Saturday, June 20, 2009

Kenal Maka Percaya

Ayat bacaan: Mazmur 9:11
====================
"Orang yang mengenal nama-Mu percaya kepada-Mu, sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya TUHAN."

kenal maka percaya, tak kenal maka tak sayang, mengenal Tuhan, percaya TuhanRasanya sulit bagi kita untuk bisa berbicara terbuka kepada orang yang baru saja kita kenal. Biasanya hubungan antara dua orang atau lebih yang baru saja bertemu akan kaku, berbincang-bincang seadanya dan mungkin hanya berisi basa basi. Akan beda hasilnya jika yang bertemu adalah orang yang sudah saling mengenal dengan baik. Dengan sahabat terdekat kita misalnya, kita akan dengan leluasa dan nyaman bercerita tentang banyak hal, bahkan yang sifatnya pribadi sekalipun. Mencurahkan perasaan, menanyakan pendapat untuk hal-hal yang pribadi dan sejenjisnya, itu akan jauh lebih mudah dilakukan kepada orang yang sudah sangat kita kenal dengan sangat baik. Mengapa demikian? Karena lewat pengenalan satu sama lain yang sudah sangat mendalam seperti itu, rasa percaya biasanya akan timbul. Kita akan tahu bahwa mereka tidak akan mungkin mencelakakan kita. Semakin dalam kita mengenal seseorang maka semakin percaya pula kita kepada mereka. Dan kita pun biasanya sayang atau peduli kepada mereka, demikian pula sebaliknya. Tak kenal maka tak sayang, begitu kata pepatah.

Hubungan antara kita manusia dengan Tuhan pun seperti itu. Sejauh mana kita mengenal Tuhan? Itu akan berkaitan erat dengan seberapa jauh kita dekat dengan Tuhan, dan kemudian akan sangat menentukan seberapa besar tingkat kepercayaan kita kepadaNya. Mengaku percaya mungkin mudah. Lewat lagu-lagu pujian, lewat ucapan di depan orang lain, mungkin mudah bagi kita untuk berkata percaya. Namun ketika dihadapkan pada realita, mungkin hanya sedikit yang benar-benar percaya lewat iman yang teguh bahwa Tuhan itu ada memelihara kehidupan mereka sehari-hari. Ketika masalah menerpa, ketika badai menghadang, seringkali rasa percaya itu menurun beberapa level, bahkan mungkin hilang. Begitu banyak orang yang saat ini didera kekhawatiran/ketakutan terhadap apa yang akan terjadi di masa depan. Mereka dikuasai ketakutan yang timbul dari pikiran mereka sendiri. Hingga tingkat tertentu bisa membuat orang menjadi paranoid, yaitu sebuah perasaan takut berlebihan atau kecurigaan terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi. Bukannya percaya pada Tuhan, tapi malah lebih mudah untuk menyerah kepada ketakutan dan kekhawatiran yang menghantui pikiran. Masalah menjadi terlihat jauh lebih besar dibandingkan kuasa yang dimiliki Tuhan. Inilah yang mungkin terjadi apabila kita belum mengenal Tuhan. Bagaimana bisa percaya kalau belum mengenal?

Untuk bisa percaya kepada Tuhan, tentu terlebih dahulu kita harus mengenalNya. Inilah tips yang diberikan Daud dalam Mazmur. "Orang yang mengenal nama-Mu percaya kepada-Mu, sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya TUHAN." (Mazmur 9:11). Sebuah kunci penting disebutkan disini agar kita bisa percaya, yaitu dengan mengenal Tuhan. Bagaimana kita bisa mengenal Tuhan? Yang pertama kita bisa mengenal Dia lewat firman Tuhan. Alkitab mencatat begitu banyak keterangan mengenai Tuhan. Mari kita lihat beberapa ayat berikut ini. "Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada." (Mazmur 33:9). Tuhan adalah pribadi yang menciptakan segala sesuatu lewat firman. Kisah penciptaan alam semesta beserta isinya di awal Alkitab menjadi sebuah catatan penting mengenai hal ini. Salomo menggambarkan Tuhan sebagai sosok yang jauh lebih tinggi dari segala kepintaran dan kecerdasan bahkan kebijaksanaan manusia. "Tidak ada hikmat dan pengertian, dan tidak ada pertimbangan yang dapat menandingi TUHAN." (Amsal 21:30). Dalam Yesaya kita bisa melihat lagi seperti ini: "Dengarkanlah Aku, hai kaum keturunan Yakub, hai semua orang yang masih tinggal dari keturunan Israel, hai orang-orang yang Kudukung sejak dari kandungan, hai orang-orang yang Kujunjung sejak dari rahim. Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu." (Yesaya 3-4) Tuhan adalah Bapa yang setia yang akan tetap mau menggendong, menanggung, memikul dan menyelamatkan kita sampai akhir hayat."Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku"(ay 9). Dan tentunya banyak lagi firman Tuhan yang mampu mengenalkan kita secara mendalam kepada siapa Tuhan sebenarnya.

Mengenal pribadi Allah juga bisa kita peroleh lewat pengalaman kita berjalan bersama-sama denganNya. Mengalami langsung kuasa Tuhan dengan penyertaanNya dalam hidup kita. Saya masih bisa menulis renungan saat ini, dan anda bisa membacanya, itu adalah atas karunia Tuhan. Saya percaya semakin kita hidup taat mengikuti kehendakNya, maka kuasaNya akan semkakin nyata kita rasakan. "Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan." (Roma 10:10). Orang yang percaya akan dibenarkan, yang mengaku akan diselamatkan. Ini sejalan dengan ayat bacaan hari ini, bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan orang yang terus setia mencari dan merindukanNya. Orang yang setia mencari dan merindukan Tuhan adalah orang yang percaya kepadaNya, punya pengharapan tanpa henti, tidak menyerah pada ketakutan dan kekhawatiran. Dan ini akan dimiliki apabila kita mengenal siapa Tuhan itu sebenarnya, sebesar apa sesungguhnya kasihNya bagi kita semua, seberapa besar Tuhan ingin kita selamat dan mendapatkan bagian di KerajaanNya. Janganlah berhenti dengan percaya sebatas bibir saja, mulailah hari ini untuk mengenal pribadi Allah lebih jauh lagi sehingga dengan iman teguh kita bisa percaya sepenuhnya dan menerima penyertaan Tuhan secara nyata dalam hidup kita.

Rasa percaya bisa dibangun lewat pengenalan sungguh-sungguh

Friday, June 19, 2009

Yesus dan Undangan Orang Berdosa

Ayat bacaan: Wahyu 3:20
====================
"Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku."

yesus dan undangan orang berdosaSeorang teman pernah berkata bahwa ia merasa tidak layak untuk bahagia. Tidak akan ada kamus bahagia dalam hidupnya, karena menurutnya ia bukanlah orang yang cukup baik selama ini untuk kemudian diganjar sebuah kebahagiaan oleh Tuhan. Masih banyak orang lain, menurutnya, yang lebih berhak untuk mendapatkan kebahagiaan. Yang pasti bukan dia. Ini adalah sebuah bentuk pesimisme yang sungguh keliru. Meski demikian, saya rasa banyak orang yang punya pandangan seperti ini. Apakah Tuhan terlalu sibuk untuk mengurusi ciptaanNya sendiri satu persatu? Apakah Tuhan melimpahkan berkatNya habis-habisan pada orang tertentu, sementara orang lain dibiarkan menderita tanpa kesempatan memperoleh kebahagiaan, apalagi keselamatan?

Yakinlah bahwa Tuhan tidak pernah dan tidak akan pernah menganak tirikan siapapun. Semua manusia di dunia ini berasal dari buah karya "masterpiece" Tuhan sendiri yang sungguh berarti bagiNya. Begitu berarti, sehingga manusia telah dilukiskan pada telapak tangan Tuhan dan tetap berada di ruang mataNya, dalam jarak pandangNya. (Yesaya 49:16). Dosa dan pelanggaran kita boleh saja besar di masa lalu, namun Tuhan tetap membukakan pintu pengampunan lebar-lebar. Malam ini saya ingat akan beberapa ayat yang menggambarkan bagaimana sikap Yesus terhadap undangan manusia, termasuk yang berdosa sekalipun. Alkitab mencatat beberapa kejadian yang berhubungan dengan kesediaan Yesus memenuhi undangan orang berdosa. Yesus pernah makan di rumah Matius seorang pemungut cukai. (Matius 9:9-10) Pada saat itu bukan saja Matius yang hadir, tapi ada banyak pula pemungut cukai lainnya yang hadir, termasuk orang-orang berdosa. (ay 10). Orang Farisi melihat hal itu dan mengundang perhatian orang-orang Farisi. Yesus menjawab demikian: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit." (ay 12). Lalu ada juga kisah Zakheus, yang juga seorang pemungut cukai. Yesus menumpang di rumahnya. (Lukas 19:5). Zakheus pun bertobat. Cibiran dan cercaan sempat dialamatkan oleh orang yang melihat itu terhadap Yesus, tapi Yesus menjawabnya demikian: "Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang." (ay 9-10). Pada kesempatan lain, ada pula kisah seorang Farisi yang mengundang Yesus untuk makan ke rumahnya. Yesus menerima undangan tersebut. (Lukas 7:36). Di sana Yesus pun bertemu dengan seorang wanita yang terkenal sebagai orang berdosa. (ay 37). Kita lihat berkali-kali Yesus mendapat kesempatan untuk masuk ke rumah orang berdosa. Yesus tidak pernah menolak undangan, malah beberapa kali menawarkan diriNya sendiri untuk masuk ke rumah mereka, dan kedatangan Yesus itu berbuah pertobatan.

Jika Yesus tidak pernah menolak undangan manusia, yang berdosa sekalipun, selama Dia ada di dunia, maka saat ini pun Yesus tidak akan menolak undangan anda juga! Dia pasti menerima dengan senang hati. Ayat bacaan hari ini bahkan menegaskan mengenai hal ini dengan lebih tegas. "Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku." (Wahyu 3:20). Lihatlah bahwa Tuhan tetap mengetuk pintu hati kita setiap hari, setiap saat. Dia mengetuk dan meminta kita untuk masuk. Hanya orang-orang yang mendengar suaraNya lah yang akan membukakan pintu. Dan anda akan mendapatkan kesempatan untuk duduk dalam perjamuan makan bersama-sama dengan Tuhan. Siapapun anda, berdosa seperti apapun, Yesus akan dengan senang hati menerima undangan anda. Semua orang punya kesempatan yang sama untuk selamat, tapi hanya mereka yang mendengar suaraNya dan mau membukakan pintu lah yang menerimanya. Dia hadir sebagai "tabib" untuk menyembuhkan penyakit-penyakit yang siap membinasakan kita, Dia hadir untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.

Jika saat ini anda belum pernah mengundang Yesus untuk masuk ke dalam hati anda, undanglah sekarang. Ingatlah bahwa Yesus tidak akan pernah menolak undangan anda. Yesus hadir di dunia ini justru untuk menyelamatkan orang-orang berdosa, termasuk anda dan saya. Saat ini Yesus tetap menanti tepat di depan pintu hati anda dan mengetuknya. Bukakanlah pintu hati anda agar Yesus dapat masuk. Undang Yesus hari ini, karena keselamatan juga menjadi kasih karunia Tuhan yang luar biasa buat semua manusia, termasuk diri anda.

Ketika Yesus mengetuk, dengar dan bukalah pintu hati anda

Thursday, June 18, 2009

Tips Meredam Amarah

Ayat bacaan: Mazmur 4:5
====================
"Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam."

tips meredam amarahDahulu saya sering mengibaratkan diri saya sebagai sebuah granat. Jika picu ditarik, saya bisa dengan cepat meledak. Itulah gambaran emosi saya di masa lalu. Begitu gampangnya saya untuk marah, bahkan dalam hal-hal sepele sekalipun, dan kemarahan itu bisa naik dengan cepat dan sulit untuk reda. Setidaknya tidak dalam waktu singkat. Untung waktu itu saya tidak sempat terkena stroke atau darah tinggi. Malam ini saya membaca sebuah kutipan kata-kata bijak dari seorang penyair Amerika klasik dari tahun 1800 an bernama Ralph Waldo Emerson. Kutipannya berbunyi sebagai berikut:

"For every minute you are angry you lose sixty seconds of happiness." 

Semenit marah artinya kita kehilangan 60 detik kebahagiaan. Ketika hidup saya waktu dulu diisi dengan begitu banyak kemarahan dan emosi yang meledak-ledak, saya berpikir, sudah berapa banyak waktu yang saya sia-siakan untuk kehilangan kebahagiaan? Puji Tuhan masa-masa itu sudah berakhir. Apakah saya masih pernah marah? Masih. Tapi saya tidak mau berlama-lama, tidak mau memanjakan amarah itu sehingga menjadi semakin parah. Secepat mungkin saya akan berusaha untuk meredakannya. Itu baik untuk jantung, baik untuk pembuluh darah, baik untuk jiwa, baik untuk kesehatan, baik untuk kehidupan, dan tentunya baik buat orang-orang di sekitar kita.

Alkitab tidak melarang orang untuk marah. Hanya yang perlu diingat, kemarahan ini bisa menjadi celah yang dimanfaatkan iblis untuk membuat kita terjerumus dalam dosa, mulai dari yang sederhana hingga yang berat. Sebuah tips sederhana diberikan oleh Daud. "Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam." (Mazmur 4:5). Marah boleh saja, asal jangan berbuat dosa. Ketika mulai marah, jagalah mulut agar tidak berkata-kata terlalu banyak, karena nantinya yang terjadi adalah mengumbar kata-kata yang menyakitkan orang lain, mengungkit-ungkit masa lalu dan penuh dengan tuduhan-tuduhan tak berdasar. Begitu mulai marah, mulailah segera untuk meredamnya dengan berkata-kata dalam hati. Bukan mengumpat dalam hati, tapi merenungkan sambil berdiam diri, dan redamlah secepatnya. Seperti halnya dalam setiap keluarga, antara saya dan istri pun terkadang bisa berselisih. Marah bisa saja timbul, tapi saya belajar untuk tidak menuruti emosi dengan melemparkan kata-kata apalagi membentak dengan kasar. Cukup sudah kelakuan saya di masa lalu. Sekarang itu tidak lagi boleh terulang. Ketika kemarahan mulai datang, saya akan segera mengambil posisi diam. Menjaga agar saya tidak terpancing emosi yang bisa membuat perkataan sia-sia keluar yang bisa menyakiti istri saya. Diam dan mencoba meredakannya. Setelah beberapa waktu, kemarahan itu reda, dan saya akan segera menghampiri istri saya, terlepas dari siapapun yang salah. Nobody's perfect bukan? Tips ini benar-benar mampu menjaga suasana hangat dan harmonis di rumah.

Yakobus juga memberi sebuah tips yang bermanfaat. "Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah" (Yakobus 1:19). Lambatlah untuk marah dan jangan terburu-buru mengumbar kata-kata, dan pastikan untuk tidak melempar kutuk demi kutuk ketika sedang dalam kondisi marah. Ingatlah bahwa segala sesuatu nanti harus kita pertanggungjawabkan, termasuk perkataan. "Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum." (Matius 12:36-37). Ingat pula bahwa amarah manusia tidaklah melakukan hal yang baik dan yang benar di mata Allah. (Yakobus 1:20).

"Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan." (Amsal 14:29). Selagi mungkin, hindarilah kemarahan. Tapi jika memang harus marah, jagalah kemarahan kita dalam batas yang wajar. Jangan sampai kita marah tidak terkendali atau terbiasa untuk mudah terpancing emosinya. Waspadalah pada amarah, karena ketika kita marah, sebenarnya dosa tengah mengintip untuk menyelinap masuk. Paulus memberikan tips demikian: "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis." (Efesus 4:26-27). Paulus mengingatkan agar kita tidak membiarkan marah kita berlarut-larut terlalu lama, sehingga dengan demikian kita memberikan kesempatan bagi iblis untuk masuk. Hal ini saya aplikasikan di rumah juga, separah apapun perselisihan, kami berdua sepakat untuk tidak membiarkan perselisihan itu terus ada hingga besok pagi. Sebelum tidur, masalah itu haruslah selesai. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari, jangan dibiarkan berlarut-larut, karena hal itu hanya akan merugkan diri kita sendiri. Tiga tips meredam amarah dari Daud, Yakobus dan Paulus ini rasanya patut dicoba agar kita terbebas dari belenggu kemarahan. Hidup ini sesungguhnya singkat. Karena itu berhentilah membuang-buang kebahagiaan dalam hidup kita dengan menuruti nafsu untuk marah.

"For every minute you are angry you lose sixty seconds of happiness."

Wednesday, June 17, 2009

Bekerja Untuk Tuhan

Ayat bacaan: Efesus 2:10
===================
"Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya."

menemukan panggilan, bekerja untuk TuhanHarga pemain bola terus melambung tinggi di Eropa. Terutama di Inggris dan Spanyol, harga yang melambung ini membuat kesenjangan yang cukup tinggi antara klub besar dengan keuangan melimpah dan klub-klub semenjana hingga menengah. Pemain top yang dibeli dengan harga tinggi ini seringkali mendapatkan gaji besar bukan hanya karena kontribusinya, tapi didasarkan atas ketenaran mereka. Sepakbola kini bukan lagi olah raga, tapi sudah menjelma menjadi bisnis hiburan tingkat tinggi. Pemain-pemain mahal ini akan terus menerima gaji besar, bahkan ketika mereka sedang tidak dalam performa terbaik atau tidak memberikan kontribusi signifikan bagi timnya. Saya ingat seorang pemain terkenal bernama Fernando Redondo. Sekitar akhir 90an saya ingat berita perpindahannya ke AC Milan setelah meninggalkan Real Madrid. Sialnya ia didera cedera lutut yang parah, hingga akhirnya pensiun. Apa yang menarik dari Fernando Redondo adalah tingkat profesionalitas tingginya. Dia menolak menerima gaji selama masa penyembuhan lututnya di Argentina, meskipun secara kontrak ia tetap layak menerimanya. Ketika ia merasa tidak memberi kontribusi apapun bagi AC Milan, ia pun menolak untuk menerima gajinya. Ini sebuah keteladanan yang sudah sangat jarang kita temukan. Sebuah keteladanan akan etika, moral dan profesionalitas yang tidak semua orang mau melakukannya.

Hari ini saya masih mendapat pesan penting mengenai bekerja dan melayani Tuhan. Keselamatan dijanjikan lewat kasih karunia Tuhan. Kita yang sarat dengan dosa dan seharusnya binasa ternyata diselamatkan oleh Tuhan, lewat mengutus anakNya yang tunggal untuk menebus kita lewat kematianNya di atas kayu salib. Lewat karya penebusan Kristus itulah kita diselamatkan dari binasa, hubungan kita dengan Tuhan pun dipulihkan. Jika kita saat ini bisa mengimani apa yang dikatakan penulis Ibrani: "Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya." (Ibrani 4:16), itu adalah akibat Kristus yang telah memulihkan hubungan kita dengan Tuhan. Tanpa itu, kita tidak akan bisa masuk ke dalam tahta maha kudus Tuhan secara pribadi. Bukan main besarnya karya penyelamatan Kristus ini bagi hidup kita, hidup orang tua kita, saudara-saudara kita bahkan hidup anak dan cucu kita kelak di kemudian hari.

Ketika kita sudah diselamatkan, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita bisa hidup dengan hanya menikmati segala kemurahan Allah tanpa berbuat sesuatu bagiNya? Layakkah kita berpangku tangan melihat begitu banyak jiwa-jiwa yang belum selamat? Perjalanan kita dari bumi menuju surga sudah dibayar lunas oleh pengorbanan Kristus. Paulus mengatakan bahwa itu adalah pemberian Allah oleh kasih karuniaNya, oleh iman kita, dan bukan karena hasil pekerjaan kita. "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri." (Efesus 2:8-9). Itu benar. Tidak ada satupun yang kita buat bisa membawa kita menuju keselamatan jika kita hidup tanpa Kristus. Namun kita tidak boleh berhenti hanya pada ayat 9 ini, karena ayat selanjutnya menyatakan apa yang harus kita lakukan setelah menerima kasih karunia Allah ini. "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya." (ay 10). Tuhan membentuk kita untuk melakukan hal-hal yang baik, untuk bekerja di ladangNya, seperti yang sudah Dia persiapkan untuk kita. Ayat 10 ini menunjukkan bahwa kita semua punya tugas. Sebagai anak-anakNya, kita semua diciptakan Tuhan dalam Kristus untuk melakukan pekerjaan baik. Inilah hal penting yang harus kita ingat setelah kita mengimani keselamatan lewat kasih karunia.

Lalu bagaimana kita harus bersikap? Lihatlah bahwa kita semua punya panggilan tersendiri sesuai dengan apa yang telah dipersiapkan langsung oleh Tuhan ketika Dia menciptakan kita. Dalam surat kepada jemaat Korintus, Paulus menjelaskan bahwa "Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh." (1 Korintus 12:4). Secara rinci Paulus menjabarkan karunia-karunia itu. "Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu." (ay 8-10). Semua itu berasal dari Roh yang sama, seperti yang dikehendakiNya. (ay 11). Seperti apa yang sudah Dia rencanakan sejak awal.

Apakah yang menjadi panggilan anda? Karunia apa yang diberikan Tuhan pada anda? Bekerja melayani Tuhan tidak harus selalu berarti membuat mukjizat besar, membangkitkan orang mati, menyembuhkan sakit parah dan sebagainya. Lewat hal-hal kecil di lingkungan kerja atau lingkungan tempat tinggal pun kita bisa melayani Tuhan dengan baik. Lewat sikap, tindakan dan perbuatan kita pun kita bisa menjadi terang dan memperkenalkan sang Terang Dunia. Tepat seperti kata Yesus: "Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." (Yohanes 8:12). Ketika kita berjalan dalam Kristus, kita akan memiliki terang hidup, yang memancar keluar karena kita punya terang dunia di dalam diri kita. Ketika hal ini menjadi tanggungjawab kita, secara luar biasa Tuhan dengan serius menambahkan janji akan upah bagi orang-orang yang bekerja. "Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya." (Roma 4:4). Paulus pun mengingatkan demikian: "Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia."(1 Korintus 15:58). Hidup di dunia ini bukanlah sebuah liburan semata. Kita semua telah dipanggil untuk bekerja bagiNya, sesuai dengan apa yang telah Dia rencanakan sejak kita diciptakan. Adalah sebuah kehormatan untuk bekerja melayani Tuhan. Temukan panggilan Tuhan bagi hidup anda, dan lakukanlah apa yang harus kita lakukan.

Kita punya tugas masing-masing sesuai dengan yang telah Dia persiapkan. Apa yang menjadi panggilan anda?

Tuesday, June 16, 2009

6 Stadium Menuju Dosa

Ayat bacaan: Efesus 4:17-19
=======================
"Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka. Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran."

6 stadium menuju dosaMencegah lebih baik dari mengobati. Pesan itu selalu disampaikan dokter atau tenaga medis kapanpun dan dimanapun. Pada stadium dini, penyakit-penyakit yang berat sekalipun akan punya kesempatan untuk sembuh jauh lebih besar dibandingkan jika penyakit itu sudah memasuki stadium lanjut. Maka selalu dianjurkan bagi semua orang untuk rajin-rajin memeriksakan kondisi kesehatan alias check up rutin. Masalahnya, mayoritas orang akan terlena dengan pola hidup yang salah dan tidak peduli dengan kesehatannya. Berat sekali rasanya melepaskan kebiasaan buruk, apalagi jika kondisi, situasi dan lingkungan tidak mendukung. Pertemanan yang salah misalnya, seringkali membuat orang sulit berubah. Ketika penyakit menjadi berat, barulah mereka tersadar. Sayangnya seringkali kesadaran itu hadir ketika stadium sudah mencapai tingkat lanjut. Maka alangkah baiknya jika kita mawas diri sejak awal sebelum semuanya terlambat. Sekali lagi, mencegah lebih baik dari mengobati.

6 stadium menuju dosa. Itu reaksi saya ketika bertemu ayat bacaan hari ini. "Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka. Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran." (Efesus 4:17-19). Ketiga ayat dari Efesus ini menggambarkan langkah demi langkah perjalanan menuju dosa. Stadium dimulai dari tingkat awal sampai tingkat lanjut atau kronis bahkan kritis. Ijinkan saya merinci satu persatu.
  • pikirannya yang sia-sia
  • pengertiannya yang gelap
  • jauh dari hidup persekutuan dengan Allah
  • Perasaan mereka telah tumpul
  • menyerahkan diri kepada hawa nafsu
  • mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran

Pada kondisi awal, kita mungkin lupa menjaga pikiran kita dengan hal-hal yang baik dari Tuhan, sehingga kita mulai terjebak untuk mengisi pikiran kita pada hal yang sia-sia. Kemana kita seharusnya mengarahkan pikiran kita? Dalam Kolose dikatakan demikian: "Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi." (Kolose 3:2). Ketika kita memikirkan untuk memperkuat diri kita agar fokus pada hal-hal surgawi, maka kita akan jauh dari memikirkan hal-hal yang sifatnya sia-sia dan hanya terbatas pada kepuasan duniawi saja. Pengertian yang gelap merupakan stadium selanjutnya, dimana kita mulai kehilangan hikmat, menjadi sulit untuk membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang benar dan yang salah. Kemudian kita akan semakin jauh dari bersekutu dengan Tuhan. Kita akan lebih tertarik pada segala kenikmatan duniawi dan mulai malas untuk menghampiri Tuhan. Doa mulai jarang, saat teduh atau beribadah bolong-bolong dan semakin lama semakin jarang. Hal ini akan membuat perasaan menjadi tumpul. Tidak ada lagi suara Tuhan yang didengar, hati nurani menjadi kaku sehingga semakin jauh dari kebenaran firman Tuhan. Kemudian stadium selanjutnya adalah menyerah pada hawa nafsu. Semua yang dikejar hanyalah untuk pemuasan nafsu semata, dan sampailah pada stadium kronis, hidup dengan nyaman dalam berbagai macam kecemaran. Yakobus seolah melanjutkan 6 stadium ini hingga sampai pada kesimpulan. "Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut." (Yakobus 1:15).

Bagaimana kita bisa menghindari 6 stadium menuju dosa yang berujung maut ini? Mari kita kembali pada Efesus. Ayat selanjutnya dari 6 stadium itu adalah: "Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus." (Efesus 4:20). Ya, bagi yang mengenal Kristus, tidak demikian seharusnya yang terjadi. Dalam Kristus ada kebenaran yang nyata. (ay 21). Selanjutnya dikatakan bahwa kita harus menanggalkan manusia lama dan mengalami perubahan sebagai manusia baru dalam roh dan pikiran. "yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya." (ay 22-24). Singkatnya, kita harus hidup sepikir dan seperasaan seperti Yesus. Kita harus menaruh pikiran dan perasaan kita selaras dengan Kristus. "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus" (Filipi 2:5).

Mari kita introspeksi sejenak, ada di stadium manakah kita sekarang? Puji Tuhan jika anda sudah kembali "sehat", terhindar dari penyakit menuju dosa itu. Bagi teman-teman yang masih berada pada salah satu stadium di atas, berubahlah dan kembalilah pada kebenaran Kristus yang nyata. Masih ada kesempatan, masih ada waktu, dan Tuhan hari ini tetap mengulurkan tanganNya untuk menerima kehadiran anda kembali. Dia mengasihi anda lebih dari apapun dan tidak ingin satupun menuju maut. Semakin cepat semakin bagus, sebelum perubahan itu menjadi sangat sulit bahkan terlambat.

Ambil tindakan nyata pada stadium manapun agar anda tidak lagi terseret dalam pusaran menuju maut