di luar pengetahuannya, Sara – selain saudari tiri – ternyata adalah istri dari Abraham! Dan yang menarik, Tuhan melakukan intervensi di dalam ketidaktahuan Abimelekh bahwa Sara adalah istri dari Abraham! Alkitab mencatat bagaimana Tuhan “menghampiri” Abimelekh pada waktu malam dan berkata kepadanya: “Engkau harus mati oleh karena perempuan yang telah kauambil itu; sebab ia telah bersuami.” (Kejadian 20:3b)

Abimelekh berespon: “Tuhan! Apakah Engkau membunuh bangsa yang tidak bersalah? Bukankah orang itu sendiri mengatakan kepadaku: Dia saudaraku? Dan perempuan itu sendiri telah mengatakan: Ia saudaraku. Jadi hal ini kulakukan dengan hati yang tulus dan dengan tangan yang suci.” (Kejadian 20:4-5) --- Abimelekh sama sekali TIDAK TAHU bahwa Sara adalah istri dari Abraham! Dan di dalam tradisi jaman purba raja-raja pada masa Perjanjian Lama, mengambil perempuan untuk dijadikan istri oleh raja adalah hal yang biasa. Bahkan ada raja-raja yang mengambil perempuan yang merupakan istri orang lain (contoh yang memilukan: raja Daud mengambil Betsyeba!).

Nah, yang menarik adalah respon Tuhan atas respon Abimelekh: “Aku tahu juga, bahwa engkau telah melakukan hal itu dengan hati yang tulus, maka AKU PUN TELAH MENCEGAH ENGKAU UNTUK BERBUAT DOSA TERHADAP AKU; SEBAB ITU AKU TIDAK MEMBIARKAN ENGKAU MENJAMAH DIA.” (Kejadian 20:6) --- Tidakkah luar biasa intervensi yang Allah sanggup kerjakan di dalam hidup anak manusia! Tuhan sendiri turun tangan di dalam mimpi untuk mencegah Abimelekh agar tidak berbuat dosa terhadap Diri-Nya dengan tidak membiarkan Abimelekh menjamah Sara! Luar biasa!!

Jika kita berpikir bahwa Tuhan tidak sanggup melihat ataupun mencegah kejahatan yang dilakukan anak manusia simaklah apa yang pemazmur katakan: “TUHAN ada di dalam bait-Nya yang kudus; TUHAN, tahta-Nya di sorga; mata-Nya mengamat-amati, sorot mata-Nya menguji anak-anak manusia.” (Mazmur 11:4) --- Sungguh, di hadapan Tuhan tidak ada satu hal pun yang luput dan tersembunyi dari-Nya. Sorot mata-Nya menguji anak-anak manusia. Jika Ia sanggup mencegah Abimelekh dan juga pemuda di atas, maka Ia juga sanggup mencegah setiap kita – anak-anak-Nya – yang sedang menuju kepada kubangan dosa. Entah kita melakukannya dengan hati yang tulus (ignorance) seperti Abimelekh ataupun ketika kita melakukannya dengan hati yang bulus (wicked) seperti pemuda di atas.

Pertanyaan yang timbul sekarang adalah: Mengapa di dalam beberapa kasus anak-anak manusia yang lain, Tuhan seolah-olah tidak mencegah sama sekali perbuatan jahat yang mereka lakukan? Mengapa seolah-olah Tuhan malah “mengijinkan” mereka menikmati kenikmatan dosa sampai ke akar-akarnya dan tetap hidup dengan baik-baik saja? Mengapa justru orang-orang yang sedemikian tidak Tuhan “hajar” atau jatuhkan tulah? --- Asaf pernah menaikkan keluh-kesah yang sama ketika ia mengamati “kesuksesan” dan “kemakmuran” orang-orang fasik dengan berkata: “Sesungguhnya, itulah orang-orang fasik: mereka menambah harta benda dan senang selamanya! Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah.” (Mazmur 73:12-13)

Sungguh sia-siakah kita mempertahankan hati yang bersih dan membasuh tangan kita tanda tak bersalah? Jawabannya adalah: TIDAK! Paulus mengingatkan kita semua ketika ia mengatakan: “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan (“work out” – not “work for” – your salvation) keselamatanmu dengan takut dan gentar… …karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” (Filipi 2:12-13)

Keselamatan yang sudah kita terima sejak Tuhan Yesus masuk di dalam hati kita dan menimbulkan buah ingin taat kepada-Nya hendaklah tetap kita kerjakan sambil takut dan gentar di hadapan-Nya! Janganlah hati kita redup dan tawar di dalam mempertahankan ketaatan untuk hidup dengan hati yang bersih dan dengan tangan yang tak bersalah, sebab Tuhan sendiri tidak pernah redup dan menyerah untuk bekerja di dalam hati kita menghidupkan kemauan dan pekerjaan menurut kerelaan-Nya! We are active outside because God is active inside (Kita aktif di luar bagi Tuhan sebab Tuhan aktif di dalam hati kita). Selama Tuhan aktif bekerja di dalam hati kita, hendaknya kita tidak pernah menyerah untuk aktif di luar “mengerjakan” (mensyukuri) keselamatan yang Tuhan sudah berikan di dalam hati kita untuk kita!

Dan kepada orang-orang yang seolah-olah terlihat senang hidupnya walaupun mereka dengan sengaja melakukan dosa, hendaknya kita memandang mereka seperti Paulus memandang. Paulus mengatakan bahwa Tuhan memang tidak mencegah mereka seperti Tuhan mencegah Abimelekh sebab Tuhan memang ingin MEMBIARKAN mereka menikmati dosa oleh karena memang mereka sudah menutup pintu hati mereka untuk menerima kebenaran Allah! Mereka Tuhan BIARKAN untuk hari murka Tuhan nantinya! Ibarat membeli kendaraan, Tuhan sedang “indent” orang-orang ini untuk nanti pada waktunya tiba menerima murka dan keadilan Tuhan!
Perhatikanlah tanda-tanda perilaku orang-orang yang Tuhan BIARKAN: (1) mereka menghidupi kecemaran, (2) mereka menghidupi hawa nafsu yang memalukan, (3) mereka menghidupi pikiran-pikiran yang terkutuk. --- Betapa mengerikannya ketika Tuhan tidak lagi mencegah manusia dari jeratan dosa! Tuhan MEMBIARKAN / MENYERAHKAN mereka ke dalam kecemaran, hawa nafsu yang memalukan dan pikiran-pikiran yang terkutuk!

Biarlah kita tidak merasa iri dan berpikir bahwa Tuhan tidak adil dengan tidak mencegah mereka berbuat dosa. Tuhan justru begitu adil dan mengasihi dunia ini, itu sebab ada kalanya Ia mencegah anak-anak-Nya yang hendak melakukan dosa, dan ada kalanya Ia menegur anak-anak-Nya yang sedang “asyik” di dalam kubangan dosa. Akan tetapi kepada mereka yang tidak lagi mau mendengarkan teguran Tuhan, maka adalah adil jika Tuhan MEMBIARKAN mereka sampai hari murka Tuhan itu tiba! Dan kepada kita yang masih peka merasakan bagaimana Tuhan menuntun dan mencegah kita untuk tidak berdosa di hadapan-Nya, segeralah berespon terhadap pencegahan yang Tuhan lakukan itu dengan tidak lagi berkanjang dan melanjutkan kebiasaan-kebiasaan berdosa yang masih “hidup” di dalam kita. Biarlah kita boleh sama-sama belajar dari respon Abimelekh ketika Tuhan mencegah dan menegurnya, Abimelekh tidak berkelit dan tidak mengeraskan hati, ia taat dan mengembalikan Sara kepada Abraham. Dan Alkitab mencatat bagaimana Tuhan menghargai respon ketaatan Abimelekh dengan memberkati kerajaan Gerar sehingga mempunyai keturunan (Kejadian 20:17-18)
Kiranya Tuhan terus menghidupkan kepekaan di hati kita untuk dapat melihat “pencegahan-pencegahan” yang Tuhan sedang kerjakan bagi anak-anak-Nya agar kita tidak terus-menerus berdosa dan menyakiti Tuhan. Amin.


“Day by day, dear Lord, of thee three things I pray: To see thee more clearly, Love thee more dearly, Follow thee more nearly, Day by day.” (Richard of Chichester)

Tuesday, June 30, 2009

From RHO-ers: Percayalah!

Ayat bacaan: Kejadian 15:6
====================

"Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran"

“Percaya” sudah menjadi kata yang sangat sulit dialami oleh orang kebanyakan saat ini. Mulai dari iklan-iklan di media sampai teman baik dan bahkan sampai pasangan hidup, hampir semua sulit untuk dipercaya janjinya. Tetapi tanpa “percaya” apalah artinya hidup yang kita jalani di dunia ini? Bahkan untuk sekedar mandi pagi-pun kita harus “percaya” kalau kita tidak akan terpeleset di kamar mandi. Atau ketika berjalan di jalan raya, kita juga butuh “percaya” kalau mobil atau motor kita tidak akan tertimpa papan reklame. Jika kita bahkan sudah kehilangan rasa “percaya” untuk hal-hal yang sedemikian sederhana, maka kita hanya akan menjadi orang-orang yang paranoid yang selalu mencurigai dan was-was sepanjang hari dan sepanjang usia kita. Tentunya tidak ada dari kita yang menginginkan hidup seperti demikian bukan? Lalu jika demikian bagaimana kita bisa “menghidupkan” lagi atau mungkin lebih tepat “menghidupkan ulang” rasa “percaya” itu?

Kata Ibrani yang dipakai untuk kata “percaya” pada ayat di atas adalah !m;a' (“aman” demikian bacanya). Bunyi kata Ibrani dari kata “percaya” di atas adalah AMAN! Aman! Ya, bukankah memang “percaya” itu dapat memberikan rasa aman pada jiwa kita. Kita merasa aman ketika mandi bahwa kita tidak akan terpeleset karena kita “percaya” pada keamanan dinding kamar mandi kita. Kita merasa aman ketika berkendaraan di jalan raya dan tidak akan tertimpa papan reklame karena kita “percaya” bahwa pemerintah tata kota yang memasang papan reklame itu tidak akan sembarang memasangnya.

Akhir Desember 2008 yang lalu, saya bersama dengan seorang rekan dan saudara pergi ke Dufan. Sudah beberapa kali saya ke Dufan dan mengikuti semua wahana permainan yang ada di Dufan. Akan tetapi ada satu wahana permainan yang saya belum bisa merasa “aman” untuk menaikinya. Mengapa? Karena saya belum “percaya” sama kualitas dan keamanan permainan tersebut. Nama wahana permainan tersebut adalah TORNADO! Permainan ini begitu memaksa adrenalin manusia sampai di titik puncaknya. Jadi seorang yang pendiam sekalipun pasti akan berteriak ketika duduk dan diputar-putar 360 derajat oleh mesin permainan ini.

Beberapa kali rekan dan saudara saya mengajak tetapi saya terus menolak dengan alasan rasa “aman” tadi. Tetapi waktu itu, saya berpikir. Kalau saya baru timbul rasa “aman” setelah saya cek semua baut dan oli serta karyawan yang mengelola permainan ini, maka rasanya “makna sejati” daripada permainan ini hilang! Saya akan duduk dan diputar-putar 360 derajat tanpa ada rasa apa-apa. Lalu jika demikian apa makna permainan ini? Lalu saya mencoba memberanikan diri dengan belajar “percaya” sama benda ini! Hasilnya sungguh mencengangkan saya secara pribadi: ternyata rasa “aman” itu ada SETELAH saya berani “percaya” dan “mempercayakan” diri saya pada kualitas wahana permainan tersebut!

Bukankah Abram pada ayat-ayat di atas juga merasakan rasa tidak “aman” yang besar? “Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan anak yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu.” (Kejadian 15:2) dan “Engkau [TUHAN] tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku.” (Kejadian 15:3). Kita semua membutuhkan rasa “aman” di dalam hidup ini. Bahkan menjelang kematianpun kita masih butuh akan rasa “aman” tentang siapa penerusku nanti. Lalu bagaimana Abram menemukan rasa “aman”-nya?

Rasa “aman” Abram tidak ditemukan di atas dasar manapun SELAIN di atas dasar FIRMAN (KATA-KATA) TUHAN! Kata (firman) Tuhan kepada Abram: “Orang ini [Eliezer] tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu.” (Kejadian 15:4). Setelah Abram mendengar kata-kata Tuhan ini, Alkitab mencatat: “lalu percayalah [amanlah] Abram kepada TUHAN…” Nah, percaya Abram ini timbul setelah Abram mendengarkan kata-kata (firman) Tuhan, dan lihatlah apa yang dikatakan firman kepada Abram ketika ia meng-“aman”-kan dirinya berdasarkan kata-kata Tuhan: “…maka TUHAN memperhitungkan [menghargai] hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” (Kejadian 15:6)

Filipi 4:6-7 mengatakan: “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam DOA dan PERMOHONAN dengan UCAPAN SYUKUR. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Jika Allah memperhitungkan (menghargai) percaya Abram kepada-Nya, maka Allah juga akan memperhitungkan percaya kita, anak-anak Abra[ha]m, jika kita meneladani Abram yang menaruh percayanya (aman-nya) pada kata-kata Tuhan saja! Kiranya rasa “aman-percaya” kita hanya kita landaskan pada kata-kata-Nya (firman-Nya) yang kekal dan abadi!

Percayalah! Karena firman-Nya masih “berkata-kata” hingga hari ini!

Friday, May 15, 2009

From RHO-ers: "Perjalanan Iman"

From: Roeby CH <roeby99 @ xxxx . com>
==============================

Dunia bekerja sebagai salah satu bentuk dunia yang kita jalani selalu
tidak pernah lepas dari ketegangan atau kekhawatiran yang terkait di
dalamnya baik akibat dari hubungan yang sederhana ataupun yang
kompleks seperti sebuah proyek baru.
Untuk sebuah proyek baru jelas sekali kita dapat melihat sumber dari
kekhawatiran tersebut, ya kekhawatiran karena belum pernah ada yang
menjalankan proyek tersebut jadi tidak tahu jalan / cara yang pasti
karena hal tersebut adalah sama sekali baru apalagi membayangkan
hasilnya.. karena begitu banyak pertimbangan, perhitungan, perkiraan
manusia yang terlibat di situ, dan yang mengherankan kebanyakan dari
kita membayangkan hal yang menakutkan bahkan bagi diri kita sendiri
seperti gagal dalam proyek alias tidak mencapai apa yang diharapkan ..
ataupun hubungan yang sederhana seperti hubungan antara rekan sekerja,
atasan dan bawahan, yang seringkali saling “jilat” dan saling “sikut”.

Dan banyak orang ingin dan sangat tertarik menghilangkan ketegangan /
stress tersebut dengan berbagai cara yang instan seperti contohnya
adalah banyak di jual seminars – seminar ataupun ajaran – ajaran yang
menawarkan kelepasan dari stress, kebebasan, menjadi cepat kaya dan
lain sebagainya yang intinya adalah memberikan kelepasan terhadap
masalah – masalah dunia ini. Dan pada banyak kesempatan juga kita
manusia termasuk saya “lupa” akan adanya Yesus Kristus sebagai Tuhan
dan Juru selamat yang menawarkan kelepasan total dan juga gratis
asalkan kita mau taat pada Nya dan mengikuti ajaranNya. Pertanyaan Nya
adalah mengapa hal tersebut bisa terjadi? Jawaban singkatnya adalah
kita lebih yakin dengan apa yang kelihatan dan berbicara langsung
dengan kita itulah sebabnya dibutuhkan iman bukan pikiran karena
memang Yesus tidak bisa kita pahami dengan pikiran kita namun dapat
kita pahami dengan iman.

Apakah iman itu? Ibrani 11:1 menyatakan “Iman adalah dasar dari segala
sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak
kita lihat.” …Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun
percaya…”Yohanes 20:29. Mudah diucapkan namun sulit untuk dilakukan,
namun akan menjadi sangat sederhana dan lebih mudah dipahami bila itu
tidak kita pikirkan dengan logika kita namun melalui mata hati kita.
Untuk sejenak kita kembali pada hari kemarin, seminggu yang lalu atau
beberapa waktu silam, pernahkah kita pergi ke tempat yang sama sekali
baru atau alamat teman kita yang baru, coba kita ingat – ingat apakah
kita pernah belajar naik sepeda atau berenang? Atau bermain suatu
permainan baru?

Apa yang kita rasakan saat itu? Apa yang kita lakukan untuk hal
tersebut, kenapa kita mau melakukan nya? Apa yang membuat kita pada
waktu itu rela membayar harganya supaya bisa naik sepeda walaupun kita
bisa terluka karena jatuh, atau kenapa kita mau untuk bisa berenang
atau bisa memainkan permainan yang baru itu? Kenapa tidak kita lakukan
hal itu untuk belajar beriman? Lain tidak adalah kita punya motivasi
yang luar biasa pada saat itu yang mengalahkan semua pikiran dan
perasaan kita bahwa bila kita sudah bisa maka kita akan merasa puas
dan bangga padahal yang kita lakukan lain tidak adalah lebih untuk
kepentingan diri kita sendiri, coba Anda bayangkan sejenak bila Anda
belajar untuk bisa beriman seperti hal nya belajar bersepeda maka saya
rasa Anda akan mulai sekarang juga karena bila Anda beriman maka
relasi Anda dengan Tuhan menjadi lebih indah lagi, lebih memahami
ajarannya dan mengenal Tuhan itu sendiri dengan lebih cepat lebih
dalam dan lebih mengasikan dari sebelumnya dan dari apa yang pernah
kita pikirkan, bukan dengan pikiran sendiri yang terkadang malah
me-logikakan ajaranNya dan menjadi jauh dari arti sebenarnya.

Pertanyaan selanjutanya adalah bagaimana caranya? Memangnya mudah
belajar menjadi beriman? Dan Anda sudah mengetahui jawabannya seperti
Anda belajar bersepeda dulu, ya kenapa tidak? Anda dapat bertanya
kepada orang yang sudah lebih mahir atau lebih paham daripada Anda dan
berkumpul bersam-sama dengan mereka serta bisa belajar dari Alkitab
dan tentu saja berlatih dengan tekun bila ingin lebih cepat
menguasainya.
Namun lebih penting adalah kemauan kita untuk memulai nya seperti
halnya belajar bersepeda dulu.

Mulailah dengan berdoa mintalah Tuhan membimbing kita agar kita dapat
meluangkan serta mempersiapkan waktu untuk belajar, mulailah dengan
benar, bukalah injil Matius 6:33 yang isinya: “Tetapi carilah dahulu
Kerajaan Allah dan kebenarannya maka semuanya itu akan ditambahkan
kepadamu. Sebab itu janganlah kuatir akan hari besok, karena hari
besok mempunyai mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari
cukuplah untuk sehari.” Lengkapnya bacalah Matius 6:25-34, renungkan
dan mulailah sekarang juga serta hiduplah dalam bimbingan Tuhan!

Wednesday, May 13, 2009

From RHO-ers: "Kemenangan Mutlak dalam Pencobaan"

From: darwin wijaya
===================================

Kemarin saya sempat berdiskusi dengan teman-teman yang
saya anggap sudah makin melenceng dari hidup yang
benar tentang dosa dan penghakiman, dan ketika saya
tegur, dia menjawab “yang sekarang urusan sekarang,
yang nanti urusan nanti, dan saya tidak pernah tau apa
yang akan terjadi nanti. kalau memang benar ada
penghakiman nantinya, saya akan bertobat jika saya
sudah tua nanti”. Saya ingin mengkaitkan dengan
sedikit dari yang saya dapat dari khotbah hari ini di
gereja.

Sebuah renungan singkat.

Ada sebuah sekolah untuk anak-anak yang tuli dan bisu,
dan mereka pada umunya berumur 6-7 tahun. Sekolah itu
sekolah kristen, dan ada seorang evangelis yang datang
untuk mengajar disana. Sang penginjil melontarkan
begitu banyak pertanyaan, dan di akhir khotbah nya, ia
mempertanyakan 3 pertanyaan penting.

1. Siapakah yang menciptakan langit dan bumi juga
engkau? lalu ada satu anak mengacungkan tangannya. ia
pun menuliskan dipapan tulis “Tuhan Yesus Kristus”

2. Apakah Tuhan Yesus Kristus yang menciptakan langit
dan bumi juga engkau adalah Tuhan yang penuh kasih?
lalu ada anak yang lain mengacungkan tangannya. ia
menulis “iya, Tuhan yesus adalah Tuhan yang penuh
kasih”

Pertanyaan ke 3 adalah pertanyaan yang menggentarkan
murid tersebut. pertanyaan ke 3 adalah:

3. Lalu jika Tuhan Yesus kristus adalah Tuhan yang
penuh kasih, mengapa ia menciptakan kalian bisu dan
tuli?

Begitu pertanyaan itu dituliskan di papan tulis,
langsung airmata menetes dengan sendirinya. Semua
anak-anak itu tertunduk, tak ada satu pun anak yang
berani mengacungkan tangannya ke atas. Lalu dengan
tegar seorang anak berdiri dengan terisak-isak dan
mengacungkan tangannya. Lalu ia menuliskan satu
jawaban yang begitu mengagetkan evangelis itu.
Jawabannya adalah “Supaya nama ALLAH dipermuliakan”.

Begitu mendengar semua itu, saya tersentak. Mengapa
anak yang baru berumur 6-7 tahun bisa menjawab dengan
demikian. Saya langsung membayangkan bagaimana bila
saya yang berada di posisi anak itu, atau ketika
pertanyaan yang memiliki konsep yang sama
dipertanyakan kepada saya ketika saya mengalami
pencobaan. Mungkin saya akan memaki-maki Tuhan, atau
paling tidak saya hanya bisa terdiam. Saya tak bisa
mempertanggung jawabkan iman saya, tapi anak yang
berumur 6 tahun bisa mempertanggung jawabkan. Setan
akan selalu mencobai manusia. Ia akan selalu memakai
cara-cara yang hebat dan mungkin saja memakai orang
terdekat kita untuk mencobai kita. Supaya kita jatuh
dalam tipu msulihat yang setan berikan.

Apakah kita yang telah Tuhan beri lebih sempurna
dibanding anak tadi, dan ketika kita masuk dalam
pencobaan kita selalu menyalahkan Tuhan?

Apakah kita yang telah Tuhan tebus diatas kayu salib,
tidak mau memiliki iman sejati seperti anak yang bisu
dan tuli itu?

Jika kita bagian dari orang-orang tersebut, marilah
kita bersama-sama kembali ke jalan kebenaran. Tuhan
selalu memelihara kita. Coba tanyakan dalam diri kita
masing-masing, apakah kita lebih banyak berbuat dosa
yang menyakitkan Tuhan atau perbuatan yang berkenan di
hati Tuhan? Lalu bandingkanlah dengan berkat dan
karunia yang telah kita terima dengan hukuman-NYA!
Yang mana yang telah engkau terima lebih banyak,
berkat atau hukuman-NYA?

Marilah kita berserah total di dalam setiap pencobaan
kepada-NYA, supaya kita dapat memenangkan setiap
percobaan yang diberikan setan, seperti ketika Tuhan
Yesus kristus memenangkan pencobaan di padang gurun
tanpa kebutuhan yang terpenuhi, tanpa mujizat dan
tanpa kemuliaan yang diperlihatkan. Seperti itulah
kita percaya pada-NYA!

Semoga blog ini boleh menjadi berkat bagi semua yang
membacanya, AMIN