Monday, June 15, 2009

Keputusan yang Mengubah

Ayat bacaan: 2 Korintus 3:5-6
=======================
"Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah. Ialah membuat kami juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan."

keputusan, berbantahSetiap hari dalam hidup ini kita dihadapkan pada berbagai keputusan yang harus diambil. Apakah kita mau terus tidur atau kita bangun, melakukan saat teduh dan bekerja, apakah kita memilih untuk bekerja sungguh-sungguh atau malas-malasan, apakah kita memilih untuk jujur atau menipu, apakah kita memilih untuk mengasihi atau membenci, mendendam atau mengampuni, dan sebagainya. Setiap hari dalam masalah-masalah yang mungkin sepele dan tidak kita pikirkan, sebenarnya kita berhadapan dengan decision making, dimana sadar atau tidak, apa yang kita putuskan itu akan berpengaruh pada masa depan kita. Sebuah keputusan yang diambil malah mampu mengubah dunia. Lihatlah Bunda Teresa. Keputusan yang ia ambil tidaklah mudah, tapi keputusan untuk melayani di India ternyata memberkati begitu banyak orang dan dikenang dunia hingga hari ini. Bayangkan jika beliau mengambil keputusan yang berbeda, maka sejarah dunia pun akan berbeda. Ada begitu banyak keputusan yang pada awalnya kecil atau sederhana, tapi kemudian bisa berakibat pada perubahan besar.

Saya tertarik melihat bagaimana pada mulanya reaksi Musa ketika ia hendak dipakai Tuhan. Musa adalah nabi yang luar biasa dan dihormati oleh begitu banyak orang dari kepercayaan yang berbeda, dari generasi ke generasi hingga hari ini.Tapi lihatlah bahwa untuk menjadi besar seperti itu, Musa terlebih dahulu melewai sebuah proses. Alkitab mencatat bahwa pada awalnya Musa sempat berbantah-bantahan dengan Tuhan. Ia terus mencari alasan, berkelit agar tidak perlu meninggalkan zona nyamannya untuk dipakai Tuhan. Mari kita lihat reaksi Musa ketika ia hendak diutus Tuhan. "Lalu sahut Musa: "Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?"(Keluaran 4:1). Tuhan pun kemudian menunjukkan beberapa mukjizat. Patuhkah Musa? Belum. Ia kembali berbantah. "Lalu kata Musa kepada TUHAN: "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah." (ay 10). Tuhan kemudian mengatakan bahwa semua itu adalah ciptaanNya, termasuk mulut dan lidah Musa, dan bukan "ringan" mulut Musa yang Tuhan minta namun kesediaannya. Sebab Tuhan sendiri yang akan menyertai lidah dan mengajar apa yang harus ia katakan. (ay 11). Tapi Musa kembali berkelit. "Tetapi Musa berkata: "Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus." (ay 13). Dan Tuhan pun murka. Musa kemudian takut, dan ia memilih untuk mengikuti perintah Tuhan. Dalam ayat 18 kita membaca akhirnya Musa mengambil keputusan untuk taat menjalani apa yang diperintahkan Tuhan, dan setelah itu kita tahu bagaimana Tuhan memakai Musa secara luar biasa, dimana hasilnya masih tetap dikenang orang hingga hari ini dan menjadi salah satu bagian terpenting dalam sejarah dunia. Masalah berkelit dan berbantah ini tidak hanya dilakukan Musa. Ada beberapa nabi lainnya yang juga melakukan hal ini. Nabi Yeremia misalnya. Ia berkelit dengan alasan bahwa ia masih terlalu muda dan belum saatnya untuk tampil di depan. (Yeremia 1:6). Atau Yunus yang memilih untuk melarikan diri dari tugas yang disematkan Tuhan kepadanya. Pada akhirnya kita tahu bagaimana mereka dipakai Tuhan secara luar biasa. Lihatlah bahwa semua itu berawal dari sebuah keputusan. Tuhan boleh mengutus, namun jika orang yang bersangkutan tidak mengambil keputusan maka tidak akan bisa membawa perubahan apa-apa. Keputusan yang kita ambil hari ini akan sangat menentukan di masa depan.

Seringkali kita sulit untuk melepaskan diri dari zona kenyamanan kita. Kita terbiasa untuk punya seribu satu alasan untuk menghindar dari apa yang diinginkan Tuhan untuk kita perbuat. Jangankan melayani, membantu orang yang susah saja rasanya sudah berat. Padahal Tuhan ingin kita semua menjadi perpanjangan tanganNya untuk mewartakan Injil, menjadi garam dan terang, agar dunia bisa mengenal Kristus dan selamat lewat diri kita masing-masing. Terlalu muda, terlalu tua, tidak pandai bicara, terlalu sibuk, sulit menghadapi orang, kekhawatiran ini dan itu, bagaimana jika begini dan begitu, semua ini selalu menjadi alasan kita untuk melakukan pekerjaan Tuhan. Musa, Yeremia, Yunus, mereka ini pada awalnya tidak menyadari bahwa sebenarnya bukan kekuatan dan kehebatan mereka yang Tuhan minta, namun kesediaan mereka. Karena Tuhan sendirilah yang sebenarnya bekerja. Kepada Yeremia, Tuhan memberikan jawaban demikian: "Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan." (Yeremia 1:7). Apa dasarnya? "Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN." (ay 8). Lihatlah bahwa sebenarnya Tuhan sendiri yang bekerja. Siapapun bisa dipakai Tuhan secara luar biasa, karena Tuhan tidak butuh ahli-ahli melainkan butuh hati yang rindu untuk mengasihi orang lain, seperti halnya Tuhan telah mengasihi kita. Mereka, dan juga kita, anda dan saya, hanyalah perantara-perantara dimana Tuhan rindu untuk melakukan pekerjaanNya melalui kita. Tuhan tahu persis kekurangan dan kelemahan kita masing-masing. Tapi itu semua tidaklah menjadi penghalang bagi kita untuk mampu bekerja di ladang Tuhan. Tidakkah itu adalah sebuah kehormatan jika Tuhan mau memakai kita?

"Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?" (Mikha 1:8). Kata "mencintai kesetiaan" dalam bahasa Inggris disebut: "to love kindness and mercy". Tuhan telah memberikan segala sesuatu yang baik kepada kita, tidakkah wajar jika Tuhan menuntut kita pula untuk selalu suka berbuat baik, mengasihi orang lain, membantu mereka dan memperkenalkan kebesaran Tuhan pada mereka? Tuhan menghendaki setiap orang bisa diselamatkan dan bisa memperoleh pengetahuan akan kebenaran. (1 Timotius 2:4). Tidak ada satupun manusia di kolong bumi ini yang Dia inginkan untuk binasa. Karenanya Tuhan mau memakai kita semua untuk melakukan pekerjaan yang bisa membawa keselamatan bagi banyak orang. Ayat bacaan hari ini berisi penjelasan Paulus mengenai prinsip seorang pengerja. "Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah. Ialah membuat kami juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan." (2 Korintus 3:5-6). Ya, bukan kekuatan dan kemampuan kita yang diandalkan dan membuat kita sanggup, tapi Tuhan sendiri yang bekerja melalui kita. Ketika Tuhan memilih anda dan saya untuk sebuah pekerjaan penting di ladangNya, itu artinya Tuhan pasti memberi kita kemampuan untuk melaksanakannya. Ada Roh Kudus yang akan terus membimbing kita untuk bekerja. Saya tidak akan mungkin bisa menulis renungan setiap hari selama setahun setengah jika mengandalkan kekuatan saya sendiri. Saya bukan lulusan sekolah Alkitab, bukan pendeta, bahkan masih terbilang baru menerima Yesus sebagai Juru Selamat. Namun keputusan yang saya ambil untuk mau bekerja bagi Dia membawa begitu banyak perubahan. Saya menyaksikan sendiri berkali-kali bagaimana kuasa Tuhan begitu luar biasa, saya begitu bersukacita melihat banyak orang dipulihkan. Betapa indahnya mengalami Tuhan secara nyata bersama-sama dengan saudara-saudara yang dipulihkan! Jangan sampai ada di antara kita yang menolak tugas yang telah Dia berikan bagi kita. Tidak harus selalu menjadi pengkotbah, pengerja, diaken, worship leader, pemusik, tapi bisa dalam bentuk apapun, bahkan di luar lingkungan gereja. Di market place, di kantor, di kampus, akan ada perubahan nyata ketika kita mau mengambil keputusan untuk mengikuti apa yang diinginkan Tuhan. Melayani merupakan kewajiban kita sebagai anak-anak Tuhan. Akan ada konsekuensinya ketika kita menolak apa yang Tuhan gariskan untuk kita. "Siapa menutup telinganya bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban, kalau ia sendiri berseru-seru." (Amsal 21:13) Dari kisah Musa pun kita melihat bahwa membantah Tuhan akan mendatangkan murkaNya. So, find your calling, and follow what God wants you to do. Make the right decision today!

Keputusan kecil yang anda ambil saat ini mampu mendatangkan perubahan besar

Sunday, June 14, 2009

Dangerous Mind

Ayat bacaan: 1 Petrus 5:7
====================
"Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu."

dangerous mind,kekhawatiranSebuah perbincangan menarik pernah saya lakukan dengan seorang musisi jazz ternama Indonesia. Ia menceritakan bagaimana eksplorasi dan interpretasinya bermusik bisa terdengar begitu liar. Menurutnya, otak (pikiran) dan perasaan manusia itu sesungguhnya liar. Bisa sangat kreatif, produktif, tapi sebaliknya juga bisa destruktif, kejam, manipulatif dan berbahaya. Adalah sangat penting untuk bisa mengendalikan pikiran katanya. Maka ia pun menuangkan ke"liar"an pikiran dan perasaan itu pada konsep bermusik, agar pikirannya tetap dalam kondisi normal dan stabil. Otak manusia memang kompleks dan bisa membuat kita menjadi begitu kreatif, hingga destruktif. We are iving in a dangerous mind, itu yang saya simpulkan dari perbincangan saya dengan si pemusik.

Pikiran dan perasaan kita memang bisa menjadi titik-titik lemah yang mudah diserang iblis. Betapa seringnya kita menjadi tertuduh lewat pikiran dan perasaan kita sehingga kita sulit untuk bertumbuh, sulit untuk maju. Kesalahan di masa lalu, penyesalan-penyesalan, memori kepahitan, sampai kepada anggapan bahwa semua itu akan menjadikan kita orang-orang yang gagal di masa depan, tanpa kebahagiaan, tanpa kemenangan. "You are nothing but a loser, you don't deserve the best.." demikian yang pernah dirasa seorang teman dalam hatinya. Betapa ragunya ia bahwa ke depannya dia tidak akan pernah bahagia. Tuduhan demi tuduhan seperti itu terkadang hadir di dalam pikiran kita. Itu adalah tipu muslihat iblis yang terus berusaha menjerumuskan kita. Iblis tidak pernah ingin kita bahagia! Sebaliknya, Tuhan menjanjikan rancanganNya yang terbaik bagi kita. Tidak ada rancangan kecelakaan, melainkan hanya rancangan damai sejahtera yang menjanjikan hari depan yang penuh harapan. (Yeremia 29:11). Tapi kita seringkali menjadi tertuduh. Iblis senang memanfaatkan berbagai kesalahan di masa lalu kita untuk menuduh kita menjadi tersangka, yang tidak akan pernah mendapatkan kemenangan dalam hidup. Kekhawatiran akan hari depan, bahkan akan hari ini, itu seringkali membuat kita sulit untuk maju.

Petrus sadar betul bahwa manusia sulit lepas dari yang namanya kekhawatiran. Ia mengingatkan kita untuk selalu sadar bahwa ada Tuhan yang begitu mengasihi kita dengan setia, dan selalu sangat peduli memelihara kita hingga mencapai masa depan yang gilang gemilang. "Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu." (1 Petrus 5:7). Kita selalu bisa datang kepadaNya dan melegakan pikiran kita. We can always come to Him and let our mind be free! Dalam versi bahasa Inggris, kata kekhawatiran itu di terjemahkan dengan lebih detail. "Casting the whole of your care (all your anxieties, all your worries, all your concerns, once and for all) on Him, for He cares for you affectionately and cares about you watchfully." Lihatlah betapa baiknya Tuhan, sehingga kita bisa selalu datang untuk menyerahkan segala pikiran yang merintangi kita untuk bertumbuh dan terus maju.

Saya terlahir sebagai orang yang selalu dicekam rasa takut. Kekhawatiran, kecemasan, ketidakpercayaan diri, semua itu memenuhi saya seiring bertumbuh hingga dewasa. Tapi kemudian setelah mengenal Kristus, saya pun belajar untuk selalu menyerahkan segala hal yang mengganggu pikiran saya kepada Tuhan, dan Tuhan pun memberi kelegaan demi kelegaan. Itu janji Tuhan, dan Dia sudah membuktikan hal itu berulang kali dalam perjalanan hidup saya hingga hari ini.

Intinya, dekatlah pada Tuhan. Rajinlah untuk berdialog dalam doa. Serahkan semua permasalahan kita, dan rajin-rajinlah untuk mendengar apa kata Tuhan. "Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus." (Filipi 4:7). Tuhan menyediakan damai sejahtera dan berkat-berkat berlimpah, jauh melebihi segala akal manusia. Dia pun akan selalu memelihara hati dan pikiran kita dalam Kristus. Be really close to Him, then He will surely guide our heart and mind, in the name of Jesus. Jangan pernah ragu akan hal itu. Jangan beri kesempatan pada iblis (Efesus 4:27) untuk mempengaruhi kita, tapi berikanlah semua pikiran kita untuk dipelihara langsung oleh Tuhan. "Tetapi Tuhan adalah setia. Ia akan menguatkan hatimu dan memelihara kamu terhadap yang jahat." (2 Tesalonika 3:3). Itu janji Tuhan, dan tidak ada satupun dari janji Tuhan yang tidak akan Dia tepati. Apa yang Dia rencanakan bagi kita sungguh baik. Dia sudah melemparkan dosa-dosa kita jauh ke dalam tubir laut, Dia tidak lagi mengingat-ingat dosa-dosa kita, ketika kita sudah datang kepadaNya dengan hati yang hancur lewat pertobatan sungguh-sungguh. Maka hari depan yang penuh harapan membentang luas di depan kita. Dalam nama Yesus, itu semua dijanjikan kepada kita, dan itu nyata adanya. Iblis boleh saja mencoba membuat kita kacau dengan segala ketakutan, tipu muslihatnya boleh saja mencoba menuduh kita, mematahkan semangat kita, tapi tetap ingat bahwa Tuhan tetap ada memelihara kita! Serahkanlah semua kekhawatiran kita, pikiran kita, perasaan kita kepada Tuhan, dan yakinlah bahwa Dia akan selalu menguatkan kita. Jangan takut untuk melangkah, berhentilah menyeret beban berat dari kesalahan masa lalu, karena Tuhan sudah melepaskan kita. Songsong hari depan yang penuh harapan, penuh damai sukacita yang berlimpah, seperti yang Tuhan janjikan.

Cast your mind to God, and you shall be fine

Saturday, June 13, 2009

Singkat Seperti Wijayakusuma

Ayat bacaan: Yakobus 4:14
=======================
"sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap."

wijayakusuma, hidup singkat, kesempatan terbatasGambar di samping kiri adalah gambar sebuah bunga yang menurut saya sangat unik. Bunga Wijayakusuma, begitu namanya, dulu ada tepat di depan kamar kos saya. Bunga ini termasuk jarang mekar. Kalaupun mekar, yang mungkin cuma sekali dua kali setahun, waktu mekarnya cukup unik. Menurut pengamatan saya, bunga akan mulai mekar sejak pukul 12 malam, dan mencapai puncaknya sekitar jam 2 pagi. Tidak seperti bunga-bunga lain yang bisa bertahan beberapa hari setelah mekar, bunga Wijayakusuma hanya beberapa jam saja umurnya. Ketika saya bangun pagi hari, bunga ini sudah layu. Waktu untuk melihat keindahan bunga ini terbatas sekali, maka biasanya saya akan meluangkan waktu menyaksikan ciptaan Tuhan yang luar biasa ini ketika kesempatan masih ada. Here tonight, gone in the morning.

Singkatnya waktu yang ada juga berlaku dalam hidup kita. Musa menyebutkan masa hidup manusia idealnya tujuh puluh tahun, jika kuat, delapan puluh tahun. Sesudah masa hidup yang singkat itu, manusiapun lenyap. (Mazmur 90:10). Disamping itu, pada suatu hari nanti langit dan bumi pun akan lenyap. Tidak seorang pun yang tahu kapan hari itu tiba. Malaikat-malaikat tidak, Anak pun tidak. Hanya Bapa yang tahu. (Matius 24:36). Kesempatan kita dalam menuruti perintah dan rencana Tuhan pun pada suatu waktu akan berlalu. Terkadang kita terlena dalam hidup, menunda-nunda untuk mengulurkan tangan buat membantu orang lain, atau merubah pola hidup kita agar sejalan dengan kehendak Tuhan. Kita sering menganggap bahwa masih ada banyak waktu untuk itu, bukan sekarang, dan saat ini kita hanya mau menikmati hidup saja sepuasnya. Yakobus mengingatkan mengenai hal ini. "Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: "Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung", sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap." (Yakobus 4:13-14). Yakobus meminta kita untuk tidak membuang-buang waktu untuk melibatkan Tuhan dalam perencanaan kita. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah kita masih diberi kesempatan untuk hidup atau sudah tidak ada lagi di dunia. Tidak ada yang tahu, kecuali Tuhan. Itulah hidup yang menurut Yakobus bagaikan uap, hanya sebentar saja kelihatan, kemudian lenyap. Bagaimana sikap kita seharusnya? Yakobus melanjutkan: "Sebenarnya kamu harus berkata: "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu." (ay 15). Itulah yang harus kita lakukan, menjalani hidup sepenuhnya sesuai kehendak Tuhan, mematuhi Tuhan secara serius dan sungguh-sungguh selama kesempatan itu masih kita miliki. Janganlah menggunakan hari-hari dengan sombong dan memegahkan diri, karena hal itu adalah salah. (ay 16). Yakobus menutup bagian ini dengan "Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa." (ay 17).

Jika kesempatan masih ada saat ini, alangkah baiknya jika kita memakainya dengan baik. Menjalani hari demi hari mengikuti apa rencana Tuhan dalam hidup kita, dan hidup dengan mengikuti segala ketetapanNya. Memang Tuhan selalu memberi kesempatan bagi kita untuk merubah pola hidup kita yang salah, Tuhan selalu membuka tangan menerima pertobatan kita, Tuhan selalu menyambut kita yang memutuskan untuk memuliakanNya lewat pikiran, perkataan dan perbuatan kita. Tapi ingatlah bahwa kesempatan kita untuk melakukan itu terbatas. Terlena dalam kenikmatan hidup, menunda-nunda kesempatan, itu merupakan sifat negatif yang mungkin ada dalam diri setiap manusia. Karena itu Musa pun berdoa "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana." (Mazmur 90:12). Adakah sesuatu yang Tuhan ingin anda lakukan saat ini dalam namaNya? Sudah berapa lama anda tunda hal itu sejak Tuhan menanamkannya dalam hati anda? Mungkin kita terlalu sibuk sehingga lupa untuk melakukan perintah Tuhan yang penting. Namun ingatlah bahwa waktunya akan tiba. Kesempatan kita sungguh terbatas. Seperti bunga Wijayakusuma yang singkat waktunya, demikian pula dengan hidup kita. Akan tiba saat dimana kita tidak lagi bisa berbuat apa-apa. Karenanya, jika kita masih diberi kesempatan saat ini, pergunakanlah dengan baik. Mulailah menjalankan Amanat Agung, mewartakan Injil, menunjukkan perilaku yang mencerminkan terang Kristus dalam segenap aspek kehidupan dan mengulurkan tangan untuk membantu orang lain demi kemuliaanNya. Sekarang waktunya.


Lakukan sekarang, sesal kemudian tidak berguna

Friday, June 12, 2009

Habakuk dan Imannya

Ayat bacaan: Habakuk 3:19
=====================
"ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku."

habakukSaya baru saja bertemu dengan seorang teman yang sudah mencapai posisi cukup tinggi di sebuah perusahaan. Sebuah posisi yang mungkin diimpikan banyak orang dan mungkin dianggap sebagai sebuah posisi yang sudah mampu menempatkan orang pada tingkat hidup yang makmur. Menarik mendengar apa yang ia ceritakan. Untuk mencapai posisi itu, seringkali ia harus bersinggungan dengan banyak orang yang juga mengincar posisi yang sama. Character assasination alias pembunuhan karakter, isu, fitnah dan lain-lain datang silih berganti dan sungguh memusingkan. Stres, depresi, emosi dan sebagainya bisa timbul dengan mudah akibat tekanan-tekanan yang berkepanjangan. Saya berpikir, hidup ini memang tidak mudah. Ketika kita masih berada dibawah, kita akan berpikir bahwa ketika posisi kita meningkat maka kita akan bisa hidup tanpa masalah. Tapi ternyata ketika di atas pun masalah tetap ada, walaupun mungkin kasusnya berbeda. Ketika kita masih di level bawah, mungkin kita hanya mendapatkan sedikit penghasilan, tapi tanggungjawab pun kecil. Semakin tinggi, penghasilan semakin besar, tapi tanggungjawab pun akan semakin besar pula. Bahkan dari pengalaman saya, angin akan bertiup lebih kencang ketika kita berada pada posisi yang semakin tinggi. Yang pasti, tekanan-tekanan tetap ada, walau dalam bentuk yang berbeda.

Haruskah kita menyerah kalah diterpa masalah? Jika mengandalkan tenaga sendiri mungkin ya, pada satu titik kita tidak akan memiliki cukup tenaga lagi untuk berjuang. Tapi ingatlah bahwa ada Tuhan yang selalu setia menyertai kita, Tuhan yang kekuatannya tidak terbatas. Hari ini saya ingin mengangkat sekelumit kisah mengenai Habakuk. Habakuk adalah seorang nabi yang hidup di jaman yang sangat berat, penuh dengan krisis moral yang sungguh luar biasa. Pada saat itu Habakuk meratap melihat bangsa Yehuda tengah berada dalam bahaya. Habakuk menyadari bahwa penyebabnya adalah akibat ketidaksetiaan. (Habakuk 1:2-4). Lebih lanjut, dikatakan bahwa bangsa Yehuda tengah menghadapi ancaman serius dari orang Kasdim (bangsa Babel) yang terkenal kejam dan ganas yang siap untuk membantai mereka. (ay 6-11). Habakuk bahkan mengaku tidak mengerti mengapa Allah yang Mahakudus bisa berdiam diri melihat orang-orang fasik menghancurkan umatNya. (ay 12-13). Tidak mengerti, itu satu hal, dan memang kemampuan kita terbatas untuk bisa menyelami rencana Tuhan secara utuh. Namun janganlah hal itu berlanjut kepada ketidakyakinan kita akan penyertaan Tuhan. Habakuk menyadari hal ini, dan berkata: "Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya." (2:4). Meskipun ia tidak mengerti mengapa Tuhan terkesan membiarkan bencana siap menghancurkan bangsa Yehuda, tapi Habakuk tahu pasti bahwa Tuhan akan tetap turun tangan terhadap orang benar, yaitu orang yang hidup oleh iman.

Di akhir kitab Habakuk, kita melihat bagaimana tingginya iman nabi ini. Iman Habakuk adalah iman yang tidak tergoncang oleh situasi apapun, bahkan dalam ketidak-mengertiannya akan keputusan Tuhan sekalipun. Habakuk mengakhiri doanya dengan keyakinan teguh. "Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku." (ay 17-19). Dalam keadaan krisis, tekanan, ketakutan, ancaman yang kelihatannya mengerikan sekalipun, Habakuk tetap bersukacita dan bersorak-sorak pada Tuhan. Sikap Habakuk didasarkan pada imannya yang secara penuh berserah pada keputusan Tuhan. Meski situasi yang ia hadapi mungkin akan terus menjadi lebih parah, namun imannya pada Tuhan tidaklah goyah. Dia tetap bersorak-sorak dalam Allah yang menyelamatkan, dan itu semua terjadi karena Allah ia jadikan sebagai sumber kekuatannya.

Adakah hari ini anda tengah tergoncang akibat berbagai persoalan yang sedang menekan diri anda? Adakah iman anda hari ini mulai goyah akibat tekanan demi tekanan yang terus menghujam diri anda, kesulitan hidup yang makin meningkat, persoalan yang belum memiliki jalan keluar? Apakah hari ini anda sulit mengerti mengapa Tuhan seolah diam terhadap persoalan anda? Miliki iman seteguh iman Habakuk yang tidak goncang sama sekali dalam kondisi apapun. Percayalah bahwa Tuhan mampu membuat "kaki kita selincah kaki rusa" untuk melompati masalah-masalah itu. Dasari hidup dengan iman yang teguh, jangan pernah putus harapan. Percayalah sepenuhnya pada Tuhan dengan segenap hati. Tuhan mampu memperlengkapi kita untuk mampu menghadapi segala masalah, segala ketidakpastian dalam hidup, karena Tuhan adalah sumber kekuatan kita. "Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus." (Filipi 4:19).

Jadikan Tuhan sebagai sumber kekuatan agar mampu menghadapi badai

Thursday, June 11, 2009

Pelipatgandaan

Ayat bacaan: Ulangan 32:30
======================
"Bagaimana mungkin satu orang dapat mengejar seribu orang, dan dua orang dapat membuat lari sepuluh ribu orang, kalau tidak gunung batu mereka telah menjual mereka, dan TUHAN telah menyerahkan mereka!"

pelipatgandaan, kesepakatan, bersatu dalam YesusBersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Itu kata pepatah yang menggambarkan kuatnya sebuah persatuan. Ada sebuah contoh sederhana yang sudah saya dengar sejak saya masih duduk di sekolah dasar. Sebuah lidi tentu mudah untuk dipatahkan, namun mudahkah untuk mematahkan seikat lidi? Sapu lidi misalnya, yang terdiri dari banyak lidi diikat jadi satu, akan sangat sulit sekali untuk kita patahkan. Kita mengetahui juga bagaimana politik Devide et Impera yang dijalankan Belanda dulu mampu membuat bangsa kita menjadi bangsa yang terjajah selama 3.5 abad. Devide et Impera, alias Divide and Rule, pecah belah lalu kuasai, menjadi sebuah strategi yang berhasil bagi penjajah dahulu kala. Di panggung politik pun hingga hari ini kita bisa melihat bagaimana orang-orang yang pintar memainkan strategi memecah belah ini mampu memporakporandakan lawan-lawan politik mereka.

Sebuah ayat menarik saya dapatkan hari ini. "Bagaimana mungkin satu orang dapat mengejar seribu orang, dan dua orang dapat membuat lari sepuluh ribu orang, kalau tidak gunung batu mereka telah menjual mereka, dan TUHAN telah menyerahkan mereka!" (Ulangan 32:30). Secara matematis, jika satu orang bisa mengalahkan seribu orang, maka seharusnya dua orang bisa mengalahkan dua ribu orang. Itu secara matematis. Tapi lihatlah ayat bacaan hari ini. Ketika satu orang bisa mengatasi seribu orang, dua orang akan mampu mengatasi sepuluh kali lipat dari kekuatan satu orang, alias sepuluh ribu! Yosua mengatakan bahwa kemampuan itu bukanlah karena kehebatan kita, tapi karena hadirnya Tuhan. (Yosua 23:10). Kita melihat bahwa ada pelipatgandaan kuasa, pelipatgandaan berkat, dan pelipatgandaan pertolongan dari Tuhan ketika ada lebih dari satu orang yang bersepakat. Pengkotbah pun mengingatkan hal ini. "Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka....Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan." (Pengkotbah 4:9,12).

Tuhan Yesus mengatakan "Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka." (Matius 18:19-20). Ya, permintaan dari dua atau tiga orang, atau lebih, yang berkumpul dalam nama Yesus, bersepakat bersama-sama meminta dalam doa, maka Yesus akan hadir ditengah-tengah mereka dan permintaannya akan dikabulkan oleh Bapa. Bukankah ini luar biasa? Kesepakatan antara dua orang atau lebih akan membawa pelipatgandaan.

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita rajin bersaat teduh bersama-sama dengan keluarga? Bagi yang sudah berumah tangga, sudahkah ada kesepakatan di antara suami dan istri? Saling support, saling dukung, saling bantu, saling menguatkan, berjalan beriringan dalam menjalani kehidupan berumah-tangga, bersama-sama bersatu dalam doa, semua itu akan mampu memberikan pelipatgandaan. Dalam pelayanan pun demikian. Ada banyak gereja yang mulai retak karena terjadi perpecahan di dalamnya. Iblis akan dengan mudah memporakporandakan kita ketika kita mulai mengalami perpecahan. Maukah kita berkomitmen untuk tetap bersatu, baik bersama keluarga, antara suami-istri-anak, dengan saudara, teman, atau rekan-rekan di persekutuan kita? Berdoa sendiri tentu tidak salah. Tuhan selalu mendengarkan doa anak-anakNya ketika kita masuk ke dalam hadiratNya. Namun kekuatan yang timbul dari kesepakatan dan kesatuan di antara dua orang atau lebih, itu akan mampu menghasilkan pelipatgandaan. Saya percaya ketika kita mau mengambil langkah untuk bersepakat, seiring sejalan dalam doa, apapun yang kita minta akan dikabulkan oleh Bapa Surgawi. Tentu sepanjang permintaan itu bukan demi pemuasan kedagingan duniawi, namun karena sesuatu yang benar kita butuhkan. Penulis Ibrani berkata "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat." (Ibrani 10:25). Menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah dan menjalankan segala sesuatu sendirian berarti menolak pelipatgandaan yang dijanjikan Tuhan bagi kita. Tetaplah sejalan. Tetaplah sepakat dalam keluarga, teman, persekutuan, pekerjaan maupun pelayanan, maka Tuhan pun tidak akan pernah ragu untuk memberkati dengan berlipat ganda.

Hidup harmonis bersatu dan bersepakat dalam nama Yesus menghasilkan pelipatgandaan