Sunday, November 15, 2009

Di Bawah Kaki

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 2:34-35
=============================
"Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu."

di bawah kakiMelihat poster-poster film yang ada di bioskop terkadang membuat saya miris sendiri. Berbagai bentuk hantu seperti kuntilanak, pocong, suster ngesot dan sebagainya menjadi primadona atau superstar yang digemari banyak orang. Banyaknya film bertemakan hantu ini menunjukkan minat besar dari penonton film terhadap genre horror di Indonesia. Padahal apa yang disajikan hanya itu-itu saja. Dan banyaklah orang yang hingga kini masih takut ke kamar mandi sendirian, takut berjalan dalam kegelapan, takut sendirian di rumah dan sebagainya. Takut apa? Takut setan. Mengapa harus takut? Bukankah Yesus sudah menghancurkan kewibawaan setan dan mengalahkan dengan gemilang lewat kebangkitanNya 2000 lebih tahun yang lalu? Itu kita tahu, itu kita percaya, untuk itu kita bersukacita. Tapi nyatanya, kenapa masih takut? "Ya takutlah... lihat saja film-film itu..sebagian besar pembuatan film-film tersebut malah menyisakan kisah-kisah menyeramkan yang katanya nyata terjadi.." kata seorang teman. Didatangi mahluk halus, kesurupan di lokasi syuting dan sebagainya. "Kalau memang Tuhan sudah mengalahkan, kenapa kok masih ada?" kata teman saya lagi.

Sesungguhnya Tuhan Yesus memang telah mengalahkan iblis. Iblis kehilangan semua kewibawaannya di bumi pada hari Yesus bangkit dari antara orang mati. Apa yang diperbuat iblis saat ini adalah memakai strategi tipu muslihat. Iblis tidak ingin kita percaya bahwa ia tidak lagi punya taji, karenanya segala tipu muslihat pun dibuatnya untuk mengelabui kita, agar kita mengira bahwa iblis masih punya kuasa besar di dunia ini. Dalam Efesus dikatakan "Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis" (Efesus 6:11). Tipu muslihat iblis, itulah yang kita lawan menggunakan perlengkapan senjata Allah. Takut terhadap setan dan hantu yang sering muncul di film-film? Itu sebenarnya baru salah satu bentuk tipuan iblis. Kita takut melihat yang seram-seram, tapi seringkali tidak menyadari bentuk penipuan iblis dalam bentuk lain. Iblis bisa berkedok dalam hal yang justru terlihat menyenangkan, bikin bahagia, senang, enak dan glamor. Bisa jadi iblis bersembunyi di balik sesuatu yang awalnya terlihat menyenangkan, dan pada suatu ketika kita pun terikat, termakan tipu muslihatnya.

"Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu." (Kisah Para Rasul 2:34-35). Kita harus tahu betul, dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus menjadi Tuhan dan Kristus, Mesiah, Sang Raja Penyelamat. (ay 36). Kuasa iblis tidak lagi ada, semua telah menjadi tumpuan kaki Yesus. Diinjak di bawah kakiNya. Sekali lagi, ini fakta yang membuat kita bersukacita. Tapi seringkali kita tidak sadar bahwa ada peran kita di dalam perihal injak-menginjak ini. Kita lupa bahwa kini kaki kitalah yang dipakai untuk menginjak-injak pekerjaan dan tipu muslihat iblis.

Dalam struktur tubuh Gereja, Yesus sendirilah yang merupakan Kepala. Kita adalah anggota-anggota tubuh yang tersusun rapi, diikat menjadi satu dan saling terhubung satu sama lain, terus bertumbuh ke dalam segala hal mengarah kepada Kristus sang Kepala. (Efesus 4:15-16). Yesus kepala, kita kaki dan tanganNya. Artinya kitalah yang meneruskan pekerjaan di dunia hari ini untuk menghentakkan kaki atas dosa, penyakit dan segala karya tipu-tipu iblis lainnya di dunia ini. Kitalah yang dipakai Tuhan untuk menjadikan musuh-musuh ini sebagai tumpuan kakiNya. Hal ini pun dikatakan Yesus. Mari kita lihat beberapa ayat berikut ini: "Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi." (Matius 28:18). dan, "Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk...Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh." (Markus 16:15,17-18). Apa yang dikatakan Yesus kurang lebih demikian: "Pergilah dan jadilah kaki-tanganKu." atau demikian: "KepadaKu telah diberikan segala kuasa baik di surga maupun di bumi. Karena itu ambillah dan pergunakanlah untuk menaruh iblis di bawah kakimu." Tapi kita tidak mendengarNya. Kita terus menanti dan bertanya-tanya kapan Tuhan bertindak mengatasi segala kekacauan di muka bumi ini. Dan kita pun terbiasa untuk terus menanti tanpa melakukan apapun.

Alkitab jelas berkata bahwa seorang dapat mengejar seribu orang, sedangkan dua orang dapat membuat lari bukan dua ribu, melainkan sepuluh ribu orang. (Ulangan 32:30). Inilah bentuk pelipatgandaan kuasa yang diberikan Tuhan dalam persekutuan anak-anakNya. Dan semua itu bukanlah karena kehebatan kita, melainkan berkat hadirnya Tuhan di tengah-tengah persekutuan kita. (Yosua 23:10). Dalam setiap perkumpulan kita, ada penambahan kekuatan yang luar biasa. Jika kita mau menyadari ini, kita akan tahu bagaimana kuatnya jika kita berkumpul dalam pemahaman siapa kita sebenarnya dan apa yang Tuhan canangkan bagi kita, bahwa kitalah kaki tangan Kristus yang akan meletakkan iblis di bawah kakiNya, menginjak-injak iblis dan menghancurkan tipuan-tipuannya.

Letak iblis ada di bawah kaki kita. (Roma 16:20). Dan dengan Kristus sebagai kepala, dengan sendirinya iblis pun berada di bawah kakiNya. Itulah sejatinya posisi kita saat ini. Oleh sebab itu alangkah ironisnya jika hari ini kita mengira bahwa iblis masih punya kuasa, yang mampu membuat kita gemetar dan takut kepadanya. Itu artinya kita belumlah mengerti apa yang telah dihasilkan Yesus lewat kebangkitanNya, dan apa yang telah Dia berikan kepada kita untuk menjadi anggota tubuhNya, menjadi kaki-tanganNya hari ini. Tuhan menantikan kita untuk membuang pikiran-pikiran kita yang salah dan mau mulai menapak unuk melakukan hal-hal yang ditugaskan Allah kepada kita. Sudah siapkah kita melakukannya?

Iblis letaknya ada di bawah kaki kita

Saturday, November 14, 2009

Kuasa Yang Disempurnakan

Ayat bacaan: 2 Korintus 12:9
======================
"Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku."

kuasa yang disempurnakanJika hari ini hidup anda masih relatif jauh dari masalah dengan perjalanan hidup yang juga relatif stabil dan baik-baik saja, bersyukurlah. Karena saya sudah berjumpa dengan banyak orang yang mengalami begitu banyak pengalmaan pahit di masa lalu yang sedemikian rupa sudah merusak percaya diri mereka. Sedikit saja kena lagi, mereka bisa hancur berantakan. Bagaikan tumpukan balok rapuh, tersenggol sedikit saja sudah ambruk. Semua ini karena masalah yang telah menggerogoti hidup mereka sejak lama. Ada pula yang tengah dihantam masalah dari segala penjuru, bertubi-tubi sehingga mental mereka pun menjadi lemah dan remuk. Sungguh, semakin jauh saya melayani, saya semakin melihat bahwa ada begitu banyak masalah kompleks, rumit yang sepertinya tidak punya jalan keluar jika kita pandang dengan mata manusia. Ada begitu banyak orang yang butuh pertolongan. Jangankan pertolongan, untuk didengar saja sudah sulit bukan main bagi mereka. Tidak mudah untuk membantu mereka, karena seringkali kepahitan itu sudah membatu dan sulit untuk dihancurkan dalam waktu singkat.

Saya masih melanjutkan tulisan-tulisan kemarin mengenai betapa lemahnya manusia. Memandang ke atas, itu merupakan obat terbaik yang bisa melepaskan kita dari kepungan dari pengaruh negatif yang ada di sekeliling kita, termasuk luka-luka masa lalu dan sebagainya. Untuk melakukan ini pun tidaklah mudah, karena dalam banyak kasus kerak kepahitan itu sudah sangat keras menutupi hati. Hal ini bisa dialami siapa saja. Terkadang kita tidak lagi punya kekuatan untuk mengatasi masalah, sehingga tergoda untuk menyerah kalah. Pada saat seperti itu kekuatan manusia kita berakhir. Kita memang terbatas, dan kita telah berusaha sampai kepada batas tertinggi kemampuan kita. Tapi toh masalah tidak juga selesai.

Mari kita lihat sedikit kisah Paulus dan para rasul lainnya di awal pelayanan mereka. Tidak mudah dan penuh bahaya. Ancaman pembunuhan dan penyiksaan selalu mereka hadapi kemanapun mereka pergi. Pada suatu kali ketika tengah melayani di Listra, Paulus sempat hampir mati. Ketika itu orang-orang Yahudi yang datang dari Antiokhia dan Ikonium berhasil menghasut warga di Listra sehingga mereka pun melempari Paulus dengan batu dan menyeretnya ke luar kota. "Tetapi datanglah orang-orang Yahudi dari Antiokhia dan Ikonium dan mereka membujuk orang banyak itu memihak mereka. Lalu mereka melempari Paulus dengan batu dan menyeretnya ke luar kota, karena mereka menyangka, bahwa ia telah mati." (Kisah Para Rasul 14:19). Dikatakan mereka menyeret tubuhnya setelah dihajar ramai-ramai. Meski tidak disebutkan dengan jelas, sepertinya Paulus sudah babak belur penuh luka. Pada saat itu kekuatan manusiawi Paulus sudah berakhir. Dia sama sekali tidak berdaya lagi, bahkan sampai dikira telah mati. Dia diseret dan dibuang, ditinggalkan di luar kota Listra. Habislah kekuatan manusia Paulus. Tapi apa yang kemudian terjadi? "Akan tetapi ketika murid-murid itu berdiri mengelilingi dia, bangkitlah ia lalu masuk ke dalam kota. Keesokan harinya berangkatlah ia bersama-sama dengan Barnabas ke Derbe." (ay 20). Lihat, ketika kekuatan manusia selesai, mukjizat Tuhan datang. Tidak tahu apakah Paulus sudah mati atau belum pada waktu itu, tapi yang pasti Tuhan ternyata membangkitkan dan menyembuhkannya setelah para murid lain mengelilingi dan mendoakannya. Dengan kata lain, ketika Paulus tidak mempunyai cukup kekuatan manusiawi untuk mengatasi kesulitannya, kuasa Tuhan yang mengerjakan mukjizat ternyata cukup baginya. Kuasa Tuhan membuatnya menjadi pemenang walaupun dia sendiri adalah manusia sama seperti kita yang lemah. Seperti tidak terjadi apa-apa, ia bisa langsung masuk ke dalam kota dan keesokan harinya ia sudah bisa melanjutkan perjalanan bersama Barnabas menuju Derbe.

"Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku." (2 Korintus 12:9). Tuhan mengingatkan Paulus untuk menyadari bahwa sesungguhnya kasih karunia Tuhan itu cukup adanya. Paulus dan kita memang lemah, tapi justru dalam kelemahan itulah kuasa Tuhan menjadi sempurna. Pada saat kita lemah itulah sebenarnya kuasa Tuhan akan segera disempurnakan dalam diri kita. Kita terbatas, tapi Tuhan tidak. Jika kita mengakui bahwa kita ini manusia yang terbatas dan lemah, dan memutuskan untuk bergantung kepada Tuhan ketimbang mengandalkan kekuatan diri sendiri, maka Tuhan yang tidak terbatas itu akan bekerja hingga kuasaNya menjadi sempurna atas kita. Karena alasan itulah Paulus mampu berkata "Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat." (ay 10).

Apakah hari ini anda tengah mengalami krisis? Apakah luka masa lalu terus menyiksa diri anda, merantai kaki anda sehingga tidak bisa melangkah maju? Apakah anda sakit dan obat-obatan sepertinya gagal untuk menyembuhkan anda? Apakah anda tengah terjepit dalam masalah keuangan? Apakah anda merasa gagal melihat keluarga anda berantakan? Apakah kebiasaan buruk anda telah mengikat anda begitu erat? Apakah anda merasa telah mengerahkan seluruh kemampuan tapi belum juga ada hasil yang dicapai? Jangan patah semangat, melainkan bersukacitalah, karena ketika kekuatan manusiawi berakhir, kuasa Tuhan justru menjadi sempurna atas kita! Tuhan Yesus berkata, "Jangan takut, percaya saja!" (Markus 5:36). Ini berbicara mengenai iman yang teguh yang mampu percaya bahwa kemustahilan itu tidak terdapat dalam kamus Tuhan. Jika memang sulit untuk merubah pola pikir dan pandangan kita dengan kemampuan sendiri, ingatlah bahwa sosok Penolong telah dikaruniakan pula kepada kita. Ada kuasa Roh Kudus yang bisa memampukan kita mengubah pandangan, lepas dari belenggu luka masa lalu dan bisa mengalami pemulihan citra diri. Mungkin kita lemah dan tidak mampu, tapi Roh Kuduslah yang akan memampukan. Roh Kudus akan selalu melimpahkan kita dalam pengharapan sehingga tidak lekas menyerah. "Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan." (Roma 15:13). Dan ketika kita menerima kuasa Roh Kudus inilah kita akan mampu menjadi kesaksian bagi semua orang, tentang bagaimana kuasa Tuhan mampu menuntaskan hal yang paling mustahil sekalipun di mata manusia. "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah Para Rasul 1:8). Kata "kuasa" dalam versi bahasa Inggris dirinci menjadi "ability, efficiency and might". Kemampuan, efisiensi dan kekuatan. Semua ini sangatlah berguna bagi kita untuk lepas dari beban, dan itu telah disediakan oleh Roh Kudus. Karenanya, apapun masalah yang tengah menimpa anda hari ini, sejauh manapun citra diri anda telah rusak akibat goresan luka masa lalu dan pengalaman pahit, bangkitlah dan percayalah saja! Anugerah Tuhan sesungguhnya cukup bagi anda.

Begitu kekuatan manusia berakhir, kuasa Tuhan menjadi sempurna

Friday, November 13, 2009

Pandanglah ke Atas

Ayat bacaan: Ibrani 12:3
===================
"Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa."

pandanglah ke atasSungguh kita adalah manusia yang terbatas dan punya banyak kelemahan. Manusia bukanlah Tuhan yang punya kuasa tidak terbatas. Kita punya batas, kelebihan kita pun ada batasnya. Kelemahan? Banyak. Tidak ada satupun manusia yang mampu melakukan segalanya. Sehebat-hebatnya kita, pada suatu saat kita akan bertemu dengan batas-batas dimana kita tidak lagi mampu berbuat sesuatu. Seringkali apa yang bisa membuat perbedaan bukanlah kuat atau hebatnya kita, tapi sejauh mana kita punya semangat untuk terus berjuang, sejauh mana kita punya pengharapan, dan sekuat apa kita berakar dan bertumbuh di dalam Tuhan. Seperti yang telah saya tulis kemarin, seringkali kita lebih memilih untuk memanjakan perasaan negatif kita dan mengasihani diri terus menerus secara berlebihan. Bayangkan jika seorang atlit tidak lagi punya semangat untuk berjuang kemudian memilih untuk menundukkan kepalanya. Di saat seperti itulah atlit itu tidak lagi berbahaya dan akan mudah untuk dikalahkan. Memandang ke bawah, ke kiri, kanan, muka, belakang, kita akan menjumpai bahwa ada banyak tekanan yang cepat atau lambat akan melemahkan kita. Berita buruk, hinaan, godaan, ejekan, semua itu bisa meracuni hati kita, sehingga kita, manusia yang lemah ini, sewaktu-waktu bisa dikalahkan oleh tekanan demi tekanan tersebut. Suara saya tidak cempreng, wajah saya tidak cantik, saya bodoh, saya miskin, saya tidak lengkap, dan sebagainya, itu bisa menjadi titik-titik lemah untuk diserang dari segala arah jika kita mempercayai bahwa kita memang seburuk itu. Memilih untuk memandang pada kelemahan tidak akan pernah bisa membuat kita kuat. Apalagi jika Tuhan sendiri telah mengatakan bahwa kita ini terlukis di telapak tangan dan berada di ruang mataNya (Yesaya 49:16), bahkan dikatakan berharga dan mulia di mataNya, begitu dikasihiNYa (Yesaya 43:4), mungkinkah kita memang ditakdirkan untuk menjadi seorang pecundang? Orang yang harus mengasihani bahkan mengutuk dirinya sendiri setiap saat? Tentu tidak bukan? Jika demikian, apa yang harus kita lakukan?

Kemarin kita sudah melihat bahwa kita harus terus memusatkan atau mengarahkan pandangan kepada Yesus. Hari ini mari kita melihat lebih jauh alasan bagi kita untuk mengalahkan tekanan-tekanan dan serangan yang mengarah kepada titik-titik lemah kita dengan terus memandang ke atas. Penulis Ibrani berkata "Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa." (Ibrani 12:3) Dari ayat ini kita bisa melihat apa yang terjadi jika kita mengalihkan pandangan dari Kristus dan terus membiarkan diri kita untuk dihujani oleh kekuatan-kekuatan negatif, maka akibatnya yang terjadi adalah kita akan menjadi lemah dan putus asa. Padahal Yesus sudah menyelesaikan semuanya. Haruskah karya penebusan Kristus itu menjadi sia-sia bagi kita?

Dalam Markus 4 kita melihat sebuah perumpamaan yang sangat jelas mengenai hal ini yaitu tentang firman Tuhan yang jatuh pada semak duri. Ayatnya berbunyi demikian: "Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah." (Markus 4:18-19). Semak duri menggambarkan hati manusia yang penuh onak dan duri, dipenuhi kekhawatiran dunia, tipu muslihat dalam hal kekayaan dan keinginan-keinginan duniawi lainnya, yang merintangi hati kita seperti duri yang tumbuh subur di atasnya. Tuhan Yesus berkata bahwa bila kekhawatiran dunia seperti ini merasuki hati dan pikiran kita, maka itu akan menghimpit benih firman yang ditabur ke dalam hati kita, sehingga firman itu pun tidak bisa berbuah. Jika ini terjadi, iman kita akan menjadi layu, dan jika ini terjadi, kita pun akan menghadapi masalah serius.

Sekali lagi, apa yang dapat kita lakukan untuk menghentikan pengaruh negatif atau reaksi kelemahan ini? Pandanglah ke atas! Tegakkan kepala kita, dan arahkan kembali pandangan kita kepada Yesus yang akan terus menyempurnakan iman kita. Ingatlah akan Dia, bukan ingat kepada segala kekhawatiran dunia dan tekanan-tekanan yang menerpa kita. Ingatlah kepada apa yang diucapkan Tuhan lewat firman-firmanNya. Itu semua adalah buah pikiran Tuhan yang telah diberikan kepada kita, dan biarkanlah itu menggerakkan pikiran dan mengisi penuh hati kita. Jadikan buah pikiran Tuhan itu menjadi dasar pemikiran kita.

Bagaimana jika berbagai tekanan dan hal-hal negatif itu sudah terlebih dahulu meracuni kita? Firman Tuhan berkata "Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu." (1 Petrus 5:7). Mungkin kita memiliki banyak kekhawatiran, mungkin kita menelan banyak ejekan, mungkin kita mengalami berbagai peristiwa tidak menyenangkan di masa lalu, mungkin kita trauma, merasa rendah, tidak berguna dan sebagainya, namun tidak satupun dari itu yang bisa mengganggu kita apabila kita mengarahkan pandangan kita bukan kepada masalah-masalah itu melainkan melihat ke atas, mengarah kepada Kristus, karena "damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus." (Filipi 4:7). Ingatlah bahwa sumber dari segalanya adalah Tuhan dan bukan dunia ini. Tuhan sanggup memelihara kita semua tanpa menghiraukan apapun yang pernah, sedang dan akan terjadi di sekeliling kita. Biar bagaimanapun, kita sungguh berharga di mataNya dan sangat dikasihiNya.

Jika hari ini anda merasa lemah, mulailah menegakkan kepala anda. Angkatlah mata anda dan mari pandang Dia. Tuhan ada di atas dan bukan di bawah. Iblislah yang ada di bawah kita, tepat di bawah kaki kita. (Roma 16:20). Karenanya, pandanglah ke atas, dan ingatlah bahwa dalam buah pikiran Tuhan, kita semua adalah anak-anakNya yang sangat berharga dan sangat Dia kasihi.

Tuhan ada di atas, karenanya pandanglah ke atas

Thursday, November 12, 2009

I'm A Loser...

Ayat bacaan: 1 Korintus 10:10
======================
"Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut."

loser, pecundang"I'm such a loser.. my life sucks.." kata seorang teman pada suatu hari. Setelah berbincang-bincang dengannya, ternyata masalahnya sepele saja. Tidak ada sesuatu yang begitu berat sehingga dia pantas untuk merasa sebagai pecundang, apalagi merasa bahwa hidupnya mengecewakan. Ada banyak di antara kita yang cenderung memanjakan perasaan negatif ketimbang mengisi diri kita dengan hal-hal yang positif. Kita seolah terbuai dan terus terbenam menikmati kenegatifan diri kita, lebih memilih untuk menikmati rasa sakit yang padahal sama sekali tidak menyenangkan daripada menggantikan itu semua dengan memandang segala sesuatu yang telah Tuhan berikan bagi kita. Tidak heran yang keluar hanyalah sungut-sungut, keluhan, tangisan dan sebagainya, karena hanya itu yang memenuhi hati dan pikiran kita. Buah mangga datang dari pohon mangga, tidak akan pernah dari pohon apel. Demikian pula buah sungut-sungut akan keluar dari hati yang berakar kuat pada kenegatifan, tidak akan pernah keluar dari hati yang memandang Tuhan. Mengasihani diri berlebihan, merasa kita orang termalang di dunia, merasa bahwa inilah akhir dari hidup, menganggap bahwa kita tidak akan pernah merasa bahagia, bukanlah sesuatu yang diinginkan Tuhan untuk memenuhi perasaan hati anak-anakNya.

Bersungut-sungut alias mengeluh tidaklah asing lagi bagi bangsa Israel pada jaman dahulu. Betapa kasihannya Musa ketika harus setiap hari mendengarkan berbagai keluhan, sindiran, cercaan dari bangsa "tegar tengkuk" ini selama puluhan tahun. Dalam perjalanan menuju tanah terjanji Kanaan mereka terus mengeluh mengenai berbagai hal. "Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini." (Keluaran 14:12). "ah, kalau tahu begini, mending tetap tinggal di tanah terjajah..lebih baik jadi budak deh. Untuk apa kamu bawa kami menderita seperti ini?" seperti itulah kira-kira salah satu bentuk keluhan mereka. Mereka fokus kepada sisi yang salah, kepada masalah dan bukan kepada apa yang menjadi janji Tuhan. Mereka lupa bahwa jika Tuhan yang berkehendak, Dia pula yang akan menyediakan. Perjalanan di padang gurun yang sudah panas semakin bertambah panas saja oleh sikap mereka yang terus protes. Demikian pula soal makan yang dicatat dalam Bilangan 11. Mereka mengeluh tidak bisa makan daging, mungkin ditambah buah-buahan, steak, ikan, ayam dan sebagainya. Itu mereka anggap jauh lebih nikmat ketimbang manna yang disediakan Tuhan secara langsung dari singgasanaNya di Surga. Tiang awan, tiang api, membelah Laut Teberau dan sebagainya, tidakkah itu mukjizat luar biasa yang mengharukan? Mengapa masih juga sulit untuk mengucap syukur? Bayangkan, sudah disediakan Tuhan langsung tapi tidak juga bisa bersyukur dan masih menuntut lebih? Jika kita saat ini geleng-geleng kepala melihat sejarah bangsa Israel, tidakkah hari ini kita pun masih demikian?

Mengarahkan fokus ke sudut yang salah akan membentuk kita menjadi umat Tuhan yang salah pula. Semakin lama kita akan semakin sulit melihat sesuatu yang baik, sebaliknya akan semakin pintar mencari kekurangan dalam hidup kita. Tidak itu saja, kita pun akan semakin iri melihat orang lain, dan selalu membandingkannya dengan diri kita. Padahal Tuhan jelas telah banyak memberikan kita anugerah dan berkatNya yang selalu baru setiap pagi. Apa yang terjadi pada bangsa Israel pada waktu itu sesungguhnya jelas. Allah menjadi marah dan tidak satupun dari angkatan mula-mula yang akhirnya masuk ke tanah terjanji, kecuali Kaleb yang memang berbeda imannya dari orang Israel lainnya. Bersungut-sungut mungkin awalnya sepele, kita sering melakukannya sambil lalu, tapi lama-lama bisa berkembang serius bahkan merubah pola pikir kita hingga merusak citra diri kita. Paulus mengingatkan untuk belajar dari pengalaman bangsa Israel. "Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut." (1 Korintus 10:10). Hendaklah kita belajar dari pengalaman mereka dan menjadikannya sebagai peringatan. (ay 11). Sungguh bersungut-sungut ini merupakan produk yang merugikan bahkan mengerikan karena dapat menghancurkan kita berkeping-keping. Orang-orang dalam jangka waktu lama sudah terbuai dalam pikiran negatif dan hanya berkubang pada kekurangan atau masalah saja seringkali menjadi sulit untuk dipulihkan. Karenanya sebelum menjadi penyakit kronis, berubahlah dari sekarang. Yakobus pun mengingatkan hal ini: "Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu." (Yakobus 5:9). Selain merusak diri kita sendiri, menghancurkan citra diri kita, meluluhlantakkan percaya diri dan masa depan kita, di akhir kita pun akan mendapat hukuman. Bayangkan, sudah menderita di dunia masih juga ada hukuman yang menanti. Ini akan hadir jika kita memiliki gaya hidup bersungut-sungut, selalu iri pada keberhasilan orang lain dan terus mengasihani diri berlebihan. Apa untungnya jika demikian? Tidak ada bukan? Lalu untuk apa kita terus berlaku demikian?

Arahkanlah pandangan ke arah yang benar. Fokuslah kepada Tuhan, bukan kepada masalah. Lihat kunci Paulus dan rekan-rekan sepelayanannya dalam menghadapi tantangan yang tidak mudah. "Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal." (2 Korintus 4:18). Hal inilah yang membuat Paulus dan teman-teman tidak patah, tidak goyah, tidak iri kepada kenyamanan orang lain, tidak mengalami kehancuran dan masih terus mampu bersukacita dalam damai. Mengeluh dan bersungut-sungut sesungguhnya bisa membuat kita kehilangan damai sejahtera. Mengeluh dan bersungut-sungut akan membuat kita tidak mampu melihat berkat Tuhan, apalagi menikmati. Terlalu sibuk mengeluh pada hal-hal sepele dan kecil akan membuat kita buta akan hal-hal besar yang telah dan akan terus Tuhan sediakan bagi kita. Apakah hari ini anda masih disibuki oleh keluhan-keluhan seputar apa yang belum anda miliki ketimbang apa yang sudah anda miliki? Gantilah fokus ke arah yang benar, dan bersyukurlah untuk segala sesuatu yang telah Tuhan berikan bagi anda.

Bersungut-sungut selain merusak citra diri dan masa depan juga mengarah kepada hukuman dan kebinasaan

Wednesday, November 11, 2009

Hati Yang Murni

Ayat bacaan: Matius 5:8
====================
"Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah."

hati yang tulus, murni, suciApa yang ada di dalam hati kita ketika kita mengulurkan tangan kita untuk membantu orang-orang yang kekurangan, ketika kita melayani Tuhan dan melakukan pekerjaanNya? Banyak yang melayani, namun tidak seluruhnya memiliki kondisi hati yang sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan. Ada orang yang dengan tulus sungguh-sungguh melayani karena mengasihi Tuhan, tapi ada pula orang yang melayani karena ingin membesarkan dirinya sendiri. Ingin terlihat hebat, ingin terlihat rohani, ingin menonjolkan kemampuan dan sebagainya. Ada pula yang karena ingin menarik perhatian kekasihnya, karena paksaan orang tua, ingin mendapat pujian dan lain-lain. Ada pula yang melayani karena hanya ingin mendapatkan upah dari Tuhan. Betapa banyaknya motivasi yang bisa menjadi dasar dari pelayanan dan perbuatan yang kita lakukan untuk orang lain. Tuhan tentu menghargai pelayanan kita, namun itu hanya terjadi apabila kita melakukannya dengan tulus, dengan hati yang murni.

Salah satu ucapan Kristus dari rangkaian kotbahNya di atas bukit yang terkenal berbunyi seperti berikut: "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah." (Matius 5:8). Dalam bahasa Inggrisnya, kata hati suci ini disebutkan dengan "pure heart". Hati yang murni akan membuat kita melihat Allah. Melihat kuasa-kuasaNya, melihat jalan-jalanNya, melihat petunjukNya dan melihat rencanaNya. Ini sejalan dengan apa yang ditulis oleh Daud. "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia." (Mazmur 24:4-5). Sesungguhnya Tuhan menyediakan upah kepada orang-orang yang memiliki ketulusan, kemurnian atau kesucian hati. Ada berkat dan keadilan serta keselamatan yang diberikan Tuhan kepada orang-orang yang demikian. Tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, termasuk menipu diri sendiri dan orang lain atau bahkan berpikir untuk bisa mengelabui Tuhan. Orang-orang yang memiliki ketulusan untuk melakukan firman Tuhan, menolong sesama, mengasihi sesama, melayani tanpa pamrih, bukan karena berharap apa-apa dan ingin terlihat seperti apa di mata orang, tapi hanya karena Allah, orang-orang seperti inilah yang akan menikmati perlindungan dari Tuhan dan berbagai berkat-berkatNya yang tercurah dari langit.

Hati yang tulus dan suci ini bisa kita dapatkan lewat pengenalan kita secara pribadi akan Tuhan, lewat firman-firmanNya yang tertulis dalam alkitab dan juga lewat doa-doa kita secara pribadi dengan Tuhan. Bergaul akrab dengan Tuhan, tinggal di dalam hadiratNya, semua ini akan membuat kita bisa memiliki sebentuk hati yang mengasihi Tuhan lebih dari segalanya. Bukan sekedar doa karena rutinitas, karena terpaksa, atau karena sekedar kewajiban saja, bukan pula doa yang berupa hafalan. Mencurahkan isi hati kita secara total kepada Tuhan dengan sejujur-jujurnya akan sangat berbeda dibandingkan doa berbentuk hafalan atau sekedar rutinitas semata. Disitulah kita akan mengalami proses pencucian dan pemurnian hati. Hari demi hari kita akan semakin terbentuk menjadi pribadi berkarakter yang kuat berakar pada Kristus. Dan hari demi hari kita pun akan semakin mampu melayani dengan ketulusan dan kemurnian hati. Inilah yang akan bernilai di hadapan Tuhan.

Tuhan tidak menyukai orang-orang yang munafik dalam hal apapun. Dalam hal memberi: "Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." (Matius 6:2-4). Dalam hal berdoa: "Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya....Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan." (ay 5,7). Atau dalam hal berpuasa: "Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya." (ay 16). Munafik bertolak belakang dengan tulus dan murni, karena dalam kemunafikan ada begitu banyak motivasi yang tersembunyi di balik layar yang mencemarkan hati kita.

Mari hari ini kita sama-sama memeriksa hati kita. Sudahkah kita memiliki hati yang tulus, suci dan murni dalam menjalani hidup? Apakah kita sudah melayani dengan tulus ikhlas hanya karena Tuhan dan bukan hal-hal yang memegahkan diri kita sendiri? Pemazmur mengatakan "Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya." (Mazmur 73:1). Sesungguhnya ada berkat-berkat dan perlindungan yang disediakan Tuhan kepada orang-orang yang tulus dan bersih hati ini. Itu adalah anugerah Tuhan yang dengan sendirinya akan datang kepada orang seperti ini tanpa harus ditagih terlebih dahulu. Dasarkanlah segala sesuatu yang kita lakukan dengan hati yang bersih dan tulus, suci dan murni agar kita bisa merasakan kebaikan Tuhan senantiasa menyertai kita dalam hidup. Karena akan sia-sia saja kita berbuat baik dan melayani apabila hati kita masih mengalami polusi dari berbagai limbah yang bukan berasal dari Allah. Munafik akan menerima upah, tulus dan murni pun menerima upah. Tapi upahnya jelas berbeda. Yang mana yang akan kita pilih sungguh tergantung dari bagaimana sikap dan kondisi hati kita. Sungguh tepat jika Salomo pun mengingatkan : "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23). Adakah hati kita masih mengalami pencemaran dari berbagai hal? Mari kita bersihkan dengan lebih bertekun lagi membina hubungan dengan Tuhan. Milikilah hati yang suci, karena hanya dengan demikianlah kita bisa melihat Tuhan.

Alami kebaikan, penyertaan, berkat dan perlindungan Tuhan lewat hati yang tulus, bersih, suci dan murni