Thursday, August 19, 2010

Semut dan Secangkir Kopi

Ayat bacaan: Amsal 6:6
===================
"Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak"

semut dan secangkir kopiKetika menulis renungan kemarin saya ditemani secangkir kopi hangat yang saya letakkan di lantai. Karena keasikan menulis kopi menjadi lupa saya nikmati. Dan ketika saya teringat akan kopi itu, saya pun melihat ternyata cangkir kopi itu sudah dirubungi semut. Saya pun segera memindahkannya ke atas. Satu kali angkut bagi saya, tetapi pasti menjadi sangat merepotkan bagi semut-semut itu untuk kembali mendatangi cangkir. Bayangkan tadinya sudah tepat di depan mata, tapi sekarang berpindah jauh ke atas. Tetapi semut-semut itu ternyata tidak putus asa. Perhatian saya pun kemudian beralih memperhatikan perilaku semut-semut itu. Sebuah perjalanan panjang dari lantai, ke terali pun mereka jalani untuk bisa kembali mencapai gelas. Benar-benar usaha yang luar biasa. Saya pun tertegun.. betapa hebatnya usaha semut-semut ini. Saya berpikir, alangkah baiknya seandainya kita bisa memiliki sedikit saja dari ketekunan dan kegigihan semut ini. Tidak bersungut-sungut, tidak mengeluh dalam menghadapi problema hidup, tetapi terus berjuang dengan semangat yang tidak mudah patah.

Etos kerja seperti semut itu sudah menjadi perhatian sejak dahulu kala. Lihatlah bagaimana Salomo mengingatkan kita untuk mengikuti sikap semut, hewan yang ukurannya jauh lebih kecil dari kita. Hewan yang lemah, yang bahkan sekali pencet saja sudah tamat riwayatnya. Salomo memakai semut untuk sindiran kepada orang-orang malas. Katanya: "Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak." (Amsal 6:6). Seperti apa semut itu? "biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen." (ay 7-8). Semut adalah hewan rajin, giat dan gigih dengan etos kerjasama yang luar biasa. Semut sanggup mengangkat beban yang jauh lebih berat dari beratnya sendiri, jika tidak mampu mereka akan bekerjasama agar beban itu sanggup diangkut. Lebih dari itu, seperti contoh secangkir kopi di atas, semut menunjukkan semangat pantang mundur, tidak gampang patah semangat dan tidak mudah menyerah. Alangkah baiknya jika kita mau belajar dari semut demi kebaikan kita.

Masih dalam Amsal, Agur bin Yake pun menyinggung soal kerajinan semut ini. "Semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas." (Amsal 20:25). Semut, menurut Agur merupakan satu dari empat binatang yang terkecil di bumi, tetapi sangatlah bijaksana. Sangat lemah, sangat kecil, tetapi sangat rajin dan sangat kuat kerjasamanya. Betapa malunya kita manusia yang berukuran jauh lebih besar dan lebih kuat cuma bisa mengeluh tanpa berusaha maksimal. Betapa rapuhnya kita yang terlalu cepat putus asa sebelum mengeluarkan kemampuan terbaik, tanpa memaksimalkan segala talenta yang telah dipercayakan Tuhan kepada kita, terutama tanpa mengandalkan atau percaya kepada Tuhan.

Tuhan tidak suka kepada orang malas. Lihatlah satu lagi ayat dalam kitab Amsal berikut: "Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia, sedangkan hati orang rajin diberi kelimpahan." (Amsal 13:4). Tuhan bisa memberikan segalanya dengan instan, tetapi apakah itu mendidik buat kita? Apakah itu baik buat perkembangan mental kita terutama pertumbuhan rohani kita? Tuhan berkenan kepada orang-orang yang rajin, yang tidak mengisi hidupnya hanya dengan mengeluh, tetapi mau mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk berjuang. Hal seperti itu bukanlah sesuatu yang menyenangkan hati Tuhan. Itulah sebabnya kita harus belajar dari sikap seekor semut. Firman Tuhan mengingatkan kita untuk serius mengerjakan segala sesuatu. Firman Tuhan menginginkan kita untuk terus bekerja dengan rajin, memastikan roh kita tetap bernyala-nyala meski dalam situasi seperti apapun. "Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan." (Roma 12:11). Seperti itulah bunyi firman Tuhan yang seharusnya kita ingat baik-baik. Dalam keadaan apapun, tetaplah bersemangat, jangan pernah padamkan roh, dan muliakanlah Tuhan lewat segala sesuatu yang kita kerjakan. Dimana posisi kita saat ini? Sudahkah kita memiliki kerajinan dan kegigihan serta kekompakan seperti semut? Jika belum, tidak ada salahnya untuk belajar dari hewan kecil ini sekarang juga.

Ada banyak hal yang bisa diteladani dari seekor semut

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, August 18, 2010

Ketaatan Prajurit

Ayat bacaan: Matius 8:9
=======================
"Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya."

ketaatan prajuritSeperti apa sih prajurit yang dikatakan terbaik itu? Itu sebuah pertanyaan yang saya berikan ketika pada suatu ketika saya berbincang-bincang santai dengan seorang perwira. Apakah seperti yang kita lihat di film-film, berani mati, jagoan dan tidak terkalahkan di medan pertempuran, tetap gagah berani bertempur meski terluka parah? Apakah prajurit terbaik itu adalah prajurit yang paling hebat mengetahui strategi perang, yang menguasai senjata paling banyak? Tetapi ternyata bukan itu. Menurut tentara yang menjadi teman ngobrol saya itu, seorang prajurit terbaik dilihat bukan dari heroik atau kehandalannya tetapi dari ketaatan mereka terhadap perintah atau instruksi komandannya. Semua yang saya sebutkan tadi jelas baik, tetapi lebih dari itu semua kepatuhan atau ketaatan mengikuti atasan sesuai garis komando, itulah yang terbaik. Artinya mereka harus patuh ketika disuruh berperang hingga titik darah penghabisan, sebaliknya mereka harus taat untuk mundur dari pertempuran jika itu yang menjadi instruksi komandannya. Ketaatan tanpa banyak tanya, tanpa protes, tanpa berbantah, itu menunjukkan kualitas terbaik dari seorang prajurit.

Sejauh mana seorang prajurit mentaati perintah komandannya, tanpa banyak tanya, itulah yang menunjukkan kualitas mereka. Bayangkan apabila mereka seenaknya menyerang tanpa mengikuti perintah. Bisa jadi itu tindakan yang mungkin dianggap baik oleh sang prajurit, tapi itu tidak benar karena tidak mentaati komandannya. Tidak jarang pula prajurit yang bertindak hanya mengikuti kehendak dirinya seperti ini bisa berakibat fatal menggagalkan seluruh strategi yang sudah dirancang sebelumnya. Kehidupan Kekristenan juga seharusnya mengacu kepada bentuk ketaatan prajurit seperti ini.

Mari kita lihat apa yang terjadi ketika seorang perwira Roma mendatangi Yesus untuk memohon sesuatu. Ia memiliki keperluan menjumpai Yesus karena salah seorang hambanya tengah mengalami penderitaan akibat sakit lumpuh. Yesus pun setuju untuk menyembuhkan hamba itu dan bermaksud untuk segera ikut menuju rumah sang perwira. Ternyata si perwira menolak. "Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh." (Matius 8:8). Ia kemudian melanjutkan: "Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya." (ay 9). Si perwira tahu dimana posisinya. Tidak peduli setinggi apapun pangkat atau jabatannya, ia tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan Yesus, Raja di atas segala raja. Maka ia memutuskan untuk taat sepenuhnya kepada Yesus. Sepatah kata sajapun dari Yesus akan sanggup menyembuhkan hambanya. Ia sadar sepenuhnya akan hal itu. Ia tidak akan banyak tanya atau meragukan hal itu sama sekali. Dan Yesus pun kagum akan ketaatan total yang berdasarkan iman besar sang perwira itu. "Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel." (ay 10). Dan yang terjadi adalah tepat seperti apa yang dipercaya oleh si perwira. Ketaatannya membuahkan kesembuhan bagi sang hamba saat itu juga.

Seringkali kita meragukan kepedulian Tuhan ketika kita berada dalam kesesakan. Kita kerap sulit untuk taat sepenuhnya kepada Tuhan. Dalam hal biasa-biasa saja kita bisa lebih mementingkan keduniawian ketimbang taat terhadap kehendak Tuhan. Kita merasa bahwa perintah-perintah Tuhan seolah mengekang kebebasan kita, seolah-olah kita tidak boleh bersenang-senang seperti orang dunia lainnya. Jika dalam keadaan baik saja kita sudah sulit taat, apalagi ketika beban sedang memberati kita. Keraguan bisa menyeruak, ketidaksabaran bisa menguasai kita sehingga kita memilih untuk melakukan banyak hal yang kita kira baik, padahal itu tidaklah sejalan dengan firman Tuhan. Kita pikir baik menurut pendapat kita, padahal belum tentu benar menurut Tuhan. Betapa seringnya kita bertindak seperti prajurit jagoan, mengira kita bisa sesuka hati melakukan segala sesuatu hanya berdasarkan pikiran kita dan melupakan bahwa kita sesungguhnya memiliki "Atasan" yang seharusya kita taati sepenuhnya. Kita sering dibutakan oleh hal-hal yang kita anggap baik, padahal itu tidak sesuai dengan perintah Tuhan, sehingga akhirnya kita terjebak melakukan sesuatu yang tidak benar.

Setiap pelanggaran dan ketidaktaatan pada saatnya akan mendapat balasan yang setimpal. (IBrani 2:2). Bahkan lebih dari itu, dikatakan pula bahwa ketidaktaatan akan membuat murka Tuhan jatuh atas kita. "Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya." (Yohanes 3:36). Karena itulah kita selalu diingatkan untuk menjadi anak-anak Tuhan yang taat. "Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah." (Efesus 5:2) Ketaatan penuh merupakan harga mati dalam prinsip kehidupan kekristenan. Bukankah Yesus sendiri sudah menunjukkan bentuk ketaatan penuh ini dalam menjalankan karya penebusanNya untuk kita? "Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib." (Filipi 2:8) Inilah yang seharusnya kita teladani sebagai cerminan seperti apa ketaatan kita seharusnya kepada Tuhan. Ketaatan penuh tanpa banyak tanya seperti ketaatan prajurit kepada komandannya, itulah yang seharusnya menjadi bentuk ketaatan kita kepada Tuhan. Sebuah penyerahan total, penundukan diri yang mutlak, kepatuhan yang dilandasi oleh iman yang percaya sepenuhnya kepada kehendak Tuhan atas diri kita seharusnya mewarnai hidup setiap umat Kristen. Dalam keadaan apapun bentuk ketaatan layaknya prajurit seperti ini sudah selayaknya menjadi prinsip kita. Hari ini marilah kita mulai menyatakan komitmen sungguh-sungguh untuk taat sepenuhnya kepada Tuhan.


"Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu." (1 Petrus 1:14)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, August 17, 2010

Great is the Lord

Ayat bacaan: Mazmur 96:4
====================
"Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah."

great is the LordJika saya menyebut nama "The Red Devil" apa yang muncul di benak anda? Bagi penggemar bola mereka akan segera ingat kepada sebuah tim sepak bola dari Inggris yang memiliki fans jutaan orang di seluruh dunia, yaitu Manchester United. Rasanya semua klub sepak bola di seluruh dunia memiliki julukannya tersendiri. Bahkan orang pun sering mendapat julukan tersendiri. Biasanya julukan akan muncul dari sebentuk kasih sayang dari orang lain atau juga bukti kedekatan antara satu dengan lainnya. Disamping itu julukan biasanya juga mengacu kepada pengenalan seseorang akan diri kita, bagaimana orang menilai diri kita atau apa yang menonjol dari kita di mata orang lain. Dari nama julukan ini kita bisa mengetahui sifat seseorang, karakternya, apa yang istimewa dari mereka atau dari mana mereka berasal.

Pernahkah kita merenungkan sebesar apa Tuhan itu? Apa saja sebutan yang bisa kita utarakan untuk menggambarkan kebesaran, keagungan dan kemuliaanNya? Pemazmur tampak jelas memiliki kedekatan, hubungan yang sangat erat dengan Tuhan. Ada begitu banyak sebutan yang menggambarkan atau mendeskripsikan kehebatan Tuhan dalam kitab Mazmur. Jika anda membaca Mazmur 1 sampai 48 saja anda sudah menemukan begitu banyak gambaran dahsyatnya Tuhan dalam berbagai sebutan. Mari kita lihat apa saja sebutan yang menggambarkan berbagai sifat Tuhan beserta kehebatannya dari sepertiga kitab Mazmur itu.

Tuhan adalah perisai yang melindungi aku (3:4), yang membiarkan aku diam dengan aman (the source of safety) (4:98), Rajaku dan Allahku (5:3), Hakim (7:9. 9-9), Yang Maha Tinggi (The Most High) (7:18), tempat perlindungan (our refuge and high tower, a stronghold) (9:10), penolong anak yatim (the helper of the fatherless) (10:14), Raja untuk seterusnya dan selama-lamanya (10:16), adil (11:7).

Tuhan adalah bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku (my Rock, my Fortress and my Deliverer) (18:3, 31:3-4), sandaranku (my stay and support) (18:19), Penebusku (my Redeemer) (19:15). Tuhan adalah gembalaku (23:1), Raja Kemuliaan (24:7), Maha Kuasa (the Lord of hosts) (24:10), Penyelamat (25:5), terangku dan keselamatanku (27:1), gunung batuku (28:1), kekuatanku dan perisaiku (28:7), benteng pertahanan (28:8). Tuhan adalah Allah yang mulia (29:3), Allah yang setia (31:6), Allah yang hidup (42:3), penolong dalam kesesakan (46:2), Mahatinggi dan dahsyat, Raja yang besar atas seluruh bumi  (47:3).

"Great is the Lord and highly to be praised in the city of our God.. Besarlah Tuhan dan sangat terpuji di kota Allah kita!" begitulah yang disebutkan dalam Mazmur 48:1. Dalam Mazmur 96:4 kita bisa membaca seruan Daud: "Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah" yang juga terdapat dalam 1 Tawarikh 16:25. Ada begitu banyak kebesaran dan kemuliaan Tuhan yang menggambarkan pribadi Allah kita yang dahsyatnya luar biasa. Tidak akan ada habisnya untuk kita renungkan.

Mengacu kepada "sedikit" dari sekian banyak gambaran Allah yang tercatat kekal di dalam alkitab, sudahkah kita memakai waktu kita secara khusus untuk memuji dan menyembahNya? Sudahkah kita bersyukur dengan memiliki Tuhan yang berkuasa di atas segalanya? Lihatlah ada begitu banyak dasar atau alasan bagi kita untuk memuji Tuhan. Karena itu mari kita sama-sama  mencari Dia hari ini untuk mengucap syukur atas segala kebaikanNya kepada kita. Great is the Lord, and greatly to be praised!

Tidak akan pernah ada kata cukup untuk memuji Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, August 16, 2010

Penyingkapan Tuhan

Ayat bacaan: Matius 16:17
====================
"Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga."

penyingkapan TuhanBetapa hausnya manusia akan pendidikan. Kita dilahirkan bagai kertas kosong, dan semua orang akan berusaha untuk mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya. Para orang tua akan selalu berupaya untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka dengan sebaik-baiknya. Dan hidup ini pun merupakan sebuah perjalanan yang seharusnya diisi dengan proses pembelajaran. Selama hidup seharusnya kita tidak berhenti belajar. Itu adalah sebuah kata bijak yang tentu sudah sering kita dengar. Dari luar, kita serap ke dalam, sehingga kita terus mengisi diri kita dengan ilmu pengetahuan sebanyak mungkin. Itulah jenis pengetahuan yang diketahui kebanyakan orang. Tetapi apakah hanya itu? Sesungguhnya tidak. Dalam Kerajaan Allah ada sebuah jenis pengetahuan lain. Bentuknya bukan seperti ilmu pengetahuan yang biasa kita pelajari, yang diperoleh dari luar ke dalam, melainkan dari dalam ke luar. Inilah apa yang disebut dengan pengetahuan singkapan atau revelation knowledge.

Mari kita lihat ketika Yesus menyinggung hal ini pada suatu kali kepada murid-muridNya. "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" (Matius 16:15). Di antara para murid, Petruslah kemudian yang menjawab dengan singkat dan tegas: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" (ay 16). Mendengar jawaban Petrus, "Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga." (ay 17). Dengan kata lain, Yesus mengatakan bahwa apa yang dikatakan Petrus bukanlah bearsal dari pengetahuan melalui indra jasmaninya, bukan melalui pelajaran-pelajaran yang ia peroleh di sekolah atau lainnya, tetapi ia menerimanya langsung dari Bapa. Ini adalah sebuah bentuk penyingkapan yang berasal dari Bapa, dari dalam ke luar.

Singkapan-singkapan Tuhan mengenai rahasia KerajaanNya bisa diberikan kepada kita, dan itu akan mampu mengubah banyak hal dalam hidup kita. Seperti apa yang dikatakan Yesus kepada Petrus selanjutnya: "Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya." (ay 18). Tetapi penyingkapan ini tidaklah datang dengan begitu saja. Kita perlu terlebih dahulu memiliki hati dan sikap yang mau diajar atau dibentuk. Paulus mengingatkan pula bahwa kita seharusnya membiarkan Allah untuk membuat pribadi kita menjadi baru agar kita mampu mengetahui kemauan Tuhan. "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Roma 12:2). Kita perlu pula terus mengisi diri kita dengan firman Tuhan dan membiarkan Roh Tuhan berdiam (dwell) di dalam diri kita. Sebab kita harus menyadari bahwa penyingkapan ini hadir kepada kita dari Roh Kudus yang berdiam dalam kita. "Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah." (1 Korintus 2;9-10).

Alkitab juga menyatakan bahwa hikmat Tuhan memang tersembunyi dan rahasia. Tetapi semua itu disediakan Tuhan untuk kita orang-orang percaya. "Tetapi yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita." (1 Korintus 2:7). Tapi perhatikanlah bahwa semua itu disembunyikan bukan dari kita, melainkan untuk kita. Itu pernyataan Allah yang membuktikan bahwa Dia memang ingin kita untuk memilikinya. Itulah sebabnya Tuhan memberikan pengetahuan singkapan atau revelation knowledge ini untuk memperlengkapi kita, anak-anakNya dengan hikmat surgawi, memberikan kita rahasia-rahasia yang berasal dari KerajaanNya. Akan tetapi sekali lagi ingatlah bahwa semua itu tidak akan datang begitu saja. Itu tidak akan datang pada kita ketika kita terlalu sibuk menikmati dunia dan melupakan untuk membangun hubungan dengan Tuhan.

Jika kita merindukan pengetahuan penyingkapan ini kita harus menempatkan diri kita pada sikap yang tepat untuk menerimanya. Renungkan Firman, rajin berdoa dan terus bersekutu dengan Tuhan, mengizinkan Roh Kudus untuk tinggal dan diam di dalam diri kita, itu semua penting untuk kita camkan agar kita bisa menerima berbagai singkapan langsung dari Tuhan. Tuhan siap untuk menyingkapkan rahasia-rahasiaNya kepada anda saat ini. Siapkah anda menerimanya?

Pengetahuan singkapan yang berasal dari Tuhan akan memperlengkapi kita untuk menjadi berbeda dengan dunia

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, August 15, 2010

Rut yang Giat dan Rajin

Ayat bacaan: Rut 2:7
=================
"Tadi ia berkata: Izinkanlah kiranya aku memungut dan mengumpulkan jelai dari antara berkas-berkas jelai ini di belakang penyabit-penyabit. Begitulah ia datang dan terus sibuk dari pagi sampai sekarang dan seketikapun ia tidak berhenti."


rut dan kerajinanSiapa yang harus disalahkan jika kita hidup serba kekurangan? Ada banyak orang yang menyalahkan nasib, takdir dan sebagainya, yang sama saja artinya dengan menyalahkan Tuhan. Ada orang yang saya kenal selalu mengeluh tetapi ia sendiri tidak berusaha apa-apa. Sehari-hari ia hanya duduk di rumah tanpa melakukan apapun. Untuk orang seperti ini, bagaimana mungkin hidupnya bisa meningkat? Manusia diciptakan bukan untuk bermalas-malasan. Manusia pertama, Adam sekalipun sudah diberi wewenang untuk mengelola segala sesuatu yang ada di bumi. (Kejadian 1:28). Itu artinya kita memang dijadikan untuk melakukan pekerjaan dengan giat, baik pekerjaan untuk mencari nafkah maupun untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan Tuhan seperti amanatnya.

Selama beberapa hari terakhir kita sudah membahas berbagai kualitas diri dari Rut yang patut kita teladani. Ada satu hal lagi yang bisa kita pelajari dari Rut, yaitu keseriusannya dalam bekerja. Rut adalah seorang yang rajin dan giat bekerja. Ia tidak sungkan atau malu melakukan pekerjaannya, meski apa yang ia kerjakan bukanlah sesuatu yang bagi banyak orang membanggakan. Pemungut jelai, itulah profesinya. Sesuai dengan apa yang difirmankan Tuhan lewat Musa dalam Imamat 19:9-10, hasil panen yang terjatuh di tanah tidak boleh diambil, tetapi harus dibiarkan agar bisa dipungut oleh orang-orang miskin. Maka para orang miskin pemungut jelai ini biasanya akan mengikuti penyabit atau pemanen dari belakang untuk memunguti sisa-sisa tuaian yang terjatuh. Sebagai wanita yang umurnya lebih muda dari sang mertua, Naomi, Rut menyadari bahwa dirinyalah yang harus bekerja. Dan itu ia lakukan dengan sepenuh hati, meski pekerjaannya terbilang paling rendah pada saat itu.

Darimana kita bisa mengetahui bahwa Rut merupakan tipe pekerja keras? Perhatikan ketika Boas terheran-heran melihat Rut yang sedang sibuk memunguti jelai di belakang penyabit. Ketika Boas bertanya tentang Rut, bujang pengawas atau mandor menjelaskan siapa Rut itu. Lalu si mandor melanjutkan: "Tadi ia berkata: Izinkanlah kiranya aku memungut dan mengumpulkan jelai dari antara berkas-berkas jelai ini di belakang penyabit-penyabit. Begitulah ia datang dan terus sibuk dari pagi sampai sekarang dan seketikapun ia tidak berhenti." (Rut 2:7). Lihat bagaimana serius dan tekunnya Rut bekerja. Dikatakan disana bahwa ia terus sibuk sejak pagi tanpa berhenti sedikitpun. Ketekunannya ini menimbulkan rasa simpati di hati Boas, sehingga ia pun mendapat belas kasihan dari Boas. "Sesudah itu berkatalah Boas kepada Rut: "Dengarlah dahulu, anakku! Tidak usah engkau pergi memungut jelai ke ladang lain dan tidak usah juga engkau pergi dari sini, tetapi tetaplah dekat pengerja-pengerja perempuan. Lihat saja ke ladang yang sedang disabit orang itu. Ikutilah perempuan-perempuan itu dari belakang. Sebab aku telah memesankan kepada pengerja-pengerja lelaki jangan mengganggu engkau. Jika engkau haus, pergilah ke tempayan-tempayan dan minumlah air yang dicedok oleh pengerja-pengerja itu." (ay 8-9). Meski pekerjaannya cukup berat, ternyata Rut dengan senang hati melakukannya dengan giat dan sungguh-sungguh. Bahkan Rut terus melakukan pekerjaan selama musim panen jelai dan panen gandum. "Demikianlah Rut tetap dekat pada pengerja-pengerja perempuan Boas untuk memungut, sampai musim menuai jelai dan musim menuai gandum telah berakhir. Dan selama itu ia tinggal pada mertuanya." (ay 23).

Bagaimana dengan etos kerja kita hari ini? Apakah kita sudah memberikan performa yang terbaik atau kita masih terus berhitung untung rugi dalam bekerja? Kemalasan tidaklah mendapat tempat di mata Tuhan. Jika Boas saja terkesan dengan semangat dan giatnya Rut bekerja, Tuhan pun tentu demikian. Lihatlah dalam janji berkat dalam Ulangan 28:1-14, kita bisa melihat bahwa Tuhan lebih suka untuk memberkati pekerjaan kita ketimbang memberikan dengan instan. Tuhan menyukai usaha yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh dan Dia akan menaruh berkatNya disana, lewat ketekunan kita. "Diberkatilah engkau di kota dan diberkatilah engkau di ladang. Diberkatilah buah kandunganmu, hasil bumimu dan hasil ternakmu, yakni anak lembu sapimu dan kandungan kambing dombamu. Diberkatilah bakulmu dan tempat adonanmu." (Ulangan 28:3-5). Usaha serius dan sungguh-sungguh akan selalu berbuah manis.

Firman Tuhan mengingatkan kita untuk bekerja dengan sebaik-baiknya selagi masih ada kesempatan. "Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi." (Pengkotbah 9:10). Ini sebuah seruan yang penting untuk kita ingat, karena jika kita menyia-nyiakan masa produktif kita, maka kita tidak akan menuai apapun di masa depan. Dalam Amsal kita bisa melihat ayat berikut: "Pada musim dingin si pemalas tidak membajak; jikalau ia mencari pada musim menuai, maka tidak ada apa-apa." (Amsal 20:4). Tidak ada jalan lain, jika kita ingin sukses menerima berkat Tuhan, kita harus bekerja dengan rajin dan giat. Bahkan dikatakan "..jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan." (2 Tesalonika 3:10).

Jangan buang-buang waktu dengan terus sibuk melakukan hal yang tidak berguna atau memilih untuk terus bermalas-malasan dan tidak bekerja. Tuhan tidak menyukai sikap seperti itu. Etos kerja, kerajinan dan giatnya Rut bekerja ternyata membuahkan hasil luar biasa. Dan seperti itulah bagi kita pula. Tuhan sanggup memberikan semuanya secara instan, tetapi hal itu sangatlah tidak mendidik. Tuhan lebih memilih untuk memberkati pekerjaan kita. Karena itu giatlah bekerja. "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk  manusia." (Kolose 3:23). Mari kita teladani sikap diri Rut yang bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa memandang tinggi rendahnya pekerjaan yang ia lakukan. Tuhan tetap sanggup memakai pekerjaan serendah apapun untuk diubahkan menjadi berkat luar biasa apabila kita melakukannya dengan sepenuh hati untuk kemuliaanNya.

Bekerjalah sungguh-sungguh dengan segenap hati untuk memuliakan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho