Saturday, July 10, 2010

Hidup Kudus Sesuai Panggilan

Ayat bacaan: 1 Tesalonika 4:7
========================
"Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus."

hidup kudusSekali waktu saya pernah membaca ucapan seorang artis mengenai perceraiannya. "Sudah takdir Yang Maha Kuasa 'kali ya.." katanya ringan. Ketika itu saya terperangah. Bagaimana mungkin Tuhan yang penuh kasih merencanakan kita untuk berpisah? Bukankah kehadiran Hawa dalam proses penciptaan manusia buat kali pertama pun karena kita dikatakan tidak baik jika sendirian saja? Jika demikian, bagaimana mungkin Tuhan menghendaki sebuah perceraian terjadi? Tapi begitulah kita manusia yang cenderung mencari kambing hitam atas kesalahan yang kita buat sendiri. Jika menyalahkan orang lain saja sudah tidak baik, apalagi menyalahkan Tuhan. Begitu ringannya ia melempar kata tanpa menyadari konsekuensi dari perkataannya itu kelak bisa fatal akibatnya. Berhati-hati dalam berpikir, merasa dan berbicara itu sungguh penting. Tapi bukan itu yang ingin saya angkat hari ini menjadi bahan renungan, melainkan seperti apa sebenarnya panggilan Tuhan kepada setiap kita, anak-anakNya.

Ayat bacaan hari ini sangat jelas menyatakan seperti apa sebenarnya panggilan Tuhan itu. "Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus." (1 Tesalonika 4:7). Ayat singkat ini begitu tegas menyatakannya. Kita bukan dipanggil untuk melakukan apa yang cemar, apa yang menyakiti hati Tuhan, apa yang dipandang jahat di mata Tuhan, melainkan untuk hidup kudus, seturut kehendakNya, sesuai perintahNya. Ini adalah firman Tuhan yang keras, karena ayat selanjutnya menyatakan: "Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu." (ay 8). Bayangkan betapa seriusnya jika kita dianggap menolak Allah yang telah memberikan Roh Kudus kepada kita. Atas kasihNya kita ditebus, diselamatkan dan dianugerahkan Roh Kudus sebagai Sang Penolong, tapi atas segala kecemaran yang kita lakukan kita justru menolak Allah. Serius bukan?

Dikatakan "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah." Itulah gambaran manusia yang seharusnya penuh dosa dan tidak layak untuk mendapatkan kemuliaan Allah. Tapi oleh kasih karunia Allah yang begitu besar kita sudah ditebus lunas lewat Kristus. "dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus." (ay 24). Firman Tuhan lewat Petrus berkata: "Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat." (1 Petrus 1:18-19). Ini semua telah kita terima, bahkan dikatakan dengan cuma-cuma. Artinya dengan menerima Kristus seharusnya kita bisa memulai sebuah kehidupan yang baru yang benar-benar kudus. Kecemaran akibat dosa bukanlah menjadi agenda kita selanjutnya menurut Tuhan. Hidup kudus, dan bukan cemar, itulah yang seharusnya kita lakukan setelah kita ditebus dan dibenarkan lewat darah Kristus.

Tuhan telah memberikan, selanjutnya tugas kita untuk mempertahankan. Inilah yang menjadi masalah, karena arus dunia dengan segala iming-iming yang ditawarkan di dalamnya akan terus menerus berusaha meracuni kita yang lemah ini. Segala bentuk tipu muslihat siap digelontorkan iblis untuk meruntuhkan kita. Menjauhkan kita dari kekudusan dan mengarahkan kita ke dalam berbagai bentuk kecemaran. Kelemahan kita membuat terdapatnya banyak lubang-lubang dalam pertahanan kita yang sangat rentan untuk diserang. Tapi Tuhan tahu bagaimana lemahnya kita. Tidak akan mungkin kita mampu bertahan melawan arus dunia dengan segala penyesatana di dalamnya apabila kita hanya mempergunakan kekuatan kita sendiri. Oleh sebab itu Tuhan memberikan Penolong bagi kita, Roh Kudus, untuk menyertai, menolong, mengingatkan dan menguatkan kita dalam bertahan dan melawan arus ini. Jangan lupa pula bagaimana besarnya kuasa firman Tuhan yang tidak saja harus kita baca, renungkan dan perkatakan, tetapi harus diaplikasikan secara nyata pula dalam perbuatan kita. Dengan ini semua seharusnya kita mampu menjalankan apa yang menjadi panggilan Allah bagi kita. Sekali lagi bukan untuk kecemaran, melainkan untuk kekudusan.

Tanpa kekudusan kita tidak akan bisa melihat Tuhan. Firman Tuhan berkata "..kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan." (Ibrani 12:14). Kita tidak akan bisa mengalami kemuliaan Tuhan apabila kita masih hidup penuh kecemaran. Itulah sebabnya Tuhan mengingatkan kita "Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu" (1 Petrus 1:14-15). Dengan kata lain, lewat ayat selanjutnya Tuhan berpesan "Kuduslah kamu, sebab Aku kudus." (ay 16). Sudahkah kita memperhatikan benar-benar hidup kita untuk melakukan yang kudus sesuai panggilan Tuhan? Jika belum, mulailah hari ini juga. Berhentilah menyalahkan Tuhan ketika kita sulit terlepas dari kebiasaan buruk atau melakukan hal yang jahat di mata Tuhan. Tuhan tidak pernah menghendaki kita untuk tercemar, untuk tersesat dan binasa. Jika AnakNya yang tunggal saja sudah Dia anugerahkan demi keselamatan kita, itu artinya keselamatan kita merupakan agenda yang sangat penting bagi Tuhan. Mulailah sebentuk hidup kudus hari ini juga.

Kita tidak layak menerima kemuliaan Tuhan tanpa kekudusan, karenanya hiduplah kudus sesuai panggilanNya

Friday, July 9, 2010

Belajar Lewat Penderitaan

Ayat bacaan: Ulangan 4:30
=====================
"Apabila engkau dalam keadaan terdesak dan segala hal ini menimpa engkau di kemudian hari, maka engkau akan kembali kepada TUHAN, Allahmu, dan mendengarkan suara-Nya."

belajar lewat penderitaanBetapa seringnya kita begitu bandel sehingga harus belajar dari pengalaman pahit terlebih dahulu untuk menapak maju lebih baik. Sudah menjadi sifat manusia untuk terlena dalam kenyamanan, kecenderungan lupa diri akan hadir ketika kita tengah berada di atas, lalu kita akan kembali sadar dan bertobat jika masalah mulai tidak lagi bisa kita tanggulangi dengan kekuatan sendiri. Apakah itu kehancuran, kegagalan, sakit penyakit, bangkrut atau berbagai bentuk penderitaan lainnya biasanya akan membuka mata kita bahwa kita sudah terlalu jauh melenceng dari rel yang seharusnya. Ambil contoh mengenai makanan. Kita bisa terus makan dan makan semau kita tanpa memikirkan akibatnya, lalu ketika kolestrol meningkat, ketika darah tinggi mulai mengganggu, jantung bermasalah dan sebagainya, barulah kita tersadar bahwa pola makan yang tidak dijaga dari dulu itu ternyata sangat beresiko. Seperti itulah kita manusia yang seringkali harus diingatkan, ditegur atau dihukum dengan keras terlebih dahulu oleh Tuhan untuk dapat hidup benar.

Dalam hal mendidikan anak pun demikian. Jika kita terlalu memanjakan anak, maka anak tidak akan pernah bisa belajar bagaimana untuk hidup secara baik. Bayangkan apabila setiap merengek minta permen kita terus memberikannya kepada mereka, maka gigi mereka akan rusak bukan? Ada kalanya kita menuruti, ada kalanya kita harus menolak. Tuhan sebagai Bapa juga bertindak sama. Masalah tidak akan pernah berhenti menerpa kita, dan jelas Tuhan lebih dari sanggup untuk menghapuskan semuanya itu. Tetapi ada kalanya kita harus melewati masa-masa sulit itu. Bukan karena Tuhan senang menyiksa kita, tetapi itu adalah sebuah proses pembelajaran agar kita bisa menjadi lebih baik lagi. Bukankah penderitaan yang kita alami di dunia ini hanya penderitaan atau pencobaan biasa seperti yang dikatakan dalam 1 Korintus 10:13? Mungkin apa yang kita alami sangatlah berat, sehingga kita merasa tidak sanggup lagi menjalaninya, namun semua itu masih tetap tidak sebanding dengan apa yang akan terjadi di depan sana seandainya Tuhan terus memanjakan kita dan membiarkan diri kita terperosok semakin jauh ke dalam kesesatan atau kesalahan kita. Ada kalanya kita harus diajar, ditegur, dibina, bahkan dihukum untuk tujuan yang jauh lebih baik. Tuhan ingin kita bisa belajar untuk bersandar dan menggantungkan hidup sepenuhnya kepadaNya. Dan itu bisa hadir melalui penderitaan atau masalah yang kita alami.

Firman Tuhan berbunyi demikian: "Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak." (Ibrani 12:5-6). Karena sayanglah maka terkadang kita seolah dibiarkan mengalami masa-masa sulit. Saya sendiri pernah mengalaminya selama bertahun-tahun. Ego, kesombongan, sifat-sifat jelek saya semua dihancurkan, dan proses itu memang menyakitkan. Namun hari ini saya bersyukur pernah melewati masa itu. Saya mengalami proses pembentukan ulang selama bertahun-tahun, baik dari segi mental, moral maupun iman. Jika saya bisa menjadi siapa diri saya hari ini, jika saya bisa menghidupi sebentuk kehidupan yang luar biasa indahnya bersama Kristus, itu tidaklah terlepas dari proses menyakitkan yang saya alami selama beberapa tahun waktu itu.

Bangsa Israel yang tegar tengkuk juga mengalami hal yang sama. Kita tahu bagaimana luar biasanya Tuhan menyertai mereka ketika mereka tengah menuju tanah yang dijanjikan Tuhan. Namun sikap mereka tidak kunjung menunjukkan rasa syukur dan terima kasih. Maka lewat Musa, Tuhan pun berkata: "TUHAN akan menyerakkan kamu di antara bangsa-bangsa dan hanya dengan jumlah yang sedikit kamu akan tinggal di antara bangsa-bangsa, ke mana TUHAN akan menyingkirkan kamu. Maka di sana kamu akan beribadah kepada allah, buatan tangan manusia, dari kayu dan batu, yang tidak dapat melihat, tidak dapat mendengar, tidak dapat makan dan tidak dapat mencium." (Ulangan 4:27-28). Ketika masalah dan penderitaan hadir barulah manusia akan menyadari bahwa mereka sudah terlalu jauh dari Tuhan dan ingin kembali bertobat. Puji Tuhan, Dia adalah Bapa yang penuh pengampunan. Ketika kita menyadari kesalahan kita, Tuhan akan segera menerima kita kembali. Ayat selanjutnya berkata: "Dan baru di sana engkau mencari TUHAN, Allahmu, dan menemukan-Nya, asal engkau menanyakan Dia dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu. Apabila engkau dalam keadaan terdesak dan segala hal ini menimpa engkau di kemudian hari, maka engkau akan kembali kepada TUHAN, Allahmu, dan mendengarkan suara-Nya." (ay 29-30). Mengapa demikian? "Sebab TUHAN, Allahmu, adalah Allah Penyayang, Ia tidak akan meninggalkan atau memusnahkan engkau dan Ia tidak akan melupakan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu." (ay 31).

Ini merupakan cerminan diri kita yang seringkali lengah dan terlena dalam kemanjaan ketika hidup selalu aman. Kita melupakan Tuhan, kita mengira bahwa tenaga dan hebatnya kita sematalah yang membuat kita sukses, kita terus mengandalkan orang lain bahkan terjebak ke dalam berbagai bentuk penyesatan. Namun ketika masalah berat hadir dan semua itu tidak lagi mempan, barulah kita sadar dan kembali kepada Allah dalam Yesus. Lewat penderitaan yang kita alami, kita bisa belajar bahwa kita seharusnya mengandalkan Tuhan lebih lagi dalam hidup kita. Asal kita mencari Tuhan dengan segenap hati dan jiwa, mendengarkan suaraNya, maka pada suatu ketika semuanya akan dipulihkan. Janji itu sudah tergenapi dalam perjalanan kehidupan saya.

Ada saat berada dalam kesesakan itu baik. Pemazmur menyadari dan berkata "Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu." (Mazmur 119:71). Sang Penulis pun belajar dari pengalaman pahitnya. "Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu." (ay 67). Adalah jauh lebih baik untuk diingatkan atau diajar sekarang daripada menyesal di kemudian hari ketika semua sudah terlambat. Karena itu janganlah bersungut-sungut apalagi menyalahkan Tuhan ketika kita merasa tanganNya terlambat untuk menolong kita. Pakailah masa-masa sulit itu untuk melakukan perenungan total, apakah kita selama ini sudah mendengarkan firmanNya atau masih jauh dariNya. Belajarlah dari masa sulit itu dan kemudian keluarlah menjadi seorang pemenang yang telah diubahkan. Tuhan bisa memakai masalah dan penderitaan sebagai sarana untuk mengoreksi diri kita. Dan seandainya bisa, mulailah dari sekarang sebelum kita harus diajar lewat masa-masa sulit terlebih dahulu. Jangan keraskan hati, lembutkan hati dari sekarang dan biarkan firman Tuhan jatuh di tanah yang subur, lalu biarkan bertumbuh subur dan berbuah. Jangan tunggu sampai Tuhan harus perlu menyesah kita terlebih dahulu untuk membuat kita menjadi pribadi yang baik, taat dan berkenan di hadapanNya.

Pakailah saat sulit untuk introspeksi dan keluarlah sebagai pemenang

Thursday, July 8, 2010

Menjadi Sahabat Yesus

Ayat bacaan: Yohanes 15:14
=========================
"Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu."

sahabat YesusSangat sulit membayangkan untuk hidup tanpa sahabat. Tidak jarang saya bertemu dengan orang-orang yang mengalami mental breakdown, kehilangan percaya diri dan sebagainya karena mereka tidak memiliki kerabat dekat yang mampu mensupport mereka di kala jatuh atau sedang mengalami kesulitan. Saya sudah sering mengatakan peribahasa ini: No man is an island. Tidak ada orang yang mampu hidup sendirian. Kita memang diciptakan sebagai mahluk sosial yang harus hidup berpasangan dan berdampingan satu dengan lainnya. Dan dalam kejadian penciptaan manusia pun Tuhan telah mengatakan dengan jelas bagaimana hakekatnya kita diciptakan. "TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Kejadian 2:18). Tidak pernah baik bagi siapapun manusia itu untuk hidup seorang diri. Tuhan tahu itu. Dan dengan kehadiran sahabat yang baik, kita akan bisa terdorong atau termotivasi untuk terus maju, kita akan merasa jauh lebih aman karena kita tahu kita tidak sendirian, dan tentu saja dalam segi kerohanian pun kita akan mampu bertumbuh jika kita bersahabat dengan orang-orang yang benar. Seorang sahabat berbeda dengan teman yang bisa datang dan pergi kapan saja. Seorang sahabat yang sejati akan selalu berusaha hadir bersama kita menjadi pendengar yang baik, menghibur, menguatkan dan memberi bantuan di kala kita butuhkan.

Sekarang bayangkan jika bukan cuma manusia, tetapi Tuhan sendiri mengulurkan tangan menawarkan sebuah persahabatan dengan kita. Tidakkah itu luar biasa istimewa? Dan itulah yang memang terjadi. Tuhan sendiri melalui Kristus telah membuka diri untuk menjadikan kita sahabat-sahabatNya. Dengan segala keistimewaan yang bisa kita dapatkan dari seorang sahabat di dunia, kita bisa mendapatkan jauh lebih dari itu lewat sosok Allah yang tak terukur dan tak terbatas kasih setiaNya. Yesus sendiri yang mengatakan hal itu. "Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu." (Yohanes 15:14). Apa yang diperintahkan Yesus sama sekali tidak berat, dan itu bisa kita baca dalam ayat sebelumnya. "Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu." (ay 12). Jika kita melakukan apa yang Dia perintahkan kepada kita, maka kita memperoleh hak super istimewa yaitu menjadi sahabat Yesus.

Betapa banyak keuntungan yang bisa kita peroleh dari bentuk persahabatan. Jika membangun persahabatan dengan sesama manusia saja sudah begitu luar biasa, apalagi jika persahabatan itu terjalin antara kita dengan Yesus, Tuhan yang tidak terbatas kuasaNya melebihi segala sesuatu di alam semesta ini. Lihat apa kata Yesus berikut: "Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku." (ay 15). What a privilege it is. Kita mengetahui segala sesuatu rahasia Kerajaan Allah, isi hati Tuhan, dan itu disampaikan langsung oleh Yesus sebagai seorang sahabat. Sebagai manusia kita menghargai status dari sahabat, di mata Tuhan pun demikian. Sebab dalam Amsal Firman Tuhan telah berkata: "Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran." (Amsal 17:17). Artinya jelas, seorang sahabat akan merasa gelisah apabila ia tidak mampu menyatakan perhatiannya dan bantuannya apabila sahabatnya tengah menghadapi masalah. Bayangkan jika kita mendapatkan perhatian seperti ini langsung dari Tuhan.

Apa yang diberikan Kristus sebagai seorang sahabat sesuai dengan deskripsiNya sendiri mengenai hakekat persahabatan yang sejati. Yesus berkata: "Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya." (Yohanes 15:13). Kita dituntut pula untuk bisa sampai kepada tingkatan seperti ini, karena kita telah membaca dalam ayat-ayat Injil Yohanes sebelumnya bahwa kita diperintahkan untuk bisa mengasihi orang lain seperti Yesus sendiri telah mengasihi kita. Tapi lihatlah bahwa perintah ini bukan hanya diberikan begitu saja kepada kita. Yesus sendiri telah menjadi teladan sempurna mengenai hal ini dengan karya penebusanNya di atas kayu salib, membayar lunas segala rintangan yang telah mengarahkan kita kepada kebinasaan dengan mengorbankan diriNya sendiri. Itulah bentuk persahabatan yang kita peroleh dari Yesus, sebuah bentuk persahabatan sejati yang penuh kasih setia.

Tidak ada rahasia di antara sahabat. Kita akan dengan nyaman membuka segala rahasia kita kepada orang yang sudah kita anggap sebagai sahabat kita, dan begitu pula dengan Tuhan. Firman Tuhan berkata "TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka." (Mazmur 25:14). Takut akan Tuhan juga berarti menghormatiNya dengan menjalankan semua perintahNya dan menjauhi laranganNya. Menjadi sahabat Tuhan akan membuat kita mendapat penyingkapan berbagai rahasia surgawi, mengetahui isi hati Tuhan dan mendengar apa yang menjadi rencana-rencanaNya. Tuhan sudah mengulurkan tangan untuk menjalin persahabatan dengan kita. Apakah kita mau menyambut uluran tanganNya atau memilih untuk menepis tawaran yang sungguh sangat istimewa ini? Semua tergantung diri kita. Yang pasti, Tuhan rindu untuk menjadi sahabat sejati kita jika kita mau menerima tawaran ini dengan sukacita dan tentunya dengan serius. Apabila kita mengasihi Tuhan selayaknya seorang sahabat, menjaga untuk tidak menyakiti atau mengecewakan perasaan Tuhan, tetap dekat dan melakukan segala perintahNya dengan taat, maka Tuhan akan meletakkan kita di deretan sahabat-sahabatNya yang terdekat. Siapkah kita untuk menjadi sahabat Tuhan?

What a friend we have in Jesus

Wednesday, July 7, 2010

Penipu

Ayat bacaan: Amsal 6:12-15
========================
"Tak bergunalah dan jahatlah orang yang hidup dengan mulut serong,yang mengedipkan matanya, yang bermain kaki dan menunjuk-nunjuk dengan jari, yang hatinya mengandung tipu muslihat, yang senantiasa merencanakan kejahatan, dan yang menimbulkan pertengkaran. Itulah sebabnya ia ditimpa kebinasaan dengan tiba-tiba, sesaat saja ia diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi."

penipuTahukah anda kisah seorang gadis penipu yang sempat meramaikan media massa beberapa waktu yang lalu? Ia begitu lihai menipu dimana-mana, begitu banyak korbannya yang terperdaya dengan berbagai trik dan tipu muslihatnya. Ia terus berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, bahkan ketika sudah tertangkap sekalipun ia masih juga sanggup memperdaya polisi hingga ia pun kembali bebas. Apakah itu hipnotis atau tidak, apakah karena intelegensianya tinggi sehingga ia bisa mempermainkan orang secara psikologis, entahlah. Tapi satu hal yang pasti, ia adalah seorang gadis yang begitu pintar, licin melebihi belut dan hidup dari tipu muslihat.

Hampir setiap hari kita harus berhadapan dengan penipu-penipu dalam berbagai bentuk. Pernahkah anda menerima sms atau bahkan telepon yang mengatakan anda memenangi undian ini dan itu? Pegawai yang menuliskan nilai harga yang lebih tinggi di kuitansi? Bahkan anggota keluarga sekalipun bisa berbohong untuk mendapatkan uang? Pegawai atau anak murid yang mengatakan tidak bisa masuk karena sakit? Berbagai modus operandi penipuan dalam berbagai ragam bentuk dan gaya akan terus ada dan berkembang. Jangan-jangan kita sendiri pun bukan hanya korban, tetapi termasuk pula satu dari para pelaku.

Apa kata firman Tuhan mengenai berbohong? Jelas berbohong itu dosa. Masalahnya, kita sering melegalisir kebohongan itu dengan berbagai dalil. Bohong sedikit itu tidak mengapa, bohong demi kebaikan atau dikenal juga dengan white lies dan sebagainya. Padahal kebohongan apapun bentuknya tetaplah sebuah kebohongan, yang harusnya tidak bisa dibenarkan. Amsal Salomo berpanjang lebar menjabarkan hal ini. "Tak bergunalah dan jahatlah orang yang hidup dengan mulut serong,yang mengedipkan matanya, yang bermain kaki dan menunjuk-nunjuk dengan jari, yang hatinya mengandung tipu muslihat, yang senantiasa merencanakan kejahatan, dan yang menimbulkan pertengkaran. Itulah sebabnya ia ditimpa kebinasaan dengan tiba-tiba, sesaat saja ia diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi." (Amsal 6:12-15). Lihatlah betapa seriusnya penipuan di mata Tuhan. Broken without remedy. Dalam rangkaian ayat selanjutnya kita juga bisa melihat bagaimana lidah dusta, hati yang membuat rencana jahat, saksi dusta yang menyemburkan kebohongan termasuk dalam tujuh perkara yang dibenci Tuhan dan dianggap sebagai kekejian bagi hati Tuhan. (ay 16-19).

Persekongkolan juga termasuk salah satu jenis tipu muslihat. Lebih lanjut kita bisa melihat dalam Amsal dikatakan "Siapa mengedipkan mata, menyebabkan kesusahan, siapa bodoh bicaranya, akan jatuh." (Amsal 10:10). Jadi jelaslah bahwa apapun bentuknya, kebohongan atau tipu muslihat merupakan sebuah kejahatan di mata Tuhan. Secara lebih tegas kita bisa melihat dalam surat Korintus yang mengatakan: "..Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah." (1 Korintus 6:9b-10).

Sebuah bentuk penipuan biasanya berasal dari hati yang jahat. Kita harus waspada menjaga hati kita karena meski kita bisa menyimpan rapi segala bentuk penipuan, sekiranya pun kita bisa menutup rapat isi hati kita, namun ingatlah bahwa tidak ada satu hal pun yang tersembunyi di hadapan Allah, "..sebab TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita." (1 Tawarikh 28:9a). Jika tidak waspada, maka hati kita akan terus bertambah jahat sehingga berbagai bentuk penipuan akan menjadi biasa saja bagi kita untuk dilakukan. Mungkin kita memulainya dengan kebohongan kecil yang kita anggap tidak apa-apa, tetapi jika tidak hati-hati kebohongan demi kebohongan dengan eskalasi meningkat bisa terjadi, dan pada suatu ketika kita akan menjadi seorang pembohong yang tidak lagi merasa bersalah. Alangkah berbahayanya jika hal ini terjadi, karena Tuhan jelas menganggap hal itu sebagai suatu kekejian di mataNya.

Apapun alasannya, hindarilah menipu atau berbohong. Biasakan diri kita untuk bicara dan berlaku jujur sebelum kita terjebak dalam sikap hati yang jahat. Pastikan hati kita tetap dipenuhi oleh firman Tuhan agar kita bisa tetap awas terhadap berbagai jebakan yang mengarahkan kita kepada tipu muslihat dan kebohongan ini.

Tipu muslihat berasal dari hati yang jahat, itu merupakan kekejian bagi Tuhan

Tuesday, July 6, 2010

Belalang

Ayat bacaan: Amsal 30:27
========================
"The locusts have no king, yet they go forth all of them by bands

belalangSeekor belalang kecil melompat-lompat masuk ke dalam rumah. Agaknya belalang kecil yang lucu ini salah jalan, karena jelas lantai yang dingin bukanlah habitat dimana ia bisa hidup normal. Saya pun mengarahkannya kembali ke luar, ke rerumputan hijau. Satu ekor belalang kecil terlihat lucu juga lemah. Jika mau, dengan mudah kita bisa menghabisinya hanya dengan sedikit tenaga saja. Tapi coba bayangkan jika belalang itu tidak sendirian melainkan membawa teman-temannya. Bayangkan apabila kita diserbu ratusan bahkan ribuan belalang. Apa yang terjadi? Bagi para petani, serbuan belalang seperti ini bisa sangat merepotkan dan merugikan. Maka belalangpun dikategorikan ke dalam hama yang bisa merusak hasil pertanian mereka.

Mari kita lihat sejenak apa yang terjadi ketika Firaun tetap mengeraskan hatinya untuk melepaskan Israel dari perbudakan di negaranya Mesir. Meski sudah diingatkan Tuhan lewat Musa dan Harun, ia tetap membandel. Dan serangkaian tulah pun hadir menimpa bangsanya. Tulah ke delapan yang dijatuhkan adalah segerombolan belalang dalam jumlah yang begitu besar. Persisnya inilah yang terjadi. "Datanglah belalang meliputi seluruh tanah Mesir dan hinggap di seluruh daerah Mesir, sangat banyak; sebelum itu tidak pernah ada belalang yang demikian banyaknya dan sesudah itupun tidak akan terjadi lagi yang demikian. Belalang menutupi seluruh permukaan bumi, sehingga negeri itu menjadi gelap olehnya; belalang memakan habis segala tumbuh-tumbuhan di tanah dan segala buah-buahan pada pohon-pohon yang ditinggalkan oleh hujan es itu, sehingga tidak ada tinggal lagi yang hijau pada pohon atau tumbuh-tumbuhan di padang di seluruh tanah Mesir." (Keluaran 10:14-15). Sungguh mengerikan. Jika kita pernah melihat bagaimana kesulitan yang dihadapi penduduk di suatu daerah ketika menghadapi serangan belalang, disini dikatakan bahwa pada saat itu serangan jauh lebih besar dari yang pernah ada, dan tidak akan pernah ada serangan belalang yang lebih besar lagi setelahnya. Dalam sekejap mata Mesir berubah menjadi lautan belalang yang mengubah Mesir menjadi gurun gersang dalam waktu singkat.

Satu belalang tidak akan berpengaruh apa-apa, tapi dalam jumlah banyak belalang bisa sangat merepotkan. Agur bin Yake pun mengatakan: "belalang yang tidak mempunyai raja, namun semuanya berbaris dengan teratur." (Amsal 30:27). Dalam versi Bahasa Inggris (Amplified) ditulis: "The locusts have no king, yet they go forth all of them by bands". Meski belalang  tidak memiliki raja, namun mereka bisa bersatu dengan kuat dalam sebuah kelompok besar untuk satu tujuan tertentu. Jika melihat bagaimana manusia hari-hari ini yang begitu sulit untuk bersatu, selalu memperbesar jurang perbedaan dan terus bertikai kita patut malu terhadap belalang ini. Lihatlah betapa sulitnya kita yang seiman untuk bersatu. Segala perbedaan selalu dijadikan alasan, kita terus menerus merendahkan, memandang negatif dan curiga terhadap saudara seiman yang memiliki tata cara peribadatan yang berbeda dengan kita. Padahal kita memiliki Raja yang sama, Raja diatas segala raja, Yesus Kristus. Jika belalang yang tidak memiliki raja bisa bersikap demikian, betapa memalukannya kita yang memiliki Raja tidak bisa melakukannya.


Meskipun Perjanjian Baru banyak memberi penekanan kepada pertumbuhan iman kita masing-masing, tetapi Tuhan tidak pernah menginginkan kita untuk menjadi individu-individu yang eksklusif. Gereja tidak akan pernah bisa menjadi terang dan garam jika hanya dibatasi oleh dinding-dinding tanpa pernah berpikir untuk menjangkau lebih banyak jiwa yang berada di luar dinding itu. Penulis Ibrani menyampaikan firman Tuhan yang berbunyi: "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik." (Ibrani 10:24). Prinsip saling yang positif harus terus kita kembangkan, karena kita harus menyadari bahwa kita ini terbatas dan lemah, seperti halnya belalang. Menghadapi hari-hari yang semakin sukar ini, kita harus lebih menekankan kebersamaan, membangun hubungan kekeluargaan dan persaudaraan erat dengan saudara-saudari kita lainnya. Apa yang dikatakan Tuhan itu jelas. Berhentilah menjadi pribadi yang eksklusif! "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat." (ay 25).

Jangan abaikan fellowship atau persekutuan, karena disana kita bisa saling menguatkan, menegur dan meneguhkan. Firman Tuhan berkata: "Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!" (Pengkotbah 4:9-10). Lalu dalam ayat lain kita bisa membaca: "Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan."(ay 12). Belalang jika hanya seekor akan mudah dipatahkan, tetapi akan memiliki kekuatan yang luar biasa ketika mereka bersatu. Hari-hari yang kita jalani sesungguhnya sulit. Oleh karena itu marilah kita lebih giat lagi bersekutu, saling support, saling bantu, saling dorong, agar kita bisa sama-sama terus bertumbuh dalam Tuhan.

Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh