Wednesday, September 16, 2009

Pelangi Alangkah Indahmu

Ayat bacaan: Mazmur 104:24
=======================
"Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu."

pelangi indahIndahkah bagi anda pelangi melengkung terlukis di langit sehabis hujan? Bagi saya pelangi itu sangat indah. Saya ingat waktu kecil saya selalu mencari pelangi setiap kali hujan reda. Saya akan sangat gembira jika saya melihat untaian pelangi di langit. Dongeng waktu kecil yang saya tahu, "there's a pot of gold at the end of the rainbow". Saya pernah bergegas mencari ujung pelangi, yang tentu saja tidak akan pernah saya temukan. Tapi meski demikian, keindahan pelangi itu tidak pernah saya lewatkan, seringkali dengan senyum karena apa yang saya lihat itu begitu indah. Seiring perjalanan waktu, berbagai kesibukan dari pekerjaan dan rutinitas membuat saya jarang punya kesempatan lagi untuk melihat pelangi. Ketika saya dalam perjalanan pulang beberapa hari yang lalu, saya melihat pelangi, masih dalam bentuk yang sama seperti apa yang saya lihat pada waktu saya kecil. Saya pun tersenyum. "Betapa indahnya pelangi, betapa indahnya ciptaanMu ya Tuhan.."

Ketika hari begitu panas, kita ingin hujan turun. Ketika hujan turun, kita ingin hari panas lagi disinari matahari. Seringkali kita hanya mengeluhkan apa yang kita dapatkan dari cuaca. Kesibukan yang menyita waktu kita membuat kita lupa untuk mengingat Pencipta dari segalanya. Bunga-bunga yang indah bermekaran, senja yang berwarna merah, langit biru penuh awan, matahari yang bersinar, bintang-bintang yang berkilauan, bahkan bulan yang kemarin terlihat bulat utuh dan sangat terang, burung-burung yang berkicau menjelang pagi, semua itu ada yang menciptakan. Begitu indahnya apa yang diciptakan Tuhan, begitu indah seolah-olah itu semua merupakan bentuk senyum Tuhan yang penuh kasih menyapa kita setiap harinya. Apakah kita menanggapi sapaan itu dan mengingat Pribadi yang menciptakan, atau kita malah mengeluh terhadap segala sesuatu yang Dia ciptakan karena mengasihi kita? Daud tidak terperangkap pada hal itu. Dia menyadari betul betapa kreatifnya Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan sangat indah. "Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu." (Mazmur 104:24).

Begitu luasnya alam semesta, begitu banyaknya keragaman hewan dan tumbuhan, bukit dan lembah, darat dan laut, beserta isinya, dan itu semua diciptakan oleh Dia yang begitu mengasihi kita. Apa yang Dia ciptakan dengan begitu indah seringkali lewat dari pandangan kita. Padahal ada begitu banyak keindahan yang seharusnya menjadi alasan bagi kita untuk mengucap syukur kepadaNya. Itu baru dari sudut keindahan bumi beserta isinya dan alam semesta yang luas. Bagaimana mengenai kita, manusia yang Dia ciptakan secara begitu istimewa menurut gambar dan rupaNya? Lihat apa kata Tuhan mengenai kita: "Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau. Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku." (Yesaya 49:15-16). Begitulah pentingnya kita di mata Tuhan! Yesus memberikan janji yang sama dari sisi lain. "Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit." (Lukas 12:6-7). Jika burung pipit yang kecil saja diperhatikan Tuhan, apalagi kita yang Dia ciptakan menurut gambar dan rupaNya. Tangan Tuhan menciptakan alam semesta yang begitu besar dan luas berikut isinya, tapi tangan yang sama bisa juga memeluk kita yang begitu kecil ini. Daud melihat ini semua dan berkata: "Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?" (Mazmur 8:4-5). Dan ia pun menutup Mazmur bagian ini dengan "Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!" (ay 10).

Menurut pandangan kita, hidup mungkin penuh ketidakpastian. Karena itu kita bekerja keras untuk memampukan kita menghadapi segala ketidakpastian itu. Namun janganlah lupa untuk berhenti sejenak untuk menghargai dan mensyukuri segala yang telah Dia sediakan bagi kita. Senyum Tuhan yang penuh kasih menyapa kita setiap hari lewat segala keindahan alam, hembusan angin, goyang dedaunan dan bunga-bunga yang harum dan indah. KasihNya hadir lewat hujan dan sinar matahari. Semua itu menggambarkan kebesaranNya. Dan lebih dari itu semua, kita diciptakanNya secara istimewa untuk menjaga dan mengelola segala hasil ciptaanNya yang lain. Tangan yang sama yang Dia pakai untuk menciptakan segala sesuatu itu Dia pakai pula untuk memeluk dan menjaga kita. Atas segalanya ini, tidakkah kita pantas untuk bersyukur tanpa henti?

"Bersyukurlah kepada TUHAN, serukanlah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa!" (Mazmur 105:1)

Tuesday, September 15, 2009

Peran Istri Sebagai Penolong

Ayat bacaan: Kejadian 16:2
=====================
"Berkatalah Sarai kepada Abram: "Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak." Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai."

peran istri, penolongTahu serial komedi situasi "Suami-Suami Takut Istri?" Serial komedi situasi ini cukup kontroversial karena banyak menampilkan adegan vulgar dan jalan ceritanya pun tidak sering menggambarkan sesuatu yang kurang baik untuk dijadikan tontonan bersama seluruh keluarga. Saya bukan hendak menghakimi serial ini, biarlah semuanya diserahkan kepada masing-masing individu. Tapi apa yang dijadikan tema dasar sebenarnya adalah fenomena yang sering terjadi di kalangan masyarakat. Ada banyak suami yang begitu takut kepada istrinya akibat dominasi istri yang sangat kuat dalam keluarga. Bahkan ada suami-suami yang akhirnya jatuh ke dalam dosa justru karena dipengaruhi atau malah dipaksa istrinya. Peran dalam rumah tangga menjadi kacau balau, terbalik-balik. Istri menjadi tulang punggung keluarga dalam mencari nafkah, sedang suami menjadi "bapak rumah tangga". Tidak salah memang ketika istri memutuskan untuk menjadi wanita karir, namun ada fungsi istri dalam Alkitab yang sesungguhnya lebih penting. Beberapa waktu yang lalu kita pernah membahas peran suami sebagai kepala rumah tangga, suami yang baik dari istri mereka sekaligus ayah yang baik bagi anak-anaknya. Kali ini mari kita lihat peran istri menurut Firman Tuhan.

Kisah Abraham yang dijanjikan Allah untuk mendapatkan anak di usia sangat lanjut dan janji untuk mendapatkan keturunan sebanyak bintang di langit adalah sebuah kisah yang tidak asing lagi. Tuhan menjanjikan demikian: "Tetapi datanglah firman TUHAN kepadanya, demikian: "Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu." Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: "Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya." Maka firman-Nya kepadanya: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." (Kejadian 15:4-5). Janji ini turun ketika Abraham sudah sangat lanjut usianya alias kakek-kakek. Istri Abraham, Sara (pada waktu itu masih bernama Sarai) pun sudah tua. Ketika itu Sarai sudah menopause, sehingga secara logika manusia tentu mustahil bagi mereka untuk bisa memiliki anak di usia seperti itu. Yang menjadi masalah, Sarai sebagai istri ternyata lupa bahwa segala sesuatu itu berasal dan bersumber dari Allah. Ia hanya memakai logikanya dan mengabaikan Tuhan sebagai sumber dari segala sesuatu. Sarai percaya bahwa Tuhan menjanjikan anak dan keturunan yang sangat banyak, tapi dia tidak percaya bahwa itu bisa Tuhan lakukan melalui dirinya yang sudah mati haid. Maka inilah yang terjadi. Sarai melihat wanita-wanita yang potensial di sekelilingnya dan pilihannya jatuh kepada hambanya bernama Hagar. Lalu "berkatalah Sarai kepada Abram: "Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak." Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai." (Kejadian 16:2). Mungkin tadinya tidak terpikirkan oleh Abraham untuk menjadikan Hagar sebagai selir, namun akibat dorongan Sara, itulah yang terjadi. Lewat Hagar lahirlah Ismael. Kita tahu kemudian Tuhan kembali mengulangi janjiNya, dan menegaskan: "Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, isterimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki." (18:10). Sara rupanya mendengarkan percakapan itu dan tertawa dalam hatinya. "Jadi tertawalah Sara dalam hatinya, katanya: "Akan berahikah aku, setelah aku sudah layu, sedangkan tuanku sudah tua?" (ay 12). Tuhan mendengar hal itu lalu menegur Sara lewat Abraham. "Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Abraham: "Mengapakah Sara tertawa dan berkata: Sungguhkah aku akan melahirkan anak, sedangkan aku telah tua? "Adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk TUHAN? Pada waktu yang telah ditetapkan itu, tahun depan, Aku akan kembali mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara mempunyai seorang anak laki-laki." (ay 13-14). Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Hal itulah yang dilupakan Sara. Ternyata apa yang dijanjikan Tuhan terjadi. Ketika Abraham telah berusia 100 tahun, lahirlah Ishak, anak dari istri sahnya Sara. Jika saja Sara sabar dan tidak terburu-buru mengambil keputusan maka tidak perlu ada Hagar dalam proses pemenuhan janji Tuhan. Tapi apa yang sudah terjadi tidak bisa diubah lagi. Akibatnya terasa hingga sekarang. Hari ini kita melihat bagaimana sulitnya keturunan Ishak dan Ismail untuk bisa hidup rukun dan akur. Jika kita mundur ke awal kisah penciptaan manusia, kita pun bertemu dengan kisah kejatuhan manusia ke dalam dosa akibat kegagalan Hawa mengatasi godaan untuk tidak memakan buah terlarang.  

Bukankah banyak istri-istri Kristen yang seringkali tidak sabar dan bertindak terburu-buru seperti Sara? Kecemasan berlebihan dan tidak sabaran seperti ini bisa menjerumuskan suami dan keluarga secara keseluruhan ke dalam jebakan dosa. Tidak mudah memang menjadi sosok istri yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Sosok istri menurut Firman Tuhan disebutkan sebagai penolong. Hal ini mengacu pada kisah penciptaan Hawa, bunyinya seperti ini: "TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Kejadian 2:18). Penolong yang sepadan itu tidak diperoleh Adam lewat hewan termasuk burung-burung, namun lewat sosok wanita yang diciptakan melalui tulang rusuk pria. (ay 22). Peran istri sebagai penolong sering digambarkan mewakili sosok Roh Kudus, yang juga dianugerahkan kepada kita sebagai penolong. "Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu." (Yohanes 14:16-17). Tugas yang tidak mudah, tapi itulah hakekatnya peran istri dalam rumah tangga Kristiani. Seorang istri diharapkan mampu menjadi penolong, penasehat dan pemberi masukan bagi suaminya, yang berperan sebagai imam dalam keluarga, mengepalai keluarga seperti halnya Kristus mengepalai jemaat. (Efesus 5:23). Dalam Amsal 31:10-31 kita mendapatkan gambaran mengenai sosok istri yang cakap. Salah satu yang penting diantaranya adalah "Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya." (Amsal 31:26). Sehubungan dengan peran istri sebagai penolong, tentu istri haruslah dipenuhi hikmat Tuhan. Apa yang dihadapi suami dalam pekerjaan seringkali menyita waktu dan melelahkan, tidak jarang mereka terus berhadapan dengan berbagai godaan, sehingga istri yang berhikmat akan mampu menjadi penolong, yang sepadan dengan suami, agar kebahagiaan dalam rumah tangga bisa tetap terbina dengan baik. Di samping itu, tentu peran suami pun tidak boleh dilupakan. Keduanya harus sejalan. Karena tidak akan ada pemimpin yang baik jika tidak didampingi penolong, sebaliknya penolong pun sia-sia jika tidak ada yang bisa ditolong. Hubungan antara penolong dan pemimpin sesungguhnya merupakan hubungan simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan untuk membentuk keluarga sejahtera, bahagia dan diberkati. Penolong dan pemimpin berbeda peran, namun sama pentingnya. Inilah yang dikatakan sebagai "sepadan".

Mari kita semua mengimani dengan benar bahwa bagi Tuhan segala sesuatunya tidak ada yang mustahil. Dia sanggup melakukan segalanya, karena semua ada lewat Dia. "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36). Imani pula Firman Tuhan berikut: "namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup." (1 Korintus 8:6). Tuhan sebagai pencipta segala sesuatu tentu punya kuasa penuh pula atas semua ciptaanNya. Oleh karenanya kita tidak perlu cemas dan tidak sabar dalam mengatasi masalah. Para istri hendaklah memainkan perannya dengan benar, di sisi lain hendaklah suami pun melakukan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Hasil yang indah hanya akan didapat jika keduanya menjalankan peran masing-masing dalam keharmonisan. Peran istri bahkan dikatakan bisa sampai menguduskan suaminya (1 Korintus 7:14), dan itu hanya bisa dicapai jika para wanita mau menjadi sosok istri yang takut akan Tuhan. Jadilah istri teladan, dan bagi kaum pria, jadilah sosok suami teladan pula. Hanya dengan demikian rumah tangga kita bisa menjadi terang dan garam bagi lingkungan sekitar kita.

Istri adalah penolong yang sepadan dengan suami

Monday, September 14, 2009

Kepala Rumah Tangga

Ayat bacaan: Hakim-Hakim 11:2
========================
"Juga isteri Gilead melahirkan anak-anak lelaki baginya. Setelah besar anak-anak isterinya ini, maka mereka mengusir Yefta, katanya kepadanya: "Engkau tidak mendapat milik pusaka dalam keluarga kami, sebab engkau anak dari perempuan lain."

kepala rumah tangga, suami, ayahSebagai kepala rumah tangga, suami dari istri, ayah dari anak, bagaimana kita para pria sudah bersikap? Ada otoritas yang begitu besar diberikan kepada pria dalam sebuah ikatan keluarga. Dikatakan "karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh." (Efesus 5:23), sehingga istri diminta untuk "tunduk kepada suami seperti kepada Tuhan." (ay 22). Sepintas terlihat bahwa pria berada jauh pada tingkat ke-absolut-an di atas istri dan anak-anaknya. Dan seringkali pula hal ini dijadikan dasar untuk bertindak sewenang-wenang dalam rumah tangga. Ada banyak suami yang hanya menuntut hak tanpa menunaikan kewajiban. Bertindak seenaknya, bahkan pilih kasih terhadap anak-anaknya,sehingga rumah tangga bukan lagi menjadi cerminan Surga yang penuh kasih dan kebahagiaan dalam sukacita, tapi berubah menjadi neraka dunia. Ketika sang ayah pulang, anak-anak langsung kabur ke dalam kamar masing-masing. Seolah-olah awan gelap langsung menutupi rumah lewat kepulangan sang kepala rumah tangga. Hidup pria memang tidak mudah. Di satu sisi kita harus bekerja keras mencukupi kebutuhan rumah tangga, di sisi lain kita harus menjadi sosok bijaksana yang mampu me-manage rumah tangga sebaik mungkin. Dalam banyak hal, bagaimana sikap ayah di rumah akan berpengaruh banyak pada suasana di rumah. Well, life is never easy. Itu yang saya tahu. Sulitnya sebagai ayah, atau dalam kasus saya yang belum punya anak, menjadi suami dan kepala rumah tangga, bukan berarti saya punya alasan untuk melepas tanggungjawab untuk memelihara keharmonisan dan kehangatan rumah tangga. Otoritas yang diberikan ke pundak kita para pria adalah sesuatu yang perlu kita hormati dengan sebentuk tanggung jawab kepada Tuhan yang memberikan, bukan memakainya sebagai alat untuk bertindak seenaknya dan melepas tanggung jawab itu.

Menyambung sedikit renungan kemarin, saya ingin mengajak teman-teman untuk melihat kejadian Yefta dari sisi sang ayah, Gilead. Gilead melakukan kesalahan fatal, yakni berzinah dengan wanita pelacur, hingga wanita ini mengandung. Yefta pun lahir. Ia adalah sebuah produk kesalahan, yang sayangnya tidak mau ditanggung oleh si pelaku, ayahnya sendiri. Apalah salah Yefta ketika ia dilahirkan sebagai the unwanted child? Semua terjadi diluar keinginannya. Tentu ia ingin hidup wajar seperti saudara-saudaranya atau anak-anak lain pada umumnya. Tapi kenyataan tidaklah demikian. Hal ini diperparah dengan sikap yang ditunjukkan ayahnya. Gilead sama sekali tidak bereaksi apa-apa ketika ia diusir. Gilead berani berbuat, namun tidak berani bertanggung jawab. Ia mengelak dari konsekuensi yang seharusnya ia pikul akibat kesalahannya. Akibatnya, Yefta lah yang harus menanggung semuanya. Betapa tidak adil.

Idealnya rumah anak-anak Allah haruslah menjadi rumah yang nyaman, penuh kedamaian dan menjadi percontohan bagi sekitarnya, dan sanggup memproduksi mental dan hati yang luar biasa. Tapi sayangnya ada banyak rumah tangga yang malah sebaliknya. Menjadi neraka di bumi, tempat yang panas, penuh kertak gigi dan ketakutan. Tidak ada sukacita, tapi malah rumah menjadi tempat terjadinya penolakan, keberpihakan, ketidakadilan dan pengkhianatan. Padahal apa yang terjadi di rumah akan memberi pengaruh besar pada pertumbuhan jiwa anak-anak. Terhadap istri pun demikian. Bagaimana pertanggungjawaban kita kepada Tuhan yang telah menganugerahkan seorang istri jika kita hanya membuat mereka sedih dan kecewa?

Di satu sisi, benar bahwa kepada para pria diberikan tanggung jawab, otoritas dan wewenang untuk menjadi kepala rumah tangga, sama seperti Kristus sendiri kepala jemaat. Benar bahwa istri harus tunduk kepada suami. Namun hal itu bukanlah berjalan sepihak. Ada tugas penting yang harus diemban suami. Suami dituntut untuk mengasihi istrinya seperti tubuhnya sendiri. "Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri." (Efesus 5:28). Hal ini jelas, karena ketika ada ikatan pernikahan yang dimateraikan langsung oleh Tuhan, maka suami dan istri bukan lagi dua melainkan satu. (Matius 19:6). Mengasihi berbicara luas, termasuk tidak menyakiti, mengkhianati istri kita. Tidak berhenti disitu, sebagai ayah, para kepala rumah tangga pun mengemban tugas yang sangat penting. Firman Tuhan berkata: "Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya." (Kolose 3:21) dan "Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan." (Efesus 6:4). Membeda-bedakan anak, bersikap tidak adil, otoriter, ringan tangan, sering membentak tidaklah membawa manfaat apa-apa kepada mereka. Justru lewat perilaku seperti itu kita merusak diri mereka, membuat mereka tawar hati dan penuh kemarahan dan kebencian. Ini tugas yang tidak gampang, tapi itulah yang akan mendatangkan peran kepala rumah tangga yang ideal seperti yang dikehendaki Tuhan. Ketika otoritas diberikan, hendaklah kita menghormatinya lewat menjalankannya dengan baik, bukan diselewengkan secara sepihak. We have to earn their respect and love. Bukan karena mereka takut, tapi karena mereka mencintai dan menghormati ayah mereka, demikian pula istri kepada suami.

Hindari perbuatan-perbuatan yang mengkhianati cinta dari pasangan kita. Hubungan antara suami dan istri haruslah berlangsung seimbang dan sejalan. "Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya." (1 Korintus 7:4). Selanjutnya ingatlah bahwa setelah kita menikah, kita tidak lagi berkuasa atas tubuh kita sendirian. "Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya." (ay 4). Karena itulah kita harus senantiasa mampu menjaga kekudusan diri kita. Hendaklah para pria Kristen mampu menjadi kepala rumah tangga yang baik, menjadi teladan bagi lingkungan sekitar kita. Istri adalah seseorang yang dianugerahkan Tuhan kepada kita secara istimewa. Dengan demikian pesan ini menjadi penting "Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang." (1 Petrus 3:7). Setiap perbuatan dosa ada konsekuensinya. Janganlah setelah kita melakukan kesalahan malah lari dari tanggungjawab, sehingga kita semakin jauh terjatuh dan tersesat. Hindari perbuatan-perbuatan yang menyakiti istri dan anak-anak kita sejak dini. Jadilah teladan yang mencerminkan Kristus dalam rumah tangga anda. Berikan atap yang teduh bagi mereka untuk bernaung, sayap yang hangat untuk berlindung dan tonggak yang kokoh untuk bergantung. Kasihi dan sayangilah mereka semua, karena mereka adalah anugerah Tuhan yang sangat berharga bagi kita.

Earn the respect and love in the family by becoming a loving father/husband

Sunday, September 13, 2009

The Unwanted Child

Ayat bacaan: Hakim Hakim 11:1
=========================
"Adapun Yefta, orang Gilead itu, adalah seorang pahlawan yang gagah perkasa, tetapi ia anak seorang perempuan sundal; ayah Yefta ialah Gilead."

unwanted child, anak haram"Aku anak yang tidak diinginkan untuk lahir.." kata seorang teman pada suatu kali kepada saya. Peristiwa itu ia ketahui belakangan setelah ia dewasa, dan hal itu menimbulkan kepahitan yang amat mendalam dalam hidupnya sehingga ia sulit maju. Akibat hubungan intim orang tuanya sebelum menikah ia terbentuk dalam janin ibunya. Berkali-kali bahkan orang tuanya mencoba menggugurkannya dalam kandungan, namun gagal. Dan ia lahir, dan tumbuh dengan kepahitan dan rasa dendam pada orang tuanya. Ia merasa hidup sebagai "the unwanted child", anak yang tidak diinginkan, sejak kecil ia mengaku tidak mendapat kasih sayang sewajarnya dari kedua orang tuanya. Ia malah diberikan kepada saudara ibunya untuk dibesarkan. Pahit memang. Tapi jangan khawatir. Beberapa tahun yang lalu ia memilih untuk membawa perkaranya ke hadapan Tuhan, memutuskan untuk memaafkan kedua orang tuanya yang saat ini hidup susah, dan ia mengalami kelepasan. Hari ini ia dipakai Tuhan secara luar biasa. Ia menjadi seorang pelayan Tuhan yang kuat dan berani.

Apa yang menjadi kisah masa lalunya pernah pula dialami oleh seorang tokoh dalam Alkitab. Kasihan sekali. Ia terlahir sebagai anak haram, hasil dari hubungan perzinahan dengan seorang pelacur. Tentu seperti kita, ia pun tidak pernah meminta dilahirkan dalam kondisi seperti itu, namun begitulah kenyataan yang harus ia terima. Orang itu bernama Yefta.

Kisah Yefta dalam kitab Hakim Hakim dibuka dengan sebuah kenyataan kontras. "Adapun Yefta, orang Gilead itu, adalah seorang pahlawan yang gagah perkasa, tetapi ia anak seorang perempuan sundal; ayah Yefta ialah Gilead." (Hakim Hakim 11:1). Lihat pendahuluan kisah Yefta, menggambarkan bahwa Yefta, anak Gilead dan seorang pelacur, anak haram, namun dikatakan terlebih dahulu sebagai pahlawan yang gagah perkasa. Kalau kita lihat dalam kitab Ibrani, penulisnya pernah pula menyinggung Yefta. "Dan apakah lagi yang harus aku sebut? Sebab aku akan kekurangan waktu, apabila aku hendak menceriterakan tentang Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel dan para nabi, yang karena iman telah menaklukkan kerajaan-kerajaan, mengamalkan kebenaran, memperoleh apa yang dijanjikan, menutup mulut singa-singa, memadamkan api yang dahsyat. Mereka telah luput dari mata pedang, telah beroleh kekuatan dalam kelemahan, telah menjadi kuat dalam peperangan dan telah memukul mundur pasukan-pasukan tentara asing." (Ibrani 11:32-34). Ternyata Yefta digolongkan ke dalam sekumpulan pahlawan/saksi iman bersama-sama dengan Daud, Samuel, Gideon, Barak dan Simson. Apa sebenarnya yang terjadi?

Yefta adalah sosok "the unwanted child". Karena ia lahir dari hasil perzinahan, maka kedua orang tuanya mengusir Yefta. "katanya kepadanya: Engkau tidak mendapat milik pusaka dalam keluarga kami, sebab engkau anak dari perempuan lain." (Hakim Hakim 11:2). Maka Yefta yang sudah terlahir dalam kondisi tidak mengenakkan ini pun harus pula menanggung beban yang justru bukan karena kesalahannya. Ia terbuang, menanggung kebencian seisi keluarga dan masyarakat akibat perbuatan ayahnya yang harusnya tidak ditimpakan kepadanya. Tapi itulah yang terjadi. Ia dianggap tidak lebih dari sampah dan harus dibuang, hingga ia pun bergabung dengan segerombolan penjahat/perampok. (ay 3) Inilah hidup yang harus ia pikul akibat dosa ayahnya. Hidup begitu pahit, tapi sepahit apapun, ia terus menjalaninya.

Pada suatu ketika, terjadilah serangan terhadap bangsa Israel yang dilakukan oleh bani Amon. Bangsa Israel terancam dan ketakutan. Rupanya rasa takut ini membuat para tua-tua di Gilead tidak lagi punya malu untuk menjemput Yefta, memintanya menjadi panglima untuk memerangi bani Amon. Yefta yang pernah mereka singkirkan, kini diminta kembali untuk menjadi pemimpin mereka. Yefta bertanya: "Tetapi kata Yefta kepada para tua-tua Gilead itu: "Bukankah kamu sendiri membenci aku dan mengusir aku dari keluargaku? Mengapa kamu datang sekarang kepadaku, pada waktu kamu terdesak?" (ay 7). Dan setelah mendapat jawaban para tua-tua itu, kita melihat sesuatu yang menarik dilakukan Yefta. Pertama, ia tidak jual mahal, ia tidak berniat sedikitpun untuk menuntut balas terhadap kaumnya, ia tidak memanfaatkan situasi untuk memukul balik para tua-tua dan rakyat Gilead. Yang ia lakukan dicatat dengan jelas dalam Alkitab. "Maka Yefta ikut dengan para tua-tua Gilead, lalu bangsa itu mengangkat dia menjadi kepala dan panglima mereka. Tetapi Yefta membawa seluruh perkaranya itu ke hadapan TUHAN, di Mizpa." (ay 11). Perhatikan, meski hidupnya dipenuhi segudang kepahitan dan penderitaan, Yefta masih terus mengandalkan Tuhan tanpa henti. Yefta membawa seluruh perkaranya ke hadapan Tuhan.

Tuhan tidak melihat latar belakang seseorang untuk bisa memakai seseorang. Yefta yang terlahir dengan latar belakang begitu buruk ternyata mendapat kemurahan Allah secara melimpah. Bahkan sempat dikatakan bahwa Yefta dihinggapi Roh Tuhan. (ay 29) Ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak memandang siapapun kita, dari mana kita berasal, apa masa lalu kita. Kepahitan Yefta bisa diubahkan Tuhan ketika ia membawa perkaranya ke hadapan Tuhan. Ia pun kemudian menjadi pahlawan Israel. Hal yang sama pun bisa terjadi pada kita jika kita memilih untuk mengutamakan Tuhan dan perintah-perintahNya lebih daripada sumber kepahitan dalam hidup ini.

Apakah anda hari ini mengalami kepahitan hidup akibat masa lalu? Apakah anda mengalami hubungan buruk dengan seseorang begitu berat, sehingga anda tidak bisa memaafkannya? Apakah kepahitan itu melahirkan kebencian yang luar biasa dalam hati anda yang tidak lagi bisa terobati? Apakah kepahitan membuat hidup anda lumpuh? Bring your case to God. Firman Tuhan berkata demikian: "Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu." (1 Petrus 5:7). Bawalah perkara itu ke hadapan Tuhan. Dia mampu melarutkan itu semua ke dalam kasih karuniaNya yang sempurna dan memulihkan kepahitan hidup anda. Seperti halnya yang terjadi pada Yefta, Roh Allah pun bisa tinggal dalam kehidupan kita. Caranya sudah diberikan dalam Kisah Para Rasul 2:38: "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus." Roh Kudus sendiri yang akan membimbing anda untuk mampu memaafkan, terlepas dari kepahitan dan mengalami hidup yang diubahkan. Pada suatu hari nanti, anda akan bisa memandang masa lalu dengan senyum dan rasa syukur, bahkan memakainya sebagai kesaksian hidup yang bisa memberkati banyak orang.

Ijinkan Tuhan melarutkan kepahitan yang paling pekat sekalipun ke dalam aliran kasihNya yang sempurna

Saturday, September 12, 2009

Blessing in Disguise

Ayat bacaan: 1 Tesalonika 5:18
========================
"Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu."

blessing in disguiseTidak biasanya jalanan di salah satu bagian yang selalu saya lewati macet total sampai larut malam. Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul sepuluh malam, tapi antrian mobil masih terlihat begitu rapat. Saya waktu itu tengah menunggu martabak pesanan saya selesai iseng-iseng ngobrol dengan si penjual. Saya mengomentari keanehan bahwa di waktu selarut itu jalan masih macet. Apa yang ia jawab diluar dugaan saya. "yah, lebih baik macet sih mas.. soalnya kalau tidak macet malah banyak kecelakaan disini." Ia yang sehari-harinya berjualan martabak di tempat itu dari sore hingga malam tentu tahu bagaimana rawannya jalan yang terbentang di depan tempatnya berjualan. Menurut penjual martabak itu, ada banyak kecelakaan terutama terjadi pada pengendara motor ketika jalanan justru lengang. Mungkin mereka kurang sabar, katanya, sehingga ceroboh ketika mencuri jalur untuk melewati kendaraan di depannya. Dan kecelakaan pun terjadi. Maka ia pun bersyukur bahwa jalanan macet, sehingga kemungkinan terjadinya kecelakaan bisa dihindari, setidaknya untuk malam itu. Apa yang ia katakan selanjutnya terngiang di telinga saya. "Banyak orang yang lupa bersyukur mas.. tahunya mengeluh saja. Padahal ada yang bisa disyukuri ketika sedang (macet) begini.." Dia benar. Blessing in disguise, itu yang lantas terlintas di benak saya pada saat itu. Betapa ketika orang mengeluh akibat kemacetan yang menghambat mereka untuk sampai ke tujuan, di balik itu sebenarnya ada sesuatu yang ternyata positif.

Saya teringat pada kisah Yusuf yang dizalimi saudara-saudaranya sendiri. Ia hampir mati dibunuh, lalu dibuang ke dalam sumur, dan akhirnya dijual sebagai budak hingga sampai ke Mesir. Di Mesir hidupnya tidak menjadi mudah. Berbagai masalah terus ia temukan, termasuk ketika ia digoda oleh istri majikannya Potifar. Penolakannya berbuah dijerumuskannya Yusuf ke dalam penjara. Dan seterusnya, kita tahu bagaimana kisah selanjutnya. Singkat cerita, Yusuf kemudian diangkat menjadi penguasa atas seluruh tanah mesir. (Kejadian 41:41). Bagi manusia biasa mungkin apa yang dialami oleh Yusuf merupakan rangkaian kesengsaraan dan nasib buruk, tapi tidak bagi Yusuf sendiri. Ia tahu ada rencana Tuhan yang luar biasa terbentang di depan. Dan untuk mencapai itu, tidak masalah jika ia harus terbentuk melalui berbagai rintangan. Tidak ada hal yang menciutkan imannya sedikitpun. Dari sudut pandang manusia mungkin yang ia alami terlihat seperti kasus tragis kehidupan atau ketidak adilan, tapi apa yang dilihat Yusuf berbeda. Menghadapi saudara-saudaranya yang dahulu telah berlaku jahat dan kini bersujud di depannya, Yusuf dengan lugas berkata "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar." (50:20). Mungkin jika sepersepuluh saja dari kisah Yusuf terjadi pada kita, dengan mudah kita akan serta merta kecewa pada Tuhan. Kita memang tidak bisa melihat apa yang akan terjadi di depan kita, tapi mampukah kita menyerahkan segalanya dalam iman untuk percaya kepada Tuhan?

Dalam banyak kesempatan kita lupa untuk bersyukur ketika kita terhambat akan sesuatu, atau ketika kita menghadapi kesulitan. Kita cenderung fokus kepada masalah, mengeluh, protes, bahkan terhadap hal kecil, seperti terjebak kemacetan tadi misalnya. Mungkin kita sering merasa kesal luar biasa ketika harus kembali pulang ke rumah ketika ada barang yang ketinggalan, mungkin kita merasa jengkel ketika menunggu istri atau anak terlalu lama bersiap-siap/berdandan, mungkin kita gampang frustrasi ketika kunci mobil terselip di suatu tempat, dan sebagainya. Hal-hal kecil seringkali gampang menjengkelkan kita. Belum lagi masalah atau kendala besar yang terkadang hadir merintangi langkah kita. Menghadapi sesuatu yang tidak mengenakkan di tempat kerja, menghadapi ketidak adilan dalam kehidupan, atau tekanan demi tekanan yang mungkin mendera kita. Apakah kita mampu terus berusaha mengucap syukur, atau kita segera bersungut-sungut dan memanjakan kekesalan kita? Bisakah kita sadar bahwa mungkin itu jalan Tuhan untuk mencegah kita agar tidak terjatuh kepada sebuah musibah? Tuhan mampu mendatangkan kebaikan lewat 1001 cara, yang mungkin belum atau bahkan tidak akan pernah terselami lewat kemampuan logika manusia. Tuhan menggambarkannya demikian: "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu." (Yesaya 55:8).

Lewat hal yang kelihatannya menjengkelkan sekalipun bisa terselip berkat tersembunyi, alias blessing in disguise. Apa yang dibuat Tuhan adalah segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." (Roma 8:28). Dia selalu mengawasi dan menjaga kita, dan apa yang Dia sediakan selalu sesuatu yang terbaik menurut jalanNya, dan bukan jalan kita. Termasuk lewat hal yang menjengkelkan atau bahkan menyakitkan sekalipun. Karenanya ketika menghadapi hambatan, janganlah terlalu cepat emosi atau frustrasi. Sebaliknya, tetaplah mengucap syukur. "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:18). Ketika Tuhan mengerjakan segala sesuatu yang baik untuk kita yang mengasihiNya, tidakkah kita pantas bersyukur untuk semua itu? Ingatlah bahwa Tuhan mampu memberkati kita lewat hal-hal kecil yang mungkin menjengkelkan, bahkan mungkin masalah besar yang saat ini belum terpecahkan, mengijinkan kita melewati itu demi kebaikan kita sendiri. Ketika tukang martabak itu bisa mengerti bahwa ada blessing in disguise dibalik hambatan dan persoalan, bisakah kita juga melihat hal itu? Tetaplah bersyukur, karena Tuhan bisa memakai sesuatu yang mengesalkan dan mengganggu untuk menjaga, melindungi dan memberkati kita.

Behind many inconvenient situations, there may be blessing in disguise