Tuesday, November 10, 2009

Jadi Teladan

Ayat bacaan: Titus 2:7
==================
"dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu"

jadi teladan, keteladananMeski bukan merupakan singkatan, guru sering diasosiasikan sebagai yang digugu dan ditiru. Artinya guru selalu diposisikan sebagai sosok yang patut diteladani oleh anak-anak muridnya dari berbagai aspek. Menjadi seorang guru tidaklah cukup hanya mengajar saja, karena fungsi sebagai pendidik belumlah tercakup dengan sempurna lewat transfer ilmu saja. Jauh lebih dari mengajar ilmu, seorang guru juga harus memperhatikan mengenai pengajaran moral, etika, tata krama dan lain-lain, yang akan sangat berguna bagi perkembangan moral dan mental si anak. Dan tidak cukup sampai disini, guru pun dituntut untuk memberi keteladanan lewat sikap, tindakan dan perbuatan mereka. Jika apa yang mereka ajarkan berbeda dengan sikap yang mereka tunjukkan di sekolah, maka bisa-bisa tidak ada satupun murid yang baik perilakunya.

Menjadi teladan, itu artinya menjadi sosok yang patut ditiru, dijadikan panutan oleh orang lain, atau menjadi role model. Dunia selalu dan akan selalu haus akan keteladanan. Tidak akan ada batas maksimal dari masa ke masa. Dalam sejarah dunia kita menemukan banyak teladan, dalam alkitab pun demikian. Dari masa lalu ada banyak teladan, di masa sekarang pun banyak, dan di masa depan nanti akan ada lagi teladan-teladan yang bisa kita jadikan panutan untuk menjadi orang yang lebih baik. Pertanyaannya, apakah kita sudah siap dan sanggup menjadi teladan? Mengapa harus kita, tidakkah cukup orang lain saja yang kita teladani? Alkitab mencatat bahwa kita semua diminta untuk tampil menjadi teladan-teladan dalam banyak hal mulai dari perbuatan baik hingga iman. Ayat bacaan hari ini menyatakan salah satu firman Tuhan yang mengingatkan kita untuk selalu berusaha untuk menjadi teladan terutama dalam hal berbuat baik."Dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu" (Titus 2:7). Kita bisa melihat disini bahwa transfer ilmu dan memberi pengajaran secara teoritis saja tidak akan pernah cukup. Kita harus meningkatkan level kita pula hingga kita bisa menunjukkan apa yang kita ajarkan melalui perbuatan nyata dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak hanya teori, namun praktek itu penting. Semua yang kita ajarkan hanyalah teori kosong, buta atau bohong jika kita hidup bertentangan dengan apa yang kita ajarkan/wartakan.

Berulang kali Yesus mengingatkan kita untuk meneladani Dia. Yesus mengajarkan banyak hal tentang kasih, tapi Dia tidak berhenti sampai pada pengajaran saja, melainkan menunjukkan pula lewat sikap hidupNya secara nyata. Lihatlah sebuah contoh dari perkataan Yesus sendiri ketika ia mengingatkan kita untuk merendahkan diri kita menjadi pelayan dan hamba dalam Matius 20:26-27. Yesus berkata: "sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (ay 28). Apa yang diajarkan Yesus telah Dia contohkan pula secara nyata. Pada kesempatan lain, Lalu pada kesempatan lain Yesus berkata: "Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu." (Yohanes 15:12). Yesus mengasihi kita sebegitu rupa sehingga Dia rela memberikan nyawaNya untuk menebus kita semua. "Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya." (ay 13). Yesus pun telah membuktikan langsung lewat karya penebusanNya. Inilah sebuah keteladanan yang sejati.Ini baru dua contoh dari banyak pesan Yesus agar kita tampil meneladani sosoknya dan kemudian menjadi teladan pula bagi banyak orang.

Kepada Timotius, Paulus mengingatkan pula mengenai pentingnya keteladanan dalam pelayanan. "Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." (1 Timotius 4:12) Lihat bahwa masalah menjadi teladan tidak hanya urusan orang-orang tua atau dewasa saja, tapi sejak muda pun kita sudah dituntut untuk bisa menjadi teladan bagi orang-orang di sekitar kita dalam berbagai hal. Perbuatan baik dalam ayat bacaan hari ini digambarkan Paulus dengan menjaga perkataan, menjaga tingkah laku, terus mengasihi, berlaku setia dan hidup suci/kudus. Lebih jauh lagi, Yesus pun mengingatkan kita agar menjadi teladan bagi banyak orang dimana Tuhan dipermuliakan. Terang Tuhan yang ada pada diri kita hendaklah bisa dipancarkan hingga bercahaya bagi banyak orang."Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 5:16) Ini pun bentuk gambaran dari bentuk keteladanan.

Tidak ada jalan lain bagi kita selain harus terus berusaha menjaga kehidupan kita, tindakan, perbuatan dan tingkah laku kita sesuai dengan firman Tuhan. Ingatlah bahwa apapun yang kita perbuat akan selalu mendapat perhatian orang lain, dan tentunya oleh Tuhan sendiri. Apakah kita bisa menjadi terang yang bercahaya bagi banyak orang, garam yang memberi rasa kepada dunia yang tawar, atau kita malah menjadi batu sandungan bagi orang lain, semua itu tergantung dari sejauh mana kita mau belajar menjadi teladan. Melakukan segala firman Tuhan yang telah kita baca secara nyata lewat perbuatan kita. Tuhan seperti apa yang kita pertontonkan kepada orang banyak? Tuhan yang penuh kasih, tidak memandang hina siapapun, tidak meninggalkan yang menderita, tidak membeda-bedakan orang, atau Tuhan yang eksklusif, pilih kasih, egois, kasar, penuh kecurigaan dan lain-lain? Apapun yang kita jalani saat ini, ingatlah selalu bahwa kita tidak hidup untuk diri sendiri saja. Ada orang lain di sekitar kita, ada lingkungan di sekeliling kita yang butuh warna cerah, butuh keteladanan. Siapkah kita untuk memberkati orang lain dan mewarnai dunia dengan perbuatan-perbuatan penuh kasih yang mencerminkan Tuhan secara benar? Jika demikian, jadilah teladan yang sejati.

Jadilah teladan sejak usia muda dimana Tuhan selalu dipermuliakan lewat perbuatan-perbuatan kita

Monday, November 9, 2009

Aku Bisa!

Ayat bacaan: 1 Samuel 17:26
=======================
"Lalu berkatalah Daud kepada orang-orang yang berdiri di dekatnya: "Apakah yang akan dilakukan kepada orang yang mengalahkan orang Filistin itu dan yang menghindarkan cemooh dari Israel? Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan dari pada Allah yang hidup?"

tidak ada yang mustahil, aku bisaChester Floyd Carlson pada mulanya adalah seorang pengacara hak paten. Bermula dari kesulitan-kesulitannya dalam bekerja, dimana ia harus menyalin dan mengetik ulang semua hak paten yang didaftarkan kepadanya, ia mulai berpikir untuk mencari alternatif yang lebih baik, yang mampu membuatnya bekerja dengan lebih cepat, lebih efektif dan efisien. Mengetik ulang semuanya tentunya menyita waktu, memakai kopi karbon atau dikenal juga dengan "wet copy" pada saat itu pun rasanya masih membuang banyak waktu. Carlson berpikir seperti ini: "I thought the possibility of making an invention might kill two birds with one stone; it would be a chance to do the world some good and also a chance to do myself some good." Carlson berpikir jauh lebih luas daripada kepentingannya sendiri. Di satu sisi ia berpikir untuk meringankan dan mempercepat kerjanya, di sisi lain dia ingin membuat sesuatu yang berguna bagi dunia. Dengan serangkaian percobaan dan usaha, ia pun kemudian berhasil membuat sebuah mesin fotokopi pada tahun 1937. Bertahun-tahun ia gagal dalam memasarkan produknya. Beberapa perusahaan besar saat itu seperti IBM atau US Army Signal Corps pun ternyata tidak berminat, karena menurut mereka penemuan Carlson itu tidak bakal laku di pasaran. Tapi Carlson tidak putus asa. Akhirnya pada tahun ke delapan dari usahanya, sebuah perusahaan bernama Haloid Company tertarik, dan itulah yang menjadi awal dari terbentuknya Xerox, mesin fotokopi yang hingga hari ini masih menjadi jaminan mutu. Bagaimana jika Carlson punya pribadi yang gampang menyerah? mungkin hari ini kita masih harus menyalin segala sesuatunya dengan manual atau masih mempergunakan cetak karbon yang basah dan gampang luntur. Karena semangatnya tidak gampang patah, kita pun bisa menikmati fasilitas yang begitu banyak meringankan kita dan menghemat waktu.

Beribu-ribu tahun sebelumnya kisah yang kurang lebih sama pernah terjadi. Pada saat itu ada seorang raksasa bernama Goliat, yang tingginya saja sudah menyeramkan, kira-kira tiga meter. Dia adalah tentara jagoan dari kelompok Falistin, yang dilengkapi pula dengan baju perang dari tembaga dan senjata berupa lembing. Mata tombaknya saja seberat 7 kilogram, plus sebuah perisai. Tidaklah mengherankan jika ia memandang rendah bangsa Israel yang kecil-kecil dengan peralatan perang yang tidak selengkap dirinya. "Ia berdiri dan berseru kepada barisan Israel, katanya kepada mereka: "Mengapa kamu keluar untuk mengatur barisan perangmu? Bukankah aku seorang Filistin dan kamu adalah hamba Saul? Pilihlah bagimu seorang, dan biarlah ia turun mendapatkan daku." (1 Samuel 17:8). Mendengar itu, ketakutanlah Saul dan prajuritnya. (ay 11).

Pada saat itu terdapatlah Daud, seorang bocah yang kerjanya sehari-hari hanya menggembalakan domba ayahnya. Berbeda dengan reaksi prajurit-prajurit dewasa, ternyata Daud tidak gentar, dan merasa terbakar mendengar ejekan demi ejekan yang dilontarkan Goliat. Sontak ia berkata "Lalu berkatalah Daud kepada orang-orang yang berdiri di dekatnya: "Apakah yang akan dilakukan kepada orang yang mengalahkan orang Filistin itu dan yang menghindarkan cemooh dari Israel? Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan dari pada Allah yang hidup?" (ay 26). Prajurit perang saja takut, berani-beraninya anak kecil ini bicara begitu? Tidak ada yang percaya, termasuk Saul. "Tetapi Saul berkata kepada Daud: "Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit." (ay 33). Tidak hanya dari pihak Israel, tapi dari pihak Goliat dan Filistin pun mengejeknya. "Orang Filistin itu berkata kepada Daud: "Anjingkah aku, maka engkau mendatangi aku dengan tongkat?" Lalu demi para allahnya orang Filistin itu mengutuki Daud." (ay 43). Apakah Daud omong besar dan menyombongkan diri? Sama sekali bukan. Kita lihat Daud menjawab Saul sebagai berikut "Pula kata Daud: "TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu." (ay 37). Dan kepada Goliat, Daud berkata "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu." (ay 45). Daud yakin karena ia percaya bahwa Tuhan ada besertanya. Jika Tuhan telah berkali-kali menyatakan kuasaNya untuk melepaskan Daud dari hewan-hewan liar dan buas yang ingin memangsa ternaknya, maka untuk menghadapi Goliat pun Tuhan pasti bisa. Ini iman Daud kecil. Kita tahu apa yang terjadi sesudahnya. Daud dengan gemilang mengalahkan Goliat hanya berbekal satu batu dan ketapel. (Ay 50).


Overcoming the odds, mengatasi kemustahilan, ini bukanlah omong kosong dan bisa terjadi kepada siapapun, termasuk kita, apabila kita melibatkan Tuhan di dalamnya. "Aku tidak bisa?" Mungkin ya, tapi bersama Tuhan kalimat itu seharusnya diganti dengan "Aku Bisa!". Sepanjang sejarah kekristenan bahkan hingga hari ini kita menyaksikan sendiri bagaimana mukjizat Tuhan sanggup bekerja melewati batas nalar atau kemampuan logika manusia. "Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil" (Lukas 1:37), dan dengan demikian "Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!" (Markus 9:23). Ini berlaku bagi siapapun yang percaya, termasuk anda dan saya. Karena itu tidak ada alasan bagi kita untuk menyerah dalam menghadapi masalah, terus tenggelam dalam kegagalan dan sulit untuk maju, terikat dalam berbagai trauma yang membuat kita tidak berani mencoba untuk bangkit. Kita boleh saja gagal, orang boleh saja mencemooh kita, namun itu bukanlah akhir dari segalanya. Kita tidak boleh menyerah dan kehilangan pengharapan. Penulis Amsal berkata "Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana." (Amsal 24:16) Agar tidak gampang patah ketika menghadapi proses, lakukanlah itu semua dengan mata yang tertuju pada Yesus (Ibrani 12:2) dan "Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa." (ay 3). Apapun yang tantangan atau hambatan yang kita hadapi saat ini, hadapilah dengan semangat tinggi dan iman yang kuat. Bersama Tuhan, apa yang tidak bisa bagi pandangan dunia akan menjadi nyata. Saat ini mungkin semuanya terlihat tidak mungkin, saat ini mungkin kita sudah lelah disepelekan, tapi percayalah bahwa Tuhan mampu membuat perkara-perkara besar dalam hidup anda. Karena bagiNya, tidak ada yang mustahil.

Overcoming the odds is possible when God dwells within you

Sunday, November 8, 2009

Anak Raja Berhati Hamba

Ayat bacaan: Matius 20:26
=====================
"Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu; dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu"

anak raja berhati hambaSetiap membaca lowongan kerja di koran saya sering tersenyum sendiri. Betapa job requirement yang ada di Indonesia ini begitu mementingkan gelar ketimbang kemampuan. Untuk menjadi counter sales saja sudah banyak yang membutuhkan S1. Lalu kemana D3 atau mungkin lulusan SMA yang punya kemampuan yang karena satu dan lain hal tidak/belum bisa melanjutkan hingga meraih gelar sarjana? Dalam sebuah iklan lowongan pekerjaan saya pernah merasa bingung melihat permintaan mereka. Sarjana, usia maksimal 25 tahun, pengalaman minimal 3 tahun. Artinya yang mereka butuhkan adalah orang yang lulus kuliah di usia 22 tahun dan langsung bekerja. Serius atau tidak sih? Tapi memang seperti itulah gambaran lowongan pekerjaan yang ada sekarang. Kesimpulannya, apa yang dibutuhkan oleh perusahaan biasanya adalah orang yang berpendidikan cukup, punya pengalaman dan memiliki kemampuan.

Seandainya Yesus menulis iklan di koran, apa kira-kira yang akan Dia tulis? Sepertinya bukan gelar, tingkat pendidikan atu bukan juga pengalaman. Apa yang Dia akan minta adalah hati yang mau melayani, hati seorang hamba yang mau merendahkan diri sedemikian rupa untuk melayani orang lain, bahkan yang paling hina sekalipun. Mari kita lihat Matius 20:20-28. Pada suatu hari datanglah ibu dari anak-anak Zebedeus bersama kedua anaknya, yaitu Yakobus dan Yohanes, yang keduanya diberi Yesus julukan Boanerges atau anak-anak guruh. (Markus 3:17). Kedatangan sang ibu adalah demi memohon kepada Yesus agar kedua anaknya bisa beroleh kedudukan yang baik kelak di Kerajaan surga. Ini permintaan wajar dari seorang ibu yang sayang anak-anaknya. "Kata Yesus: "Apa yang kaukehendaki?" Jawabnya: "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu." (Matius 20:21). Yesus lalu menjawab, kata-Nya: "Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?" (ay 22a). Yesus berbicara mengenai kesanggupan mereka untuk mengikuti Kristus dan untuk memikul salib, turut minum dari cawan penderitaan yang harus Dia minum. Ini sejalan dengan pesan Kristus bahwa siapapun yang mau mengikuti Kristus haruslah siap untuk menyangkal dirinya sendiri dan memikul salib. (Markus 8:34,Lukas 9:23). Sebab, "Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku." (Matius 10:38). Yohanes dan Yakobus pun menjawab bahwa mereka sanggup. Lalu Yesus menegaskan bahwa perihal siapa yang duduk di kiri dan kanan Kristus itu bukanlah hakNya, tapi merupakan hak Tuhan sepenuhnya. (ay 23). Tapi jika ingin menjadi besar dan terkemuka, Yesus memberikan petunjuk penting. Yesus berkata, ketika pemerintah-pemerintah yang tidak mengenal Allah akan memerintah dengan tangan besi, menekan rakyatnya dengan keras karena mereka berkuasa, sebagai pengikut-pengikut Kristus tidaklah boleh demikian. "Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu" (ay 26-27). Yesus menegaskan bahwa untuk mencapai posisi yang baik, seseorang haruslah rela menjadi pelayan dan memiliki hati seorang hamba. Sebab, "sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (ay 28).

Jika kita ingin besar dan terdepan di antara pengikut-pengikut Kristus, kita bukannya harus meninggikan diri kita dalam kekuasaan, tapi justru kita harus semakin merendahkan diri kita hingga menjadi seorang pelayan dan hamba. Petrus dikemudian hari mengingatkan kembali tentang hal ini, "Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya" (1 Petrus 5:6). The only way up is down. Ini prinsip Kerajaan Surga. Kita anak-anak Tuhan menyandang status sebagai anak Raja, Raja diatas segala raja. Tapi Kerajaan Surga tidaklah seperti kerajaan di dunia, dimana siapa mereka bisa berkuasa secara absolut sesuka hatinya karena punya kuasa untuk itu. Dalam Kerajaan surga justru kita diminta untuk memiliki kerendahan hati, mau melayani orang lain yang paling hina sekalipun dengan sebentuk hati seorang hamba. Maka saya senang menggambarkan diri kita sebagai anak Raja berhati hamba. Memiliki hati hamba dan kerendahan hati untuk melayani berarti pula bahwa kita harus melakukannya dengan penuh kasih, yang menjadi dasar kekristenan. Paulus mengingatkan hal ini: "Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!" (1 Korintus 16:14). Seperti apa bentuk kasih itu? "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.a menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." (1 Korintus 13:4-7). Inilah bentuk kerendahan hati yang harus dimiliki seorang hamba yang mengabdi kepada Tuhan.

Tidak ada syarat lain untuk mengabdi kepada Tuhan di KerajaanNya selain rela untuk menjadikan diri kita sebagai pelayan. It's not about how high we rise, but it's about how low we go down. Hanya orang dengan sikap seperti inilah yang akan mampu memuaskan Tuhan, Raja diatas segala raja. Sudahkah kita memiliki sikap anak Raja yang benar, yaitu sikap yang melayani dengan hati hamba?

Pelayan yang baik akan mementingkan kehendak tuannya bukan dirinya sendiri

Saturday, November 7, 2009

Hanya Satu Fokus Utama

Ayat bacaan: Matius 6:24
====================
"Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."

fokus utama, prioritas, Tuhan, mamonAda beberapa orang yang sanggup melakukan beberapa hal sekaligus dalam satu waktu yang sama. Misalnya browsing di internet sambil chatting, sambil menonton televisi, ada yang memanfaatkan waktu makan sambil membaca, dan sebagainya. Biasanya orang menyebut ini dengan multitasking. Tapi meskipun kita sanggup melakukan beberapa hal sekaligus, tetap saja untuk hasil terbaik kita sebenarnya harus fokus berkonsentrasi pada satu "task" saja dalam satu waktu. Jika tidak semuanya akan mendapat hasil yang tidak maksimal, atau mungkin akan memakan waktu yang justru lebih lama daripada menyelesaikannya satu persatu. Ketika santai mungkin saya bisa melakukan beberapa hal sekaligus, dalam artian yang saya kerjakan mungkin hanyalah hal-hal yang santai saja, namun ketika saya harus serius, seperti menulis renungan misalnya, saya harus fokus hanya pada menulis agar pikiran saya bisa terfokus, tidak bercabang-cabang dan hasil tulisannya bisa maksimal.

Dalam kehidupan kita pun demikian. Kita memang anak Raja, tapi kita tidak boleh bersikap sombong karenanya. Saya lebih suka menggambarkan posisi kita sebagai anak Raja yang berhati hamba. Seorang hamba seharusnya mengabdi hanya pada satu tuan saja, tidak boleh lebih. Mengabdi berarti menjadikan sesuatu sebagai fokus utama. Mungkin bisa muncul beberapa tujuan yang ingin diraih, tapi dari sisi derajat atau tingkat kepentingan, tentu ada urutan yang paling atas yang kemudian disusul oleh urutan kedua, ketiga dan sebagainya. Apa yang saat ini tampil pada posisi teratas dalam daftar urut kita? Yesus mengingatkan hal ini dengan jelas lewat ayat bacaan hari ini. "Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." (Matius 6:24). Sesungguhnya manusia memang tidaklah seperti Tuhan yang mampu hadir dimana-mana dan mampu melakukan begitu banyak pekerjaan dalam waktu yang sama dengan hasil yang sempurna. Sebagai manusia kita ini terbatas. Tuhan Yesus menyatakan bahwa kita hanya bisa memilih untuk mengabdi kepada salah satu, kepada Allah atau kepada mamon, alias dewa uang. Mamon disini berarti lebih luas dari uang. Bisa diartikan juga sebagai harta kekayaan atau segala sesuatu keduniawian yang kita anggap penting. Jadi mana yang lebih kita dahulukan, apakah Allah atau mamon? Mungkin menjawab hal ini mudah, tapi dalam pelaksanaan seringkali kita menomorsatukan uang/harta ketimbang melayani atau mencari Tuhan. Kita tidak berdoa karena terlalu lelah bekerja, kita memilih untuk beristirahat di hari Minggu ketimbang bersama-sama saudara seiman menyembah Tuhan di gereja, dan sebagainya. "Daripada melayani lebih baik kita bekerja, jika tidak keluarga kita harus makan apa, emang bisa makan pelayanan?" kata seorang teman pada suatu hari. Ini semua menggambarkan bahwa Tuhan berada pada posisi kedua atau bahkan dibawahnya.

Apa yang ditegaskan Yesus adalah jelas, bahwa pengabdian kita kepada Allah, Sang Pencipta yang begitu mengasihi kita sungguh harus total. Tidak boleh terbagi-bagi, tidak boleh berbarengan dengan keduniawian, tidak boleh terpecah, bercabang-cabang dan tidak boleh pula diletakkan pada urutan kedua. Kita memang harus bekerja, mencari nafkah untuk menghidupi keluarga dan diri kita sendiri. Namun itu bukanlah hal yang paling utama, karena cepat atau lambat jika kita fokus kepada harta, kita akan menjadi budak harta pada suatu ketika. Apabila kita khawatir akan kondisi keuangan kita, kita tidak harus menjadi panik lalu bekerja serabutan tanpa memikirkan waktu. Apa yang harus kita lakukan justru sebaliknya, yaitu terlebih dahulu mencari Tuhan, karena Dialah sebenarnya yang menyediakan segala sesuatunya. Demikian firman Tuhan: "Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu." (Matius 6:31-32). Tuhan tahu persis apa yang menjadi kebutuhan kita. Jika demikian apa yang harus kita lakukan? Tuhan Yesus berkata: "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (ay 33). Kita justru harus mendahulukan atau memprioritaskan untuk mencari Kerajaan Allah. Ini berarti menomorsatukan Tuhan dalam kondisi atau situasi apapun. Bukan meninggalkan pekerjaan, meninggalkan keluarga, sahabat dan sebagainya, tapi apa yang dimaksud adalah meletakkan dan mengabdi kepada Tuhan pada prioritas di urutan pertama. Karenanya kita tidak perlu khawatir akan hari esok, seperti apa yang kemudian dilanjutkan Kristus: "Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." (ay 34).

Siapa yang hari ini menjadi tuan dalam diri kita? Siapa yang menjadi fokus utama dalam kehidupan kita? Apakah Tuhan, atau hal lainnya seperti harta, karir, kedudukan, hobi, dan sebagainya? Apakah kita sudah menempatkan Tuhan pada posisi selayaknya di urutan pertama, atau kita masih mencoba untuk meletakkan Tuhan pada urutan yang sama dengan hal-hal lainnya, menempatkan Tuhan pada satu dari sekian posisi multitasking kita? Apa yang paling menyita waktu, tenaga dan pikiran kita, itulah sebenarnya yang menjadi tuan kita. Tuhan begitu mengasihi kita. Kita jauh lebih berharga dibanding segala ciptaannya yang lain. Lihatlah apa kata Daud berikut ini "Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?" (Mazmur 8:4-5). Sampai-sampai Tuhan merelakan anakNya yang tunggal untuk menyelamatkan kita dari kematian akibat dosa-dosa. Maka sudah selayaknyalah jika Tuhan kita prioritaskan pada posisi pertama. Mari kita perhatikan diri kita hari ini, apa yang menjadi prioritas di posisi teratas, dan pastikanlah bahwa Tuhan adalah satu-satunya yang menjadi fokus utama pengabdian kita.

Hamba tidak bisa mengabdi kepada dua tuan, manakah yang kita pilih?

Friday, November 6, 2009

Secangkir Air Sejuk

Ayat bacaan: Matius 10:42
=====================
"Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya."

secangkir air sejuk, melayani, pelayanan, orang kecilBeribadah ke gereja setiap hari Minggu? Pasti. Tapi melayani? Tunggu dulu. Saya kan banyak pekerjaan, masa hari Minggu pun saya harus bekerja? Pikiran seperti ini banyak menghinggapi anak-anak Tuhan. Betapa sulitnya untuk melayani, seolah-olah itu adalah beban berat yang dianggap tidak menghasilkan apa-apa. Tidak terpanggil, tidak berminat, tidak punya kemampuan, tidak berbakat, sudah terlalu sibuk, itu sering juga menjadi alasan untuk menolak. Itu masih melayani di gereja, yang mungkin letaknya pun di tengah kota atau berdekatan dengan rumah. Di saat kita berhitung untung rugi dari terpakainya waktu, tenaga dan mungkin uang, lihatlah orang-orang yang mengikuti panggilan Tuhan kepada diri mereka untuk melayani di tempat-tempat yang jauh dari kenyamanan. Seorang teman melayani sebuah suku di pedalaman, suku Anak Dalam. Bayangkan ia harus mengikuti kelompok-kelompok dalam suku ini yang punya kebiasaan berpindah-pindah alias nomaden. Terkena malaria itu biasa, katanya. Setidaknya enam bulan sekali ada saja yang terjangkit penyakit ini. Belum lagi penyakit-penyakit lainnya. Jauh dari keramaian, jauh dari kenikmatan dunia, jauh dari mudah, tapi itulah panggilannya, dan itu yang ia jalani. Atau lihatlah sekelompok anak muda yang menerima panggilan untuk melayani anak-anak jalanan. Mudah? Tentu tidak. Mereka harus berhadapan dengan penolakan, atau ketidakdisplinan, kecurigaan dan berbagai hambatan-hambatan lain. Apakah itu menghentikan mereka? Tidak. Mereka jalan terus dalam keterbatasan dan kesulitan yang mereka alami. Ada juga yang ternyata mendapat panggilan untuk mengurus gelandangan dan orang kurang waras, bahkan waria. Bisakah anda bayangkan bagaimana berat tantangannya? Ini medan yang sungguh sulit. Tapi ada orang-orang yang rela mengambil jalan itu dengan sukacita.

Ini semua gambaran nyata mengenai pelayanan yang dilakukan oleh orang-orang yang mendapat panggilan untuk masuk ke dalam komunitas-komunitas yang sulit itu. Ini adalah komunitas-komunitas yang mungkin tertolak dan tidak dipedulikan oleh dunia. Anak jalanan, gelandangan, orang kurang waras, waria, wanita malam, semua kelompok ini kita temui sehari-hari di jalan. Pedulikah kita dengan mereka? Mereka ini adalah manusia juga, sama-sama ciptaan Tuhan dan sama-sama berhak untuk beroleh keselamatan seperti halnya kita. Ini contoh ekstrim yang benar-benar ada yang menjalankan, dan saya tahu tidak semua orang mendapat panggilan seperti ini. Tapi saya tahu pula bahwa Tuhan memberikan panggilan kepada setiap orang. Tatanan melayani pun sesungguhnya sudah diberikan Tuhan. Untuk memenuhi Amanat Agung, sebenarnya kita tidak harus langsung membuat sesuatu yang spektakuler atau benar-benar ekstrim. Jika ingin melayani Tuhan, kita bisa memulainya dari hal-hal yang sederhana. Lihatlah ayat bacaan hari ini yang berasal dari perkataan Kristus sendiri. "Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya." (Matius 10:42). Sekedar memberikan "secangkir air sejuk" bagi orang-orang yang dipinggirkan, tertolak atau juga yang kekurangan. Hal sederhana dan kecil seperti ini saja merupakan pelayanan yang berharga di mata Tuhan, begitu berharga sehingga upah pun disediakan bagi kita.

Apa yang dijanjikan Tuhan Yesus kepada kita orang percaya sesungguhnya besar. "Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh." (Markus 16:17-18). Ini disediakan kepada orang-orang percaya. Namun sekedar memberikan secangkir kesejukan pun sudah berharga di matanya. Alangkah ironisnya jika tanda-tanda sebesar itu yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita sama sekali tidak kita manfaatkan, bahkan tidak kita pakai secangkir kecil sekalipun. Tuhan Yesus mengingatkan juga dalam kesempatan lain seperti ini: "Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 25:40). Segala sesuatu, besar atau kecil, sulit atau mudah, rumit atau sederhana, apapun itu, artinya kita telah melakukannya bagi Kristus. Sebaliknya apa yang terjadi jika kita tidak melakukan apa-apa? "Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal." (ay 45-46).

Apa yang menjadi panggilan anda? Melayani tidaklah harus selalu dilakukan secara ekstrim, harus berupa sesuatu yang fenomenal, ajaib atau spektakuler. Melayani tidaklah harus selalu berupa hal-hal yang rumit. Dan jangan pula dilakukan hanya terbatas dalam gedung gereja saja. Memberi secangkir air sejuk kepada orang yang terbuang atau terhilang, itupun merupakan pelayanan yang berharga. Sesungguhnya pelayanan janganlah terbatas oleh tembok gereja. Tidak salah untuk melayani di gereja, itu sungguh baik. Tapi jika kita mengingat Amanat Agung yang diberikan Kristus sendiri, "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu" (28:20), sudah seharusnya kita juga mempedulikan mereka-mereka yang berada di luar tembok gereja. Terutama unuk melayani kaum, kelompok atau komunitas yang "kecil" ini. Mereka tertolak, terhina, tidak dipedulikan. Mereka butuh sentuhan kasih dan kepedulian dari sesamanya. Secangkir air sejuk mungkin tidak berarti banyak bagi kita, namun bisa sangat berarti bagi mereka. Maukah kita memberikan sedikit waktu dan perhatian kita, sedikit keluar dari zona kenyamanan kita untuk membagi berkat kepada mereka? Kristus mengasihi mereka sama seperti Dia mengasihi kita, oleh karenanya jadilah saluran berkat agar merekapun bisa merasakan betapa besar kasih Kristus kepada mereka semua lewat kita murid-muridNya.

Secangkir air sejuk akan sangat besar nilainya