Monday, October 5, 2009

Metamorfosa

Ayat bacaan: Roma 12:2
====================
"Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna."

metamorfosa, kupu-kupu, ciptaan baruTuhan memang luar biasa kreatifnya. Salah satu perubahan yang paling mengagumkan bagi saya adalah proses perubahan dari seekor ulat menjadi kupu-kupu. Proses yang dikenal dengan metamorfosa ini adalah sebuah proses alam yang sungguh menakjubkan. Awalnya dimulai dari telur yang menetas dan melahirkan larva (ulat) yang bagi banyak orang terutama wanita dianggap geli bahkan menjijikkan. Geliat ulat ini akan dengan mudah membuat banyak orang bergidik geli melihatnya. Lalu ulat akan berubah wujud menjadi kepompong, dan kemudian dari kepompong itu akan keluar kupu-kupu yang indah, gemulai menari menunggang angin, anggun, puitis baik dari segi keindahan fisiknya hingga gerakannya. Selain masalah bentuk, ada pula perbedaan-perbedaan kasat mata lainnya. Ulat merangkak, kupu-kupu terbang. Ulat lambat, kupu-kupu aktif dan atraktif geraknya. Benar-benar sebuah perubahan total.

Metamorfosa yang terjadi pada kupu-kupu bisa kita pakai sebagai analogi/model sederhana dari sebuah perubahan kita dari manusia lama menjadi manusia baru. Sesungguhnya perubahan yang terjadi kita pun tidak kalah menakjubkan. Ketika kita menerima Yesus, kita mengalami proses perdamaian dengan Tuhan. Kita yang tadinya berlumur dosa dan tidak layak untuk selamat, kini dilayakkan untuk memperoleh keselamatan yang besar itu semata-mata lewat kemurahan dan kasih karunia Allah, lewat karya penebusan agung Kristus di atas kayu salib. Dengan demikian, ketika kita bersatu dengan Kristus, kita pun mengalami metamorfosa, menjadi manusia baru sama sekali, the whole new creation. "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Korintus 5:17). Dan ini semua, sekali lagi, berasal dari Allah melalui Kristus. "Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya.."(ay 18). Kita yang tadinya seperti ulat atau larva yang menjijikkan, kini mendapat kesempatan untuk diubahkan menjadi seindah kupu-kupu. Menerima Kristus dan menerima baptisan memungkinkan kita untuk itu. "Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya." (Roma 6:4-5). Ketika kita dibaptis sebagai tanda ketaatan dan kepercayaan kita pada Yesus, segala kebiasaan-kebiasaan buruk kita, segala perbuatan dosa kita di masa lalu, semua itu sesungguhnya sudah dimatikan. "Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa." (ay 6). Kita dipulihkan, dan diubahkan. Karenanya seharusnya kita tidak lagi menghambakan diri kepada dosa, karena tabiat kita yang penuh dosa itu sudah hilang kuasanya. "Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa." (ay 7).

Kepada jemaat Roma, Paulus berpesan "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Roma 12:2). Paulus ingin jemaat Roma bisa benar-benar berubah, menyikapi sebuah metamorfosa yang dianugerahkan Allah dengan sungguh-sungguh, seperti apa yang dialami ulat hingga menjadi kupu-kupu. Gaya hidup, pola hidup, cara pandang dan pola pikir jemaat haruslah berubah. Jika dulunya tidak tahu apa yang berkenan kepada Allah, kini tahu mengenai itu, dan tahu apa yang sempurna di mata Tuhan. Perubahan tidak saja berhenti pada perubahan fisik semata, tapi juga mampu mengubah apa yang ada di dalam diri kita. Hidup kita haruslah bergerak, berproses dari ulat menuju kepompong hingga bisa sukses menjadi kupu-kupu. Paulus menambahkan adalah penting bagi kita untuk bisa sampai kepada tingkat dimana kita pantas mempersembahkan diri kita sendiri sebagai persembahan hidup, kudus dan berkenan kepada Allah. "Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati."(Roma 12:1). Sebagai manusia baru yang telah mengalami transformasi, atau dalam analogi di atas saya gambarkan sebagai metamorfosa, kita seharusnya mampu menghargai anugerah menakjubkan yang telah diberikan Tuhan itu kepada kita dengan menjalani hidup sebagai ciptaan baru. Semua telah dikaruniakan Tuhan kepada kita. Sekarang tinggal keputusan kita sendiri, apakah kita mau berproses hingga menjadi kupu-kupu atau berhenti hanya sebagai larva hingga kepompong saja. Bangsa Israel pernah menunjukkan kebebalannya dalam segala bentuk. Dalam Kisah Para Rasul pun sempat disinggung mengenai hal ini. "Tetapi nenek moyang kita tidak mau taat kepadanya, malahan mereka menolaknya. Dalam hati mereka ingin kembali ke tanah Mesir." (Kisah Para Rasul 7:39). Musa dipakai Tuhan untuk menyatakan firmanNya, tapi bangsa Israel yang tegar tengkuk ini tidak juga mau taat kepadanya. Bahkan menolak dan ingin kembali ke tanah Mesir. Kembali ke tanah Mesir berbicara mengenai kembali kepada dosa-dosa masa lalu. Artinya, bangsa Israel menyia-nyiakan keselamatan yang telah dianugerahkan Tuhan. Mereka lebih memilih untuk kembali menjadi ulat dan menolak metamorfosa untuk menjadi sempurna.

"Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima." (2 Korintus 6:1). Ini peringatan penting yang juga berlaku bagi kita. Janganlah kita sampai menyia-nyiakan karunia Allah yang telah kita terima dengan kembali kepada perbuatan-perbuatan dosa kita seperti di masa lalu. Sebagai ciptaan baru, mulailah sebuah hidup baru yang penuh kemenangan. Menang dari godaan, lepas dari penghambaan akan dosa. Kita telah ditransformasi menjadi ciptaan baru. Kita bukan lagi manusia lama yang berkubang dalam kegelapan, tapi kini ada terang Kristus yang menyinari kita. Ada Roh Kudus yang membimbing setiap langkah hidup kita. Jangan sia-siakan itu, jangan kembali kepada kebiasaan buruk di masa lalu, tapi mulailah menatap ke depan sebagai "the whole new creation". Pada saatnya nanti kita akan bisa seindah kupu-kupu, yang bisa membawa berkat bagi setiap orang yang melihatnya.

Alami metamorfosa dari ulat menuju kupu-kupu yang indah

Sunday, October 4, 2009

Pola Hidup Kerohanian

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 2:41
===========================
"Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa."

pola hidup kerohanianHidup sehat menjadi dambaan semua orang. Makan makanan bergizi, minum air putih yang cukup, cukup tidur/istirahat dan berolah raga secara teratur dipercaya bisa meningkatkan stamina dan menjaga kesehatan dengan baik. Sayangnya kesibukan dalam pekerjaan dan berbagai aktivitas lainnya sering membuat banyak orang sudah terlalu lelah untuk memikirkan kesehatan mereka. Polusi udara, stres, beban pikiran dan sebagainya akan menambah keruh urusan menjaga kesehatan ini. Tidak heran ketika usia orang di negara kita ini dan mungkin secara global, tampaknya semakin singkat. Kita semua tahu pentingnya menjaga kesehatan, hanya saja ada begitu banyak rintangan yang siap membuat kita tidak lagi sempat untuk fokus kepada kesehatan diri kita.

Jika perihal menjaga kesehatan saja sudah penting, ibadah apalagi. Paulus mengingatkan dalam suratnya kepada Timotius agar terus melatih diri untuk beribadah (1 Timotius 4:7b), karena "latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang." (1 Timotius 4:8). Hidup yang singkat saja harus kita jaga dengan baik apalagi urusan hidup kekal yang akan datang sesudahnya. Kemarin kita sudah melihat bahwa ada mahkota kehidupan yang akan diberikan kepada kita jika kita bisa tetap taat dan tahan uji hingga akhir, seperti yang dipesankan kepada jemaat Filadelfia. "Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu."(Wahyu 3:11). Seperti halnya segala sesuatu yang merintangi kita untuk menjaga pola hidup sehat, demikian pula rintangan-rintangan agar kita bisa tetap taat dan bertahan dalam ketaatan tidak kalah banyaknya. Oleh karena itu kita harus bisa terus melewati berbagai ujian dalam hidup ini agar mahkota kehidupan tidak sampai lepas dari tangan kita, dan itu jauh lebih penting dari keseriusan kita menjaga kesehatan jasmani. Pola kehidupan rohani seperti yang dikehendaki oleh Tuhan haruslah kita cermati secara seksama.

Ada sebuah gambaran yang sungguh indah yang bisa kita jadikan pelajaran untuk mengetahui pola hidup kerohanian ini. Kita bisa belajar dari pola hidup jemaat mula-mula yang tertulis pada Kisah Para Rasul 2:41-47. Gereja mula-mula bisa tumbuh begitu pesat, berkembang secara luar biasa dan menjadi kesaksian bagi banyak orang hingga saat ini karena mereka semua memiliki pola hidup yang sungguh berkenan di hati Tuhan. Pada hari pertama saja lewat kotbah Petrus ada 3000 jiwa yang dikatakan memberi diri mereka dibaptis. Saat itu mereka yang mendengar tidak mengeraskan hati mereka, melainkan menerima firman Tuhan dengan hati yang lembut untuk tertanam di dalam diri mereka. "Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa." (Kisah Para Rasul 2:41). Setelah itu, kita mengetahui bahwa mereka tidak berhenti hanya sampai dibaptis dan percaya pada Yesus saja. Ada beberapa poin keteladanan yang bisa kita jadikan teladan lewat pola hidup mereka.

1. Jemaat mula-mula memiliki gaya hidup yang suka berdoa (Kisah Para Rasul 2:42)
Dikatakan bahwa "Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa." (ay 42). Pemulihan hidup kita dan turunnya berkat-berkat Tuhan akan datang diawali oleh doa. Doa merupakan sarana bagi kita untuk mengenal pribadi Tuhan, bersekutu dan bergaul akrab denganNya. Selain itu doa pun akan selalu mampu untuk menguatkan dan meneguhkan kita, serta menjauhkan kita dari berbagai pencobaan. Ada begitu banyak ayat yang mengajarkan kita mengenai pentingnya doa. Ini disadari betul oleh para jemaat mula-mula dan menjadikannya sebagai pola hidup mereka.

2. Suka mendengar, membaca dan merenungkan firman Tuhan. (Kisah Para Rasul 2:42,46)
Selain berdoa, mereka pun selalu tekun mendengarkan firman Tuhan dan merenungkannya. Firman Allah merupakan pedang Roh (Efesus 6:17), lebih tajam daripada pedang bermata dua (Ibrani 4:12), yang akan mampu membekali kita untuk mengetahui mana yang benar dan salah. Jangan lupa pula untuk mengaplikasikan apa yang kita baca,dengar dan renungkan itu secara nyata dalam kehidupan kita, karena tanpa perbuatan, iman yang timbul dari pendengaran firman Tuhan (Roma 10:17) pada hakekatnya adalah mati. (Yakobus 2:17).

3. Kepedulian kepada sesama dan saling tolong menolong (Kisah Para Rasul 2:44-45)
Tidak mementingkan diri sendiri merupakan hal yang sangat penting untuk kita lakukan, karena itu lahir dari kasih terhadap sesama, satu dari dua hukum yang paling utama sebagai esensi dasar Kekristenan. Dikatakan demikian: "Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah Para Rasul 20:35). Selain itu Yesus sendiri telah mengingatkan bahwa "sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 25:40). Oleh karenanya kita selalu diingatkan "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus." (Galatia 6:2).

4. Senantiasa bersukacita, memuji dan menyembah Tuhan. (Kisah Para Rasul 2:46-47a)
"Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati,sambil memuji Allah." (ay 46-47a). Ingatlah bahwa ada kuasa dibalik puji-pujian, karena Tuhan bersemayan di atasnya. "Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel." (Mazmur 22:4). Daud sudah menyadari pentingnya hal ini. "Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib; aku mau bersukacita dan bersukaria karena Engkau, bermazmur bagi nama-Mu, ya Mahatinggi." (Mazmur 9:2-3). Tidak peduli dalam keadaan apapun, dalam keadaan jiwa terancam bahaya dan berbagai kesesakan lain sekalipun, Daud seperti halnya jemaat mula-mula memiliki gaya hidup yang senang memuji Tuhan.

Keempat poin ini menggambarkan pola hidup kerohanian para jemaat mula-mula yang ternyata berkenan di hadapan Tuhan. Mereka menjadikan pola kerohanian ini menjadi gaya hidup mereka. Tidak hanya Tuhan, ditengah sesama manusia pun mereka ternyata disukai. "Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan." (Kisah Para Rasul 2:47). Inilah pola hidup yang menjadi trend bagi mereka saat itu, dan mereka pun bertumbuh secara luar biasa. Kita bisa belajar dari perilaku para jemaat saat itu yang mencerminkan gaya hidup yang berkenan di hadapan Tuhan. Mulailah sejak dini, dan pertahankanlah hingga akhir hayat kita, agar mahkota yang telah dijanjikan Tuhan kepada kita akan kita peroleh kelak pada waktunya.

Tanpa pola hidup kerohanian yang baik kita tidak bisa menikmati janji-janji Tuhan

Saturday, October 3, 2009

Mahkota

Ayat bacaan: Wahyu 3:11
=====================
"Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu."

mahkota kehidupanMempertahankan adalah lebih sulit dari memperoleh. Itu hal yang akan menjadi kesimpulan bagi yang sudah memulai sesuatu. Saya mendapat nasihat penting seperti ini sekian waktu yang lalu dari sesama pengelola situs musik yang sudah memulai beberapa tahun sebelum saya. Seiring perjalanan waktu saya semakin merasakan kebenaran nasihatnya. Memang untuk memulai sesuatu dan dibutuhkan kerja keras yang tidak sedikit. Tidak mudah untuk memulai, tapi kenyataannya ternyata lebih sulit lagi untuk mempertahankan. Ada banyak ujian dalam perjalanan, dan untuk bisa mempertahankan apa yang telah kita raih butuh semangat pantang menyerah, dan seringkali dibutuhkan usaha keras yang lebih lagi dari sebelumnya. Beberapa kali manajer tim sepakbola terkenal pun berkata demikian. Merebut mahkota juara (piala) tidaklah lebih mudah ketimbang mempertahankannya tahun depan. Untuk memulai saja memang sudah baik, daripada tidak memulai sama sekali, namun mempertahankan pun tidak kalah pentingnya agar mahkota itu tidak berpindah tangan.

Jemaat Filadelfia mendapatkan pesan penting serupa. Mereka dinasihatkan agar tetap hidup dalam ketaatan, jangan berubah, selalu berusaha serius untuk mempertahankan apa yang telah mereka peroleh agar mahkota kehidupan yang dijanjikan tetap berlaku bagi mereka. "Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu." (Wahyu 3:11). Ini pesan penting yang tentu berlaku juga bagi kita semua. Hari-hari yang kita hadapi sungguh sulit. Ada begitu banyak godaan sepanjang perjalanan hidup kita yang siap membuat kita keluar dari rel yang benar. Baik yang nyata-nyata maupun yang terselubung, godaan bisa timbul dari segala arah. Jika tidak hati-hati, setiap saat kita bisa terpeleset dan terjerumus jatuh ke dalam jebakan iblis. Akibatnya? Mahkota kehidupan pun akan lepas dari kita. Dalam Ibrani kita sudah diingatkan agar tetap dengan teliti melihat segala sesuatu agar jangan sampai hanyut terbawa arus. "Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus." (Ibrani 2:1). Ibrani 2:1-4 memberikan pesan bagi kita agar kita jeli melihat jalan kita ke depan. Sepanjang Alkitab kita melihat bagaimana firman-firman Tuhan disampaikan baik lewat perantaraan malaikat, para nabi dan langsung oleh Kristus sendiri. Bahkan Tuhan sendiri telah menguatkan kesaksian-kesaksian yang telah tertulis itu lewat berbagai tanda dan mukjizat. Dalam begitu banyak kesempatan Tuhan telah menyatakan kuasaNya, juga membagi-bagikan berbagai pemberian termasuk tentunya keselamatan kekal dari Roh Allah sesuai kehendak Tuhan sendiri. Karena itulah jika semua itu sudah diberikan kepada kita, dan menjadi peringatan bagi kita, "bagaimanakah kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu, yang mula-mula diberitakan oleh Tuhan dan oleh mereka yang telah mendengarnya, kepada kita dengan cara yang dapat dipercayai" (ay 3).

Menerima Yesus sebagai Juru Selamat pribadi adalah sebuah langkah awal yang besar. Tapi kita tidak boleh berhenti hanya sampai disitu saja. Selanjutnya penting pula bagi kita untuk mempertahankan apa yang telah kita awali agar kita mampu melewati ujian, cobaan atau godaan yang akan senantiasa hadir di dalam hidup kita. Ada firman-firman Tuhan yang telah diberikan kepada kita untuk menguatkan kita dalam melalui perjalanan hidup kita. Semua itu jelas akan memperkuat kita agar tetap tegar dalam menghadapi ujian demi ujian yang akan terus datang. Lulus atau tidak, itu semua tergantung dari komitmen kita, karena Tuhan telah memberikan kekuatan lewat firman-firmanNya yang meneguhkan, bahkan telah menganugerahkan kita dengan Roh Kudus sebagai Penolong yang akan selalu menyertai kita untuk selama-lamanya (Yohanes 14:16), dan akan selalu siap membimbing kita dalam setiap langkah. Alangkah sayangnya jika apa yang telah kita mulai dengan baik akhirnya harus sia-sia akibat keteledoran kita sendiri. Oleh karena itu, tetaplah bertahan dalam berbagai ujian. "Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia." (Yakobus 1:12). Hendaklah tetap bertekun dalam doa dan tetaplah isi diri kita dengan firman-firman Tuhan. Jangan keraskan hati ketika menerima suaraNya, agar kita senantiasa memiliki kekuatan yang cukup untuk mempertahankan keselamatan yang telah kita peroleh lewat menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Penulis Ibrani mengingatkan demikian: "Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus: "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman pada waktu pencobaan di padang gurun, di mana nenek moyangmu mencobai Aku dengan jalan menguji Aku, sekalipun mereka melihat perbuatan-perbuatan-Ku, empat puluh tahun lamanya. Itulah sebabnya Aku murka kepada angkatan itu, dan berkata: Selalu mereka sesat hati, dan mereka tidak mengenal jalan-Ku,sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku." (Ibrani 3:7-11). Mari kita tetap serius dalam menjaga diri kita, agar jangan sampai murka Allah jatuh kepada kita dan mahkota kehidupan berlalu dari kita. "Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula." (ay 14).

Mempertahankan lebih sulit daripada memulai. Keep it up!

Friday, October 2, 2009

Ketaatan

Ayat bacaan: Lukas 5:5
==================
"Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga."

ketaatanMasalah ketaatan adalah masalah yang mungkin mudah untuk dijalankan ketika kita sedang dalam keadaan tenang, tapi bisa menjadi sulit ketika kita berada dalam kesesakan. Kenyataannya ada banyak orang yang tergiur dalam berbagai godaan ketika berada dalam keadaan tertekan dan terjatuh ke dalam beragam alternatif yang mengarah pada kejahatan di mata Tuhan, atau bahkan kepada pilihan-pilihan yang jelas-jelas bertentangan dengan firman Tuhan sendiri. Tidak ada satupun manusia yang senang hidup menderita. Jika bisa tentu kita ingin hidup kita selalu lancar tanpa masalah. Namun dalam kehidupan kita tidak akan pernah selamanya berada dalam keadaan tenang. Ada waktu dimana kita mengalami kesulitan, dan disana sebenarnya iman kita diuji. Mampukah kita terus taat, tetap bersabar dan mempercayakan sepenuhnya kepada Tuhan, atau kita justru terjatuh akibat ketidaksabaran kita? "Ah, sekali-kali kan tidak apa-apa, Tuhan mengerti kok.." kata seorang teman pada suatu ketika di kala ia sedang terlilit hutang dan memutuskan untuk korupsi "secukupnya" untuk menutupi itu. Atau lihatlah ketika ada seorang teman lainnya yang kehilangan barang berharganya, ia segera pergi menuju paranormal, karena menurutnya antara ketaatan dan usaha untuk menemukan kembali itu beda urusannya. Hari ini saya ingin mengajak teman-teman sekalian untuk melihat sepenggal kisah yang dialami Simon Petrus ketika masih berprofesi sebagai seorang nelayan.

Pada saat itu Simon ternyata sedang mengalami kesulitan. Sepanjang malam ia berusaha membentangkan jalanya di laut tapi ia tidak mendapatkan apa-apa. Sebagai nelayan ia tentu tahu kapan waktu yang terbaik untuk menangkap ikan, yaitu di malam hari. Aneh rasanya jika ada nelayan yang pergi melaut di pagi hari. Di pagi itu para nelayan baru saja turun dari perahu mereka dan sedang mencuci jala mereka dengan tangkapan nihil. Simon pun mengeluh kepada Yesus mengenai hal ini. Yesus berkata: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." (Lukas 5:4). Apa yang dikatakan Yesus tentu aneh bagi seorang nelayan yang tahu persis bahwa pagi bukanlah waktu yang ideal untuk menjala ikan. Tapi sungguh menarik melihat apa jawaban Simon. "Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." (ay 5). Simon berkata kira-kira begini: malam saja kami mencoba dengan keras kami tidak menangkap apapun, apalagi pagi.. tapi jika Yesus yang menyuruhnya, aku akan menuruti." Dan itulah yang dilakukan Simon. Ia memilih untuk taat sepenuhnya, tanpa banyak tanya, tanpa berbantah-bantah dan bertolak kembali ke tengah dan menebarkan jalanya. Kita tahu apa yang terjadi kemudian. "Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak." (ay 6). Akankah Petrus bisa memperoleh ikan sebegitu banyak hingga jalanya terkoyak jika ia tidak taat? Tentu ia tidak akan mendapatkan apa-apa. Tapi pilihan yang dia ambil adalah untuk percaya dan taat sepenuhnya tanpa banyak tanya sehingga ia pun menuai berkat Tuhan.

Dari kisah ini kita melihat bahwa ketaatan akan mendatangkan mukjizat. Ketaatan merupakan sebuah kunci dari terjadinya pemulihan. Yesus bisa saja memberikan langsung ikan langsung pada saat itu juga, tapi ternyata Yesus ingin melihat terlebih dahulu sampai sejauh mana ketaatan dari seorang nelayan kawakan bernama Simon Petrus. Dan ketaatannya itulah yang akhirnya mendatangkan mukjizat baginya. Jika menilik perjalanan bangsa Israel pada Perjanjian Lama, maka kita akan melihat bahwa ketidaktaatan bangsa ini kemudian justru membuat mereka harus mengalami banyak kesulitan. Mereka harus mengalami masa penjajahan tidak kurang dari 430 tahun, dan harus pula melewati masa padang gurun selama 40 tahun lamanya. Ini semua harus mereka alami akibat ketidaktaatan mereka. Sedikit saja mengalami kendala, mereka akan segera bersungut-sungut, mengeluarkan sindiran dan ejekan, mengeluh, mengomel bahkan sempat berkata ingin kembali lagi ke Mesir. "dan mereka berkata kepada Musa: "Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir?Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini." (Keluaran 14:11-12). Inilah bentuk ketidaktaatan dari bangsa Israel yang masih sering pula kita lakukan hingga saat ini.

Ketaatan sungguh penting dan merupakan kunci penting untuk terjadinya pemulihan dalam hidup kita. Dalam keadaan seperti apapun kita tetaplah dituntut untuk taat dan setia sepenuhnya kepaa Tuhan. Dia mampu melepaskan kita pada waktunya, Dia akan selalu bisa melakukan hal-hal yang mustahil sekalipun, seperti halnya yang terjadi pada Petrus, namun dari sisi kita dituntut sebuah bentuk ketaatan yang sepenuhnya. Ketaatan dianggap Tuhan sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah. "Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah." (Efesus 5:2). Bentuk ketaatan penuh bisa kita teladani dari sosok Yesus sendiri. "Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib." (Filipi 2:8). Inilah bentuk keteladanan dari Yesus sendiri yang bisa kita jadikan sebuah cerminan bagaimana kita seharusnya taat kepada Tuhan. Ketaatan Yesus kepada kehendak Tuhan hingga akhir membuat kita semua diselamatkan. Dan karenanya sudah sepantasnya jika kita pun harus taat penuh kepadaNya agar kita semua dilayakkan untuk memperoleh keselamatan kekal sepenuhnya seperti yang dijanjikan Tuhan. "Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya,dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya." (Ibrani 5:9-10). Ada waktu-waktu dimana kita diijinkan Tuhan untuk masuk ke dalam kesulitan. Jangan patah semangat, jangan menyerah, jangan putus pengharapan, tapi jadikanlah itu sebagai sebuah momentum untuk membuktikan iman kita. Tetaplah taat, percayalah sepenuhnya, maka pada saatnya apapun yang kita alami saat ini akan dipulihkan Tuhan dengan luar biasa.

Jadikan ketaatan sebagai kunci dari proses pemulihan

Thursday, October 1, 2009

Berjaga-jagalah Sebab Waktu Sudah Singkat

Ayat bacaan: Lukas 12:35
=====================
"Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala."

berjaga-jagaMusibah seakan tidak berhenti menimpa kita. Setelah gempa yang menimpa Jawa Barat di minggu pertama bulan September kemarin, musibah gempa kembali menimpa pulau Sumatera. Kembali ratusan orang kehilangan nyawa, ratusan orang kehilangan sanak keluarga dan menderita cedera. Di televisi terlihat banyaknya korban yang masih tertimbun di bawah puing-puing bangunan yang rontok akibat gempa. Begitu banyak orang yang mendadak kehilangan tempat tinggal dan harta bendanya. Kemarin gempa menimpa Sumatera Barat, tadi pagi gempa kembali menimpa Jambi, Bengkulu dan juga gempa berikutnya di tempat yang sama seperti kemarin. Bencana seperti ini tidak pernah kita inginkan dan berada di luar kekuasaan kita. Ada banyak orang yang mengaitkan serentetan bencana alam yang bukan saja terjadi di Indonesia tapi juga di berbagai belahan dunia lainnya seperti kabut asap berwarna oranye di Australia beberapa hari yang lalu sebagai tanda-tanda akhir zaman. Setuju atau tidak, ini merupakan panggilan bagi kita semua untuk berjaga-jaga, karena tidak ada satupun dari kita yang tahu kapan dunia ini berakhir, atau yang lebih sederhana, kapan kita harus mempertanggungjawabkan diri kita di hadapan tahta Tuhan.

Ini saatnya kita mengimani baik-baik apa yang diperingatkan Tuhan Yesus dalam Lukas 12:35-48. Bacalah seluruh bagian perikop yang berbicara tentang pentingnya untuk meningkatkan kewaspadaan. Tuhan Yesus mengingatkan: "Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala." (Lukas 12:35). Ikat pinggang yang tetap berikat menggambarkan  kesetiaan dan ketaatan dalam setiap sisi kehidupan kita, laksana seorang perwira yang akan selalu patuh kepada komandannya. (Yehezkiel 23:15).  Ikat pinggang juga merupakan tempat dimana pedang melekat, seperti yang digambarkan dalam 2 Samuel 20:8. Dalam hal ini kita juga diingatkan untuk selalu siap berjaga-jaga mengenakan ikat pinggang untuk menopang pedang Roh, yaitu firman Allah. (Efesus 6:17). Dalam Yesaya ikat pinggang digambarkan sebagai sebuah atribut kekuasaan. (Yesaya 22:21). Bukankah kepada kita telah diberikan berbagai kuasa, seperti untuk mengalahkan keinginan daging, mengusir setan, menyembuhkan orang sakit dan sebagainya? Bahkan dikatakan bahwa "Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.". (Yakobus 5:16). Sedangkan pelita yang harus tetap dijaga menyala berbicara tentang kesiapan kita untuk terus memastikan roh kita tetap menyala untuk melakukan semua seperti yang dikehendaki Tuhan hingga kedatangan Tuhan Yesus untuk kedua kalinya. Amsal menyatakan "Roh manusia adalah pelita TUHAN, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya." (Amsal 20:27). Dan Paulus mengingatkan "Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan." (Roma 12:11). Pelita juga berbicara mengenai terang yang mampu menyinari kegelapan. Kita selalu diminta untuk mampu menjadi terang/anak-anak terang. Seperti ikat pinggang, kita pun harus selalu sedia dengan pelita yang bernyala, karena pelita yang tajam akan membawa kita dalam kebinasaan dalam murkanya. "Betapa sering pelita orang fasik dipadamkan, kebinasaan menimpa mereka, dan kesakitan dibagikan Allah kepada mereka dalam murka-Nya!" (Ayub 21:17).

Menjelang zaman akhir yang semakin dekat, semua kita diingatkan untuk selalu bersiap, berjaga-jaga dengan atribut lengkap ikat pinggang dan pelita yang bernyala. "Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan." (Lukas 12:40). Kepada yang berjaga-jaga dikatakan demikian: "Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang." (ay 43). Apakah berbagai rangkaian bencana ini merupakan bagian dari tanda-tanda akhir zaman atau tidak, itu bukan masalah yang utama. Yang paling penting adalah bagaimana kesiapan kita menuju kesana, dan firman Tuhan telah mengingatkan kita untuk terus menerus berjaga kapan saja. Jangan melenceng ke kiri dan ke kanan, jangan bertoleransi dengan dosa, karena tidak ada yang tahu kapan sesungguhnya waktu itu akan datang. Jangan lupa pula untuk membaca kitab 1 Tesalonika 5:1-11 mengenai nasehat untuk berjaga-jaga. Disana kita diingatkan kembali mengenai hari Tuhan yang akan datang seperti pencuri di malam hari (ay 2). Jika kita terlena dan terus hidup dalam kegelapan, keteledoran itu akan membawa konsekuensi yang membinasakan. "Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman--maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin--mereka pasti tidak akan luput." (ay 3). Apa yang terjadi bagi kita yang sudah hidup dalam terang? "Tetapi kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan." (ay 4-5). Oleh karena itulah kita diingatkan agar jangan terlena, tertidur dan bermalas-malasan seperti yang dilakukan oleh sebagian orang, tetapi hendaklah kita selalu berjaga-jaga dan sadar. (ay 6). Semua ini penting agar kita semua tidak luput dari janji Tuhan. Berjaga-jagalah selalu sebab waktunya sudah sangat singkat. "Saudara-saudara, inilah yang kumaksudkan, yaitu: waktu telah singkat!" (1 Korintus 7:29a)

Disamping itu, ingatlah selalu bahwa kita tetap perlu mendoakan negeri kita. Dalam hal ini kita bisa melihat bagaimana Daniel berdoa mewakili bangsanya yang penuh dosa. Daniel tidak terlibat dalam perilaku buruk bangsanya, namun ia menyampaikan doa memohon belas kasih dan pengampunan Tuhan atas bangsanya. (Daniel 9:1-19). Ia tidak memakai kata "mereka" dalam doanya, tapi memenuhi doanya dengan kata "kami", yang artinya melibatkan dirinya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari bangsanya sendiri. Kebinasaan bangsanya jelas akan berpengaruh pula baginya, demikian pula sebaliknya kemakmuran bangsanya juga akan berpengaruh kepadanya. "Ya Allahku, arahkanlah telinga-Mu dan dengarlah, bukalah mata-Mu dan lihatlah kebinasaan kami dan kota yang disebut dengan nama-Mu, sebab kami menyampaikan doa permohonan kami ke hadapan-Mu bukan berdasarkan jasa-jasa kami, tetapi berdasarkan kasih sayang-Mu yang berlimpah-limpah." (ay 18). Lihatlah betapa indahnya doa penuh kerendahan hati seperti Daniel, yang tidak menimbang-nimbang siapa yang bersalah melainkan langsung memanjatkan doa memohon belas kasih Allah mengatasnamakan seluruh bangsanya. Doa orang benar itu besar kuasanya, dan itu diketahui benar oleh Daniel. Sudahkah kita menaikkan doa syafaat dengan sungguh-sungguh untuk negara kita? Paulus berkata: "Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan." (1 Timotius 2:1-2). Mengapa demikian? Sebab "itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran." (ay 3-4).

Berdoalah agar Tuhan mencurahkan belas kasihNya atas bangsa ini. Apakah ini merupakan bagian dari akhir zaman yang harus digenapi, atau merupakan bentuk murka Tuhan atas dosa-dosa yang dilakukan dan sebagainya, kita tidak perlu terjebak ke dalam pro dan kontra mengenai itu, karena faktanya Tuhan selalu meminta kita untuk berjaga-jaga kapan saja. Waktu memang sudah singkat. Kita harus bisa berfungsi benar sebagai bagian dari tubuh Kristus yang selalu mendoakan dan memberkati kota dan negara kita. Ulurkan tangan dan bantuan kepada semua korban, karena mereka saat ini sangat menderita dan membutuhkan bantuan dan dukungan baik materi maupun moril. Ini saatnya untuk menjadi terang dan garam. Dan sekali lagi jangan lupa, teruslah berjaga-jaga dengan mengenakan ikat pinggang dan pelita yang tetap menyala, sehingga ketika hari Tuhan itu datang, kapanpun itu, kita akan kedapatan tengah melakukan tugas kita dengan penuh kesiapan dan memperoleh hasil yang baik karenanya.


Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar (1 Tesalonika 5:6)