Sunday, March 14, 2010

Tuhan Tahu

Ayat bacaan: Keluaran 3:7
====================
"Dan TUHAN berfirman: "Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka."

Tahukah Tuhan apa yang sedang kita alami saat ini? Itu pertanyaan yang sering muncul di benak orang yang sedang mengalami masalah. Pertanyaan ini tidak saja keluar dari orang tidak percaya, tapi di kalangan anak Tuhan pun sering. Ada kalanya ketika kita merasakan kepedihan dan penderitaan, kita merasa seolah-olah Tuhan berpangku tangan membiarkan kita sendirian. Mungkin Tuhan tidak mendengar, mungkin Tuhan sedang terlalu sibuk, atau mungkin kita merasa terlalu kecil buat diurusi Tuhan. Itu sering menjadi reaksi dari orang-orang yang merasa belum mendapat jawaban atas doa-doanya. Menunggu memang tidaklah mudah, waktu seakan berjalan lebih lambat dari normal. Tapi apakah benar Tuhan tidak mengetahui apa yang kita alami? Tidak. Tuhan tahu. Dia lebih dari tahu, dan itu kabar gembiranya. Tidak saja tahu, tapi Tuhan juga mengerti, dan peduli.

Ayat bacaan hari ini diambil dari saat ketika Musa pertama kali dipanggil untuk dipakai atau diutus Tuhan. Mengapa Musa dipanggil Tuhan? Karena Tuhan tahu betul bagaimana kesengsaraan umatNya di tanah Mesir, dimana mereka hidup sebagai budak yang tidak berharga. Firman Tuhan berkata demikian: "Dan TUHAN berfirman: "Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka." (Keluaran 3:7). Maka Musa pun diutus Tuhan untuk membawa umatNya keluar dari perbudakan untuk berjalan memasuki tanah terjanji. Dari ayat ini kita bisa melihat bahwa bukan saja Tuhan tahu, tapi Dia pun peduli dan berkenan mengambil langkah untuk menolong umatNya. Jika pada akhirnya bangsa Israel harus mengarungi perjalanan berpuluh tahun dan hampir seluruhnya dari angkatan pertama yang keluar dari Mesir saat itu gagal memasuki tanah terjanji, itu bukan karena Tuhan ingkar janji, tapi karena kesalahan bangsa Israel itu sendiri. Apa yang dijanjikan Tuhan jelas, sebuah tempat yang kaya dan subur. "Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya" (ay 8).

Ketika Yesus melakukan pelayananNya di muka bumi ini, pada suatu ketika Yesus pergi mengunjungi sebuah kota bernama Nain bersama murid-muridNya diikuti banyak orang yang menyertai perjalananNya berbondong-bondong. Pada saat itu, Yesus bertemu dengan seorang janda yang sedang mengantar jenazah anaknya yang meninggal. Dan betapa menarik, reaksi Tuhan Yesus adalah seperti ini: "Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: "Jangan menangis!" (Lukas 7:13). Tuhan Yesus menunjukkan empatiNya akan penderitaan manusia. He knows exactly how it feels. Tidak berhenti sampai disitu, tapi Yesus pun ternyata turut campur secara langsung pada hari dimana sang janda mengira bahwa hidupnya akan berlanjut tanpa kehadiran anaknya lagi. Inilah yang kemudian dilakukan Yesus: "Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: "Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!" (ay 14). Dan si anak pun bangkit! Ada banyak orang yang melihat dan terkejut dengan apa yang mereka lihat, kemudian segera menyadari bahwa Allah telah melawat mereka. (ay 16).

Sikap pro-aktif penuh empati seperti yang kita lihat dalam dua kisah di waktu yang berbeda di atas merupakan contoh nyata betapa Tuhan memperhatikan nasib kita. Tidak satupun di kolong langit ini yang berada di luar jarak pandang Tuhan. Dia tahu betul apa yang sedang kita rasakan. Tidak hanya tahu, tapi juga peduli dan mau mengulurkan tanganNya untuk menolong kita. Dia adalah Allah yang penuh belas kasihan. Karena alasan itu pula Tuhan sampai harus rela menyerahkan Kristus untuk menebus kita semua dari kebinasaan dan masuk ke dalam hidup yang kekal, yang penuh sukacita, berlimpah susu dan madunya. Dia merasakan penderitaan kita. Begitu merasakan, bahkan Yesus pun sampai menangis melihat warna-warni kepedihan yang dialami manusia, juga menangis melihat bahwa kita seringkali tidak sadar bahwa apa yang kita lakukan sedang mengarahkan kita kepada kehancuran. (bacalah Lukas 19:28-44). Belas kasihNya yang begitu besar tampak dari rupa-rupa pelayananNya ketika hadir di muka bumi ini dengan mengambil rupa seorang hamba.

Berbagai masalah, tantangan, penderitaan mungkin sedang kita alami hari ini, dan mungkin akan kita alami di waktu yang akan datang. Jangan sampai masalah itu membuat kita mengalami kepahitan terhadap Allah, dengan mengira bahwa Dia tidak mendengar, tidak peduli atau tidak mau berbuat apa-apa. Tuhan telah berulangkali membuktikan secara nyata bahwa Dia selalu tahu bagaimana penderitaan kita dan menjanjikan kelepasan dari masalah seberat apapun. Adalah benar bahwa hidup ini tidak akan pernah seterusnya berjalan tanpa penderitaan, tapi di sisi lain kita juga harus tahu bahwa Tuhan akan selalu berkenan untuk turut campur dalam setiap perkara. Tuhan siap menguatkan kita hingga kita mampu menanggung setiap perkara, seberat apapun itu (Filipi 4:13), dan Tuhan pun sanggup melepaskan kita sepenuhnya. Bawalah segala permasalahan anda hari ini ke hadapan Tuhan, dan mari dengarkan apa kataNya. Percayalah bahwa ada belas kasih tak terbatas dari Tuhan untuk anda dan saya.

Tuhan selalu siap untuk turut campur dalam setiap perkara

Saturday, March 13, 2010

Surat Kristus

Ayat bacaan: 2 Korintus 3:3
=======================
"Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia."

surat KristusAdakah di antara teman-teman yang ingat jaman ketika "sahabat pena" sangat populer di kalangan remaja? Orang saling berkorespondensi, berkenalan dan kemudian menjadi akrab meski jaraknya berjauhan lewat surat menyurat. Waktu yang diperlukan cukup lama untuk saling berbalasan, tapi itu tidak menghambat hubungan persahabatan yang bisa terjalin sangat dekat dengan seseorang di seberang sana, yang belum pernah bertemu sebelumnya. Saat ini teknologi sudah begitu maju, sehingga orang lebih cenderung menggunakan fasilitas surat elektronik atau email. Sangat mudah dan sangat cepat. Anda hanya perlu login, kemudian mengetik sebuah surat, lalu mengirimnya dan sesaat kemudian surat itu akan sampai ke tangan orang yang anda tuju di belahan dunia lainnya. Perkembangan surat menyurat memang sudah sedemikian maju, tapi biar semaju apapun kita tetap saja perlu berhubungan dengan orang lain lewat surat. Kita bisa menyampaikan pesan dan sebagainya lewat surat yang akan dapat dibaca orang lain yang melihatnya. Sebuah surat terbuka seperti di mailing list atau pemberitahuan dari direksi kepada karyawan akan dapat dilihat oleh jumlah orang yang banyak sekalipun. Jika kita tidak berani mengutarakan sesuatu, surat akan menjadi alternatif yang paling mudah untuk dilakukan.

Sejak jaman dahulu orang memang sudah gemar menulis surat. Diukir di atas loh batu, menggunakan buluh yang dicelup pada tinta, pena, pulpen hingga mengetik, semua itu merupakan perkembangan dari hal tulis menulis ini. Sadarkah kita jika diri kita pun sebenarnya merupakan sebuah surat, bukan hanya surat tapi juga surat terbuka? Ya, kita surat terbuka yang bisa dibaca banyak orang. Sebagai orang percaya, kita seharusnya menjadi surat yang bukan sembarang surat, tapi menjadi surat Kristus yang bisa dibaca oleh orang lain.

Firman Tuhan berkata "Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia." (2 Korintus 3:3). We are like a piece of paper that can be read by everyone. Apapun yang tertulis dalam hidup kita, bagaimana cara hidup kita, sikap dan tingkah laku kita, perbuatan kita, itu semua begitu terang benderang untuk dibaca oleh orang lain. Orang percaya seharusnya menjadi sebuah surat Kristus. Yang bukan ditulis dengan tinta biasa, bukan pada loh-loh batu, tapi ditulis oleh Roh Allah yang hidup langsung ke dalam hati kita. Dan dari hati kitalah terpancar cara hidup kita, yang akan mampu dibaca orang lain. Jika yang tertulis jelek, maka jelek pulalah yang dibaca orang, sebaliknya jika yang tertulis adalah gambaran Kristus, maka orangpun bisa "membaca" siapa Kristus sebenarnya lewat diri kita.

Apa yang tertulis dalam hati kita hari ini? Penulis Amsal mengingatkan kita untuk terus menjaga hati, karena dari sanalah sebenarnya sebuah kehidupan itu terpancar. "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23). Artinya, apapun yang terpancar keluar merupakan cerminan dari bagaimana keadaan hati kita. Yesus pun mengingatkan pentingnya menjaga hati,"sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang." (Markus 7:21-23). Sebagai anak Tuhan kita telah dianugerahkan Roh Kudus, dan dalam hati kitalah Dia berdiam. "Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!" (Galatia 4:6). Apakah hati kita berisi firman Tuhan dan mencerminkan Kristus dengan benar, atau kita terus menerus menunjukkan karakter jelek, itu akan mempengaruhi pengenalan orang akan Kristus. Rajin beribadah, selalu menyebut Tuhan, tapi berperilaku jelek, tidakkah itu akan membuat orang menertawakan Tuhan dan Juru Selamat kita? Ini adalah sesuatu yang sangat perlu kita renungkan.

Surat Kristus berarti surat yang membawa terang. Sama seperti Kristus yang merupakan Terang Dunia, kita pun seharusnya siap menjadi terang yang bisa dibaca oleh orang lain dengan mudah, lewat tulisan Roh Kudus, Roh Allah sendiri dalam loh-loh daging atau hati kita. Yesus berkata "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 5:16) Karena itulah kita harus menjaga hati kita dengan segala kewaspadaan, hingga kita bisa mencapai tingkatan yang diinginkan Tuhan bagi kita. "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." (Matius 5:48). Disaat seperti itulah kita bisa menjadi surat Kristus yang benar untuk dibaca banyak orang.

Segala tentang kehidupan kita seharusnya bisa menceritakan kisah cinta Yesus. Seperti halnya Yesus mencintai anda, setiap sendi kehidupan kita juga sudah selayaknya menjadi kertas yang dipakai oleh guratan pena Tuhan untuk menyatakan kasihNya yang begitu besar kepada dunia ini. Roh Allah tidak sekedar memberikan coretan kasar tapi sebuah gambaran akan kasih yang begitu indah sebagai gambaran Kristus. Apakah itu bisa dibaca orang lain, atau malah kita meninggalkan goresan-goresan kasar yang mencabik-cabik hati orang lain? Seperti apa Kristus yang kita gambarkan lewat diri kita? Sejak hari ini, marilah kita terus menjaga hati kita. Penuhi terus dengan firman Tuhan yang penuh kuasa. Ijinkan Roh Kudus terus menulis tentang Kristus dalam hati kita, dan biarlah Tuhan dipermuliakan dengan segala gambaran yang muncul keluar dari diri kita. Ingatlah bahwa diri kita selalu ibarat surat terbuka yang bisa dibaca banyak orang. Apa isi surat yang terbaca lewat anda hari ini?

Kita adalah surat Kristus yang ditulis Roh Allah langsung pada hati kita

Friday, March 12, 2010

Memberi Yang Terbaik

Ayat bacaan: Maleakhi 1:8
======================
"Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat? Cobalah menyampaikannya kepada bupatimu, apakah ia berkenan kepadamu, apalagi menyambut engkau dengan baik? firman TUHAN semesta alam."

memberi yang terbaik kepada TuhanKetika presiden datang berkunjung ke daerah, biasanya daerah pun berbenah habis-habisan dengan mengucurkan dana anggaran yang besar. Sekian tahun yang lalu ketika saya masih tinggal di kota kelahiran saya, suatu kali presiden pada waktu itu akan datang berkunjung. Betapa sibuknya pemerintah daerah memperindah kota, terutama jalan yang akan dilalui oleh presiden. Pembatas jalan dan zebra cross di cat ulang, bahkan rumah-rumah yang dilewati mendapat instruksi langsung untuk mengecat ulang rumah mereka. Persiapan yang tidak sedikit, memerlukan waktu yang tidak sedikit pula, padahal jalan itu hanya akan dilalui beberapa detik saja oleh iring-iringan mobil presiden. Itu kalau Presiden. Mari kita ambil contoh yang lebih kecil saja. Andaikata saat ini gubernur atau bupati datang ke rumah kita, apa yang akan kita persiapkan? Apakah kita juga akan berbenah habis-habisan dan akan mempersembahkan hidangan yang terbaik sesanggup kita? Tentu saja bukan? Kita akan melakukan itu untuk menunjukkan rasa hormat kita kepada orang yang dihormati. Mertua datang saja bisa membuat kita sibuk bukan kepalang, itu karena kita menghormati mereka.

Sebagai seorang diaken, saya juga bertugas untuk menghitung persembahan. Ada begitu banyak uang yang dimasukkan dalam keadaan jelek. Kusut seperti habis diremuk-remuk sampai kecil sekali. Padahal lubang untuk memasukkan tidaklah kecil-kecil amat. Saya merasa sedih melihat hal ini. Bukan soal nominal tentu, karena tidak semua orang sanggup memberi banyak. Itu saya tahu. Tapi tidakkah indah jika kita memberi dengan sedikit rasa hormat? Kita memberi persembahan, baik perpuluhan, diakonia, kasih dan sebagainya untuk menghormati Tuhan, bukan untuk uang karcis masuk gereja. Jika kepada presiden, gubernur atau mertua kita rela bersusah payah untuk memberi yang terbaik, mengapa kepada Tuhan yang berada di atas segalanya kita malah bersikap seperti itu?

Banyak orang selalu menuntut berkat yang terbaik dari Tuhan, tapi hanya memberi sisa-sisa saja kepada Tuhan. Kita menuntut segala sesuatu yang paling besar, namun memberi sekecil mungkin. Itupun tidak disertai rasa hormat. Ada banyak orang mengeluh ketika memberi persepuluhan karena merasa bahwa mereka masih membutuhkan uang itu. Selalu merasa belum cukup dan merasa perlu untuk terus menimbun uang sebanyak-banyaknya. Mereka lupa bahwa segala sesuatu itu berasal dari Tuhan, termasuk rejeki atau berkat yang kita terima setiap harinya. Tuhan selalu lebih dari sanggup mencukupkan bahkan memberi dengan berkelimpahan kepada kita. Tapi siapkah kita memberi yang terbaik pula kepadaNya?

Alkitab banyak berbicara mengenai memberi segala sesuatu yang terbaik untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Ayat-ayat mengenai hal ini sangat banyak terdapat di dalam alkitab, terutama di dalam Perjanjian Lama. Dalam "perumpamaan tentang anak yang hilang" kita juga bisa melihat bahwa orang yang berdosa besar sekalipun, yang sudah durhaka, tetap dilayakkan untuk menerima yang terbaik dari Tuhan. (Lukas 15:22-24). Tapi manusia terus semakin kikir dan tidak bersyukur. Pada suatu ketika, Tuhan pun sempat merasa muak dan murka melihat ketidaksopanan manusia. "Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?" (Maleakhi 1:6). Para imam di jaman itu ternyata membawa roti cemar atau makanan yang tidak pantas ke atas mezbah Tuhan. Bukan itu saja, hewan yang dijadikan kurban pun bukanlah yang terbaik lagi melainkan hanya yang sakit dan bermasalah, yang tidak layak, supaya tidak rugi. Dan Tuhan pun marah akan hal ini. "Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat? Cobalah menyampaikannya kepada bupatimu, apakah ia berkenan kepadamu, apalagi menyambut engkau dengan baik? firman TUHAN semesta alam." (ay 8). Ketika kita susah, kita berjanji akan memberi yang terbaik kepada Tuhan setelah sukses, namun setelah sukses, ingatkah kita kepada janji kita itu, atau kita malah sibuk menimbun dan terus menimbun lalu merasa terpaksa untuk mengembalikan apa yang menjadi hak Tuhan? Lihat apa kata Tuhan dalam hal ini. "Terkutuklah penipu, yang mempunyai seekor binatang jantan di antara kawanan ternaknya, yang dinazarkannya, tetapi ia mempersembahkan binatang yang cacat kepada Tuhan. Sebab Aku ini Raja yang besar, firman TUHAN semesta alam, dan nama-Ku ditakuti di antara bangsa-bangsa." (ay 14). Ini tidak main-main. Tuhan telah memberi segala sesuatu yang terbaik bagi kita. Bukan saja berkat-berkat materi, tapi juga perlindungan, bahkan keselamatan. AnakNya sendiri Dia berikan bagi kita agar kita selamat. Bukankah itu sebuah pemberian yang sangat besar? Jika kita menyadari hal itu, maka kita seharusnya tidak berlaku asal-asalan atau terpaksa dalam memberi kepada Tuhan. Seharusnya kita tidak memanfaatkan Tuhan dan menganggap bahwa Tuhan hanyalah sosok yang hanya dimintai tapi tidak perlu dihargai. Don't take it for granted, we really have to honor Him back, the best we can.

Firman Tuhan berkata "Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya." (Amsal 3:9-10). Ayat 9 dalam versi BIS (Bahasa Indonesia Sehari-hari) berbunyi "Hormatilah TUHAN dengan mempersembahkan kepada-Nya yang terbaik dari segala harta milik dan hasil tanahmu." Sudah sepantasnya kita memberi yang terbaik dengan penuh rasa syukur dan sukacita, bukan terpaksa dan berat hati. Tuhan sanggup memberi lebih lagi sampai melimpah-limpah. Dia lebih dari sanggup untuk itu. Sekali lagi, bukan soal nominal, tapi soal apakah yang kita berikan itu yang terbaik atau tidak. Hal ini tampak jelas dalam kisah "persembahan seorang janda miskin" (Markus 12:41-44). Ada seorang ibu janda yang hanya memasukkan dua peser saja, tapi hal itu berkenan di mata Tuhan, lebih dari orang-orang yang memberi lebih banyak dari segi nominal. Mengapa? "Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya."(ay 4). Dengan kata lain, si ibu janda memberikan yang terbaik daripadanya kepada Tuhan.

Hari ini mari kita renungkan, apakah kita sudah memberi yang terbaik bagi Tuhan? Atau kita masih berhitung untung rugi, mementingkan diri kita sendiri secara berlebihan dan tanpa rasa bersalah mengemplang apa yang menjadi hak Tuhan. Tuhan telah begitu luar biasa mengasihi kita, Dia selalu memberi yang terbaik kepada kita, rancangan yang Dia sediakan adalah yang terbaik untuk menatap hari depan yang penuh harapan. Oleh karena itulah kita seharusnya sadar posisi kita, dan memuliakanNya dengan segala yang terbaik dari diri kita. Bukan hanya persembahan dalam bentuk uang, tapi justru yang terpenting adalah diri kita sendiri. "Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati." (Roma 12:1). Sudahkah kita mempersembahkan yang terbaik dari diri kita kepada Tuhan, atau kita masih mentolerir dosa-dosa yang kita anggap kecil sambil terus mengaku sebagai umat yang mengasihiNya? Mari kita berikan segala yang terbaik bagi Tuhan, karena jika orang saja kita hormati, Tuhan jauh lebih dari layak untuk itu.

God deserves the best  from us

Thursday, March 11, 2010

Melupakan Penciptanya

Ayat bacaan: Roma 1:20
====================
"Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih."

melupakan penciptanyaSudah menjadi seperti kebiasaan kalau sosok yang paling dikenal dalam sebuah band adalah vokalisnya. Padahal band yang mengiringi sang vokalis memegang peranan yang tidak sedikit. Gitaris masih lumayan, pemain keyboard pun demikian. Tapi bagaimana dengan pemain bass? Sangat jarang dilirik. Seorang teman yang bermain bass bercerita pada suatu kali bahwa ia sudah tampil begitu banyak, tapi jarang ada orang yang mengapresiasi permainannya. Tanpa bass, sebuah band format standar juga tidak akan bisa tampil maksimal. Tapi itulah yang terjadi. Orang lebih cenderung mengagumi penyanyi ketimbang musisi pengiring di belakangnya. Pemain-pemain bass yang sudah senior sekalipun, yang sudah masuk kategori maestro sekalipun masih sedikit sekali yang kenal. "itu nasib musisi yang aktif sebagai session player.." kata teman saya itu. Masih untung dalam jazz selalu ada bagian-bagian dalam lagu yang memang disediakan untuk ruang improvisasi untuk masing-masing musisi. Mereka bisa tampil di depan unjuk kebolehan dalam beberapa bar. Tapi ini jarang dilakukan dalam jenis-jenis musik lainnya. Sehebat apapun mereka bermain, orang jarang mengapresiasi. Padahal tanpa mereka bunyi sebuah lagu pun akan berbeda rasanya.

Tuhan pun tahu betul rasanya seperti ini. Karena kesibukan dalam kehidupan kita seringkali melupakan Tuhan. Bukankah semua yang ada di dunia ini merupakan hasil karyaNya? Jika demikian mengapa kita malah melupakan Penciptanya? Orang sibuk meminta agar bisa berhasil, tapi semakin orang sukses, semakin jauh pula mereka meninggalkan Tuhan yang memberikan kesuksesan itu. Singkatnya, bagi banyak orang, Tuhan hanyalah berfungsi sebagai palang pintu terakhir dalam menghadapi masalah, ketika semuanya tidak lagi bisa dilakukan. Tidak seharusnya kita memperlakukan Tuhan seperti itu. Ketika kita menikmati segala hasil ciptaanNya di dunia ini, seharusnya kita bersyukur, memuji dan memuliakanNya dalam segala sesuatu yang kita nikmati itu.

Lihatlah bagaimana Daud memuji keagungan Tuhan pencipta langit dan bumi beserta segala isinya dalam Mazmur 104 dengan begitu indahnya. Mazmur 104 ini diberi judul "Kebesaran Tuhan dalam segala ciptaanNya", dan itu benar adanya. Secara puitis Daud melukiskan rasa sukacitanya memandang ciptaan Tuhan yang begitu luar biasa. Misalnya penggalan berikut ini: "Engkau yang melepas mata-mata air ke dalam lembah-lembah, mengalir di antara gunung-gunung, memberi minum segala binatang di padang, memuaskan haus keledai-keledai hutan; di dekatnya diam burung-burung di udara, bersiul dari antara daun-daunan. Engkau yang memberi minum gunung-gunung dari kamar-kamar loteng-Mu, bumi kenyang dari buah pekerjaan-Mu. Engkau yang menumbuhkan rumput bagi hewan dan tumbuh-tumbuhan untuk diusahakan manusia, yang mengeluarkan makanan dari dalam tanah dan anggur yang menyukakan hati manusia, yang membuat muka berseri karena minyak, dan makanan yang menyegarkan hati manusia." (Mazmur 104:10-15). Jangan lupa pula ciptaanNya yang paling istimewa, His masterpiece, yaitu manusia yang diciptakan sesuai dengan gambar dan rupaNya sendiri. Tidak ada satupun manusia yang persis sama, baik rupa, warna, bentuk, sifat dan sebagainya. Itu pekerjaan yang sungguh luar biasa yang tidak akan bisa dilakukan oleh siapapun selain Allah. Ironis sekali ketika justru ciptaanNya yang teristimewa pula-lah yang cenderung melupakanNya.

Daud berbicara begitu banyak tentang menaikkan puji-pujian bagi Tuhan. Dia begitu menyadari bahwa kebesaran Tuhan itu terlihat nyata dan jelas melalui segala hasil ciptaanNya. Salah satunya berbunyi "Haleluya! Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada." (Mazmur 146:1-2). Di kesempatan lain ia menuliskan pujian seperti ini: "Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa! Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib!" (1 Tawarikh 16:8-9). Pertanyaannya, apakah kita menyadari kebesaran Tuhan melalui karya-karyaNya seperti Daud? Sudahkah kita merenung dan memuji Tuhan ketika kita melihat alam yang begitu indah, yang meski sudah semakin berkurang tapi masih bisa kita nikmati hari ini? Ketika melihat matahari bersinar indah ditengah sekumpulan awan putih, melihat indahnya bintang gemerlapan di tengah malam, bunga-bunga warna-warni bermekaran, bahkan setiap oksigen yang kita hirup yang disediakan gratis untuk kita, sudahkah kita bersyukur dan memuliakan namaNya?

Kenyataannya manusia cenderung menikmati hasil ciptaanNya tapi melupakan siapa "virtuoso" di balik semua itu. Sama seperti menikmati sebuah lagu yang sangat indah, tapi tidak peduli siapa orang-orang yang bermain di balik lagu-lagu itu. Padahal tanpa musisi, tidak akan ada lagu yang tercipta. Paulus menggambarkan sifat melupakan Tuhan ini sebagai kefasikan dan kelaliman yang memurkakan Tuhan. Tuhan memang tidak terlihat kasat mata seperti kita memandang manusia atau alam dan isinya, tapi jika kita mau sedikit berpikir, kehebatan Tuhan itu sebenarnya bisa terlihat jelas dari segala karyaNya sejak dahulu hingga sekarang. Itulah yang dikatakan pula oleh Paulus. "Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih." (Roma 1:20). Tapi banyak orang yang tidak menyadari hal ini, tidak memuliakan dan tidak mengucap syukur kepada Tuhan. "Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap." (ay 21). Yang lebih parah, malah ada banyak orang yang tega menggantikan kemuliaan Allah dengan segala sesuatu yang fana dalam berbagai bentuk untuk disembah. "Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar...mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin." (ay 23,25). Hal-hal seperti ini sungguh tidak pantas kita lakukan. Ketika kita menikmati hasil ciptaan Tuhan yang indah ini, seharusnya kita bersyukur dan memuliakanNya pula dalam setiap waktu kita menikmatinya.

Maestro di atas segala maestro telah menyediakan segalanya bagi kita. The Virtuoso of heaven has given us all the beautiful things in our lives. Dan Tuhan yang penuh kasih itu telah dengan jelas menyatakan diriNya sendiri lewat segala ciptaanNya yang bisa kita lihat dan rasakan setiap hari. Marilah hari ini kita tinggalkan sejenak doa yang berisi keluh kesah dan daftar permintaan. Datanglah kepadaNya dan muliakanlah Dia dengan pujian dan penyembahan yang terbaik dari diri kita, penuhi doa-doa kita dengan ucapan syukur yang mengagungkan namaNya. He deserves it after everything he has done and created for us.

Segala ciptaan yang indah bagaikan jari telunjuk yang terarah kepada Tuhan

Wednesday, March 10, 2010

Menangis

Ayat bacaan: Matius 5:4
=====================
"Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur."

menangis"Ayah saya mengajarkan bahwa menangis itu tabu.. tapi rasanya berat banget pak.." kata seorang siswi yang saya dapati menangis di pojokan gedung. Menangis, bagi banyak orang mungkin dianggap tabu, memalukan dan tidak pantas. Menangis dianggap sebagai simbol kelemahan, cengeng, bahkan ada yang dengan sinis menganggapnya sebagai salah satu cara untuk menarik perhatian. Di sisi lain, ketika seorang teman tidak menangis ketika ayahnya meninggal, ia ditegur keras oleh keluarganya, malah dituding sebagai anak durhaka. Saya sendiri beranggapan bahwa menangis merupakan sebuah cetusan emosi yang tidak lagi mampu kita kendalikan. Ketika tekanan terasa begitu berat, ketika rasa perih itu begitu menyiksa, ada kalanya kita perlu menangis untuk mengeluarkan segala beban yang ada di dalam hati kita. Ada banyak cara orang mengekspresikan emosinya, dan salah satunya adalah dengan menangis. Laki-laki pun tidak ada salahnya menangis, karena setegar-tegarnya seorang pria, ada kalanya rasa sakit itu begitu dalam sehingga perasaan tidak lagi mampu mengatasinya. Tentu tidak berarti bahwa kita setiap saat harus menangis, karena itu memang tidak bagus, baik buat diri sendiri maupun orang lain. Menangis terus menerus akan semakin melemahkan kita, namun pada saat tertentu, menangis bisa efektif untuk mengurangi beban hati.

Alkitab mengajarkan kita untuk tetap tegar menghadapi segala masalah. Kita tidak pernah dianjurkan menyerah, karena meski secara manusiawi kita tidak mampu mengatasinya, tapi ada Roh Kudus yang akan terus memberikan kekuatan. "Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban." (2 Timotius 1:7). Berdoa dalam Roh pun akan memampukan kita untuk mengungkapkan segala permasalahan yang mungkin tidak lagi mampu kita sebut dengan kata-kata. "Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan." (Roma 8:26). Tapi Tuhan tidak pernah membenci air mata. Ia memberikan kita mata yang bisa basah, bukan mata yang kering, karena ia tahu ada kalanya kita memerlukan itu. Di alkitab pun kita berulangkali mendapati tentang hal ini. Lihat dalam kitab Yakobus misalnya. Ketika ia menganjurkan kita untuk menyucikan diri dari dosa dan kembali mendekat kepada Allah, ia katakan "Sadarilah kemalanganmu, berdukacita dan merataplah; hendaklah tertawamu kamu ganti dengan ratap dan sukacitamu dengan dukacita." (Yakobus 4:9). Di saat lain, lihatlah bahkan Tuhan Yesus pun sempat menangis. Apa yang ditangisi Yesus bukan soal penderitaanNya dalam tubuh manusia, tetapi ketika hatiNya terasa hancur melihat apa yang akan terjadi atas Yerusalem. "Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya," (Lukas 19:41). Dan inilah yang ditangisi Yesus: "kata-Nya: "Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batupun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau." (ay 42-44). Ketika para murid bersukaria mengira bahwa Sang Raja akan mengambil alih kota dan mereka mungkin akan mendapatkan kedudukan tinggi yang super nyaman, Yesus malah menangis. Dia melihat betapa ironisnya bangsa Yerusalem menyia-nyiakan kedatanganNya yang pertama kesana, tidak menyadari bahwa Tuhan sedang melawat mereka dan justru terus mengarahkan diri mereka sendiri ke dalam kehancuran. Tidak ada yang salah dengan menangis selama porsinya benar di saat yang memang diperlukan.

Ada banyak orang yang menangis sejadi-jadinya ketika mengalami pemulihan. Ada yang kemudian bertumbuh dalam imannya, tapi ada pula orang yang menangis ketika dijamah Tuhan, tapi lalu kembali ke dosa asalnya secara berulang-ulang. Kita boleh menangis, tapi bukan soal menangis atau tidak yang menjadi esensinya.Soal menangis atau tidak, ada air mata atau tidak itu bukanlah pokok permasalahannya. Yang penting adalah bagaimana sikap hati kita. Seberapa jauh kita menyesali dosa-dosa yang kita lakukan? Sejauh mana kita merasa menyesal telah mengecewakan dan menyakiti hati Tuhan? Seberapa besar rasa perih yang kita rasakan setelah berlumur dosa sekian lama? Jika rasa itu begitu berat, mengapa tidak boleh menangis? Bukan menangis agar dilihat orang, bukan menangis karena ingin mendapat rasa iba atau simpati dari orang lain, tapi sebuah tangisan karena penyesalan mendalam dengan hati yang hancur. Dan itu merupakan korban yang berkenan kepada Allah. "Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah." (Mazmur 51:19). Itulah sebabnya Yesus berkata "Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur." (Matius 5:4) Ya, berbahagialah kita yang berdukacita atas kesalahan dan dosa-dosa kita. Datanglah kepadaNya dengan membawa jiwa yang hancur, hati yang patah dan remuk, dan Allah akan segera memberikan penghiburan. Anda merasa ingin menangis menyesali dosa-dosa di masa lalu? Menangislah,  persembahkanlah sebuah pertobatan total kepada Tuhan dan alamilah sebuah pemulihan yang indah.

Bukan soal menangis atau tidak, tapi bagaimana sikap hati, karena apa yang dilihat Tuhan adalah hati kita