Tuesday, January 5, 2010

Dibantu oleh Roh

Ayat bacaan: Roma 8:26
====================
"Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan."

berdoa dalam RohSeorang teman hari ini baru saja menceritakan beberapa permasalahan yang menimpanya. Tumpukan masalah ini tak pelak membuatnya stres dan tidak tahu bagaimana menyelesaikannya. Jangankan menyelesaikan, mengurai permasalahannya saja dia kelihatannya sudah sulit. Terkadang masalah itu hadir demikian sulitnya sehingga membuat kita tidak mampu berkata-kata lagi. Untuk berdoa pun bisa bingung, karena beban berat itu membuat kita sulit merangkainya dalam bentuk perkataan. Kita tahu bahwa Tuhan sanggup, namun kita tidak tahu bagaimana menyampaikannya. Kita tahu Tuhan itu Maha Tahu, tapi kita merasa kurang pas jika kita tidak mengatakannya. Ini seringkali jadi permasalahan banyak orang, terutama yang tengah ditimbuni beberapa persoalan berat sekaligus seperti teman saya tadi. Lidah serasa kelu, kita tidak lagi bisa berpikir jernih dan mulai gelisah bahkan stres. Sesungguhnya Tuhan mengerti mengenai hal ini, dan Dia pun telah menyediakan solusi yang bisa membantu kita dalam menghadapi persoalan, terutama persoalan berat yang membuat kita tidak lagi bisa menyampaikannya.

Ada sosok Roh Kudus yang diberikan Tuhan sebagai Penolong seperti yang dijanjikan Yesus sendiri. "Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu." (Yohanes 14:16-17). Roh Kudus inilah yang berperan sebagai Penolong atau Pembimbing dalam kehidupan kita yang memang diketahui sulit ini. Urusan menolong bukan hanya untuk membantu kita untuk membedakan mana yang baik dan buruk atau benar dan salah, tapi juga termasuk menolong kita yang mengalami kesulitan untuk menyampaikan permasalahan kita ke hadapan Allah. Tuhan tahu persis bahwa terkadang kita bisa limbung ketika tertimpa beban berat dan menjadikan kita seakan-akan tidak lagi tahu harus bilang apa. Dan disaat demikian, roh kita dengan perantaraan Roh Kudus mampu menyampaikan itu kepada Tuhan. "Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan." (Roma 8:26). Ketika Roh menyampaikan permohonan kita, maka Allah yang mengetahui isi hati manusia akan mengerti apa yang disampaikan oleh Roh tersebut, sebab Roh itu menyampaikan kepada Allah untuk umatNya, in behalf of them, sesuai dengan kehendak Allah, in harmony with God's will. (ay 27). Karunia Roh ini merupakan sebuah sarana yang ampuh untuk membantu kita dalam segala hal, terutama dalam keadaan dimana kita tidak lagi bisa berpikir jernih ketika ditimpa berbagai kesulitan. Karena itulah sangat penting bagi kita untuk menjaga diri kita agar senantiasa menjadi bait Allah yang kudus sehingga Roh Kudus berkenan tinggal diam di dalam kita. (1 Korintus 6:19). Dan kita pun bisa menyembah Tuhan dalam roh dan kebenaran. "Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." (Yohanes 4:23-24). Dengan demikian roh kita lewat perantaraan Roh Kudus bisa menyampaikan berbagai persoalan yang tidak lagi bisa kita katakan. Memiliki hubungan dengan Tuhan melalui Roh sungguh sangat penting. Dan semua itu telah dikaruniakan Tuhan kepada setiap orang yang percaya kepada Yesus, dan telah dijanjikan untuk menyertai kita untuk selama-lamanya seperti yang dinyatakan Kristus dalam Yohanes 14:16. Inilah senjata ampuh yang akan bisa mengatasi timbunan permasalahan yang tidak lagi bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Selain itu, adalah penting pula bagi kita untuk terus mengucap syukur. Firman Tuhan berkata: "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur." (Filipi 4:6). Semua itu haruslah tetap dinyatakan dengan ucapan syukur. Apakah kita dalam keadaan baik atau buruk, tetaplah biasakan diri kita untuk mengucap syukur dan tidak terjebak dalam keluh kesah berkepanjangan. "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:18). Dalam hal apapun ketika kita berdoa, hendaklah kita selalu menaikkannya dengan ucapan syukur. Satu hal lagi yang tidak boleh dilupakan adalah miliki sebentuk iman yang percaya penuh kepada Tuhan dalam berdoa. Tanpa iman maka sia-sia pula semua doa permohonan kita. Tuhan Yesus berkata demikian: "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya. Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu." (Markus 11:23-24).

Permasalahan akan selalu hadir dalam kehidupan kita. Ada kalanya kita akan menghadapi persoalan untuk dapat menyampaikannya dengan kata-kata ketika beban-beban berat itu terasa begitu menyulitkan untuk diutarakan. Dalam menghadapi situasi seperti itu, ingatlah bahwa Sang Penolong, Roh Kudus telah dikaruniakan untuk menyertai dan tinggal di dalam kita untuk selama-lamanya. Berdoalah dalam Roh, naikkanlah doa disertai ucapan syukur dan miliki iman yang percaya bahwa tidak ada satupun hal yang mustahil bagi Tuhan. Sesungguhnya Tuhan berkuasa lebih dari apapun, Dia tahu dan peduli dengan keadaan kita. Apa yang dijanjikan Tuhan sungguh lengkap. Dia membantu kita dalam menyampaikan keluhan yang tidak terkatakan, Dia akan selalu membimbing dan menguatkan kita dalam menghadapi permasalahan apapun dan Dia siap untuk melepaskan kita dari itu semua. Masalah boleh sedemikian berat dan bertimbun, kita bisa merasa kesulitan untuk mengungkapkan dalam doa, namun jangan pernah lupa bahwa ada Roh Kudus ada di dalam diri anda dan selalu rindu untuk membantu kita.

Roh Kudus adalah Penolong yang dikaruniakan Tuhan untuk membantu kita dalam berbagai sisi kehidupan, bahkan yang sulit digambarkan dengan kata-kata sekalipun

Monday, January 4, 2010

Berjaga-jaga dan Berdoalah

Ayat bacaan: Matius 26:41
======================
"Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah."

berjaga-jaga, berdoa, roh penurut, daging lemahPernahkah anda merasa frustasi menghadapi kelemahan-kelemahan dari kedagingan anda? Pernahkan anda bertekad untuk tidak lagi menyerah kepada dosa tertentu yang secara khusus seringkali menjerumuskan anda, namun pada akhirnya lagi-lagi anda terjatuh dalam lubang yang sama ketika godaan itu muncul? Pernahkah anda mengalami sebuah pemulihan ketika mengikuti retret atau altar call, namun setelah itu anda kembali jatuh pada kebiasaan buruk yang lama? Kita semua pernah terjadi atas diri kita. Tidak hanya kita, bahkan para rasul pun pernah mengalaminya. Petrus misalnya. Ia baru saja bersumpah untuk tidak akan pernah menyangkal Yesus. "Kata Petrus kepada-Nya: "Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau." Semua murid yang lainpun berkata demikian juga." (Matius 26:35). Tapi beberapa saat kemudian ia terjatuh bahkan melakukannya berkali-kali. "Dan ia menyangkalnya pula dengan bersumpah: "Aku tidak kenal orang itu." (ay 72). Paulus pernah juga mengalami perasaan seperti ini. "Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat." (Roma 7:19). Betapa sulitnya menundukkan diri kita meski kita sudah bertekad penuh untuk berubah. Ini permasalahan banyak orang dari dulu hingga kini. Bagaikan menyusun bangunan dengan kartu, sedikit tersentuh saja atau tertiup angin kartu-kartu itu bisa rontok kembali. Atau seringkali kita seperti tikus yang terus saja terjebak dalam perangkap tikus dengan umpan yang memikat daging kita. Kita memang merupakan pribadi yang sangat rentan. Alkitab berkata: "roh memang penurut, tapi daging lemah."

Tuhan Yesus tahu persis bahwa itu kelemahan yang menjadi masalah bagi semua manusia. Di taman Getsemani sesaat sebelum Yesus ditangkap, kita menyaksikan gambaran rentannya manusia dikuasai kedagingannya. Berkali-kali Yesus mendapati murid-muridNya sulit berjaga-jaga. Mereka lengah dan kembali tertidur, tidak sanggup berjaga bahkan satu jam sekalipun. Disanalah Yesus mengingatkan para murid: "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah." (Matius 26:41). Yesus tahu bahwa para murid ini rentan akan godaan, Dia tahu betapa lemahnya daging mereka sehingga lewat daging itu mereka akan terus menerus dikalahkan jika mereka tidak terus berusaha untuk menguatkan roh mereka melalui doa. Ini adalah peringatan yang berlaku bukan saja kepada para murid di masa itu, tapi terlebih kepada kita semua di hari-hari ini. Betapa banyaknya godaan yang menyerang kita yang rentan ini dari berbagai sisi. Media massa, hiburan, pertemanan, lingkungan, gaya hidup dan lain-lain, semua itu bisa dengan mudah membawa berbagai godaan yang siap untuk menjatuhkan kita lagi dan lagi, terus menerus. Berbagai aspek kehidupan ini seringkali tidak bisa dipisahkan dari kita, sehingga semakin besar pula resiko kita untuk kembali jatuh meski kita sudah membulatkan tekad secara sungguh-sungguh untuk berubah. Roh itu penurut, namun kedagingan kitalah yang seringkali menjadi titik lemah untuk diserang, dan lewat kelemahan daging inilah akhirnya seluruh diri kita, tubuh/daging, jiwa dan roh, lagi-lagi harus menyerah pada godaan yang berujung pada dosa.

Itulah sebabnya Paulus mengingatkan dengan jelas pentingnya sebuah kehidupan yang dipimpin oleh Roh agar kita mampu mengatasi keinginan daging. Bacalah Galatia 5:16-26 seluruhnya untuk mendapatkan gambaran lengkap akan hal ini. "Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging--karena keduanya bertentangan--sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki." (ay 16-17). Adalah penting bagi kita untuk menyalibkan daging lengkap dengan segala hawa nafsu dan keinginan yang meliputinya. (ay 24). Roh Allah sebenarnya sudah memberikan kepada kita sebuah hidup yang baru, oleh sebab itu jangan beri kesempatan lagi kepada daging untuk menguasainya. "Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh" (ay 25).

"Saudara-saudara, inilah yang kumaksudkan, yaitu: waktu telah singkat!" (1 Korintus 7:29a) Sesungguhnya waktu sudah sangat singkat, oleh karena itu kita harus terus berjaga-jaga dengan serius. "Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala." (Lukas 12:35). Hendaklah kita hidup dengan ketaatan dan kesetiaan, laksana seorang perwira yang taat kepada komandannya, dan terus menjaga agar roh kita tetap menyala-nyala laksana pelita yang bersinar terang. Dalam kitab Yudas, Tuhan memberikan kita nasehat agar mampu mengatasi kedagingan kita. "Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus. Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal." (Yudas 1:20-21). Membangun diri dengan dasar yang kuat, di atas dasar iman, berdoa dalam Roh Kudus dan senantiasa tekun memelihara diri. Tuhan tahu bahwa kedagingan kita begitu piawai untuk mengalir dengan aliran kebiasaan dunia. Dia tahu permasalahan kita yang terutama, walaupun roh kita sudah dilahirkan baru yang mampu menjangkau Tuhan, namun daging kita juga tidak kalah terlatih untuk selalu cenderung mengembalikan kita kepada hawa nafsu dan keinginan yang menjatuhkan kita kembali ke dalam dosa. Karena itu kita sekarang dianugerahkan Penolong, yaitu Roh Kudus yang dapat membimbing roh kita agar dapat berkuasa dalam diri kita melebihi kedagingan. Tanpa itu, kita akan terus menerus kalah oleh hal-hal yang meliputi daging.

Biarkanlah Roh yang berkuasa dalam hidup kita. Berdoalah dalam Roh. Itu senjata yang ampuh untuk mengatasi keinginan daging. Berdoa dalam Roh akan selalu mampu untuk menguatkan roh kita, terus membangun diri kita hingga kita mampu mengatasi kelemahan kita atau menaklukkan segala kedagingan. Bahkan doa dalam Roh juga mampu menyampaikan berbagai hal yang tidak terucapkan. "Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan." (Roma 8:26). Ini merupakan anugerah dari Tuhan agar kita mampu mengatasi kelemahan yang paling utama dalam diri kita, yang bisa memisahkan kita dariNya. Tuhan tidak mau satupun dari kita binasa, Dia rindu kita semua selamat dan berada bersama denganNya kelak, dan Roh Kudus hadir untuk membimbing kita senantiasa hingga kerinduan Tuhan itu bisa terjadi atas diri kita semua.

Betapa pentingnya membuka hubungan dengan Tuhan melalui Roh. Tidak heran jika Paulus berkata: "Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari pada kamu semua." (1 Korintus 14:18). Itu sesungguhnya merupakan sarana ampuh yang disediakan Tuhan kepada manusia. Jika anda memiliki karunia untuk berbahasa Roh, pergunakanlah itu sebaik-baiknya. Tapi jika belum pun, tetaplah biarkan diri anda dipimpin sepenuhnya oleh Roh Allah. Berdoalah dalam Roh. Sembahlah Allah dalam roh dan kebenaran. "Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." (Yohanes 4:23-24). Dan ikuti apa yang dikatakan firman Tuhan berikut: "Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus." (Efesus 4:18). Bukan hanya berdoa bagi diri kita sendiri, tapi juga kepada semua umat Allah agar kita semua saling dikuatkan. Godaan akan selalu datang. Itu tidak bisa kita hindari, namun bisa kita atasi. Jangan tertidur, tapi tetaplah berjaga-jaga dan sadar. (1 Tesalonika 5:6). Selalulah tekun untuk berjaga-jaga dan berdoa, dan lengkapi diri kita senantiasa dengan pedang roh, yaitu firman Tuhan. Pastikan bahwa roh kita cukup kuat untuk mengatasinya.

Bertumbuhlah dalam Roh agar kedagingan yang lemah tidak menguasai kita

Sunday, January 3, 2010

Hidup dengan Ketulusan Hati dan Kejujuran

Ayat bacaan: Mazmur 24:4-5
=======================
"Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia."

hidup dengan ketulusan dan kejujuranSebuah adegan yang mengharukan muncul di televisi beberapa waktu yang lalu. Saya lupa persisnya acara apa, yang pasti itu adalah sebuah reality show dengan hidden camera yang mencoba menguji kejujuran dan ketulusan seseorang. Jika ia lulus dari ujian itu, maka ia akan mendapatkan sejumlah besar uang sebagai imbalan dari kejujuran dan ketulusannya. Saya terharu melihat bahwa ternyata masih ada orang yang jujur dan tulus di dunia ini, sesuatu yang mungkin sudah menjadi pemandangan langka di jaman yang semakin sulit. Dan itu tertangkap kamera. Ada seorang pengantar uang yang pura-pura kesulitan mencari alamat. Ia menghampiri sebuah warung kecil, dan meminta tolong kepada seorang ibu yang kebetulan ada di sana untuk membantu mengantarkan uang itu. Uang itu ditujukan kepada seorang bapak yang sedang sakit. Ibu itu kemudian bersedia mengantarkan dan segera beranjak pergi menuju rumah si bapak yang sedang sakit itu. Saya mula-mula mengira bahwa alamat yang dituju tidak jauh. Ternyata ibu itu harus berjalan jauh dan dua kali berpindah angkutan umum untuk bisa mencapai rumah bapak yang sakit. Ia tidak sedikitpun membuka amplop uang itu sepanjang perjalanan. Dan belakangan diketahui ternyata ibu itu pun sedang sakit pula. Dalam keadaan yang juga tidak sehat, ia masih rela pergi jauh untuk mengantarkan sesuatu kepada orang yang tidak ia kenal, dan menyerahkan seluruh isi amplop itu. Akibat kejujurannya, sang ibu mendapat ganjarannya, ia dihadiahkan segepok uang yang serta merta membuatnya menangis dalam penuh rasa syukur.

Hati yang tulus dan murni seperti ibu tadi tidaklah mudah kita dapati lagi di hari-hari ini. Bayangkan seorang ibu yang miskin dan sedang sakit rela bersusah payah untuk mengantarkan seamplop uang kepada seseorang yang tidak ia kenal. Tapi itu ia lakukan dengan tulus dan ikhlas, penuh kejujuran. Jika manusia saja bisa menghargai hal seperti itu, apalagi Tuhan. Dalam Mazmur kita membaca demikian: "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia." (Mazmur 24:4-5). Tuhan pun memberi ganjaran bagi mereka yang bersih tangannya, murni hatinya, tidak menipu dan bersumpah palsu. Orang seperti ini akan mendapatkan berkat dari Tuhan dan keadilan serta penyertaan Tuhan. Inilah kebahagiaan yang dijanjikan Tuhan bagi orang yang hidup jujur dan tulus.

Berbagai kesulitan hidup mudah membuat orang jatuh ke dalam ketidakjujuran. Ketakutan akan hari depan dan sifat tidak pernah merasa puas seringkali membuat orang tergoda untuk mengambil jalan pintas. Korupsi, penipuan, penggelembungan dana dan lain-lain kebohongan dengan mudah menjadi alternatif, dan kesulitan hidup akan segera dipakai menjadi pembenaran atas perilaku curang tersebut. Tapi lihatlah si ibu yang tertangkap kamera di atas. Ia miskin dan sedang sakit, tidakkah ia pun butuh uang yang ada di amplop tersebut? Tapi ia tidak berpikir sempit dan singkat, tidak mementingkan dirinya sendiri. Ada orang lain yang juga butuh, dan itu jauh lebih penting ketimbang dirinya sendiri. Ini bentuk kasih yang sesuai dengan ajaran Kristus sendiri. Kita selalu diminta untuk mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri (Matius 19:19) bahkan lebih dari itu, kita diajak untuk saling mengasihi seperti halnya Yesus sendiri mengasihi kita. (Yohanes 13:34).

Di dalam kasih terkandung banyak kebajikan. "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." (1 Korintus 13:4-7). Di dalam kasih itu ada bentuk-bentuk hidup dengan hati yang murni, penuh ketulusan dan kejujuran. Yohanes berkata: "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih." (1 Yohanes 4:8). Karena Allah sendiri adalah kasih, maka kita tentunya harus mencerminkan pribadiNya, berusaha untuk semakin menyerupai Kristus dan meneladani diriNya secara utuh. Karena itulah Tuhan tentu sangat senang jika kita hidup dengan kemurnian hati, ketulusan, kejujuran di dunia ini.

Ingatlah bahwa segala sesuatu itu berasal dari Tuhan. Kita tidak perlu khawatir berlebihan akan hari depan sehingga kita tergoda untuk melakukan tindakan-tindakan ketidakjujuran. Kita tidak perlu iri melihat orang lain, dan harus bisa belajar untuk mendahulukan kepentingan orang lain ketimbang kepentingan diri sendiri. Yakobus mengingatkan "Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat." (Yakobus 3:16). Hindari perilaku-perilaku curang yang mencermarkan hati kita. Ketahuilah bahwa meski mungkin kita berhasil mengelabui manusia, tapi Tuhan akan selalu melihat segala perbuatan kita. Dan Firman Tuhan berkata: "Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab." (Ibrani 4:13). Oleh karena itu berdoalah agar kita bisa memiliki ketulusan hati. Belajarlah untuk senantiasa mempercayai Tuhan, mengasihiNya dan hidup sesuai kehendakNya. Tuhan menyediakan berkat-berkat bagi orang yang hidup dengan ketulusan, kejujuran dan kemurnian hati. "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah." (Matius 5:8). Ini janji Tuhan sendiri. "Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya." (Mazmur 73:1). Nikmati kebaikan Tuhan lewat hidup yang kudus, penuh ketulusan dan kejujuran. Tuhan sanggup memberkati anda berlimpah-limpah dan melindungi hidup setiap orang yang berjalan seturut kehendakNya.

Berkat Tuhan turun kepada orang-orang yang bersih tangannya dan murni hatinya

Saturday, January 2, 2010

Salju

Ayat bacaan: Ayub 37:5-6
=====================
"...Ia melakukan perbuatan-perbuatan besar yang tidak tercapai oleh pengetahuan kita; karena kepada salju Ia berfirman: Jatuhlah ke bumi.."

salju, natal, tahun baruBagi banyak orang Natal dan Tahun Baru identik dengan salju. Kita melihat begitu banyak kartu-kartu ucapan yang didesain dengan mengikutsertakan salju di dalamnya. Foto-foto pun demikian. Betapa indahnya melihat segala sesuatu yang putih bersih berpadu dengan kerlap kerlip lampu dan berbagai hiasan. Tidak jarang orang meletakkan kapas pula di pohon natalnya agar mendapatkan sedikit efek menyerupai salju. Ada pula yang membeli snow spray yang bentuknya lebih mirip lagi dibanding kapas. Sepuluh tahun yang lalu saya sempat merasakan sendiri bagaimana syahdunya natal di sebuah negara Skandinavia yang penuh salju. Benar-benar sangat indah. Saya masih ingat betul betapa bahagia rasanya ketika salju turun dengan lembut menerpa wajah ketika saya berjalan di luar rumah. "Christmas wouldn't be complete without snow.." kata teman saya pada waktu itu. Teman dekat saya lainnya yang tinggal di Kanada pernah pula mengirimkan foto suasana penuh salju di dekat rumahnya, itu pun sangat indah. Terlepas dari dinginnya udara ketika musim dingin, tapi kehadiran salju memang sudah menjadi hal yang tidak terpisahkan dari sebuah suasana Natal dan Tahun Baru yang indah.

Bagaimana salju itu bisa dengan indahnya turun memutihkan bumi? Di saat musim dingin biasanya hari akan lebih banyak dalam kegelapan dibanding terang, dan kehadiran salju sungguh membantu memberikan cahaya tersendiri. Ketika hari terang pun, salju bisa terlihat berkilauan. Semua itu tidak lepas dari sentuhan tangan Tuhan dalam mendesain dunia ini dengan indahnya. Ayub menuliskan: "...Ia melakukan perbuatan-perbuatan besar yang tidak tercapai oleh pengetahuan kita; karena kepada salju Ia berfirman: Jatuhlah ke bumi.." (Ayub 37:5-6). Meski kita berusaha mencari penjelasan ilmiah mengenai turunnya salju sedetail apapun, semua itu tidak akan pernah terlepas dari kreasi Tuhan sendiri yang membuat segala sesuatunya pada sebuah kondisi tertentu, sehingga salju pun turun di musim dingin. Segala sesuatu yang Dia perbuat itu sungguh terlalu luas. Ada begitu banyak hal yang belum mampu diselidiki oleh manusia. Jangankan untuk mempelajarinya secara tuntas, yang belum kita temukan pun masih banyak sekali. Itu bentuk kreatifitas Tuhan yang mampu membuat segalanya begitu indah, sehingga kita manusia bisa menikmatinya. Kita bisa berusaha menelusuri sesuatu dari sudut pandang ilmiah, yang paling tinggi sekalipun, namun pada suatu titik tetap saja kita harus mengakui bahwa ada sesuatu yang memulai itu semua. Mau tidak mau kita akhirnya harus mengakui bahwa kemampuan kita terbatas. Dan salju hanyalah satu dari keindahan yang diciptakan Tuhan yang jumlahnya tak terkira.

Warna putih yang menjadi warna salju seringkali diasosiasikan sebagai warna yang mencerminkan bersih dan suci. Itu pula yang menjadi dasar pemakaian warna putih dalam bendera kita. Pernahkah anda berpikir mengapa salju yang turun itu harus berwarna putih dan bukan hitam? Saya merasakan ada sesuatu yang penting dengan kehadiran warna putih yang turun ketika hari lebih banyak diisi dengan kegelapan untuk memberi secercah kecerahan. Kedatangan Kristus ke dunia ini pun merupakan terang yang menyinari dunia yang penuh dengan kegelapan. Di saat dunia tidak lagi berdaya mengatasi kegelapan dan terus terseret ke dalam kebinasaan, Tuhan Yesus hadir atas kasih karunia Allah yang akan memindahkan kita dari gelap kepada terang. Dari kebinasaan kepada hidup yang kekal. Yesus sendiri mengatakan "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." (Yohanes 8:12). Dan panggilan untuk menjadi terang pun diberikan kepada kita semua yang percaya padaNya. "Jika seluruh tubuhmu terang dan tidak ada bagian yang gelap, maka seluruhnya akan terang, sama seperti apabila pelita menerangi engkau dengan cahayanya." (Lukas 11:36) "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 5:16).

Ketika kita baru saja memasuki tahun yang baru, inilah saat yang tepat untuk memulai dengan sebuah awal yang baru dengan berbalik kepadaNya, menerima terang Tuhan dan mulai memancarkan terang ke sekeliling kita. Kita bisa meniru syair indah Daud mengenai pertobatannya dalam Mazmur 51. Lihatlah permohonannya berbunyi: "Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju!" (Mazmur 51:9). Daud tahu benar bahwa Tuhan mampu mentahirkan dirinya, memutihkan kembali dosa-dosanya bahkan melebihi putihnya salju. Yesaya mengatakan: "Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat." (Yesaya 1:17). Dan ketika kita melakukannya, semerah apapun dosa kita Tuhan akan siap memutihkannya kembali menjadi suci. "..Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba." (ay 18). Selagi tahun masih baru dimulai, selagi salju masih turun, mari kita semua memulai hidup yang baru, yang kudus, bersih dan suci, seputih salju. Kekudusan seputih salju ini akan jauh lebih bermakna ketimbang salju asli yang indah memenuhi bumi.

Mulailah tahun baru ini dengan hidup seputih salju

Friday, January 1, 2010

Memandang Dengan Iman

Ayat bacaan: Ibrani 11:1
====================
"Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat."

memandang dengan iman, iman adalah buktiPesimis atau optimiskah anda memandang tahun yang baru ini? Beberapa teman pengusaha memandang tahun ini sebagai tahun yang akan lebih sulit lagi dari tahun sebelumnya. Ada banyak perusahaan gulung tikar di tahun 2009, ada banyak yang mengalami kesulitan. Bagi saya pribadi, justru tahun 2009 kemarin adalah tahun yang luar biasa. Memegang janji Tuhan terbukti tidak pernah sia-sia. Ada begitu banyak mukjizat dan berkat yang Dia sediakan sehingga saya dan keluarga sama sekali tidak merasakan kegoncangan apapun selama tahun 2009. Bahkan sebuah rumah yang indah hadir di penghujung tahun 2009 kemarin. Itu berkat yang luar biasa, mengingat dari gaji standar yang saya terima, saya seharusnya tidak akan mampu membelinya. Pindah dari rumah kontrakan ke rumah sendiri tentu merupakan sebuah hal yang luar biasa, apalagi tanpa perlu menyicilnya selama bertahun-tahun. Perlukah saya korupsi agar saya mampu membeli rumah? Perlukah saya cemas memikirkan tempat tinggal? Perlukah saya terus berkeluh kesah dalam kekhawatiran dalam setiap doa? Tidak. Tuhan tahu persis apa yang kita butuhkan. Tahun lalu saya melangkah dengan iman memasuki tahun yang menurut sebagian orang merupakan tahun yang sangat sulit, dan itu terbukti. Tuhan mampu mencukupi bahkan menurunkan berkatNya di saat dunia berada dalam kondisi apapun. Sebab Tuhan kita adalah Tuhan yang tidak terbatas.

Selain keajaiban besar yang saya ceritakan di atas, saya melihat pula bagaimana luar biasanya Tuhan menjamah banyak orang sepanjang tahun ini. Ada banyak jiwa-jiwa dipulihkan yang saya saksikan langsung. Ada banyak mukjizat kesembuhan terjadi, bukan hanya kepada manusia, tapi seperti yang pernah saya jadikan renungan kesaksian beberapa waktu yang lalu, seekor anjing yang tulang dadanya sempat menonjol ke luar sampai tidak bisa berjalan pun bisa Dia pulihkan kembali normal hanya dalam hitungan jam. Tuhan masih terus bekerja hingga hari ini. Berbagai mukjizat yang pernah Dia lakukan di waktu lalu kepada para tokoh alkitab masih berlaku sama hingga hari ini, karena Dia adalah Bapa yang kekal. "Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya." (Ibrani 13:8). Jika kita menyadari hal itu, mengapa kita harus takut melangkah memasuki tahun yang baru? Semua itu sudah merupakan janji Tuhan yang tidak akan pernah Dia ingkari. Apa yang perlu kita lakukan adalah percaya penuh, memandang ke depan dan melangkah memasuki tahun yang baru ini dengan iman.

Firman Tuhan berkata: "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1). Dasar dari segala sesuatu, dari apapun yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat, dari yang belum kita alami. Ketika kita menghadapi ujian di sekolah, ujian bukan lagi ujian ketika kita sudah tahu jawabannya. Demikian pula dengan kehidupan kita. Tapi kita adalah manusia yang terbatas yang tidak bisa melihat apa yang akan terjadi di depan, dan karena itulah kita membutuhkan iman, yang mampu bertindak sebagai bukti dari segala sesuatu yang belum terlihat . Tanpa iman niscaya hidup akan selalu penuh dengan ketidakpastian karena kita tidak akan pernah secara pasti mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya, bahkan sedetik kemudian. Tanpa iman hidup akan mudah diombang-ambingkan berbagai hal yang dapat membuat kita terus berada dalam kegelisahan atau ketakutan. Tapi ada iman, yang bisa menjadi bukti meski menghadapi yang belum terjadi sekalipun. Singkatnya, dengan iman kita bisa tenang menatap hari depan.

Jika demikian, jelaslah terlihat betapa pentingnya iman dalam hidup kita. Seberapa besar iman yang kita butuhkan? Yesus berkata "Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, --maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu." (Matius 17:20). Artinya ketika kita belum mengalami janji Tuhan, iman kita masih lebih kecil dari biji sesawi, yang diameternya kurang dari satu milimeter. Padahal jika kita memiliki iman seukuran itu saja akan bisa membawa dampak yang begitu besar. Iman seringkali mudah diucapkan namun sulit untuk dipraktekkan atau diaplikasikan. Semua orang boleh saja mengaku sudah memiliki iman, namun semua akan terlihat jelas dari bagaimana reaksi kita dalam menghadapi situasi sulit atau pandangan kita ketika menatap masa depan yang penuh ketidakpastian. Reaksi dan pandangan kita akan menunjukkan dengan jelas sebesar apa sesungguhnya iman kita saat ini. Sejauh mana kita percaya kepada janji Tuhan. Sebab iman adalah buktinya.

Mari kita ambil satu tokoh saja sebagai contoh. Abraham disebut bapa orang beriman. Mengapa disebut demikian? Karena lewat kesaksian hidupnya ada serangkaian kisah yang membuktikan penggenapan janji Tuhan lewat iman. Pertama, "Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui." (Ibrani 11:8). Jika kita di posisi Abraham, maukah kita pergi ke sebuah tempat yang tidak pernah kita kenal sebelumnya, di saat kita sedang hidup dengan tenteram, meninggalkan semua kenyamanan kita? Jawaban ya mungkin mudah kita lakukan ketika kita sudah mengetahui apa yang terjadi selanjutnya. Kita sudah mengetahui kisah Abraham, maka mungkin mudah bagi kita untuk mengatakan ya. Tapi pada saat itu apakah Abraham tahu apa yang akan terjadi? Tidak. Tapi apakah ia taat dan pergi sesuai dengan panggilan Tuhan? Ya. Itu karena imannya. Meski tidak ada yang pasti, dan pada saat itu ia belum mendapat penjelasan apa-apa mengenai tujuan Tuhan, nyatanya ia tetap pergi dan berdiam di tanah asing yang dijanjikan Tuhan kepadanya. (ay 9). Itu pun karena imannya. Dan lihatlah apa yang ditulis alkitab mengenai itu. "Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah." (ay 10). Abraham memiliki visi tentang masa depan, sesuatu yang belum ia lihat secara nyata, namun ia memiliki buktinya yaitu lewat iman. Karenanya ia bisa memandang sebuah visi ke depan meski ia belum memiliki bukti apa-apa secara langsung. Itu karena iman. Selanjutnya, "Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia." (ay 11). Pada saat itu mereka sudah berusia sangat lanjut. Sara sudah lama menopause, Abraham sudah "mati pucuk", namun mereka bisa memegang janji Tuhan yang mungkin terdengar sangat aneh ketika diberikan kepada sepasang kakek nenek seperti Abraham dan Sara. Keturunan besar seperti bintang di langit dan pasir di laut? Kepada orang lanjut usia? Apa tidak salah? Kita mungkin akan tertawa ketika dijanjikan seperti itu, namun Abraham menerima janji dan memegangnya teguh, meski pembuktian itu tidak langsung datang seketika melainkan membutuhkan bertahun-tahun ke depan untuk digenapi. Dan kita tahu janji Tuhan itu secara ajaib terbukti. Abraham sudah mengetahuinya terlebih dahulu meski belum melihatnya, dan itu karena iman. Lalu ketika Ishak sudah lahir, datang pula perintah Tuhan agar ia mengorbankan anak yang dijanjikan Tuhan sebagai persembahan. Jika ini kita alami, bagaimana reaksi kita? Sedih, kecewa, marah? Menuduh Tuhan mempermainkan kita seenaknya? Tapi tidak bagi Abraham. "Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, walaupun kepadanya telah dikatakan: "Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu." Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali." (ay 17-19). Abraham tahu bahwa Tuhan tidak terbatas kuasaNya, dan ia tahu persis bahwa Tuhan bukanlah sosok kejam dan jahat. Semua itu pasti ada alasannya, dimana rancangan Tuhan itu akan selalu baik. Oleh karena itu ia taat, dan kita tahu apa yang terjadi selanjutnya. Semua itu bisa dilakukan Abraham lewat iman. Ia mendapat segala bukti terhadap apa yang belum ia lihat dengan iman. Dia bisa memiliki visi yang jelas di masa depan karena ia percaya sepenuhnya kepada janji Tuhan, dan ia memiliki bukti nyata karena ia memandang dengan iman. FAITH is the assurance of the things we hope for, being the proof of things we do not see and the conviction of their reality.

Aplikasi dan implikasi iman sesungguhnya sangatlah luas. Iman mampu menjadi dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan menjadi bukti kuat dari apapun yang belum kita lihat. Yesus berkata "Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya." (Matius 21:22). Kuncinya hanya satu: percaya. Dan percaya akan hadir lewat iman. Dan jangan lupa, karena iman dalam Kristus pula kita dibenarkan, sehingga kita bisa hidup tenang dalam damai sejahtera. "Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah." (Roma 5:1-2). Kita memang tidak tahu apa yang bisa terjadi di sepanjang tahun ini. Tapi mampukah kita memandang positif? Mampukah kita percaya bahwa Tuhan akan selalu berada bersama kita dan melindungi kita? Bisakah kita memiliki visi seperti Abraham yang bisa melihat janji Tuhan dinyatakan jauh sebelum itu terjadi? Apa yang akan kita alami akan sangat tergantung dari cara pandang kita. Ingatlah bahwa meski semuanya belum terjadi, kita sudah memiliki bukti yaitu iman. Oleh karena itu, marilah kita memandang tahun ini dengan optimis. Songsonglah tahun yang baru ini dengan sukacita dan dalam damai Tuhan. Dia tidak akan pernah meninggalkan setiap anak-anakNya yang taat mengikuti kehendakNya. Itu sudah dibuktikan oleh para saksi iman sepanjang alkitab, itu sudah saya buktikan langsung sepanjang tahun 2009 yang lalu, dan itu pun berlaku buat anda.

Dengan iman kita memiliki dasar terhadap segala sesuatu yang kita inginkan dan bukti dari semua yang tidak kita lihat