Wednesday, November 25, 2009

Peace at Home

Ayat bacaan: Yakobus 3:16
======================
"Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat."

peace at home, heaven on earth, hell break loseRumah bisa menjadi tempat yang ternyaman dan terhangat bagi kita, tapi sebaliknya bisa pula menjadi tempat terpanas di muka bumi ini. It can be like heaven on earth, but can also be hell break lose. Ada rumah tangga yang tingkat pertengkarannya begitu intens, sehingga hubungan menjadi hambar. Tidak lagi ada kasih di rumah, sehingga pulang ke rumah menjadi alternatif paling akhir. Bahkan tidak jarang yang kemudian dengan ringan berkata bahwa tidak ada lagi rasa kepada pasangannya. Bagaimana kata-kata seperti itu mungkin keluar dengan mudah dari orang yang sudah memutuskan untuk menikah, menjadi satu dengan pasangannya? Tapi semakin lama hal seperti ini semakin dianggap lumrah terjadi dalam keluarga. Tidak heran jika tingkat perceraian pun semakin lama semakin tinggi. Berbagai alasan dikemukakan, termasuk tidak sedikit yang berani-beraninya menyalahkan Tuhan dengan mengatakan bahwa sudah merupakan takdir Tuhan bahwa mereka harus bercerai. Tuhan yang menyatukan, dan Dia pula yang menginginkan perceraian di antara ciptaanNya?

Rumah seringkali menjadi tempat yang termudah untuk sebebasnya bersikap mementingkan diri sendiri. Maksud saya begini. Ketika di luar, kita cenderung untuk menjaga image, juga menjaga perasaan orang lain. Ada dorongan untuk menjaga perilaku dan budi terhadap orang lian. Namun ketika berada bersama keluarga sendiri, orang bisa tergoda untuk membiarkan dirinya sendiri mendapat lebih banyak hak istimewa yang serakah daripada menjalankan kewajibannya, apalagi melakukan hal-hal yang digariskan Tuhan untuk dilaksanakan dalam keluarga. Tidakkah kita sering melihat bahwa orang-orang yang begitu ramah, penuh canda, ceria dan royal di luar ternyata di rumah menjadi sosok egois, pemarah dan pelitnya bukan main? Atau orang yang selalu tersenyum dan baik di luar menjadi tukang pukul di rumah? Belum lama kita mendengar bahwa seorang artis yang wajahnya begitu ramah di setiap foto ataupun tayangan televisi ternyata gemar memukuli istrinya sendiri. Singkatnya, ada banyak orang yang menganaktirikan keluarganya sendiri, lebih peduli terhadap perasaan orang lain ketimbang istri/suami dan anak-anaknya. Di rumah sifat aslinya keluar, dan itu bukanlah sifat asli yang baik. Seringkali manusia terjebak untuk lebih banyak menuntut penghargaan dan penghormatan, untuk dikasihi, daripada mengasihi.

Rumah tangga kristen seharusnya jauh dari bentuk-bentuk demikian. Orang percaya yang sudah terlanjur melakukannya seharusnya sadar bahwa semua itu harus berubah. Yakobus mengatakan "Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat." (Yakobus 3:16). Ayat ini tidak saja berlaku dalam hubungan kita dengan orang lain di luar, tapi terlebih lagi berlaku dalam hubungan dalam rumah tangga. Ketahuilah bahwa dalam pernikahan sesungguhnya Tuhan sendiri yang langsung memateraikan hubungan antara suami dan istri. Itu adalah bentuk ikatan yang kuat, begitu kuatnya sehingga firman Tuhan mengatakan bahwa tidak ada satupun manusia yang berhak memutuskannya. "Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." (Matius 19:6). Ini bentuk hubungan dua menjadi satu, begitu menyatunya sehingga dikatakan selayaknya menjadi satu daging. (ay 5). Dengan demikian, ketika kita menyakiti pasangan kita, bukankah itu artinya sama saja dengan menyakiti diri sendiri?

Keharmonisan dan kesepakatan dalam keluarga adalah hal mutlak yang harus bisa kita capai. Hal ini menjadi semakin langka saat ini, dimana suami dan istri seringkali memilih jalannya sendiri-sendiri. Padahal Tuhan Yesus dengan tegas berkata "Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka." (Matius 18:19-20). Ini adalah bentuk kuasa dari kesepakatan yang begitu penting, dan seharusnya bekerja dalam hidup setiap pasangan kristiani. Maka sudah selayaknya pasangan-pasangan yang dimateraikan langsung oleh Tuhan ini tidak boleh membiarkan pertengkaran berada di dalam rumah. Pertengkaran sesungguhnya meruntuhkan perisai iman, menghambat hasil doa dan yang lebih parah bisa mengundang iblis ke tengah-tengah rumah tangga. Amsal 17:14 berkata "Memulai pertengkaran adalah seperti membuka jalan air". Perselisihan itu bisa tidak terkendali dan akhirnya mematikan. Pertengkaran di rumah akan melumpuhkan kuasa Tuhan dalam hidup kita.

Jangan pernah membiarkan iblis merusak keharmonisan rumah tangga anda dengan membiarkan pertengkaran atau perselisihan bercokol di dalamnya. Rumah tangga selayaknya menjadi tempat di mana terdapat hubungan yang harmonis, saling dukung, saling support, dimana kasih menjadi dasar yang kuat di dalamnya. Berlakulah bijaksana dan adil, jangan bersikap otoriter dan menuntut perlakuan berlebihan dari pasangan anda. Pasangan kita adalah sosok yang akan melengkapi dan menyempurnakan kita, mengisi berbagai kekurangan kita untuk menjadi lebih baik lagi. Pasangan bukanlah sosok yang pantas untuk dijadikan "sansak tinju", kambing hitam atau tempat kita menumpahkan emosi seenaknya. Singkatnya firman Tuhan memberikan gambaran "Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya." (Efesus 5:33). Dan ingatlah pesan ini: "Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri." (Filipi 2:2-3). Ini pesan yang penting agar kuasa Tuhan tidak terhalang dan doa-doa yang kita panjatkan bisa menemukan jawaban. Yakobus mengatakan dimana ada iri hati dan egoisme, disanalah akan timbul kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. Tetapi sebaliknya, "hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik." (Yakobus 3:17). Itulah bentuk kebijaksanaan yang berasal dari atas, yang seharusnya mengisi kehidupan setiap pasangan dalam rumah tangga masing-masing. "Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai." (ay 18).

Apakah rumah tangga anda termasuk heaven on earth atau hell break lose? Hari ini mari kita belajar untuk lebih lagi membangun keharmonisan dan kehangatan dalam rumah, sehingga anda akan selalu rindu untuk segera pulang ke rumah karena disanalah anda akan merasakan kedamaian dan kenyamanan tak terhingga. Jangan jadikan rumah tangga sebagai tempat memanjakan ego diri sendiri dan melakukan segala sesuatu seenaknya. Jadikan rumah tangga kita sebagai contoh bagaimana hangat dan damainya sebuah hubungan yang memiliki kasih dan damai Kristus di dalamnya.

Let God's values live at our home, let's have peace at home

Tuesday, November 24, 2009

Tegaslah Terhadap Pertengkaran

Ayat bacaan: Amsal 17:14
====================
"Memulai pertengkaran adalah seperti membuka jalan air; jadi undurlah sebelum perbantahan mulai."

pertengkaranBulan Maret kemarin kita dikejutkan dengan tragedi Situ Gintung. Hujan deras yang turun membuat tanggul tidak mampu menahan dorongan air. Tanggul pun bobol, bencana banjir bandang terjadi. Hanya dalam waktu singkat 2,1 juta meter kubik air pun melanda rumah-rumah penduduk yang berada di bawah tanggul. Berulang-ulang berita ditayangkan di TV terasa mengiris hati. Bayangkan bagaimana rasanya orang tua kehilangan anak, anak kehilangan orang tua, kehilangan sanak saudara. Hanya dalam waktu yang sangat singkat, hanya dalam hitungan menit, tiba-tiba begitu banyak orang kehilangan harta, saudara, anak, keluarga, teman dan juga nyawa. Musibah bisa terjadi begitu mendadak. Ketika tanggul jebol, tidak ada satupun orang yang sanggup menghentikan limpahan air deras yang menyeruak keluar dari tembok yang retak itu dalam waktu singkat.

Lihatlah betapa mengerikannya bencana yang bisa diakibatkan oleh pecahnya tanggul yang bertugas menahan air. Seperti itulah bahaya pertengkaran menurut firman Tuhan. Alkitab menggambarkan memulai pertengkaran sama seperti membobol dinding penahan air. Jika tanggul terbuka, meski sedikit saja pada awalnya, air pasti akan terus mendorong tanggul, memperbesar retaknya sehingga air akan memancar semakin deras dan menenggelamkan sekitarnya. Tidak lagi terkendali, liar dan ganas, berpotensi menghancurkan orang lain dan tentunya diri kita sendiri. "Memulai pertengkaran adalah seperti membuka jalan air; jadi undurlah sebelum perbantahan mulai." (Amsal 17:14). Tidak sembarangan Tuhan mengingatkan bahaya pertengkaran, karena ini merupakan satu dari masalah yang paling umum terdapat dalam kehidupan, bahkan sering menyerang orang-orang percaya. Kita tidak sadar dan membiarkan hal ini masuk kemana-mana. Di rumah, di tempat kerja, di kampus, sekolah, lingkungan rumah bahkan gereja sekalipun tidak luput dari bahaya pertengkaran ini.

Tentu saja tidak seorangpun di antara kita dengan sengaja membiarkannya masuk. Kita tidak pernah bangun di pagi hari dan langsung berkata, "saya mau bertengkar hari ini, yang besar sekalian.." Tidak. Yang terjadi biasanya adalah kita tidak waspada dan membiarkan kekesalan kecil hinggap pada diri kita, kemudian membiarkannya terus membesar hingga tidak terkendali, seperti tanggul jebol. Tanpa sadar, kita sudah masuk ke dalam sebuah pertengkaran yang sulit dikendalikan. Begitu banyak rumah tangga yang hancur akibat tingginya frekuensi pertengkaran di rumah. Rumah tidak lagi nyaman. Suasana panas, saling benci. "Tapi saya manusia, bukan robot, wajar dong jika merasa kesal dengan perlakuan pasangan kita, tetangga atau teman pada suatu ketika?" Tentu saja. Ada saatnya mungkin kita merasa kesal dengan perilaku seseorang, yang paling dekat sekalipun. Namun kita harus mampu mengendalikannya sebelum menjadi besar. Apa yang saya lakukan jika terjadi perselisihan kecil dengan istri saya? Saya akan berusaha diam dan menarik diri dari potensi pertengkaran. Saya menenangkan diri, ia pun demikian. Setelah reda, sebuah pelukan hangat biasanya akan mengakhiri kejengkelan. Setidaknya kami berdua berkomitmen untuk mengakhiri perselisihan sebelum pergi tidur. Sebuah anjuran yang mirip terdapat dalam kitab Efesus. "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu" (Efesus 4:26). And it works really well.

Pertengkaran bisa berawal dari berbagai sebab yang biasanya dimulai dengan perselisihan akan hal kecil. Yakobus mengatakan bahwa pertengkaran berasal dari nafsu duniawi yang ada dalam diri kita. "Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi." (Yakobus 1:4-5a). Menyimpan kekesalan atau sakit hati berlarut-larut pun berpotensi menimbulkan pertengkaran. "Sebab, kalau susu ditekan, mentega dihasilkan, dan kalau hidung ditekan, darah keluar, dan kalau kemarahan ditekan, pertengkaran timbul." (Amsal 30:33). Selain itu, ego, keangkuhan, sikap tidak mau kalah dan lain-lain pun bisa menimbulkan pertengkaran. Karena itulah kita diminta untuk bisa memaafkan orang dengan segera dan bersikap rendah hati, mau belajar untuk lebih memahami dan menerima orang lain apa adanya. Tidak ada manusia yang sempurna. Masalah yang timbul bisa diselesaikan baik-baik pada saat yang tepat, tidak terburu-buru. Alkitab juga mencatat fakta yang menarik dan memang benar: orang yang suka bertengkar biasanya juga suka pada pelanggaran atau dosa. "Siapa suka bertengkar, suka juga kepada pelanggaran, siapa memewahkan pintunya mencari kehancuran." (Amsal 17:19).

Jika kita terbiasa untuk lekas emosi, mudah naik pitam untuk hal-hal yang kecil sekalipun, ini saatnya untuk mulai belajar menghilangkannya. Bersikap tegaslah terhadap pertengkaran. Jangan membiarkannya merusak hidup kita sendiri dan orang lain. Mungkin perlu waktu, tapi setidaknya kita harus mulai dari sekarang. Ambillah sebuah komitmen bahwa dengan kuasa Tuhan, tidak akan ada hal yang bisa merampas sukacita dari diri kita, termasuk kekesalan yang bisa mengarah kepada pertengkaran. Sedini mungkin kita harus terus menjaga agar tanggul pertahanan emosi kita tetap kuat sehingga tidak bisa dijebol oleh kemarahan yang pada suatu saat tidak lagi bisa kita kendalikan. Ingatlah penyesalan biasanya datang terlambat, oleh karenanya kita harus senantiasa menjaga kestabilan emosi kita dan tidak cepat menuruti emosi dalam diri kita. Jika mengontrol emosi terasa sulit, mintalah Roh Kudus membantu kita dalam mengatasinya. Cepat lakukan itu sebelum kita mulai berbuat dosa. Selain itu ingatlah bahwa amarah manusia itu tidaklah pernah menyenangkan hati Tuhan. "Sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah." (Yakobus 1:20). Firman Tuhan juga berkata "Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!" (Roma 12:18). Selagi masih sadar dan masih bisa mengendalikan emosi, redamlah segera sebelum semuanya menjadi runyam. Tolaklah emosi sejak awal, dan katakan pada diri anda bahwa anda ingin berjalan dalam sejahtera dan damai sukacita Tuhan hari ini. Selain itu baik bagi kesehatan, anda pun akan merasa heran betapa hidup ini ternyata lebih indah jika dijalani tanpa emosi atau pertengkaran.

Don't open something we can't control. Jangan buka pintu pertengkaran yang nantinya tidak bisa kita kendalikan

Monday, November 23, 2009

Patuhlah Mulai Hari Ini

Ayat bacaan: Amsal 29:1
====================
"Siapa bersitegang leher, walaupun telah mendapat teguran, akan sekonyong-konyong diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi."

tegar tengkuk, keras leher, hati membekuAda banyak orang yang ketakutan dikejar-kejar perasaan bersalah. Ada orang yang merasa bahwa kesalahan yang pernah mereka buat tidak akan pernah bisa dimaafkan. Biasanya mereka akan sulit melangkah menatap hari depan. Bahkan ada sebagian orang yang tidak lagi tahan dengan siksaan perasaan mereka dan memilih jalan pintas yang fatal dengan mengakhiri hidupnya. Di sisi lain, ada orang-orang yang sudah begitu terbiasa melakukan kesalahan, sehingga mereka tidak lagi merasa terganggu dengan itu. Berapa sering kita diingatkan Tuhan ketika berbuat kesalahan? Apakah itu lewat hati nurani, lewat Firman yang kita baca, lewat kotbah, lewat orang lain dan lain-lain, sesungguhnya setiap manusia baik-baik, siapapun mereka, biasanya akan sulit hidup tenang ketika melakukan suatu kesalahan. Saya katakan baik-baik karena ada kalanya seseorang mulai kehilangan kontrol atas dirinya, tidak lagi merasa bersalah atau menyesal setelah melakukan sesuatu yang jahat. Hati bisa membeku dan membatu, membuat kejahatan menjadi hal yang biasa. Hal ini bisa terjadi apabila kita terus mengabaikan peringatan Tuhan.

Sebagian orang mempunyai pemikiran keliru bahwa mereka bisa menunda-nunda untuk mematuhi peringatan Tuhan. Betapa kelirunya kita jika mengira bahwa bila pengarahan Roh Kudus menghampiri kita, kita dapat mengabaikannya dulu dan kemudian mematuhinya kelak sekehendak hati mereka. Mereka tahu mereka tidak melakukan hal yang benar, gaya hidupnya tidak benar, tapi mereka berpikir untuk membiarkan itu buat sementara waktu, dan nanti pada saatnya, entah kapan, mereka akan membereskannya dengan Tuhan. Jika anda memiliki pemikiran seperti itu, berhati-hatilah. Sebab firman Tuhan hari ini berkata "Siapa bersitegang leher, walaupun telah mendapat teguran, akan sekonyong-konyong diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi." (Amsal 29:1). Dalam bahasa Inggris, kata 'bersitegang leher' disebutkan sebagai "hardens his neck", mengeraskan leher mereka, atau dalam bahasa alkitab yang cukup terkenal dikatakan sebagai "tegar tengkuk".

Ketika kita mendapat teguran dan memilih untuk mengeraskan leher kita, mengabaikan teguran itu dan terus melanjutkan perbuatan tidak benar, maka yang terjadi adalah hati kita bisa menjadi keras. Bukan karena anugerah Tuhan tidak sampai menjangkau kita, bukan pula Tuhan menolak mengampuni kita jika kita berbalik padaNya, tapi dosalah yang sudah mengeraskan hati kita hingga kita tidak lagi dapat mendengar suaraNya memanggil, mengingatkan dan menegur kita. Tidak heran jika dikatakan "sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan." (2 Timotius 3:13). Terbiasa jahat akan membuat orangbertambah jahat. Orang yang terbiasa sesat akan semakin sesat, saling menyesatkan dan disesatkan. Semua itu karena tidak ada lagi kontrol dalam diri mereka akibat kerasnya dosa yang sudah membatu menutupi hatinya.

Bangsa Israel di masa lalu adalah contoh konkrit mengenai ini. Betapa marahnya Tuhan kepada mereka yang tidak tahu berterimakasih, tidak tahu bersyukur dan terus menerus mengecewakan Tuhan. Dibebaskan dari perbudakan, mereka malah sinis karena merasa sulit untuk melalui padang gurun di alam kemerdekaan. Diberikan tanah terjanji yang begitu subur dan melimpah madunya bukannya bersyukur tapi malah menolak. Eh, setelah menerima, mereka malah merasa karena mereka luar biasa hebatnya maka mereka bisa mendapatkan itu. Keterlaluan bukan? Inilah bentuk kekerasan tengkuk orang Israel yang terus saja melakukan kesalahan demi kesalahan. Tidak salah jika Tuhan kemudian marah kepada mereka. Lihat bagaimana murkanya Tuhan ketika menghardik mereka yang tidak kunjung berubah. "Jadi ketahuilah, bahwa bukan karena jasa-jasamu TUHAN, Allahmu, memberikan kepadamu negeri yang baik itu untuk diduduki. Sesungguhnya engkau bangsa yang tegar tengkuk!" (Ulangan 9:6).

Alasan demi alasan mungkin kita kemukakan sebagai pembelaan diri untuk tidak mematuhi Tuhan saat ini. Alasan masih muda, belum waktunya, sedang enak-enaknya menikmati yang ditawarkan dunia, ingin balas dendam kepada seseorang, dan sebagainya, itu dipakai untuk meminta kelonggaran untuk berbalik jalan kembali kepada Tuhan. Tapi ingatlah bahwa tidak menjadi soal apapun alasan yang kita pakai untuk tidak mematuhi Tuhan. Ketidaktaatan itu akan tetap merugikan kita. Itu akan terus mengeraskan hati kita, sehingga jika tidak cepat diatasi hati kita pun bisa tertutup kerak dosa tebal yang membuat kita tidak lagi bisa mendengar kata Tuhan. Dan jika itu sudah kronis, ayat bacaan hari ini memberikan gambaran keras, "sekonyong-konyong diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi." Kita bisa dibinasakan dengan tiba-tiba tanpa dapat diobati. Mengerikan.

Oleh karena itu, hendaklah kita mengambil apa yang dialami bangsa Israel dengan konsekuensi yang harus mereka tanggung sebagai pembelajaran. Jangan bermain api, nanti bisa terbakar. Jangan bermain-main dengan dosa nanti bisa menyesal. Begitu hati kita lumpuh, kita pun akan habis sia-sia dalam penyesalan tanpa akhir. Jika hari ini anda masih mendengar teguran dan peringatan Tuhan, jangan tunda lagi. Berbaliklah segera. Firman Tuhan berkata: "Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus: "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman pada waktu pencobaan di padang gurun" (Ibrani 3:7-8). Jangan keraskan terus hati, karena itu akan membangkitkan amarah Allah seperti halnya yang terjadi pada bangsa Israel di jaman Musa. "di mana nenek moyangmu mencobai Aku dengan jalan menguji Aku, sekalipun mereka melihat perbuatan-perbuatan-Ku, empat puluh tahun lamanya. Itulah sebabnya Aku murka kepada angkatan itu, dan berkata: Selalu mereka sesat hati, dan mereka tidak mengenal jalan-Ku," (ay 9-10). Berbaliklah segera, mulailah untuk hidup benar dan saling menasihatilah satu sama lain. "Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan "hari ini", supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa." (ay 13). Tuhan memang terus siap memberikan pengampunan dan sudah berjanji untuk memutihkan dosa kita, tidak lagi mengingat-ingat dosa kita dan membuangnya sejauh timur dari barat, tapi jika kita terus menunda-nunda, ada saat dimana kesempatan itu tidak lagi ada. Jika Tuhan hari ini mengingatkan kita, janganlah menunda dengan mengira bahwa lebih mudah melakukannya kemudian. Itu tidak akan pernah lebih mudah, yang ada malah akan menjadi lebih sulit. Jika Roh Kudus hari ini mengoreksi kita, ikutilah segera petunjukNya. Lakukan hari ini juga dan jangan tunggu lebih lama. Jagalah hati kita untuk tetap lembut untuk bisa mendengar dan mematuhi serta melaksanakan petunjuk Tuhan.

Jangan keraskan hati, jangan tunda lagi jika mendengar suara Tuhan

Sunday, November 22, 2009

Seribu Rebah

Ayat bacaan: Mazmur 91:7,10
======================
"Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu. malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu"

seribu rebah, aman dalam perlindungan TuhanSemakin tua dunia ini, semakin banyak saja masalahnya. Di satu sisi teknologi memajukan kehidupan manusia, tapi di sisi lain teknologi bisa membawa kesengsaraan dan kebinasaan. Peperangan, kebencian, permusuhan ada dimana-mana. Krisis demi krisis menimpa kita. Di mana-mana perusahaan, yang besar sekalipun bisa gulung tikar dan menyisakan hutang yang sangat besar. Krisis ekonomi tidak lagi hanya kasus regional, tapi sudah menjadi masalah global. Flu burung, flu babi, dan entah flu apa lagi yang bakal muncul di kemudian hari. Gempa, gunung berapi meletus, banjir, kebakaran, dan berbagai bencana alam lainnya seolah silih berganti datang menghancurkan berbagai belahan dunia. Pencuri, perampok, pembunuh, orang-orang jahat selalu ada di sekitar kita. Kalau kita pikirkan itu semua, kita akan segera merasa betapa mengerikannya hidup di dunia ini. Tapi tunggu dulu, jangan lupa bahwa kita punya Allah yang luar biasa yang menjanjikan sesuatu sebagai pegangan dalam hidup kita.

Mazmur 91:7 dan 10 berkata: "Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu. malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu." Oh luar biasa. Ini janji yang sangat besar dan sangat melegakan untuk kita imani terlebih ketika kita hidup di tengah jaman yang begitu menyeramkan. "Dialah yang akan melepaskan engkau dari jerat penangkap burung, dari penyakit sampar yang busuk." (ay 3). Lalu Tuhan berjanji akan melindungi kita di bawah kepak dan sayapNya bagai perisai dan tembok tebal yang tidak akan bisa ditembus malapetaka. (ay 4). Dengarlah kata Tuhan: "Engkau tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang, terhadap penyakit sampar yang berjalan di dalam gelap, terhadap penyakit menular yang mengamuk di waktu petang." (ay 5-6). Seribu rebah di kiri, sepuluh ribu di kanan, tapi tidak ada satupun yang menimpa kita, karena Tuhan akan melindungi kita di bawah kepak sayapnya. Kita harus mengakui betapa butuhnya kita akan janji Tuhan ini, mengingat bahwa hari-hari ini adalah jahat dan dipenuhi banyak kesulitan. Pada saat janji Tuhan itu ditulis, sepertinya belum ada teknologi yang memungkinkan untuk bisa memusnahkan seribu dan sepuluh ribu orang sekaligus. Tapi pada jaman sekarang, hal itu menjadi mungkin dengan adanya bom nuklir dan berbagai senjata pemusnah masal lainnya, termasuk pula berbagai wabah penyakit menular yang mematikan.

Bagaimana agar kita bisa menerima janji Tuhan ini? Awal dari serangkaian janji luar biasa dalam Mazmur 91 itu menuliskan syaratnya. "Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: "Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai." (ay 1-2). Hanya orang-orang yang duduk dalam lindungan Tuhan, yang selalu hidup di dalam Tuhan-lah yang akan menerima janji Tuhan ini. Kita perlu melakukan hal itu dan kemudian memegang janji Tuhan hari ini. Percayalah Tuhan mau menjadi yang utama dalam hidup kita. Dia mau menjadi tempat perlindungan kita, tempat perteduhan kita (Mazmur 91:9). Tuhan mau menjadi Nama pertama yang akan kita panggil dan andalkan ketika kesukaran mulai menimpa kita. (Yeremia 17:7). Tuhan ingin kita menyadari bahwa Dia sanggup melakukan segala sesuatu, mengetahui bahwa tidak ada satupun rencanaNya yang gagal. (Ayub 42:2). Dia mau kita Tuhan menghendaki kita untuk menjadikanNya sebagai Pribadi yang bisa dipercaya sepenuhnya dan diharapkan untuk mengamankan hidup kita. Dan ketika kita melakukan itu semua, kita akan mengalami sebuah pengertian mendasar bahwa Dia adalah Allah yang tidak pernah mengecewakan. Oleh sebab itulah kita bisa membaca dalam Mazmur, "Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku." (Mazmur 62:6), "Sebab mataku tertuju pada kasih setia-Mu, dan aku hidup dalam kebenaran-Mu." (26:3).

Tuhan mampu menangani semua bahaya yang mengelilingi kita. Betapa gawatnya bahaya itu sekalipun. Sadrakh, Mesakh, Abednego dan Daniel sudah membuktikannya. Daud sudah membuktikannya. Bangsa Israel di jaman Musa mengalaminya. Begitu pula banyak tokoh alkitab lainnya. Jika dulu janji Tuhan berlaku dan terbukti, hari ini pun sama, sebab Tuhan kita tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya. (Ibrani 13:8). Saya undang anda semua untuk membuktikan dalam hidup anda kebenaran firmanNya yang telah dibuktikanNya dalam hidup Sadrakh, Mesakh, Abednego, Daud dan lain-lain. Hiduplah bersama Tuhan, ijinkan Dia memerintah dalam hidup anda, hiduplah sesuai kebenaran firmanNya dan seturut kehendakNya, maka Tuhan akan hadir tepat di tempat anda untuk membebaskan anda dari masalah, kehancuran, atau malapetaka apapun. Pada suatu hari nanti, anda akan tahu dan berkata bahwa tidak ada pribadi lain yang mampu membebaskan dan menyelamatkan seperti Dia!

Berlindunglah dengan aman dan tenang di bawah kepak sayap Tuhan

Saturday, November 21, 2009

Sukacita dari Tuhan

Ayat bacaan: Mazmur 33:21
======================
"Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya."

sukacita dari TuhanJengkel menghadapi orang lain? Itu sudah menjadi makanan kita sehari-hari. Selalu saja ada orang-orang yang begitu menjengkelkan sehingga rasanya seperti seolah-olah dihadapkan kepada uji kesabaran. Baik dari sikap mereka, perkataan mereka, gestur atau gerak tubuh mereka, bahkan pandangan mata dan cibiran bibir. Di kalangan tetangga, pekerjaan, sekolah, di jalanan, atau di manapun kita akan bertemu dengan orang-orang seperti ini. Tidak hanya terhadap orang lain, tapi seringkali dalam keluarga sendiri pun kita bisa berhadapan dengan kekesalan. Istri kesal kepada kebiasaan-kebiasaan buruk suami, yang mungkin mendengkur, sembarangan membuang baju kotor dimana-mana, tidak membuka sepatu ketika masuk ke rumah, punya kebiasaan mengeluhkan pekerjaan, dan lain-lain. Atau suami kesal kepada istri? Istri yang terlambat mempersiapkan sarapan, punya hobi membantah, dirasa terlalu sibuk diluar, dianggap kurang peduli, juga berbagai kekesalan "kecil-kecilan" seperti tidak membuatkan secangkir teh dan sebagainya. Kesal, itu sudah menjadi bagian hidup kita. Tapi haruskah kita membiarkan kekesalan itu merampas sukacita? Haruskah kita menjadi sosok emosional yang harus selalu mengajak suami/istri untuk berkelahi atau "berantem", juga kepada setiap orang yang mungkin pada suatu saat menjengkelkan kita? Atau dengarlah kata seorang teman pada suatu kali, "bagaimana mau hepi kalau semua manusia ini ternyata mengesalkan?"

Jika kita mendasarkan sukacita kita kepada manusia, lama kelamaan kita tidak akan bisa lagi merasakan itu. Manusia bisa mengecewakan, orang terdekat kita sekalipun pada suatu waktu bisa menyinggung perasaan kita tau membuat kita kecewa, tapi Tuhan tidak akan pernah mengecewakan kita. Pemazmur berkata "Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti." (Mazmur 46:2). Tidak hanya sebagai tempat perlindungan dan kekuatan, tapi sukacita yang sejati pun sebenarnya berasal dari Tuhan, dan bukan dari manusia. Artinya, kita tidak harus menggantungkan kebahagiaan dan kegembiraan dalam hidup kita kepada manusia lain di sekeliling kita, atau pada keadaan kita saat ini, melainkan menggantungkannya kepada Tuhan, Allah kita yang tidak pernah mengecewakan anak-anakNya. Pemazmur mengatakan seperti ini "Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya." (Mazmur 33:21). Hati kita bersukacita bukan tergantung dari orang lain atau situasi yang kita hadapi, tapi tergantung dari sejauh mana kita percaya pada Tuhan. Masalah boleh hadir, tapi sukacita tidak boleh hilang karenanya. Orang lain boleh saja membuat kita jengkel, tapi hal itu tidak boleh merampas sukacita dari diri kita. Mengapa? Karena sukacita sesungguhnya berasal dari Tuhan, bukan dari orang atau situasi di sekeliling kita.

Bagaimana Paulus dan rekan-rekan sepelayanan bisa tetap teguh dan memiliki sukacita serta kerinduan untuk mewartakan Kristus ditengah kesengsaraan dan penderitaannya? Apa yang mereka hadapi sungguh berat. Dirajam, disiksa, ditangkap, bahkan menjadi martir, semua itu tidak merampas sukacita sama sekali dari diri mereka. Paulus memberikan alasannya dengan gamblang. "Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami." (2 Korintus 4:17). Inilah bentuk memandang Allah dan mendasarkan sukacita kepada Sang Pemberi yang sesungguhnya. Orang-orang yang menjengkelkan dan mengecewakan kita akan terus ada, masalah boleh saja terus ada, tapi semua itu bisa kita pergunakan sebagai proses pembelajaran dan pendewasaan diri kita, bagaimana kita bisa mengambil keputusan dengan tepat, bagaimana kita bisa cakap menghadapi orang dalam berbagai sifat dan kelakuan. Nobody's perfect. Tidak istri atau suami kita, tidak teman-teman kita, tidak siapapun, dan yang pasti tidak juga kita. Kita pun tidak sempurna. Mereka punya kelemahan, kita pun demikian. Kita bisa belajar melatih kesabaran dan keluwesan dari orang-orang yang sulit dihadapi ini. Kelemahan orang lain pun merupakan sarana pembelajaran bagi kita bahwa orang lain butuh dilengkapi oleh kita. Kelemahan kita membuka kesempatan bagi orang lain untuk belajar bagaimana mereka bisa memahami kita. Semua permasalahan itu tidak boleh merampas sukacita, karena sukacita yang sebenarnya itu berasal dari Tuhan.

Selain daripada itu, kita pun harus membereskan segala kesalahan dan masalah kita di masa lalu. Hidup dengan hati yang tertuduh pun bisa merampas sukacita dari diri kita. "Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah" (1 Yohanes 3:21). Seringkali perasaan tertuduh dan bersalah membuat kita ragu untuk mendekati Tuhan, dan akibatnya kita tidak lagi merasakan sebentuk sukacita yang berasal dariNya. Jika kita membereskan semua kesalahan kita, mengakuinya di hadapan Tuhan dan membereskan dengan orang-orang yang berkaitan dengan itu, memberikan pengampunan bagi mereka yang pernah menyakiti kita, kita pun akan menerima pengampunan dari Tuhan. Kita bisa membangun kembali hubungan kita dengan Tuhan, dan dengan demikian sukacita daripadaNya akan kembali mengalir ke dalam diri kita.

Siapapun orangnya, pada suatu kali bisa saja mengesalkan kita. Semua orang punya kelemahan masing-masing, baik dari sifat, perilaku, kebiasaan dan lainnya. Tapi tidakkah mereka juga punya kelebihan sendiri-sendiri? Mungkin suami anda bukanlah orang yang rapi, tapi dia setia dan begitu menyayangi anda. Mungkin dia mendengkur, tapi itu karena ia mati-matian membanting tulang demi memenuhi kebutuhan anda. Mungkin istri anda pada suatu ketika terlambat bangun dan menyiapkan sarapan, tapi tidakkah anda bahagia ketika melihat senyumannya menyambut anda pulang kerja? Mungkin dia punya sifat cuek dan kurang romantis, tapi bayangkan hidup tanpa dirinya. Nobody's perfect, we all make mistakes. Jangan dasarkan kepada kesalahan-kesalahan itu, tapi dasarkanlah pandangan anda pada semua yang yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji. (Filipi 4:8). Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersukacita, karena semua itu berasal dari Tuhan dan berada jauh di atas segala permasalahan atau orang-orang yang mengecewakan kita. Maka Firman Tuhan berkata, "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!" (Filipi 4:4), "Bersukacitalah senantiasa." (1 Tesalonika 5:16). No matter what, come what may, percayalah bahwa kita punya Tuhan yang jauh lebih besar dari semua masalah, yang telah memberikan kita sukacita sejati terlepas dari apapun keadaan kita hari ini dan siapapun yang kita hadapi saat ini. Oleh karenanya, jangan biarkan sukacita kita dirampas. "Bersukacitalah senantiasa.Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:16-18). Are you ready? Let's rejoice!

Sukacita sejati berasal dari Tuhan, bukan dari orang lain atau situasi yang kita hadapi