Thursday, November 5, 2009

Orang Tua Bijak

Ayat bacaan: Amsal 29:17
=====================
"Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu."

orang tua bijak, investasi masa depanAda begitu banyak musisi besar yang terbentuk sejak kecil. Sebagian mewarisi DNA orang tuanya yang juga pemusik, sebagian lagi menemukan bakatnya ketika orang tua mereka membelikan mereka alat musik. Pada suatu kali seorang anak mendapati piano dipindahkan ke dalam kamarnya. Disana sang ibu sering bermain piano dan mengajarkannya bermain. Berawal dari sana, si anak ternyata menemukan bakatnya. Disamping piano, ia pun sering bermain-main dengan gitar ayahnya. Berbagai pengalaman terus membentuknya seiring sang anak menjadi dewasa. Ia pun kemudian menjelma menjadi salah satu musisi yang sangat terkenal hari ini. Dia adalah David Benoit.

Selain tanggung jawab untuk menyekolahkan dan memberi makan anak-anak kita, pentingnya mendidik dan mendewasakan mereka, menyiapkan mental mereka sejak kecil pun menjadi hal yang tidak kalah pentingnya. Ada banyak orang tua melupakan aspek ini karena mereka terlalu sibuk untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya secara materil saja. Banyak orang tua terutama ayah yang jarang di rumah karena terlalu sibuk bekerja, dan ketika mereka di rumah mereka tidak lagi punya waktu untuk bermain atau mendidik anak-anaknya karena sudah terlalu lelah bekerja. Kelelahan pun seringkali membuat mereka gampang emosi. Sedikit saja ada yang tidak beres, amarah pun meledak sehingga anak-anak menjadi takut melihat mereka. Ketika anak mereka terjerumus ke dalam berbagai perilaku buruk, mereka pun menjadi heran. "Bukankah aku sudah mati-matian mencukupi semua kebutuhanmu? Lalu apalagi yang kurang?" Ini keluhan banyak orang tua ketika mereka mendapati anaknya terjatuh dalam kehidupan yang salah. Mereka lupa bahwa mempersiapkan anak sejak kecil agar bertumbuh di tanah yang baik merupakan investasi yang sangat menguntungkan ke depannya. Karena itulah penulis Amsal berkata: "Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu." (Amsal 29:17).

Bagaimana Timotius bisa menjadi seorang pemimpin gereja pada usia mudanya? Dalam usia yang masih sangat muda, Timotius sudah dikenal sebagai anak rohani Paulus yang kemudian menjadi teman sekerja Paulus dalam melayani. Alkitab mencatat semua itu berawal dari nenek Timotius yaitu Lois. Iman sang nenek, Lois kemudian turun kepada ibunya, Eunike, dan kemudian diwariskan pula kepada Timotius sang anak. Alkitab mencatat demikian "Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu" (2 Timotius 1:5). Kita bisa melihat bahwa peran nenek dan ibu Timotius sungguh besar dalam memberi keteladanan kepadanya, membekali dirinya dengan firman Tuhan sehingga ia pun bertumbuh benar sejak kecil dan kemudian dipakai Tuhan dengan luar biasa sejak masa mudanya. Timotius menjadi orang benar bukan karena kotbah penginjil, tapi justru lewat peran nenek dan ibunya yang membimbing Timotius, mengenalkannya dengan firman Tuhan semenjak kecil. Paulus mengingatkan kepada Timotius bahwa tugasnya sesungguhnya tidaklah mudah. "Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya, sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan." (3:12-13) Agar bisa tetap kuat dan teguh dalam pelayanan, Paulus pun menasehati Timotius untuk terus berpegang kepada kebenaran seperti yang telah diajarkan oleh ibu dan neneknya sejak kecil. "Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu. Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus." (ay 14-15). Lihatlah bagaimana besarnya keuntungan dari investasi iman yang diberikan oleh orang tua kepada anak-anak mereka.

Peran orang tua sangatlah penting dalam perkembangan jiwa dan kepribadian anak-anak mereka menuju kedewasaan. Mungkin banyak orang tua yang mengajar anak-anaknya sejak kecil lewat firman Tuhan, namun apa yang mereka contohkan dalam perilaku sehari-hari justru menggambarkan sebaliknya. Hal itu tidak akan memberi keteladanan yang baik kepada si anak. Ada banyak pula orang tua yang bersikap otoriter, memaksakan kehendak mereka dan tidak jarang menimbulkan kepahitan dalam jiwa anak-anaknya. Paulus pun mengingatkan akan hal ini: "Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya." (Kolose 3:21) dan dalam kesempatan lain ia berkata: "Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan." (Efesus 6:4). Jika kita ada di posisi anak, jangan pula kita menolak ajaran yang diberikan orang tua kita. "Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu". (Amsal 1:8). Ingatlah bahwa membekali anak dengan firman Tuhan akan sangat menentukan bagi masa depan anak-anak kita. Mungkin tidak gampang untuk bisa menunjukkan keteladanan di tengah pergolakan hidup yang begitu sulit. Saya menyadari sulitnya mengemban begitu banyak tugas dan tanggungjawab sebagai orang tua, namun jika hal itu bisa memberikan investasi yang sangat menguntungkan bagi masa depan anak-anak kita, mengapa tidak? Jika kita mendidik anak kita dengan benar sejak dini sesuai dengan jalan Tuhan, dan memberikan mereka keteladanan bagaimana cara hidup yang berkenan di hadapan Tuhan, pada satu saat nanti kita sebagai orang tua akan mendapatkan ketentraman dan sukacita melihat pola hidup mereka. Ingatlah bahwa anak-anak kita akan selalu memperhatikan cara hidup kita tanpa disadari, dan memberi contoh hidup yang baik, kudus dan benar akan membuat mereka menjadi anak-anak yang mengenal Tuhan sejak usia mudanya. Jadilah orang tua bijak.

Pengenalan akan firman Tuhan yang ditanamkan sejak kecil merupakan investasi yang menguntungkan bagi masa depan anak

Wednesday, November 4, 2009

Anak Allah

Ayat bacaan: Roma 8:17
====================
"Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia."

anak Allah, anak RajaIngat lagu rohani yang kerap diajarkan di sekolah minggu berjudul "Aku Anak Raja"? Lagu ini begitu sederhana sehingga mudah sekali diingat oleh anak-anak. tetapi apa yang diingatkan di dalam lagu ini sesungguhnya begitu penting, bukan hanya untuk anak-anak tapi juga untuk orang dewasa, untuk anda dan saya. Banyak orang yang lupa statusnya, berpikir bahwa mereka bukanlah siapa-siapa. Berbuat salah pun menjadi hal yang biasa, tidak peduli bahwa perbuatan itu bisa mempermalukan Bapanya. Status yang kita sandang tidaklah main-main. Anak Raja. Layaknya pangeran di sebuah istana, jika pangeran itu berbudi dan mengasihi, maka harum pula nama ayahnya, sang raja. Sebaliknya, meskipun raja baik tapi pangeran punya perilaku buruk, maka nama ayahnya pun akan turut tercoreng. Di kehidupan sehari-hari sikap anak pun bisa mempengaruhi penilaian orang akan orang tuanya. Lihatlah komentar orang jika melihat ada anak yang bandel. "aduh bandelnya... anak siapa sih ini?" Komentar seperti ini sungguh sering kita dengar. Apa yang diperbuat seorang anak sedikit banyak akan selalu berdampak pada orang tuanya.

Apa yang dikatakan Tuhan sesungguhnya besar. Status kita sebagai anak berarti pula bahwa kita adalah ahli waris, yang artinya kita dilayakkan untuk menerima berkat-berkat yang telah disediakan Allah sebagai Bapa. "Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia." (Roma 8:17). Ini sebuah status terhormat yang seharusnya kita hargai lebih dari apapun. Jika kita bisa bangga menjadi anak dari orang tua kita, apalagi menjadi anak Allah. Tapi sayangnya banyak orang yang tidak memperhitungkan anugerah Tuhan yang begitu luar biasa besarnya ini. Untuk itulah hari ini saya mengajak teman-teman untuk merenungkan sudah sejauh mana kita berlaku selayaknya anak Raja, alias anak Allah. Apakah apa yang kita lakukan sudah memuliakan Tuhan, sehingga orang mengenal Kristus yang sebenarnya, atau malah kita terus menjadi batu sandungan sehingga Kristus pun menjadi tercoreng karena sikap kita yang tidak baik?

Berbicara mengenai anak Allah, siapa sebenarnya yang disebut sebagai anak Allah itu? alkitab mencatat beberapa ciri sebagai berikut:

1. Dipimpin Roh Allah
"Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah....Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah." (Roma 8:14,16).
Anak-anak Allah adalah orang yang dipimpin langsung oleh Roh Allah. Roh yang dijanjikan Tuhan Yesus sebagai Penolong untuk menyertai kita selama-lamanya. (Yohanes 14:16). Kehidupan
anak-anak Allah adalah kehidupan yang selalu disertai oleh Roh Kudus dalam setiap perbuatan dan perilaku sehari-hari. Roh Kudus diberikan kepada siapapun yang menjadi anak Allah yang sejati. "Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!" (Galatia 4:6).


2. Dibaptis dalam nama Yesus Kristus
"Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus." (Galatia 3:26-27). Memberi diri dibaptis adalah sebuah langkah ketaatan dalam iman akan Kristus. Mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, dan merupakan lambang menenggelamkan (meninggalkan) hidup kita yang lama untuk kemudian lahir baru, menjadi ciptaan yang sama sekali baru. Predikat anak Allah diberikan Tuhan kepada kita ketika kita memberi diri dibaptis dalam Kristus dan mengijinkan Kristus bertahta dan berkuasa dalam hidup kita.

3. Mengasihi Allah
"Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah." (1 Korintus 8:3)
Anak-anak Allah adalah orang-orang yang hidup dalam kasih. Apapun yang ia perbuat adalah karena Tuhan, bukan karena ingin populer, ingin terlihat hebat, atau jenis-jenis motivasi lainnya selain untuk Tuhan. Sibuk melakukan pekerjaan Tuhan belum tentu menjamin seseorang dikenal Tuhan apabila semua itu dilakukan bukan karena mengasihi Allah. (Matius 7:21-23). Anak-anak Allah juga dikatakan sebagai orang yang mengasihi Allah serta melakukan perintahNya sebagai wujud kasih itu. (1 Yohanes 5:2-3). Dan tentunya jika kita mengasihi Allah, kita pun akan menuruti segala perintahNya. (Yohanes 14:15). Ini berhubungan dengan ciri berikutnya.

4. Taat kepada Allah
"Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih." (Efesus 5:1-8)
Ketaatan tidak bisa dimulai jika kita tidak mengenal pribadi Allah. Oleh karena itu kita perlu mengenal siapa Allah itu sesungguhnya, bagaimana besarnya Dia mengasihi kita dan betapa kita berharga di mataNya. Untuk mengenalnya kita perlu membaca, merenungkan firman-firman Tuhan dalam alkitab, juga dengan serius mendengarkan kotbah, membekali diri dengan bacaan-bacaan rohani lainnya, secara teratur berdoa, mencari Tuhan dengan segenap hati dan sebagainya. Tapi jangan berhenti di situ, karena setelahnya kita harus pula menjadi pelaku-pelaku firman yang mengaplikasikan segala yang telah kita pelajari ke dalam kehidupan nyata. "Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya."(Yakobus 1:25) Dalam 1 Yohanes 5:2-3 di atas kita melihat juga bahwa anak-anak Allah itu adalah orang yang dengan taat melakukan firmanNya sebagai pernyataan kasih kita kepadaNya.

5. Hidup dalam terang
"Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang," (Efesus 5:8). Sebelum bertobat kita hidup dalam kegelapan. Tapi setelah kita meninggalkan manusia lama kita dan lahir kembali sebagai ciptaan baru, kitapun beroleh terang dalam Tuhan. Oleh karena itulah kita dituntut untuk hidup sebagai anak-anak terang, dan inilah salah satu ciri yang dimiliki anak Allah. Menjadi anak terang berarti menjadi orang yang berbuah kebaikan, keadilan dan kebenaran dalam hidupnya. (ay 9).

Berpindah dari gelap ke dalam terang, dari bukan siapa-siapa menjadi anak Raja, itu anugerah Tuhan yang sangat besar yang Dia berikan kepada kita. Dan dengan demikian kita pun menjadi ahli waris Allah. "Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah." (Galatia 4:7). Apakah kita sudah memiliki ciri sebagai anak Allah di atas? Marilah kita sama-sama bersyukur dan menjaga anugerah begitu besar yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Hiduplah sebagai anak-anak Allah yang sesungguhnya.

aku anak Raja, engkau anak Raja, kita semua anak Raja

Tuesday, November 3, 2009

Mengenal Allah

Ayat bacaan: Hosea 4:6a
===================
"Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah"

mengenal AllahDalam ujian pembuatan SIM, apabila kita melakukannya dengan benar, tidak melewati calo, maka kita akan dihadapkan pada sebuah ujian mengenai pengenalan akan rambu-rambu lalu lintas. Ujian ini sesungguhnya sangat penting. Bayangkan apabila kita tidak mengetahui rambu, maka akan sangat riskan bagi kita untuk mengemudi di jalan raya. Selain membahayakan diri sendiri, kita pun bisa membayahakan nyawa orang lain. Belajar mengemudi memang penting, tapi tidak cukup hanya bisa mengoperasikan kendaraan saja. Pengetahuan umum mengenai rambu dan tata cara berkendara lainnya pun wajib kita ketahui jika kita mau selamat di jalan. Pengenalan yang benar akan menghindarkan kita dari kecelakaan dan berbagai musibah lainnya.

Dalam hal kerohanian pun demikian. Alangkah bahayanya jika kita tidak mengenal Allah. Mungkin kita berkata, kita sudah ke gereja, kita sudah berdoa, tapi ada banyak orang yang melakukan itu semua bukanlah atas dasar yang benar melainkan sekadar menjalankan rutinitas, karena disuruh orang tua, karena kebiasaan dan tradisi dan alasan lainnya. Hal-hal seperti ini jika tidak dicermati akan membuat kita tidak kunjung mengenal Allah, dan akibatnya bisa mengarahkan kita kepada kebinasaan.

Dalam Hosea kita bisa melihat mengapa Israel jadi binasa. Kelakuan mereka akhirnya mendatangkan murka Tuhan. Alasannya jelas dikemukakan Tuhan. "Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah" (Hosea 4:6a). Tidak mengenal bagaimana? Hosea pasal 4 berjudul "Menentang imam dan bangsa yang tidak setia". Pasal ini dimulai dengan: "Dengarlah firman TUHAN, hai orang Israel, sebab TUHAN mempunyai perkara dengan penduduk negeri ini, sebab tidak ada kesetiaan dan tidak ada kasih, dan tidak ada pengenalan akan Allah di negeri ini." (ay 1). Tiga alasan penting yang membuat Tuhan marah diberikan Tuhan disini: Tidak setia, tidak ada kasih dan tidak mengenal Allah. Apa yang dilakukan orang Israel pada masa itu sungguh keterlaluan, "hanya mengutuk, berbohong, membunuh, mencuri, berzinah, melakukan kekerasan dan penumpahan darah menyusul penumpahan darah." (ay 2). Dalam ayat 6 disebutkan pula bahwa para imam yang seharusnya jadi tulang punggung justru melupakan ajaran Tuhan. Kegagalan para imam tidak hanya berbicara mengenai para pendeta, pelayan Tuhan, tapi lebih luas lagi berbicara mengenai semua anak-anak Tuhan. "dan dari Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini. Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya--dan yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya, --bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya. Amin." (Wahyu 1:5-6). Semua ini membuat Israel akhirnya harus menanggung konsekuensinya.

Berkaca dari apa yang dialami bangsa Israel yang tegar tengkuk, kita bisa melihat bahwa menolak pengenalan akan Tuhan bisa mendatangkan bahaya besar. Ada banyak orang yang hanya mengandalkan pendeta atau pelayan Tuhan saja tanpa keinginan untuk mengenal Allah lebih jauh dalam hidupnya. Ada banyak yang menunda-nunda karena masih mau "menikmati" hidup, ada yang menganggap bahwa urusan kerohanian hanya urusan orang yang tua saja. Padahal Tuhan telah memperlihatkan bahwa tanpa keinginan untuk mengenal Dia akan membuat kita menuai bencana.

Hanya mengandalkan tata cara peribadatan dan tradisi serta kebiasaan dan rutinitas dalam menjalankan ibadah belumlah mencerminkan usaha kita yang benar untuk mengenal Allah. Yesus menyinggung hal ini dengan keras. "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga." (Matius 7:21). Hanya rajin berseru tapi tidak mencerminkan terang dalam hidup itu artinya tidak mengenal Tuhan. "Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?" (ay 22). Bahkan jika kita berpikir bahwa kita sudah melakukan banyak pekerjaan Tuhan, tapi hati kita sebenarnya tidak tulus melakukan itu dan bukan berbuat itu demi kemuliaan Tuhan, jika kita rajin beribadah namun sebatas dibibir saja tanpa aplikasi nyata dalam hidup, maka kita pun akan kehilangan kesempatan untuk beroleh keselamatan. "Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" (ay 23).

Pengenalan akan Tuhan bisa kita dapati dengan mengenal diriNya melalui firman-firman Tuhan yang terdapat di dalam Alkitab. Alkitab bukanlah buku usang yang ketinggalan jaman dan membosankan. Ada banyak tuntunan hidup dan rahasia-rahasia keselamatan di dalamnya yang mampu membuat kita semakin dekat mengenal pribadi Tuhan. Jangan berhenti hanya sampai membaca, tapi renungkan dan perbuatlah apa yang telah kita baca itu dalam kehidupan nyata. "Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya."(Yakobus 1:25) Kemudian ingatlah bahwa kita bisa mengenal Bapa lewat Yesus. "Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia." (Yohanes 14:7). Tanpa mengenal Kristus, kita tidak akan pernah bisa mengenal Tuhan, dan dengan demikian kita tidak akan pernah bisa datang menghampiriNya dan menerima janji-janjiNya. Yesus berkata "Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." (ay 6).

Sudahkah kita serius untuk lebih mengenal Allah? Teruslah kenali pribadiNya baik lewat Alkitab, kotbah, bacaan-bacaan rohani dan sumber lainnya, dan tentu saja, miliki pengenalan yang benar tentang Kristus. Jangan berhenti disana, tapi kemudian aplikasikanlah semua yang telah kita baca, dengar dan tahu itu ke dalam hidup kita sehari-hari. Temukan apa yang menjadi kehendakNya hari ini.

Mengenal Allah akan menghindarkan kita dari kebinasaan

Monday, November 2, 2009

Lewat Pertolongan Orang Lain

Ayat bacaan: Nehemia 2:7-8
====================
"Berkatalah aku kepada raja: "Jika raja menganggap baik, berikanlah aku surat-surat bagi bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat, supaya mereka memperbolehkan aku lalu sampai aku tiba di Yehuda. Pula sepucuk surat bagi Asaf, pengawas taman raja, supaya dia memberikan aku kayu untuk memasang balok-balok pada pintu-pintu gerbang di benteng bait suci, untuk tembok kota dan untuk rumah yang akan kudiami." Dan raja mengabulkan permintaanku itu, karena tangan Allahku yang murah melindungi aku."

lewat pertolongan orang lainBeberapa waktu yang lalu saya sempat menyinggung mengenai orang yang membesar-besarkan kelebihannya untuk menutupi kelemahannya. Biasanya orang seperti ini tidak akan mau minta tolong kalau tidak benar-benar terdesak atau bahasa santainya, kepepet. Banyak sekali orang yang merasa malu untuk meminta tolong kepada orang lain. Mungkin karena gengsi, tapi tidak sedikit pula yang disebabkan rasa sungkan yang berlebihan. Ada seorang yang saya kenal hidup dengan rasa segan yang berlebihan, akibatnya ia tidak kunjung maju sampai sekarang. Minta tolong kepada orang lain itu adalah hal yang lumrah, jika kita lakukan dalam porsi wajar, bukan memanfaatkan kebaikan orang lain, bukan karena kita malas. Ada saat dimana kita butuh uluran tangan atau bantuan dari orang lain, dan tidak ada salahnya kita utarakan. Bahkan berkat Tuhan pun mungkin bisa tersalurkan lewat orang lain.

Mari kita lihat cuplikan awal kisah Nehemia. Nehemia termasuk satu dari sekelompok orang Yehuda yang kembali dari pembuangan di Babel seperti yang tercatat pada kitab Ezra 2:2. Nehemia hidup ketika Yehuda menjadi bagian dari Persia. Pada saat itu Nehemia termasuk beruntung karena memiliki posisi yang cukup baik, yaitu sebagai juru minuman raja. Jabatan ini tentu menjadikannya memiliki hubungan yang relatif cukup dekat dengan sang raja Persia waktu itu, raja Artahsasta. Pada suatu hari ia mendengar berita mengenai keadaan orang-orang sebangsanya yang telah kembali dari pembuangan. Apa yang ia dengar adalah mengenaskan. Sementara ia cukup beruntung, ternyata saudara-saudara sebangsanya justru menderita dalam kesengsaraan berat. "Kata mereka kepadaku: "Orang-orang yang masih tinggal di daerah sana, yang terhindar dari penawanan, ada dalam kesukaran besar dan dalam keadaan tercela. Tembok Yerusalem telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar." (Nehemia 1:3). Mendengar itu, Nehemia pun menangis dan berkabung berhari-hari. Nehemia bisa saja cuek, karena dia sebenarnya sudah "selamat" dan hidup berkecukupan. Tapi tidak, Nehemia merasakan kepedihan yang dirasakan bangsanya. Apa langkah-langkah yang ia lakukan? Pertama, Nehemia berpuasa dan berdoa. Itulah yang pertama ia lakukan. Doanya tidak saja memohon ampun bagi bangsanya, tapi juga pembersihan atau pertobatan dari dosa-dosanya sendiri. Ia tahu bahwa doanya tidak akan punya pengaruh apabila ia sendiri belum bersih dari dosa. "berilah telinga-Mu dan bukalah mata-Mu dan dengarkanlah doa hamba-Mu yang sekarang kupanjatkan ke hadirat-Mu siang dan malam bagi orang Israel, hamba-hamba-Mu itu, dengan mengaku segala dosa yang kami orang Israel telah lakukan terhadap-Mu. Juga aku dan kaum keluargaku telah berbuat dosa." (ay 6).

Selanjutnya dalam Nehemia pasal 2 kita lihat kisah selanjutnya. Pada suatu hari, empat bulan kemudian, ketika Nehemia tengah menghidangkan anggur bagi raja Artahsasta, sang raja melihat wajah Nehemia yang murung. Ia pun bertanya kepada Nehemia, apa gerangan yang terjadi. (ay 1-2). Nehemia pun menceritakan rasa sedihnya melihat kehancuran bangsanya. (ay 3). Raja Artahsasta lalu menawarkan bantuan. Ia bertanya apa kiranya yang dapat ia bantu? Nehemia kembali berdoa dalam hatinya. (ay 4). Dan setelah berdoa, ia pun menyampaikan dengan jujur bahwa ia butuh pertolongan dari raja. Nehemia tidak berpangku tangan, dia tidak pula merasa mampu segalanya. Dia tahu bahwa dia butuh pertolongan raja untuk bisa membangun kembali Yerusalem. "Berkatalah aku kepada raja: "Jika raja menganggap baik, berikanlah aku surat-surat bagi bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat, supaya mereka memperbolehkan aku lalu sampai aku tiba di Yehuda. Pula sepucuk surat bagi Asaf, pengawas taman raja, supaya dia memberikan aku kayu untuk memasang balok-balok pada pintu-pintu gerbang di benteng bait suci, untuk tembok kota dan untuk rumah yang akan kudiami." Dan raja mengabulkan permintaanku itu, karena tangan Allahku yang murah melindungi aku." (ay 7-8). Raja pun mengabulkan hal itu. Tidaklah sulit bagi raja untuk membuat surat-surat itu, sementara Nehemia tidak dalam kapasitas untuk melakukannya. Berawal dari situlah kita tahu kemudian bagaimana Nehemia membangun kembali Yerusalem yang sudah hancur lebur dengan luar biasa. Apakah itu semua semata-mata karena keberuntungan? Tidak. Nehemia tahu pasti bahwa itu semua adalah berkat tangan Allah yang murah melindunginya. Tuhan menyalurkan berkatNya kepada Nehemia lewat perantaraan raja Artahsasta.

Kita bisa belajar dari Nehemia mengenai dua hal. Pertama, ketika kita masuk ke dalam "lembah Baka" (air mata), hal terpenting adalah mencari Tuhan terlebih dahulu. Berdoalah, dan kuduskanlah diri terlebih dahulu dengan mengakui segala dosa-dosa yang masih mengotori diri kita. Lalu setelah itu, jangan malu untuk memohon bantuan orang lain yang punya kapasitas lebih dari kita. Kita lihat bahwa Tuhan bisa menyalurkan berkatNya bagi pekerjaan Nehemia lewat sosok orang lain, dalam hal ini lewat raja Artahsasta.

Ada kalanya kita Tuhan memampukan kita untuk melakukan sesuatu dengan sendirian, tapi dalam banyak kesempatan Tuhan pun menyalurkan berkatNya lewat tangan orang lain. Kita tidak perlu malu mengakui bahwa sebagai manusia kita ini terbatas kemampuannya. Tuhan sendiri sejak awal telah menetapkan kita untuk tidak hidup sendirian. Kita adalah mahluk sosial yang selalu butuh berinteraksi dan saling dukung, saling bantu, untuk bisa mencapai sukses. Hidup dengan gengsi, keangkuhan, kesombongan, atau di sisi lain hidup dengan rasa sungkan dan segan yang berlebihan cepat atau lambat akan membuat kita jalan di tempat, kalau bukan semakin mundur. Lihatlah apa kata firman Tuhan berikut ini: "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus." (Galatia 6:2). Hukum Kristus terpenuhi jika kita saling bertolong-tolongan dalam memikul beban bersama-sama. Bagaimana mungkin orang bisa menolong jika kita sendiri hanya diam saja dan tidak mau mengakui bahwa kita butuh bantuan? Oleh karena itu hindarilah sikap tinggi hati, sombong atau sebaliknya rasa sungkan yang terlalu berlebihan. Tidak ada salahnya untuk memohon bantuan apabila perlu, tapi sebelumnya berdoalah, tanyakan kepada Tuhan apa yang harus kita lakukan, mendengar dan mengikuti apa yang diinstruksikan Tuhan. Kepada jemaat Galatia kemudian dikatakan demikian: "Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri." (ay 3). Jika kita merasa mampu segalanya, padahal sebenarnya kita tengah butuh bantuan, itu sama artinya dengan menipu diri sendiri.

Belajar dari Nehemia, kita bisa melihat bagaimana pentingnya berdoa di saat kita tengah mengalami permasalahan. Tidak peduli sederas apa curahan hujan air mata kita hari ini, Tuhan mampu mengubah itu semua menjadi hujan berkat. "Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat." (Mazmur 84:7). Dan ini berlaku bagi orang yang menggantungkan segenap kekuatan serta hidupnya ke dalam tangan Tuhan. (ay 6). Nehemia tidak merasa sungkan untuk memohon pertolongan dari orang lain ketika Tuhan menghendaki demikian, ia tidak malu mengakui bahwa ia membutuhkan pertolongan, demikian pula kita sebaiknya bersikap agar hukum Kristus dapat terjadi. Sekali lagi, Tuhan mampu memberkati anda secara luar biasa baik secara langsung maupun lewat orang lain. We are all only human afterall.

Tuhan bisa menurunkan berkatNya secara langsung, tapi terkadang memilih untuk menyalurkannya lewat orang lain

Sunday, November 1, 2009

Kuat Dalam Tuhan

Ayat bacaan: Mazmur 84:8
=====================
"Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion."

semakin kuat dalam TuhanHari ini saya melihat anak salah seorang pegawai di kampus yang masih balita bermain dengan bola karet. Bola itu ia gulirkan kesana kemari, bergulir dari satu sisi ke sisi lain. Apa yang terjadi pada bola itu pada akhirnya? Jelas, bola akan menjadi semakin perlahan dan akhirnya berhenti. Tidak peduli secepat apa bola itu digulirkan di atas bidang datar, dengan sendirinya bola akan melambat, dan tidak akan pernah bertambah cepat. Semakin bola bergulir, semakin pelanlah bola itu hingga akhirnya berhenti. Melambat, merosot, memudar, itu sudah menjadi hukum alam. Demikian pula kita. Seiring perjalanan waktu, kekuatan, daya tahan tubuh akan merosot. Daya ingat akan berkurang, kemampuan dan kekuatan kita pun akan berkurang. Menarik jika kita melihat ayat bacaan hari ini. Dikatakan: "Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion." (Mazmur 84:8). Ayat ini berlaku bagi orang yang kekuatannya di dalam Tuhan. (ay 6). Artinya, apa yang tertulis pada Mazmur 84:8 ini bertolak belakang dengan hukum alam. Jika demikian, hal ini tentu merupakan sebuah mukjizat.

Kita bisa melihat sosok Kaleb. Kaleb adalah satu dari 12 pengintai yang dikirim oleh Musa untuk mengintai situasi Kanaan seperti yang tercantum dalam Bilangan 13. Diantara 12 orang itu, 10 orang pesimis, hanya Kaleb dan Yosua-lah yang optimis dan percaya pada Tuhan. Kaleb tahu bahwa kekuatan Tuhan ada di atas kekuatan siapapun mahluk di bumi ini. Jika ia meletakkan kekuatannya di dalam Tuhan, dan apa yang ia hadapi sesuai janji Tuhan, maka tidak ada kata untuk gagal. Itu yang Kaleb percaya. Mari kita melompat ke depan untuk melihat Kaleb 45 tahun kemudian. Saat itu Kaleb sudah tua, tepatnya berusia 85 tahun, dan pada saat itulah ia menerima janji Tuhan bahwa ia merupakan satu-satunya dari angkatan 45 tahun yang lalu yang berhasil masuk ke tanah Kanaan seperti yang tertulis pada Ulangan 1:34-36. Mari kita lihat penggalan kata-kata Kaleb berikut: "pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk." (Yosua 14:11). Aku masih sekuat 45 tahun yang lalu, aku masih siap berperang dengan tenaga yang sama seperti dahulu. Demikian kira-kira kata Kaleb. Ini orang berumur 85 tahun yang berbicara. Bagaimana mungkin? Pada Kaleb, ternyata hukum alam tidak terjadi. Pada diri Kaleb ada mukjizat Tuhan. Ini berlaku kepadanya, karena dia merupakan orang yang selalu meletakkan kekuatannya dan dirinya secara keseluruhan di dalam Tuhan.

Mukjizat adalah keajaiban yang terjadi dari kuasa Tuhan yang mampu melampaui hukum alam. Ketika hukum alam membuat segala sesuatu melambat, merosot, memudar dan berkurang dalam perjalanan waktu, mukjizat Tuhan mampu melakukan sebaliknya! Dan lewat Kaleb kita menyaksikan hal itu. Lihat apa yang tertulis di antara dua ayat Mazmur di atas. "Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat." (Mazmur 84:7). Mukjizat Tuhan ternyata tidak hanya berbicara mengenai kekuatan yang tidak merosot dimakan usia, tapi juga berbicara mengenai mukjizat Tuhan untuk mengubah lembah Baka (artinya lembah air mata) menjadi lembah penuh berkat, menjadi lembah yang penuh sukacita. Ini pun janji Tuhan kepada orang yang meletakkan kekuatannya di dalam Tuhan.

Kepada jemaat Efesus, Paulus mengingatkan mereka pula akan hal ini. Paulus tahu bahwa manusia akan melemah, iman dan kasih pada Tuhan bisa merosot dari waktu ke waktu. Karena itulah Paulus berpesan agar jemaat Efesus tetap kuat dengan meletakkan kekuatan mereka di dalam Tuhan. "Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya." (Efesus 6:10). Kepada Timotius, Paulus mengingatkan pula agar tidak menjadi lemah karena tugas yang diemban Timotius di usia mudanya sesungguhnya tidaklah mudah. Kata Paulus: "Sebab itu, hai anakku, jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus." (2 Timotius 2:1). Jika mengandalkan kemampuan dan kekuatan sendiri, itu artinya kita menyerahkan diri kita kepada hukum alam, dimana kita akan terus merosot dan akhirnya berhenti. Agar itu tidak terjadi, sekali lagi kita harus meletakkan kekuatan kita ke dalam Tuhan. Jadilah kuat bukan karena kehebatan kita, tapi oleh kasih karunia dalam Yesus Kristus. Inilah yang akan mendatangkan mukjizat melampaui hukum alam sehingga kita bisa mengalami sesuatu yang luar biasa seperti apa yang dialami Kaleb. Iman kita bisa merosot, tenaga kita bisa menurun, kekuatan kita bisa berkurang, daya ingat bisa melemah, kasih mula-mula bisa menghilang, jika kita tidak menyerahkan diri kita ke dalam tangan Tuhan dan bergantung pada kekuatan kita sendiri. Tapi ketika kita menyerahkan hidup ke dalam tangan Tuhan, percaya dan bergantung sepenuhnya kepadaNya, mengikuti rencanaNya meski mungkin pada mulanya terasa berat, Tuhan akan selalu memberi kekuatan. Karenanya, tetaplah berjalan bersama Tuhan, dan andalkanlah Tuhan dalam apapun yang kita lakukan atau kerjakan. Dan hiduplah dengan benar dan kudus. Jika ini kita lakukan maka kita tidak akan hidup dengan dibatasi oleh lingkungan, situasi dan kondisi sekitar, melainkan hidup penuh dengan terobosan-terobosan dan mukjizat Ilahi.

Alami terobosan dan mukjizat yang berlawanan dengan hukum alam dengan meletakkan kekuatan di dalam Tuhan