Thursday, June 25, 2009

Anak Panah di Busur Pahlawan

Ayat bacaan: Mazmur 127:4
======================
"Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda."

anak panah, anak-anak, orang tua, busurBeda generasi, beda gaya. Itu sudah menjadi hal yang lumrah dalam perkembangan jaman. Karena beda generasi inilah terkadang muncul konflik dalam keluarga antara orang tua dan anak. Orang tua tidak bisa menerima gaya hidup generasi yang lebih muda, mereka tetap berpegang kuat kepada tradisi mereka, sementara anak-anak merasa orang tua mereka terlalu kolot/kuno dan tidak mau mengerti mereka. Selalu ada perbedaan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan selalu ada ciri dimana generasi yang lebih muda akan menentang generasi sebelumnya. Jika dalam hal-hal kecil tentu masalah yang timbul dari perbedaan generasi ini tidak akan terlalu berakibat besar. Namun bagaimana mengenai hal-hal yang berhubungan dengan masa depan? Ada sebuah contoh nyata dari keluarga saya. Salah seorang paman memaksakan kehendaknya agar anaknya mengikuti jejaknya menjadi seorang dokter. Si anak sama sekali tidak tertarik, ia lebih tertarik untuk mendalami komputer dan/atau belajar menjadi koki, karena ia sangat hobi memasak. Karena paksaan, ia pun akhirnya dimasukkan ke fakultas kedokteran. Ini terjadi 6 tahun yang lalu. Saat ini, si anak sudah dikeluarkan karena tidak berprestasi apa-apa, sering bolos dan hidupnya pun tidak karuan. Saya sempat berpikir, seandainya paman saya bisa lebih bijaksana. Andaikan ia memang ragu anaknya bisa sukses, setidaknya mungkin ia bisa memberikan kesempatan bagi si anak untuk membuktikan pilihannya adalah benar. Atau setidaknya mereka bisa berbicara dari hati ke hati sebelum memutuskan secara sepihak. Si anak (sepupu saya) ini dahulu sering berkeluh kesah kepada saya mengenai hal ini. Tapi saya tidak memiliki otoritas untuk ikut campur. Orang tua otoriter, tapi di sisi lain, sepupu saya juga salah karena tidak menurut. Ia memberontak dengan sengaja merusak kuliahnya sendiri. Siapa yang salah? Orang tua yang merasa mereka lebih punya pengalaman dan lebih tahu, atau anak yang merasa mereka tidak didengarkan?

Nyanyian ziarah Salomo dalam Mazmur menengahi hal ini dengan indah. Salomo berkata: "Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah." (Mazmur 127:3). Dalam versi Inggrisnya anak-anak lelaki ini dikatakan sebagai "children", jadi hal ini saya kira berlaku baik untuk anak laki-laki maupun perempuan. Lihatlah Alkitab berkata bahwa anak adalah sesungguhnya pemberian Allah, anugerah luar biasa indah yang dititipkan kepada para orang tua. Pemiliknya tetaplah Allah sendiri. Bagaimana anak ini nantinya terbentuk, itu adalah pertanggungjawaban dari orang yang dititipkan (orang tua) kepada sang Pemilik (Tuhan). Ayat selanjutnya berbunyi demikian: "Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda." (ay 4). Jika anak-anak diibaratkan sebagai anak-anak panah, maka orang tua diibaratkan sebagai pahlawan, yang siap menembakkan anak-anak panah ini ke tempat yang tepat. Busur yang tidak elastis dan kuat tidak akan bisa mengarahkan anak panah dengan baik. Di sisi lain, anak panah yang berat dan berekor kaku juga akan melenceng dari arah yang benar, meski busurnya baik. Untuk mencapai sasaran yang benar, keduanya harus baik.

Apa yang saya maksud adalah begini. Busur yang elastis adalah sikap para orang tua yang, alangkah baiknya, tidak terlalu kaku dan mau mendengar keluh kesah dan pendapat anaknya. Memang orang tua jauh lebih berpengalaman, lebih banyak makan asam garam, namun ada kalanya mereka kurang tanggap terhadap perkembangan jaman, dan kurang mengenal anak-anak mereka. Jalannya hubungan hanyalah satu arah, dan tidak pernah interaktif. Anak tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan-keputusan yang menyangkut masa depan mereka. Terlalu sibuk pada warna rambut, mengkritik mode, tren dan sebagainya, terlalu kaku dan otoriter sehingga lupa menyiapkan busur yang kuat sebagai tempat berpijak dan sumber terbangnya anak-anak panah. Di sisi lain, anak-anak pun seringkali terlalu cepat menentang orang tuanya. Salah satu saja tidak berfungsi baik akan membelokkan arah ke tempat yang salah, apalagi jika dua-duanya tidak berfungsi.

Pemazmur mengingatkan : "Seorang raja tidak akan selamat oleh besarnya kuasa; seorang pahlawan tidak akan tertolong oleh besarnya kekuatan." (Mazmur 33:16). Seorang raja tidak akan selamat jika hanya bergantung pada besarnya kuasa mereka sendiri, seorang pahlawan tidaklah tergantung dari besarnya kekuatan mereka sendiri. Orang tua tidak akan bisa menjadi pahlawan jika mereka mengandalkan kekuasaan dan kekuatan mereka semata dalam menentukan kelanjutan masa depan anak-anaknya. Di sisi lain, anak pun hendaknya jangan menjadi pribadi pembangkang. Terlalu cepat menentang tanpa pikir panjang juga salah. Karena ada kalanya anak harus belajar dari pengalaman dan kebijaksanaan orang tua mereka. Belum ketemu jalan tengahnya? Ini yang menjadi titik tengah: Apa yang bisa membuat segalanya baik hanyalah jika kedua pihak, baik orang tua maupun anak mendasarkan segala sesuatunya kepada Tuhan. "Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya, untuk melepaskan jiwa mereka dari pada maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan." (ay 18-19). Jika kita melihat dari pribadi Kristus sendiri, lihatlah bagaimana bentuk doa Kristus. "datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga." (Matius 6:10). Lalu, ".....tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." (26:39). Bukan kehendak kita, bukan kehendak orang tua, bukan kehendak anak, tapi yang terbaik adalah seperti yang Tuhan kehendaki.

Belajar dari hal ini, yang terbaik adalah orang tua dan anak duduk bersama-sama, saling terbuka dan mendengar pendapat masing-masing. Beri kesempatan masing-masing untuk mengutarakan pandangannya. Dan yang lebih penting lagi, berdoalah bersama. Biarlah Tuhan yang berbicara dan memberitahukan apa yang terbaik. Bersikap otoriter tidak akan pernah mendatangkan kebaikan. Di sisi lain, anak-anak hendaklah menghormati orang tuanya. "Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu." (Ulangan 5:16). Jangan terburu-buru membangkang. Dengarkanlah dan jangan sia-siakan suara mereka. "Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu" (Amsal 1:8). Generasi boleh berbeda, sifat dan gaya boleh berbeda, tapi dalam Tuhan kita semua satu dan tetap sama. Orang tua, jadilah busur yang kuat dan elastis agar anak-anak panah anda bisa mencapai sasaran yang tepat. Fleksibellah kepada anak-anak anda, dengarkan kebutuhan, keinginan, cita-cita dan impian mereka. Anak-anak, jadilah anak-anak panah yang stabil, jangan mengeraskan hati sehingga sulit diarahkan. Bersatulah dalam doa, dengarlah apa kata Tuhan, karena itulah yang terbaik.

Bukan menurut kita, tapi menurut Tuhan, itulah yang terbaik

Wednesday, June 24, 2009

Mendengar

Ayat bacaan: Matius 11:15
======================
"Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"

mendengar, kritik membangun, komentar destruktif, telinga"Waduh, kalau semua kritik dimasukin ke hati, bisa gila mas.." demikian komentar salah seorang anggota penyelenggara event musik pada suatu kali pada saya. "Orang kalau mengkritik suka nggak kira-kira, mereka nggak mau tahu bagaimana sulitnya pekerjaan ini, kita sudah mati-matian kerja, masih juga kejam-kejam komentarnya.." ia melanjutkan. "Mengomentari sih mudah, coba dulu deh duduk di posisi saya, baru tahu bagaimana susahnya." lanjutnya lagi. Ya, mendengarkan kritik seringkali tidak mudah. Ada kalanya kritik yang datang terlalu kejam, sifatnya bukan lagi membangun tapi meremehkan dan menjatuhkan, sehingga jika kita tidak memiliki mental kuat dan benar-benar fokus pada tujuan, kita bisa menjadi lemah dan patah semangat.

Kita tidak bisa menghindari kritik. Kapanpun, dimanapun kita akan berhadapan dengan kritik. Ada kalanya memang kita memerlukan kritikan yang konstruktif atau membangun, agar kita bisa menata sesuatu lebih baik lagi. Mungkin pedas, namun jika untuk kebaikan kita sendiri, itu haruslah kita terima dengan lapang hati. Kedatangan Tuhan Yesus ke dunia diisi dengan banyak peringatan. Banyak hal-hal yang dibukakan Yesus, yang sebelumnya tidak diketahui orang. Berulang kali Yesus mengakhiri pesannya dengan "Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!" Kita diberikan sepasang telinga oleh Tuhan (Amsal 20:12). Dia berikan telinga bukanlah tanpa maksud. Gunakanlah keduanya dengan baik untuk mendengar, sehingga kita bisa mengerti dan memperbaiki diri. Dalam Amsal juga kita membaca demikian: "Orang yang mengarahkan telinga kepada teguran yang membawa kepada kehidupan akan tinggal di tengah-tengah orang bijak." (Amsal 15:31). Kita harus melembutkan hati, dengan lapang dada, untuk menerima kritik atau teguran konstruktif untuk bertumbuh lebih lagi.

Sebaliknya, bagaimana jika kritikan itu tidak bersifat membangun, dan bertujuan untuk menjatuhkan? Bagaimana jika ucapan-ucapan pesimis dan negatif yang kita hadapi? Jangan menjadi patah semangat karenanya. Jika kita sudah berusaha dengan sebaik mungkin, apalagi jika kita melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh sesuai kehendak Tuhan, jangan biarkan ucapan-ucapan negatif itu menghancurkan kita. Ingatlah bagaimana beratnya Musa menghadapi orang-orang Israel yang keras kepala dan jagoan bersungut-sungut untuk membawa mereka keluar dari Mesir. Sepertinya hampir setiap hari ia diteror oleh komentar-komentar pedas dari bangsa yang tegar tengkuk ini. Bayangkan, adalah perintah Tuhan untuk membawa mereka ke tanah terjanji, keluar dari perbudakan di Mesir, namun inilah yang mereka katakan pada Musa. "dan mereka berkata kepada Musa: "Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir? Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini." (Keluaran 14:11-12). Bukan hanya ini komentar sinis bangsa Israel. Perjalanan mereka penuh dengan keluh kesah, protes dan komentar-komentar yang bisa setiap saat melemahkan Musa. Nuh pun demikian. Membangun sebuah kapal di atas bukit, sementara belum pernah ada hujan yang turun, apalagi banjir? Saya yakin Nuh setiap hari berhadapan dengan banyak pencemooh yang mengolok-olok dia dan keluarganya. Seandainya Nuh tidak menyaring komentar-komentar orang, tidak menjaga telinganya dengan filter yang memadai, bahteranya tidak akan pernah selesai ia bangun.

"Lidah orang bijak mengeluarkan pengetahuan, tetapi mulut orang bebal mencurahkan kebodohan." (Amsal 15:2). Orang yang bijak akan memberikan kritik konstruktif, sebaliknya orang bebal hanya akan mengumbar kebodohannya dengan komentar-komentarnya. Itu biasa terjadi di dunia, yang harus pandai-pandai kita saring. Jika komentar-komentar negatif yang kita terima, buanglah itu. Namun jika teguran positif, terimalah itu dengan lapang hati. Telinga diberikan Tuhan untuk tujuan mendengar, Pergunakanlah anugrah Tuhan akan sepasang telinga untuk bisa bertumbuh menjadi orang-orang bijaksana yang maju dari hari ke hari. Selain untuk mendengar, miliki pula telnga yang selektif dalam mendengar. Pandai-pandailah menyaring komentar dan kritik yang masuk. Simpan yang positif, buang yang negatif. Teguran yang membangun sangatlah berharga. Salomo menggambarkannya demikian: "Teguran orang yang bijak adalah seperti cincin emas dan hiasan kencana untuk telinga yang mendengar." (25:12). Menolak teguran bisa membuat kita lupa diri, tapi komentar destruktif yang tidak membangun bisa melemahkan semangat kita bahkan menghancurkan masa depan kita. Maka dari itu, miliki telinga yang selektif, dan pekalah terhadap kehendak Tuhan. Pergunakan dan manfaatkan anugrah sepasang telinga dari Tuhan dengan baik.

Ada kritik konstruktif dan ada yang destruktif, saringlah semuanya dengan baik

Tuesday, June 23, 2009

Malu Mengakui Yesus

Ayat bacaan: Matius 10:32-33
======================
"Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga."

malu mengakui YesusMenganut kepercayaan yang berbeda dengan kaum mayoritas terkadang menyulitkan bagi sebagian orang. Ada perasaan disisihkan, sulit untuk diterima ditengah-tengah teman sekerja bahkan ada yang mendapatkan kesulitan untuk naik jabatan atau promosi karena perbedaan keyakinan. Seorang teman mengeluhkan kondisi ini pada suatu ketika. Di kantornya yang dipenuhi mayoritas penganut keyakinan yang berbeda membuatnya sulit menapaki jenjang karir. Contoh lain yang mungkin paling sering adalah ketika tengah mendekati seseorang yang berbeda keyakinan. Ada yang menutupi jati dirinya, malu mengakui bahwa mereka adalah pengikut Kristus, bahkan tidak jarang pula ada yang memilih untuk putus hubungan dengan Kristus demi mendapatkan pasangan hidupnya. Ada situasi-situasi yang mungkin timbul dimana kita harus menentukan sikap atau harus memilih. Sayangnya ada banyak yang lebih memilih kepentingan dunia ketimbang perkara surgawi. Ada orang yang malu menjadi orang Kristen karena takut dianggap tidak gaul. Tapi coba pikirkan ini. Bayangkan jika seandainya Yesus malu membela kita, bagaimana sekiranya Yesus memilih untuk tidak menanggung malu dan penderitaan akibat penyiksaan sampai mati di kayu salib demi menyelamatkan kita. Apa jadinya kita hari ini?

Ketika Yesus menggenapi rencana Tuhan mengenai penyelamatan manusia, lihatlah bahwa Yesus harus melewati malu yang demikian besar dan penderitaan mengerikan hanya untuk menebus segala dosa kita. Apa yang kita hadapi hari ini yang mungkin bisa mendatangkan penyangkalan atau rasa malu untuk mengakui Dia tidaklah sebanding dengan apa yang dialami Tuhan Yesus ketika menyelamatkan kita. Alangkah keterlaluan jika kita malu mengakui Tuhan yang begitu luar biasa besar kasihNya hanya untuk ditukarkan pada kepentingan-kepentingan dunia yang sesaat saja sifatnya. Yesus pun telah mengingatkan jauh-jauh hari agar kita jangan takut kepada manusia. "Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui." (Matius 10:26). Tuhan sanggup memelihara kita secara luar biasa. Jika burung pipit pun dipelihara Tuhan, apalagi kita yang lebih berharga dari burung pipit. (ay 31). Kemudian Yesus mengingatkan sejak awal pentingnya untuk mengakui jatidiri kita secara tegas. Ada konsekuensi yang harus kita terima apabila kita menutupinya, malu mengakui Tuhan kita di hadapan manusia. Kata Yesus: "Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga." (Matius 10:32-33). Orang percaya haruslah berani mengakui Tuhan di depan manusia. Tidak perlu malu, apalagi takut, dengan alasan apapun.

Dalam Amsal kita baca demikian: "Takut kepada orang mendatangkan jerat" (Amsal 29:25). Ya, kita bisa terjerat pada kegelapan ketika kita malu mengakui diri sebagai anak terang. Petrus pernah mengalami hal ini. Dalam keadaan dicekam ketakutan ketika Yesus ditangkap, ia menyangkal Yesus hingga tiga kali sebelum ayam berkokok. (Matius 26:69-75). Untunglah ia segera menyadari kesalahannya dan bertobat. Bagaimana jika kita tidak sempat untuk bertobat? Yesus tidak akan mau mengakui kita di hadapan Bapa di surga. Akibatnya binasalah kita. Dalam ayat lain kita membaca demikian: "Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui dia di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah." (Lukas 12:8-9). Tanpa pesan seperti ini pun sebenarnya kita tidak pantas malu mengakui Tuhan di hadapan orang lain. Tuhan yang sudah begitu baik menyelamatkan kita, sudah begitu setia pada hidup kita, begitu besar kasihNya melindungi dan mencukupi kita, layak mendapatkan segala yang terbaik dari diri kita sebagai ungkapan rasa syukur. Jika mengakuiNya saja kita tidak sanggup bagaimana kita bisa menunjukkan rasa syukur kita?

Jika harus malu, merasa malu-lah ketika melakukan dosa. Tidak pada tempatnya kita merasa malu mengakui Kristus, seharusnya kita malah merasa gembira dan bersukacita karena telah menemukan sang Gembala yang akan menuntun kita menuju kehidupan kekal di sisi Bapa Surgawi. Dalam kondisi apapun, banggalah menjadi pengikut Kristus, Tuhan yang begitu luar biasa mengasihi kita dan menginginkan kita semua beroleh keselamatan dan tidak satupun binasa. Keselamatan itu bisa bergantung pada situasi apakah kita mengaku dengan mulut atau menyangkal. "Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan." (Roma 10:9). Mengapa demikian? "Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan." (ay 10). Hati yang bersukacita penuh syukur tidak akan pernah malu mengakui Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Hati yang seperti itu pula yang akan dengan bangga mengakui dengan mulut, dan karenanya beroleh selamat. Sedini mungkin kita harus mau belajar membuka mulut mengakui Kristus dan hidup sesuai firman Tuhan, menjadi terang dan garam di dunia, karena jika kita tidak, semakin lama kita akan semakin sulit melakukannya dan akibatnya mendatangkan jerat. Karenanya buanglah perasaan malu dan takut itu jauh-jauh karena apapun yang ada di dunia ini tidaklah lebih penting dari rasa syukur atas besar kasih Tuhan selama ini pada kita berikut janjiNya akan kebahagiaan kekal, kelak setelah kita selesai menempuh masa kehidupan di dunia ini.

Tuhan begitu baik pada kita, banggalah selalu menjadi anak-anakNya

Monday, June 22, 2009

Berlayar Melawan Arus Dunia

Ayat bacaan: Markus 6:48
====================
"Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka."


berlayar melawan arus duniaPengaruh buruk dan penyesatan ada di mana-mana. Tidak saja menimpa orang dewasa, tapi anak-anak kecil pun bisa terkena pengaruh buruk ini. Tadi pagi saya mendengar sekelompok anak balita yang sedang berjalan tepat di depan rumah saya. Salah seorang dari anak ini tampaknya sedang menggoda temannya dengan berkata bahwa si teman itu kedapatan berada di kamar terkunci bersama teman perempuannya, yang juga berjalan bersama mereka. "Sedang ngapain berduaan di kamar seperti itu? Ya jelas sedang anu-anuan.." katanya sambil tertawa. Bayangkan anak kecil yang masih balita sudah bisa berkata demikian. Ini tentu bukan atas ajaran orang tuanya, tapi akibat apa yang mereka tonton atau dengar. Lagu-lagu pun di hari-hari sekarang ini banyak yang mengajarkan hal buruk. Kita mungkin tertawa mendengarnya, atau mencibir, namun sedikit banyak lagu-lagu dengan lirik negatif seperti ini bisa merusak moral banyak orang. Selingkuh menjadi sesuatu yang punya alasan dan karenanya menjadi sesuatu yang wajar, atau adalah wajar jika kita berpura-pura cinta untuk mendapatkan kepuasan. Inilah lagu-lagu negatif di jaman sekarang yang ironisnya menjadi sesuatu yang wajar. Berbagai sinetron di televisi pun banyak yang menggambarkan perselingkuhan sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja. Melawan arus dunia seperti ini tidaklah mudah karena serangannya bisa dari segala arah. Salah-salah, kita bisa terbawa arus dalam berlayar mengarungi kehidupan, dan akibatnya mendarat pada tujuan akhir yang salah.

Tepat setelah Yesus melakukan mukjizat memberi makan 5000 orang dengan menggunakan hanya lima roti dan dua ikan, murid-murid Yesus segera diperintahkan untuk berlayar terlebih dahulu menuju Betsaida, sementara Yesus sendiri pergi ke atas bukit untuk berdoa. Seiring berjalannya waktu, mereka sudah sampai di tengah-tengah. Tapi malam itu ada angin sakal di danau. Angin sakal adalah angin yang berlawanan dengan arah perahu, bertiup datang dari depan. Karenanya merekapun kepayahan mendayung kapal untuk melawan arah angin. Di saat tengah malam mencapai masa-masa puncaknya, sekitar jam tiga, dan disaat mereka mungkin mulai kelelahan mendayung, datanglah Yesus dengan berjalan di atas air. Markus mencatat demikian: "Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka." (Markus 6:48). Mungkin karena sempat kelelahan mendayung, konsentrasi mereka menjadi lemah, dan sempat kaget mengira bahwa yang mendatangi mereka adalah hantu. Mereka pun panik. (ay 48). Tapi Yesus berkata: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" (ay 50). Begitu Yesus naik ke perahu, serta merta angin pun reda. (ay 51). Mereka pun bisa mendayung dengan tenang hingga sampai ke tujuan.

Kita saat ini pun tengah mengarungi lautan kehidupan. Mungkin saat ini kita sudah sampai di pertengahan perjalanan, dan angin sakal mulai bertiup sehingga kita mulai kelelahan mengemudikan kapal kita untuk terus maju ke depan hingga sampai ke tujuan akhir kita, menuju sebuah kehidupan kekal penuh sukacita tanpa ratap tangis bersama Bapa di Surga. Mungkin saat ini terpaan angin sakal membuat kita kesulitan untuk mengarungi perjalanan kita. Sulit melawan arus dunia yang penuh tipu muslihat, ketidakadilan dan kesesatan. Pergaulan yang buruk, lingkungan yang tidak sehat, hal-hal negatif yang kita lihat dan dengar di sekitar kita, segala kedagingan duniawi, dan sebagainya, seringkali membuat kita menjadi lemah ketika kita berusaha melawannya. Ayat hari ini mengajarkan kita untuk berhenti menggunakan tenaga sendiri. Di antara murid-murid Yesus ada beberapa nelayan handal, yang seharusnya sudah tahu bagaimana cara berlayar yang baik dan benar, tapi mereka tetap saja kepayahan dan menemui masalah dalam perjalanan ketika didera angin yang berlawanan. Di saat seperti itulah kita bisa mulai belajar untuk mengandalkan Tuhan. Berkali-kali Tuhan berkata "Jangan takut". Jika ada penyertaan Tuhan dalam hidup kita, kita memang tidak perlu takut. Lihatlah ketika Yesus naik ke dalam kapal, angin sakal langsung berhenti saat itu juga. Dalam mengarungi lautan kehidupan ini kita akan terus berhadapan dengan angin sakal. Pada satu waktu kita akan mulai kesulitan, tidak peduli seberapa hebatnya kita sebagai manusia, kita akan mengalaminya cepat atau lambat. Karena itulah kita butuh Yesus menyertai dalam perjalanan kita agar kita bisa sampai ke tujuan yang benar seperti apa yang dikehendaki Tuhan bagi hidup kita. Ketika ada Tuhan dalam perahu hidup kita, kita pun tidak perlu takut, meski sedang berlayar melawan arus dan dalam kekelaman malam sekalipun. Mazmur Daud berkata demikian: "TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku." (Mazmur 23:1-4). Itu janji Tuhan kepada setiap orang yang berlayar dengan penyertaan Tuhan. "Apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya." (Mazmur 37:24). Ini janji Tuhan pada kita, jika kita tetap menjaga hidup kita agar selalu berkenan di hadapanNya. (ay 23).

"Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang...Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat." (Matius 24:11,13). untuk dapat bertahan mengayuh bahtera kehidupan kita butuh penyertaan Tuhan Yesus dalam hidup kita. Angin sakal akan terus kita hadapi, bahkan angin badai sekalipun akan ada dalam perjalanan kita. Tapi bersama Yesus kita akan mampu bertahan dan memperoleh kemenangan. Karenanya janganlah mengandalkan kekuatan sendiri, tapi milikilah sebuah perjalanan manis bersama Yesus hingga selamat sampai ke seberang. "Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus." (1 Korintus 1:8).

Berlayarlah mengarungi kehidupan bersama penyertaan Kristuspenyataan Tuhan kita Yesus Kristus

Sunday, June 21, 2009

Kerinduan Tuhan

Ayat bacaan: Yesaya 30:18
=====================
"Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!"

kerinduan TuhanReaksi apa yang timbul ketika kita tengah mengalami kesulitan atau kegagalan? Puji Tuhan untuk reaksi positif dimana kita bisa belajar banyak dari hal-hal tersebut, percaya bahwa dibalik kesulitan atau kegagalan itu ada masa depan yang cerah sesuai dengan apa yang telah direncanakan Tuhan. Tapi ada banyak pula reaksi yang negatif. Menyerah, atau menuduh Tuhan telah berlaku tidak adil, memalingkan mukaNya dari kita, membiarkan kita didera persoalan dan meninggalkan kita sendirian. Atau tidak yakin bahwa Tuhan akan memberikan sesuatu yang baik kepada kita. Fokus kepada masalah, atau seperti yang saya tulis kemarin, lebih memilih untuk mempercayai ketakutan-ketakutan yang belum tentu terjadi. Persoalan sulit mempercayai Tuhan dan lebih memilih untuk dicekam keragu-raguan merupakan salah satu manifestasi kurangnya pengenalan akan Tuhan. Mengapa demikian? Karena jelas-jelas Tuhan telah menyatakan dalam banyak kesempatan bahwa apa yang Dia sediakan bagi kita hanyalah segala sesuatu yang baik penuh dengan damai sejahtera.

Sebuah ayat penting bisa kita jadikan peneguhan akan hal ini. "Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!" (Yesaya 30:18). Lihatlah betapa luar biasanya kasih Tuhan pada kita. Adalah kerinduan Tuhan untuk menunjukkan kasihNya pada kita. Untuk bangkit menyayangi kita. Tuhan rindu untuk memberkati kita. Tidakkah ini luar biasa? Dari ayat ini kita bisa melihat bahwa Tuhan tidak pernah dan tidak akan pernah senang melihat kita didera penderitaan. Kalaupun Tuhan terkadang mengijinkan kita untuk mengalami persoalan, itu semata-mata untuk membuat kita sadar bahwa sebagai manusia kita tidak akan berdaya jika hanya bergantung pada kekuatan diri kita sendiri saja. Tuhan ingin mengajarkan kita untuk mau bergantung kepadaNya, sehingga Tuhan bisa menunjukkan kasih dan sayangNya pada kita. Ada kalanya kita diijinkan Tuhan memasuki padang gurun agar kita bisa belajar untuk benar-benar bergantung pada Tuhan. Kita membaca dengan jelas mengenai ini dalam Ulangan. "Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak. Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN." (Ulangan 8:2-3).

Jika kita mundur sedikit dari ayat bacaan hari ini, kita membaca sebuah pesan Tuhan mengenai apa yang harus kita lakukan."Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: "Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu." (Yesaya 30:15). Bertobat dan tinggal diam, tenang dan percaya. Ada kalanya kita harus diam dan tenang. Kata diam dan tenang bukan mengajarkan kita untuk bermalas-malasan, melainkan mengajarkan kita untuk percaya sepenuhnya pada Tuhan. Ada kalanya kita harus menghentikan segala kekhawatiran dan ketakutan kita, dan kembali mempercayakan segalanya kepada Tuhan. Tidak perlu panik, tidak perlu takut, tidak perlu ragu, karena Tuhan sedang menanti-nantikan saat untuk menyatakan kasihNya dan menyatakan sayangNya kepada kita. Tuhan menantikan kita untuk mampu belajar dari persoalan hidup, belajar untuk berhenti mengandalkan orang lain dan diri sendiri, dan kembali untuk percaya kepadaNya secara penuh, menyerahkan hidup secara total kepadaNya, sehingga ketika saat itu tiba, Tuhan pun akan dengan senang hati melimpahkan kasihNya secara luar biasa kepada kita. Sementara ini jika ada di antara teman-teman yang tengah menghadapi ketakutan, keputus asaan, kegelisahan dan keraguan akan hari depan yang penuh harapan, ingatlah akan janji Tuhan hari ini. Dia rindu untuk menyatakan berkatNya kepada anda, Dia tengah menanti-nanti untuk menunjukkan kasihNya. Percayalah sepenuhnya kepada janji Tuhan dan jangan pernah putus pengharapan! Tuhan adalah Allah yang adil, maka berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia.

Adalah sebuah kerinduan Tuhan untuk menyatakan kasih dan sayangNya kepada kita