Monday, April 5, 2010

Putus Cinta

Ayat bacaan: Mazmur 13:3a
======================
"Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari?"

putus cintaPutus cinta sungguh menyakitkan. Sebagian besar dari kita tentu pernah merasakannya. Sebuah hubungan yang sudah terjalin sekian lama, koneksi antar batin yang sudah terjalin, akan terasa sangat perih ketika hubungan harus terputus karena satu dan lain hal. Seorang teman saya sedang mengalaminya. "Perih banget, mau gila rasanya.." katanya sambil menahan tangis. Hubungannya memang terbilang masih singkat, masih kurang dari 6 bulan. Tetapi menurutnya hubungan itu sudah sangat dalam. Saling mencintai, hari-hari dijalani berdua dengan indah dan penuh kebahagiaan, namun ternyata harus putus karena orang tua kekasihnya tidak setuju. Dalam seketika sang kekasih memutuskan untuk menghentikan semua hubungan, baik dari chatting, jejaring-jejaring maya, telepon bahkan sms sekalipun secara tiba-tiba. Tampaknya ia ingin belajar secepatnya hidup tanpa kehadiran orang yang ia cintai, mungkin itu cara yang harus ia ambil untuk secepatnya melanjutkan hidup. Namun tak pelak teman saya pun terpukul karena semuanya berubah drastis dalam waktu yang sangat singkat. Ia kelimpungan, kesakitan dan merasa hancur. Waktu terasa berjalan sangat lambat dan setiap detik rasa perih menusuk hati pun terasa. Tidak mudah memang mengalami kejadian putus cinta seperti ini apalagi jika itu terjadi karena pihak lain dan bukan karena tidak lagi saling cinta. Ada banyak orang yang tidak tahan hingga harus memutuskan untuk melakukan tindakan bodoh dengan mengakhiri hidup mereka.

Ditinggalkan orang yang kita kasihi tentu sakit rasanya. Bagai luka menganga, seringkali luka itu akan terus meninggalkan bekas dan tidak akan bisa sembuh dalam waktu singkat. Dalam saat-saat seperti itu kita seringkali merasa seolah-olah Tuhan tidak peduli terhadap penderitaan kita, karena rasa perih yang kita derita dari detik ke detik terasa begitu menyakitkan. Seolah-olah Tuhan memalingkan mukanya bersembunyi dari kita. Itu yang dirasakan pula oleh Daud ketika ia tengah gelisah dan bersedih. "Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?" (Mazmur 13:2). Apakah Tuhan memang begitu tega meninggalkan kita ketika kesedihan tengah mendera? Tentu tidak. Tapi kita bisa saja merasakan seperti itu akibat tekanan beban yang terus menyiksa. "Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari?" (ay 3a). Kita tentu ingin Tuhan segera turun tangan memberi kelegaan, tetapi ada kalanya Tuhan membiarkan kita mengalami itu semua terlebih dahulu. Bukan untuk menyiksa, tetapi sebagai pelajaran bagi kita. Mungkin Tuhan mau kita belajar untuk menjadi lebih kuat, lebih tegar. Mungkin Tuhan mau kita belajar dari kesalahan terlebih dahulu, jika masalah timbul akibat kesalahan kita. Mungkin Tuhan sedang melatih iman kita agar mulai mengandalkan Tuhan di atas segalanya. Mungkin Tuhan mau mengajarkan bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini, semua adalah milikNya dan kapan saja Dia berhak mengambilnya. Atau alasan-alasan lainnya yang dipandang baik oleh Tuhan. Tapi satu hal yang pasti, semua itu pasti bertujuan untuk mendatangkan kebaikan, dan itu haruslah kita sadari agar kita tidak terlena dalam kesedihan berlarut-larut.

"Consider and answer me, O Lord my God.." "Pandanglah kiranya, jawablah aku, ya Tuhan, Allahku!" (ay 4). Daud pun berseru dalam kesedihannya. Betapa doa seperti inipun sering kita panjatkan dengan lirih ketika kesedihan begitu menyesakkan dada. Namun bedanya, Daud tidak mau berlama-lama tenggelam dalam keluhannya. Segera ia mengingatkan jiwanya agar kembali percaya dan mengandalkan Tuhan. "Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu." (ay 6a). Bahkan lebih dari itu, dia pun menyanyi bagi Tuhan, sebab meski dalam keadaan sedih sekalipun Daud yakin bahwa Tuhan telah berbuat baik kepadanya. (ay 6b). Hal seperti inilah yang seharusnya kita lakukan. Jiwa yang penuh duka lara, hati yang serasa teriris perih tidak akan mampu berbuat apa-apa jika kita tidak segera diingatkan agar kembali percaya kepada pertolongan Tuhan, yang pasti akan datang pada saatnya. Itulah yang dilakukan Daud. Lihatlah sebuah seruannya yang sudah tidak asing lagi bagi kita. "Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!" (Mazmur 42:12). Ingatlah bahwa berharap kepada Allah tidak akan pernah berakhir percuma. "Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia." (1 Korintus 15:58b).

Dengarlah satu lagi berita baik ini: Tuhan tahu persis bagaimana rasa sakit yang ditimbulkan oleh patah hati! "Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka." (Mazmur 147:3). Lihat bagaimana Tuhan berjanji untuk menyembuhkan dan membalut luka-luka yang timbul akibat putus cinta atau patah hati langsung dengan tanganNya sendiri. Bukankah janji ini indah? Tuhan siap untuk merawat kita hingga pulih seperti semula.

Ketika kita sedang mengalami kesedihan mendalam, baik ketika kita ditinggal oleh orang yang sangat kita sayangi atau mungkin baru mengalami putus cinta dan sebagainya, tidaklah salah untuk mengambil waktu berduka dan berkabung untuk sementara. Ada kalanya kita perlu mengambil waktu khusus seperti itu untuk kembali memulihkan diri kita. Namun janganlah larut dalam kepedihan terlalu lama. Manfaatkan waktu-waktu itu untuk kembali merenungkan kebaikan Tuhan dan ingatkan jiwa kita untuk memandang Allah dan dengan sabar menantikan penguatan daripadaNya. Pakailah waktu-waktu itu untuk belajar dan melatih banyak hal dari dalam diri kita. Percaya dan berharaplah terus kepada Tuhan, dan jangan lupa untuk tetap mengucap syukur. Tuhan akan segera memberi kekuatan kepada kita untuk kembali melangkah melanjutkan perjalanan hidup kita. Jangan biarkan kesedihan terus menguasai kita berkepanjangan, jangan sampai kehilangan pengharapan terlebih janganlah tergoda untuk melakukan tindakan bodoh yang bisa berakibat fatal. Tetap pegang janji Tuhan, percayalah sepenuhnya kepadaNya. Tuhan tidak akan menutup mata dari penderitaan kita, dan pada saatnya Dia akan segera memberi kelegaan dan kekuatan.

"Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka." (Mazmur 147:3)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, April 4, 2010

Yesus Bangkit

Ayat bacaan: 1 Korintus 15:17
==========================
"Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu."

kebangkitanKematian seseorang yang disayangi sungguh menyisakan kepedihan mendalam bagi siapa saja. Jika meninggal karena sakit saja sudah terasa berat, apalagi jika mereka meninggal tak disangka-sangka. Seorang teman dekat saya meninggal karena tertimpa pesawat terbang yang jatuh di tengah jalan beberapa tahun yang lalu. Ia pergi kerja seperti biasa, berpamitan kepada istrinya, lalu tidak ada yang tahu bahwa ia ternyata menjadi salah satu korban tewas tertimpa pesawat yang jatuh tidak lama setelah tinggal landas. Tidak kurang 4 hari istrinya kelabakan mencari suaminya yang tiba-tiba hilang sampai akhirnya menemukan jenazah suaminya dalam kondisi tidak dikenal lagi. Hingga hari ini istrinya masih kehilangan dan sulit untuk melanjutkan hidupnya tanpa kehadiran sang suami tercinta.

Apa yang dialami murid-murid Yesus pada saat Dia disalibkan pun demikian. Mereka menjadi begitu takut, bingung dan sedih. Saking kalutnya kita bisa melihat bagaimana dua orang murid Yesus dalam Injil Lukas 24:13-35 tidak menyadari siapa Sosok yang berjalan bersama mereka. Ternyata sepanjang jalan Yesus sendirilah yang hadir menyertai mereka! Tidak hanya kepada dua orang ini, tetapi Yesus menampakkan diriNya yang telah bangkit di hadapan begitu banyak orang, mulai dari Maria Magdalena, murid-murid Yesus bahkan ada banyak di antara tentara Romawi sendiri yang menyaksikan secara langsung bahwa kuburan Yesus telah kosong. Semua tercatat dalam Injil, sehingga jelaslah bukti bahwa Yesus bangkit mengalahkan kuasa maut. Lihatlah kisah kebangkitan Yesus dalam Lukas 23:56-24:12. Ketika para wanita mendatangi kuburan Yesus untuk membawa rempah-rempah, mereka terkejut mendapati bahwa batu besar yang menutupi kuburan itu telah terguling dan kuburan sudah kosong. Sebagai gantinya, mereka melihat dua orang yang memakai jubah berkilauan. Yang terjadi kemudian adalah demikian: "Mereka sangat ketakutan dan menundukkan kepala, tetapi kedua orang itu berkata kepada mereka: "Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga." (Lukas 24:5-7). Yesus bangkit! Dan kita melihat bagaimana para murid yang tadinya dicekam ketakutan dan keraguan kemudian berubah secara instan menjadi pewarta-pewarta firman yang tangguh. Mereka bahkan tidak lagi peduli dengan nyawa mereka dan terus mewartakan Injil kemana-mana. Tidak ada orang yang bisa berubah begitu mendadak dalam waktu singkat jika mereka tidak melihat sesuatu yang sangat istimewa. Tadinya mereka takut, bahkan ketika Yesus ditangkap para murid pun sempat melarikan diri dan bersembunyi. Tetapi perjumpaan mereka kembali dengan Yesus, kuasa Yesus yang sanggup mengatasi maut mereka saksikan secara langsung, kebenaran secara nyata hadir di depan mereka, dan itu membuat kepercayaan mereka meningkat drastis. Dan kita melihat bagaimana iman mereka menjadi begitu teguh sehingga berani mewartakan firman meski nyawa menjadi taruhannya.

Paulus menyimpulkan dengan tepat bahwa Kebangkitan Kristus adalah kunci dari pemberitaan Injil dan iman kita. "Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu." (1 Korintus 15:14) Ia melanjutkan "Lebih dari pada itu kami ternyata berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan, bahwa Ia telah membangkitkan Kristus--padahal Ia tidak membangkitkan-Nya, kalau andaikata benar, bahwa orang mati tidak dibangkitkan." (ay 15).Semua hanyalah akan sia-sia jika Yesus tidak bangkit. Kitapun akan terus hidup dalam dosa hingga diganjar kebinasaan. "Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus." (ay 17-18). Tetapi Yesus membuktikan bahwa Dia tidak mampu dikalahkan oleh maut. Yesus bangkit! Dan Paulus pun menulis: "Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal." (ay 20). Iman kita tidak akan pernah sia-sia. Keselamatan jelas menjadi bagian dari diri kita hari ini, dan itu semua menjadi nyata karena kebangkitanNya.

Bagaimana dengan perjalanan iman kita hari ini? Apakah iman kita masih goyah dan gampang digoyang keraguan dan ketidakpastian? Apakah kita masih saja ragu akan keselamatan yang telah diberikan Tuhan lewat penebusan Kristus? Apakah semua ini masih membuat kita tidak berperan secara nyata untuk menjadi terang dan garam di tempat dimana kita tinggal? Hari ini mari kita kembali merenungkan makna di balik kebangkitanNya. Sadarilah bahwa kebangkitan Kristus telah membuktikan bahwa kepercayaan kita tidak pernah sia-sia. KematianNya menebus semua dosa kita, membayar semuanya lunas, lalu kebangkitan Yesus tiga hari kemudian dengan gemilang mengalahkan maut, itu merupakan esensi paling penting dalam iman kita. Karena itu berhentilah bermain-main dengan dosa. Jangan terus berada dalam kematian, karena Yesus yang hidup telah membawa kita keluar dari kematian untuk masuk ke dalam hidup yang kekal. Teruslah taat hingga akhir, agar keselamatan yang sudah dianugerahkan kepada kita lewat Kristus tidak terbuang sia-sia.Selamat Paskah buat semua pembaca RHO, Tuhan Yesus memberkati anda.

Kebangkitan Kristus merupakan kunci dari  iman kita

Saturday, April 3, 2010

Membuka Tabir

Ayat bacaan: Ibrani 10:19-20
=======================
"Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri."

tabir terbukaTidak semua narasumber mau bertemu dengan wartawan. Untunglah saya berkecimpung di dunia musik dimana saya belum pernah mengalami penolakan karena dianggap "hanya" wartawan, yang artinya punya level atau status jauh di bawah yang bersangkutan. Tetapi seorang teman wartawan politik pernah mengalaminya. Teman saya itu bercerita bahwa pada suatu ketika ia mendekati seorang konglomerat ternama yang tidak usah saya sebutkan namanya untuk menanyakan sesuatu. Konglomerat itu dengan dingin berkata, "anda tidak layak menanyai saya. Sesuai tingkatan, hanya redaktur andalah yang berhak, bukan anda." Pahit memang, tetapi begitulah kehidupan wartawan ketika berhadapan dengan narasumber besar. Ada strata atau tingkatan dalam kehidupan yang akan membuat kita terkadang sulit untuk bertemu dengan orang yang berada di level teratas. Seorang karyawan terendah dalam sebuah perusahaan mungkin belum atau tidak akan pernah bertemu dengan pemilik atau pimpinan tertinggi di perusahaannya bekerja. Kecuali pada momen-momen tertentu, kita pun tidak akan bisa bertemu dengan Presiden atau mungkin Walikota sekalipun sesuka hati kita.

Sebelum Yesus turun ke dunia, birokrasi untuk bertemu Tuhan pun sungguh sulit. Dalam Alkitab kita banyak menjumpai bahwa mendengar suara Tuhan saja bisa menyebabkan kematian, apalagi jika berhadapan atau melihat Allah secara langsung. Inilah sebuah konsekuensi akibat kejatuhan manusia dalam dosa. Tuhan tidak lagi bisa dijumpai secara langsung, kecuali melalui para nabi, orang-orang yang dipilih Tuhan secara langsung. Mereka inilah yang bertugas untuk mendengar isi hati Tuhan dan kemudian menyampaikannya kepada manusia. Perhatikan sebuah contoh ketika Tuhan hendak menurunkan 10 Perintah Allah kepada Musa. (Keluaran 19). Disana Tuhan menampakkan diri kepada Musa, tetapi seluruh bangsa Israel dilarang untuk naik ke atas gunung Sinai dan melewati pembatas. "Kemudian TUHAN berfirman kepada Musa: "Turunlah, peringatkanlah kepada bangsa itu, supaya mereka jangan menembus mendapatkan TUHAN hendak melihat-lihat; sebab tentulah banyak dari mereka akan binasa. Juga para imam yang datang mendekat kepada TUHAN haruslah menguduskan dirinya, supaya TUHAN jangan melanda mereka." (Keluaran 19:21-22). Kekudusan Tuhan terlalu kuat untuk bisa didekati oleh manusia yang penuh dengan selubung dosa. Imam besar sekalipun hanya diijinkan untuk masuk ke ruang Mahakudus sekali setahun saja. (Ibrani 9:25). Hubungan antara manusia dengan Penciptanya, dengan Tuhan terputus begitu lama oleh dosa. Terus terputus, sampai akhirnya Yesus turun ke dunia, mengambil rupa seorang hamba dan menuntaskan seluruh kehendak Bapa atas dasar begitu besarnya kasih Allah kepada kita. Lewat wafatNya di atas kayu salib Yesus pun memulihkan hubungan itu.

Itulah tepatnya yang terjadi ketika Yesus wafat. Dalam Alkitab jelas digambarkan sebuah fenomena luar biasa yang terjadi pada saat itu. "Ketika itu tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah." (Markus 15:38). Sekat pembatas yang telah begitu lama menghalangi manusia untuk berjumpa dengan Tuhan pun hancur sudah. Jalan yang tadinya tertutup kini terbuka. Hari ini kita tidak lagi perlu melewati perantara untuk dapat masuk ke tahta kudus Tuhan, menikmati hadiratNya yang kudus. Karena kini Yesus sendirilah yang secara langsung menjadi perantara. Akhirnya sebuah ayat yang indah pun hadir buat kita. "Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri." (Ibrani 10:19-20). Yesus telah membuka jalan sehingga hari ini, siapapun kita, dimanapun dan kapanpun, kita bisa menghampiri tahta kasih karunia Tuhan tanpa rasa takut lagi. "Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya." (Ibrani 4:16).

Apa yang diberikan oleh Yesus sungguh luar biasa tak terhingga besarnya. Kita dianugrahkan keselamatan, kita ditebus dari dosa-dosa dan segala hal yang merintangi hubungan kita dengan Tuhan. Sebuah pemulihan hubungan yang merubuhkan sekat-sekat pembatas antara manusia dan PenciptaNya, sehingga kedamaian dan sukacita bisa kita rasakan dalam hadirat Tuhan hari ini secara langsung. Ada janji keselamatan disematkan pada kita semua yang mampu menjaga diri untuk taat dan setia sampai akhir. Semua ini sungguh besar nilainya. Karena itu marilah kita sama-sama merenungkan betapa besar kasih Allah kepada kita sehingga kita yang tidak layak ini bisa menerima anugerah begitu besar dariNya.

Yesus menghancurkan sekat pembatas dan menghadiahkan kita keselamatan

Friday, April 2, 2010

Sudah Selesai

Ayat bacaan: Yohanes 19:30
=======================
"Sudah selesai."

sudah selesai, pengorbanan YesusAda banyak film yang menggambarkan perjalanan kehidupan Yesus di muka bumi dalam berbagai versi. Mulai dari versi tahun 1961 berjudul King of Kings yang dibintangi dengan sangat baik oleh Jeffrey Hunter, hingga versi-versi lain yang terkadang tidak lagi memfokuskan diri kepada misi Yesus untuk turun ke dunia tetapi lebih kepada pemilihan sosok yang ganteng, bermata biru dan sebagainya. Bahkan ada pula yang 'nyeleneh' dalam artian berdasarkan interpretasi sendiri dan tidak mengacu kepada alkitab. Sebuah terobosan baru diambil oleh Mel Gibson yang menimbulkan pro dan kontra. "The Passion of the Christ", itu judulnya, memfokuskan diri kepada beberapa jam terakhir kehadiran Yesus di muka bumi ini. Di film itu dipertontonkan berbagai siksaan yang jelas di luar batas kemanusiaan, yang akan membuat kita bergidik ngeri, bahkan tidak lagi sanggup melihat filmnya. Visualisasi detail yang mengerikan itu membuat banyak orang menangis dan tercekam kengerian hingga tidak lagi berani menonton untuk kedua kalinya. Jika adegan yang terlihat itu seram, begitulah adanya. Fakta sejarah membuktikan bahwa bentuk cambuk yang dipakai Romawi pada saat itu memiliki cabang-cabang pada ujungnya yang biasanya diberi bulatan keras atau paku kecil, yang jika dilecutkan ke badan seseorang akan mencabik-cabik dagingnya. Lalu salib dari kayu yang sangat berat? Itupun benar. Bahkan aktor pemeran Yesus saja sempat mengalami pergeseran sendi bahu ketika memanggul salib yang konon katanya memiliki berat kurang lebih sama dengan salib yang saat itu digotong Yesus.

Rangkaian proses mengerikan seperti itu harus dilalui oleh Yesus demi memenuhi rangkaian kehendak Bapa. Demi siapa? Demi kita, manusia-manusia yang sudah terlalu penuh berlumur dosa. Seharusnya kitalah yang menerima itu semua, namun Yesuslah yang menggantikan kita semua dan menebus lunas dosa kita semua dengan pengorbananNya. Semua berawal dari kasih yang begitu besar, yang ternyata sanggup menggerakkan hati Bapa untuk melepaskan kita semua. Ayat yang menyatakannya berbunyi begitu indah. "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16).

Apakah Yesus tahu bagaimana mengerikannya apa yang harus Dia lalui? Tentu saja. Bahkan dalam fisik manusianya Yesus sempat merasa ngeri. Tetapi ketaatan dan kasihNya yang besar bagi kita akhirnya sanggup membuat Yesus rela menyerahkan semua ke dalam tangan Bapa. "Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." (Matius 26:39). Yesus sangat mengasihi kita, dan Dia tahu betul bagaimana besarnya kasih Bapa kepada kita, dan untuk itu Dia mau melalui serangkaian proses mengerikan demi menggenapkan karya keselamatan sesuai kehendak Bapa yang diberikan bagi semua orang. Nubuatan lengkap mengenai kehidupan dan misi Yesus ketika di dunia pun sudah dinubuatkan oleh Yesaya (Bacalah Yesaya 52:13-53:12). Lihatlah cuplikan dari perikop ini."Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian." (Yesaya 53:5-6). All because of God's love to us.

Dan itulah tepatnya apa yang dilakukan Yesus. Dia mengambil alih semuanya dan menggenapi kehendak Allah secara sempurna. Jeritan nyaring sempat terdengar dari kayu salib, "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Matius 27:46), sebuah jeritan yang menggambarkan rasa kesepian yang luar biasa. Yesus tengah terpaku di atas kayu salib, all alone, seorang diri, menanggung beratnya dosa begitu banyak manusia. Begitu beratnya tumpukan dosa itu sampai-sampai Bapa pun memalingkan muka. Lalu pada akhirnya sebuah seruan nyaring berikutnya hadir tepat sebelum Yesus menghembuskan nafasNya yang penghabisan. (ay 50). Apa yang diserukan Yesus ini tidak ditulis dalam Injil Matius, tetapi tertulis jelas dalam Injil Yohanes. Apa yang dikatakan Yesus pada saat terakhir itu adalah: "Sudah selesai."  (Yohanes 19:30).

Sudah selesai. Ya, selesai sudah penggenapan keinginan Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia dari kebinasaan, dan memindahkan ke dalam keselamatan yang kekal. Sebuah karya penyelamatan yang luar biasa bagi umat manusia telah diselesaikan secara sempurna oleh Yesus. Penulis Ibrani mengatakan "Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia." (Ibrani 9:27-28). Satu untuk semua, dan berlaku selamanya. Cukup satu kali saja Yesus hadir di dunia sebagai korban untuk menghapus dosa-dosa kita. Nanti Dia akan datang untuk kedua kalinya, tetapi bukan lagi untuk menyelesaikan persoalan dosa, karena semua itu "sudah selesai" Dia lakukan, melainkan untuk menjemput kita, orang-orang yang telah taat dan setia mengasihiNya, dan menghargai apa yang telah Dia lakukan dengan tetap hidup kudus tiada bercela. Dalam Yohanes 14:1-3 dikatakan bahwa Yesus akan kembali membawa kita ke tempatNya. "Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada."

Malam ini marilah kita ambil waktu khusus untuk mengucap syukur dan berterimakasih dengan setulus hati atas segala pengorbanan Kristus di atas kayu salib demi kita semua. Jika hari ini kita bisa mendatangi tahta Allah yang suci dan kudus tanpa rasa takut, jika kita bisa mendengar suaraNya dan merasakan hadiratNya saat ini, semua itu adalah buah dari karya penebusan Kristus. Itulah karunia kasih terbesar, there's no greater love than this. Yesus, Sang Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia telah menyelesaikan rangkaian kehendak Bapa dengan tuntas dan sempurna, sehingga kita yang seharusnya binasa kini telah dianugerahkan keselamatan kekal. Mari kita syukuri betul, dan selanjutnya memastikan agar jangan sampai semua pengorbanan Kristus itu menjadi sia-sia atas diri kita. Hiduplah kudus, setialah kepadaNya dan wujudkan kasihNya secara nyata dengan peran aktif kita menyampaikan kasih Tuhan kepada saudara-saudara kita lainnya.

"..oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh"

Thursday, April 1, 2010

The Power of Rejoicing

Ayat bacaan: Nehemia 8:11b
========================
"Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!"

Kebanyakan manusia mengasosiasikan sukacita sebagai suatu perasaan dimana tidak ada penderitaan atau permasalahan yang sedang menimpa mereka. Artinya, sukacita seringkali dihubungkan dengan kondisi atau keadaan yang sedang dialami. Jika sedang menghadapi persoalan, itu tandanya sukacita pun harus dihilangkan sejenak dari hidup kita, setidaknya hingga situasi bisa menunjukkan perubahan terlebih dahulu. Sebab bagaimana mungkin bersukacita jika sedang dalam keadaan tersesak? Bukankah itu tidak mungkin? Itu pandangan sebagian besar dari kita. Sebenarnya sebuah sukacita bukanlah seperti itu. Sukacita sesungguhnya tidak tergantung dari apa yang sedang kita alami atau rasakan. Bagaimana bisa demikian? Sebab sukacita yang sesungguhnya itu seharusnya berasal dari Tuhan dan tidak boleh tergantung dari manusia, situasi, kondisi atau keadaan apapun.

Firman Tuhan datang lewat Nehemia: "Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!" (Nehemia 8:11b). Sukacita karena Tuhan, itulah yang menjadi perlindungan kita. Artinya tidak saja sukacita itu tidak tergantung dari keadaan atau kondisi yang tengah kita hadapi, tetapi seharusnya sukacita itu pun bisa memberikan sebuah kekuatan tertentu untuk bisa bertahan bahkan menjadikan kita keluar sebagai pemenang ditengah kesesakan apapun. The power of joy, the power of rejoicing, itu bisa dimungkinkan karena sukacita itu berasal dari Tuhan.

Mari kita lihat bagaimana Paulus mengaplikasikan sebentuk sukacita ini dalam perjalanan pelayanannya. Setelah bertobat, hidup Paulus bukanlah menjadi lebih gampang. Justru setelah itu ia mengalami berbagai tekanan, siksaan, deraan bahkan ancaman yang setiap saat bisa menamatkan nyawanya. Tapi apakah Paulus menyesal mengambil jalan bertobat? Tidak. Ia terus konsisten dalam mewartakan firman Tuhan kemanapun ia pergi, apapun taruhannya. Bukan itu saja, sukacita pun dengan jelas tetap menyertainya. Lihat apa katanya: "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! ... Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus." (Filipi 4:4,6-7). Dan dengan tegas ia juga menyatakan "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." (ay 13). Inilah bentuk iman Paulus yang tahu betul bagaimana pentingnya memiliki sukacita yang berasal dari Tuhan, yang mampu memberikannya kekuatan dalam menghadapi berbagai masalah dalam pelayanannya. Berada dalam penjara? Paulus tidak patah semangat. Dia tidak menganggap penjara sebagai sebuah halangan, kendala atau kerugian, tapi justru sebagai kesempatan atau keuntungan baginya. Ia mempergunakan ruang penjaranya bukan sebagai tempat untuk meratapi nasib, tapi mengubahnya sebagai pusat penginjilannya. Banyak surat ia tuliskan berasal dari dalam penjara. Ia terus membagi sukacita kerajaan Allah dan tips-tips kehidupan yang penuh kemenangan seperti apa yang ia alami. Sebuah sukacita yang berasal dari Tuhan tidak terpengaruh oleh keadaan sekitar. Semua itu sesungguhnya adalah sebuah pilihan bagi kita. Apakah kita mau membiarkan diri kita dikuasai masalah dan kemudian kehilangan sukacita, atau kita mau memakai sukacita ini sebagai kekuatan yang memampukan kita menghadapi badai apapun dengan tegar.

Apa yang terjadi saat ini menekan hidup kita? Apa yang kita alami rasanya sungguh tidak adil? Permasalahan terus timbul dan membuat kita kesulitan? Paulus menanggapinya seperti ini: "Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita." (Filipi 1:18b). Seperti itu pula hendaknya prinsip hidup kita. Jangan sampai kita menyerah dikalahkan oleh masalah, jangan sampai pula berbagai tekanan hidup itu menjadi jalan masuk bagi iblis untuk merampas kemenangan kita. Pergunakanlah the power of rejoicing dari Tuhan sebagai kekuatan yang memampukan anda menghadapi semuanya dengan tegar. Dengan adanya sukacita Kerajaan Allah dalam hidup kita, maka kita bisa bebas dari kekhawatiran, kecemasan dan ketakutan. Masalah boleh hadir, tapi sukacita harus tetap tinggal di dalam diri kita, sebab sukacita karena Tuhan, itulah perlindunganmu!

Sukacita yang berasal dari Tuhan tidak akan terpengaruh oleh situasi dan kondisi yang kita hadapi