Wednesday, June 10, 2009

Penyayang Binatang

Ayat bacaan: Keluaran 23:12
========================
"Enam harilah lamanya engkau melakukan pekerjaanmu, tetapi pada hari ketujuh haruslah engkau berhenti, supaya lembu dan keledaimu tidak bekerja (your ox and your donkey may rest) dan supaya anak budakmu perempuan dan orang asing melepaskan lelah."

penyayang binatang, Tuhan peduli terhadap binatangSungguh sedih rasanya melihat seekor anjing yang diikat dengan rantai pendek dan diletakkan di depan rumah. Anjing ini selalu saya lihat setiap hari karena berada pada lokasi yang selalu saya lewati ketika hendak pergi dan pulang. Panas terik, hujan lebat pasti dialami setiap hari, saya tidak tahu berapa lama lagi anjing itu harus hidup dengan penderitaan seperti itu. Bagi sebagian orang, anjing adalah penjaga rumah yang paling baik, tidak lebih dari itu. Bagi sebagian lagi, anjing adalah sahabat setia, seperti kata pepatah, dogs are man's best friend. Anjing biasanya setia sampai mati pada pemiliknya. Tidak hanya itu, beberapa anjing juga bisa memiliki sifat bersimpati dan mengasihi. Satu dari anjing kami begitu sensitif. Setiap melihat istri saya kesakitan atau sedang sedih, maka ia akan segera menghampiri, memegang tangan istri saya dan menjilatinya. Orang bisa sangat sayang pada binatang peliharaannya, bisa pula begitu kejam terhadap binatang. Bukan pemandangan baru lagi bagi kita ketika melihat orang melempari anjing, kucing, atau ayam dengan batu. Saya jadi ingat sebuah program di Animal Planet yang berjudul "Animal Precinct", sebuah reality show yang menyoroti pekerjaan "animal cops" alias polisi khusus hewan dalam menangkap orang-orang yang berlaku kejam terhadap hewan peliharaan mereka. Acara ini menjadi sebuah "melting pot" antara penyayang binatang dan orang-orang yang bukan. Komentar seperti "come on, it's just a pet.." sering terdengar sebagai pembenaran dari orang-orang yang jahat ini. Memang, binatang bukan manusia. Tetapi apakah itu pantas menjadi alasan untuk memperlakukan mereka ini dengan semena-mena? Seharusnya tidak. Karena lihatlah, Tuhan sendiri begitu peduli terhadap binatang.

Ada pesan Tuhan kepada Musa yang menyangkut hukum perlindungan, dimana hukum ini juga menyinggung sampai kepada binatang. "Enam harilah lamanya engkau melakukan pekerjaanmu, tetapi pada hari ketujuh haruslah engkau berhenti, supaya lembu dan keledaimu tidak bekerja dan supaya anak budakmu perempuan dan orang asing melepaskan lelah." (Keluaran 23:12). Tuhan tidak ingin binatang ternak seperti lembu dan keledai dipekerjakan secara berlebihan tanpa diberi waktu cukup untuk beristirahat. Dalam bahasa Inggris bagian ini terlihat lebih jelas. "Six days you shall do your work, but the seventh day you shall rest and keep Sabbath, that your ox and your donkey may rest" Jelas sekali Tuhan begitu peduli kepada kelangsungan hidup binatang sekalipun, yang juga merupakan kreasi dan ciptaanNya yang luar biasa. Beberapa ayat sebelumnya juga menggambarkan hal ini. "Apabila engkau melihat lembu musuhmu atau keledainya yang sesat, maka segeralah kaukembalikan binatang itu. Apabila engkau melihat rebah keledai musuhmu karena berat bebannya, maka janganlah engkau enggan menolongnya. Haruslah engkau rela menolong dia dengan membongkar muatan keledainya." (ay 4-5). Keselamatan binatang adalah lebih penting dari hubungan permusuhan sekalipun. Ini pesan yang penting dari Tuhan agar kita tidak menganggap binatang semata-mata hanya sebagai benda yang tidak punya arti dan bisa diperlakukan seenaknya. Bahkan dalam pasal pertama kitab Kejadian, Tuhan sudah berpesan mengenai hal ini. "Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (Kejadian 1:28). Berkuasa atas ikan, burung dan binatang di atas bumi bukan berbicara mengenai penindasan atau penyiksaan semena-mena, namun berbicara mengenai perintah untuk mengurus dengan baik. Kelangsungan hidup hewan-hewan ini terletak di pundak kita manusia. Ada banyak hewan yang hampir punah, dan hewan-hewan ini butuh usaha sungguh-sungguh dari manusia yang berakal budi untuk menjaga kelestariannya.

Dalam kisah Yunus pun kita melihat tingginya kepedulian Tuhan terhadap binatang. Ayat terakhir dari kitab Yunus berbunyi sebagai berikut: "Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?" (Yunus 4:11). Lihatlah bahwa Tuhan tidak mau berpangku tangan dan membiarkan kehancuran menimpa sebuah kota besar. Bukan saja banyak penduduknya, tapi ada banyak juga ternak disana yang bisa ikut kena getah akibat kelakuan penduduk Niniwe yang tidak bisa membedakan yang baik dan yang jahat. Tuhan peduli kepada binatang, dan sudah sepantasnya kita pun peduli. Tuhan mengasihi mereka, kita pun sudah sepantasnya demikian. Ayat Yunus ini menggambarkan kasih Tuhan yang tidak hanya berhenti pada manusia semata, tapi juga kepada ternak dan hewan-hewan. Meskipun manusia dan binatang itu berbeda, namun Tuhan memberi perhatian kepada keduanya. Sebuah pesan penting pun hadir. Jika kepada hewan saja Tuhan begitu peduli, apalagi kepada kita, manusia yang telah dianugerahkanNya keselamatan lewat kematian anakNya yang tunggal di atas kayu salib. Karenanya, janganlah berlaku kejam terhadap binatang, dan jangan pernah takut menjalani hidup. Ini dua pesan penting dalam renungan hari ini. Tuhan memberkati.

Tuhan sangat peduli pada kita, dan meminta kita untuk peduli pada ciptaanNya

Tuesday, June 9, 2009

Chikungunya

Ayat bacaan: Yakobus 3:5
=====================
"Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar."

chikungunya, jaga lidah, jaga perkataanBaru-baru ini salah seorang teman di persekutuan saya terjangkit virus Chikungunya. Dari namanya kita bisa menebak bahwa asal penyakit ini adalah dari Afrika. Chikungunya dalam bahasa Swahili berarti "melengkung ke atas", mengacu pada gejala penderitanya yang akan melengkung tubuhnya akibat nyeri hebat pada persendian. Gejalanya adalah demam disertai nyeri pada sendi, terutama pada lutut, pergelangan kaki, persendian kaki dan tangan. Penyakit ini disebabkan oleh sejenis virus yang ditularkan lewat nyamuk Aedes aegypti. Jenis nyamuk ini tidak asing lagi bagi kita karena juga merupakan "carrier" dari virus demam berdarah. Bayangkan nyamuk yang kecil, yang akan hancur lebur ketika dipencet sedikit saja, ternyata bisa mengakibatkan penyakit yang lumayan menyiksa, dalam kasus demam berdarah bisa pula mematikan. Chikungunya memang tidak termasuk penyakit yang mematikan, karena biasanya akan berlalu dengan sendirinya dalam jangka waktu tertentu. Namun tetap saja, rasa nyeri yang diakibatkan sungguh menyakitkan dan membuat orang menderita. Teman saya sempat tidak bisa berjalan, dan sempat merasa sakit luar biasa ketika bergerak. Sebulan penuh ia butuh waktu untuk memulihkan kondisinya. Puji Tuhan, sekarang dia sudah sembuh seperti sedia kala.

Kehancuran besar tidak harus mutlak berasal dari hal-hal besar saja. Little things can also cause massive destructions. Nyamuk yang kecil bisa mengakibatkan sakit yang luar biasa. Dalam Yakobus kita melihat sebuah analogi menarik. Yakobus menganalogikan lidah yang cuma kecil ukurannya dibanding tubuh manusia, namun bisa memberi dampak besar, entah itu membawa berkat luar biasa ataupun mendatangkan kutuk. "Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar." (Yakobus 3:5). Lihatlah betapa api yang kecil sekalipun, dengan sepercik saja bisa membakar hutan yang besar. Begitu banyak kasus kebakaran hutan atau kebakaran rumah bukan berasal dari api yang besar, tapi hanya dari secuil kecil api saja. Demikian pula lidah. Yakobus melanjutkan demikian: "Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka." (ay 6). Lidah sangat sulit unuk dijinakkan. Lidah yang tidak terkendali bisa menjadi buas atau jahat, penuh racun yang mematikan. (ay 8). Lidah yang kecil ini dapat menimbulkan pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan kita maupun kehidupan orang-orang disekitar kita, apakah itu pengaruh yang positif atau negatif. "Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi." (ay 9-10).

Kita harus mampu menjaga perkataan yang keluar dari mulut kita dengan cermat dan bijaksana. Kita harus berhati-hati dengan apa yang kita ucapkan. Salah satu syarat untuk menumpang dan diam di dalam Kerajaan Tuhan adalah dengan menjaga lidah agar tidak menyebarkan fitnah, celaan atau kejahatan-kejahatan lainnya lewat perkataan. "Mazmur Daud. TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? Yaitu ... yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya" (Mazmur 15:1-3). Lidah bisa menjadi setajam pedang, atau mengeluarkan kata-kata pahit seperti panah, yang siap menyerang dan mematikan siapa saja. ( Mazmur 64:3-5). Seperti apa yang kita baca dalam renungan kemarin, "Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya." (Amsal 18:21). Apakah mulut kita mengeluarkan ucapan syukur dan memberkati, atau berisi keluhan, umpatan atau bahkan kutuk, semua tergantung bagaimana kita mampu mencermati lidah secara bijaksana. Lidah lembut adalah pohon kehidupan (Amsal 15a), yang mampu mendatangkan berkat lewat ucapan-ucapan syukur dan puji-pujian kepada Tuhan. Hendaklah kita senantiasa menjaga ucapan-ucapan yang keluar dari mulut kita. Jagalah sungguh-sungguh agar perkataan kita jangan sampai menjadi racun yang mematikan. Penuhi mulut kita dengan ucapan syukur dan pujian, hormat dan kemuliaan bagi Tuhan.

Kuasai lidah, karena lidah yang kecil ini bisa menjadi celah iblis untuk membinasakan kita

Monday, June 8, 2009

Bersyukur vs Mengeluh

Ayat bacaan: Lukas 9:16
===================
"Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya dibagi-bagikannya kepada orang banyak."

bersyukur, mengeluhSaya membaca di koran bahwa suhu kota yang mulai naik akibat matahari bersinar terik mempengaruhi tingkat emosi pemakai jalan. Mungkin ada benarnya, kalau kita melihat betapa kota-kota yang termasuk kategori panas penduduknya cenderung lebih emosional dibanding kota-kota dengan udara sejuk. Itu belum termasuk tinggi rendahnya tekanan hidup. Ada banyak orang yang sulit mengendalikan emosinya akibat terus menerus tertekan lewat berbagai persoalan. Satu pertanyaan hadir di hati saya malam ini: "Apa yang lebih dominan memenuhi mulut kita saat ini?" Apakah keluh kesah, umpatan, omelan, gerutu, atau puji-pujian penuh ucapan syukur? Tidak ada yang mudah dalam hidup ini, apalagi ketika dunia semakin tua semakin dipenuhi krisis. Jumlah penderita darah tinggi meningkat terus dari tahun ke tahun, jumlah orang stres dan depresi juga meningkat.

Saya teringat akan kisah mukjizat Yesus yang menggandakan lima roti dan dua ikan yang mampu memberi makan 5000 orang, belum termasuk wanita dan anak-anak. Itupun masih bersisa 12 bakul penuh. Mari kita lihat apa yang terjadi. Ketika itu ada ribuan orang yang mendengarkan pengajaran Yesus tentang Kerajaan Allah, dan mendapat kesembuhan dari Yesus. Ketika matahari mulai tenggelam, datanglah para murid kepada Yesus dan meminta Yesus agar memulangkan mereka semua, agar mereka bisa makan dan mencari penginapan. Apa jawab Yesus? "Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Kamu harus memberi mereka makan!" (Lukas 9:13a). Apa jawab para murid? "Mereka menjawab: "Yang ada pada kami tidak lebih dari pada lima roti dan dua ikan, kecuali kalau kami pergi membeli makanan untuk semua orang banyak ini." (ay 13b). Yesus kemudian meminta lima roti dan dua ikan itu. Perhatikan apa yang selanjutnya dilakukan Yesus. "Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya dibagi-bagikannya kepada orang banyak." (Lukas 9:16). Yesus mengucap berkat, mengucap syukur, lalu mulai memecah-mecahkan roti. Dari apa yang dilakukan Yesus kita bisa menyaksikan betapa luar biasanya kuasa yang berasal dari ucapan syukur. Ucapan syukur mampu mendatangkan berkat dan mukjizat yang tidak terpikirkan sekalipun. Di sisi lain, lihatlah apa yang terjadi pada orang-orang Israel. Banyak diantara mereka gagal mencapai tanah terjanji, tanah Kanaan. Tuhan telah melepaskan orang Israel dari perbudakan di Mesir, menyediakan masa depan bagi mereka, berjalan langsung di depan memimpin mereka, menurunkan berbagai berkat dan pertolongan selama perjalanan, dan sebagainya. Namun apa yang dilakukan oleh bangsa Israel ketika itu? Bersyukurkah mereka? Mereka malah bersungut-sungut, protes, mulut mereka penuh dengan keluhan, hujatan dan kesinisan, dan itulah yang terjadi. Mayoritas dari mereka gagal mencapai apa yang telah dijanjikan Tuhan.

Amsal Salomo berkata: "Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya." (Amsal 18:21). Hidup yang menggambarkan semangat, gairah, motivasi, pengharapan, dan sebagainya, dikuasai lidah, dan sebaliknya, mati yang menggambarkan depresi, patah semangat, putus asa, dan sebagainya pun dikuasai lidah. Bersungut-sungut tidak akan membawa manfaat apa-apa selain kegagalan bahkan kebinasaan. Dalam Korintus tertulis: "Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut." (1 Korintus 10:10). Sebaliknya, kita melihat dari kisah penggandaan lima roti dan dua ikan di atas apa yang bisa terjadi lewat ucapan syukur. Apa yang mengisi mulut kita secara dominan hari-hari ini? Apakah ucapan syukur, puji-pujian atau sebaliknya keluh kesah, umpatan atau makian? Hidup atau mati, itu dikuasai lidah. Lidah yang berasal dari hati yang senantiasa bersyukur akan penuh pula dengan ucapan syukur, begitu pula sebaliknya. Sebuah pesan penting pun muncul. "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:18).

Apakah akibat tekanan hidup, panasnya suhu bumi, atau apapun alasannya, hendaklah kita tidak terjebak pada emosi yang merusak jiwa dan hati kita. Selain bisa membawa kita kepada berbagai penyakit bahkan kematian, hal tersebut juga mengarah pada kegagalan bahkan kebinasaan. Hidup yang penuh ucapan syukur akan tetap bersukacita walau badai menerpa sekalipun. Hati yang penuh rasa syukur tidak akan terpengaruh oleh suhu dan tekanan, bahkan bisa mendatangkan berkat dan kuasa mukjizat. Apapun yang kita hadapi hari ini, manis atau pahit sekalipun, jangan pernah berhenti untuk mengucap syukur. Biarlah Tuhan bertahta di atas puji-pujian dan ucapan syukur kita dan alamilah segala kebaikan Tuhan tercurah dalam hidup kita.

Ada kuasa dibalik puji-pujian dan ucapan syukur

Sunday, June 7, 2009

Tambatan Kuat Bagi Sauh

Ayat bacaan: Ibrani 6:19
====================
"Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir"

tambatan kuat bagi sauhHari ini saya membaca sebuah kisah mengenai sekelompok orang yang sempat terkatung-katung di salah satu bagian samudera di kepulauan Bahamas. Kapal yang mereka tumpangi sudah dilengkapi oleh sauh yang kokoh. Perairan di sekitar kepulauan Bahamas terkenal dengan perairan yang jernih dan bening, sebening kaca, sehingga pemandangan ikan-ikan yang berenang dibawah bisa dilihat dengan jelas dengan mata telanjang. Banyak diantara perairan di kepulauan Bahamas ini memang masuk kategori dangkal, namun pada beberapa bagian, kedalamannya bisa menurun dengan curam hingga mencapai 6000 kaki atau sekitar 1.8 km! Sekelompok orang ini berlayar untuk memancing dan menyelam. Pada area yang dangkal sauh dapat menahan kapal, sehingga mereka dapat melakukan aktivitas mereka dengan santai. Namun ternyata sauh itu perlahan tergeser ke bagian yang beralaskan pasir, bukan batu, sehingga arus dari lidah samudera mulai menyeret kapal ke tengah. Memasuki bagian samudera yang dalam itu, masalah mulai timbul. Sauh tidak lagi bisa mendapat tempat tambatan karena jaraknya begitu jauh, ribuan kaki di dasar laut. Mereka mulai takut, dan bergegas mencoba menghidupkan mesin kapal, tapi ternyata mesinnya mogok. Dan kapal pun semakin jauh hanyut menuju laut yang semakin dalam.

Pada jarak yang sudah lumayan jauh, kapal pun terseret ke bagian yang banyak batu karangnya, dan disana ada banyak ikan hiu berkeliaran. Bisa dibayangkan apa jadinya jika kapal itu hancur menabrak karang, dan mereka terlempar ke laut. Mereka akan segera menjadi santapan ikan-ikan hiu. Pada titik itu kapal tidak lagi berguna sebagai tempat keselamatan karena sauhnya tidak lagi mendapat tempat tambatan. Untunglah kisah ini tidak berakhir tragis. Setelah semalaman terkatung-katung di tengah laut dalam penuh hiu dan karang, mereka akhirnya ditemukan tim penjaga pantai yang segera menyelamatkan mereka semua.

Selayaknya sebuah kapal yang membutuhkan sauh yang kuat agar tidak terseret arus dan tersesat, demikian pula sebuah keluarga membutuhkan kepala keluarga, ayah atau suami yang mampu melindungi dan menjaga keutuhan "kapal" keluarganya untuk tetap utuh dan berada pada zona yang aman. Karenanya tugas suami atau ayah sebagai sauh yang kuat adalah begitu penting. Mungkin anda yang sudah berumah tangga, termasuk saya, sudah menjadi kepala keluarga yang kokoh, kuat, bertanggung jawab, layaknya sebuah sauh yang kokoh. Tapi sauh yang kokoh tidak akan berguna jika sauh tersebut tidak memiliki tambatan atau tempat berpijak yang kokoh pula. Kita para suami/ayah tidak akan cukup kuat untuk menjaga kapal keluarga anda tetap aman, jika sebagai sauh, kita tidak memiliki sesuatu yang kokoh sebagai tambatan. Jika sauh tidak mendapat pegangan yang kokoh, tidak terikat kuat pada bebatuan di dasar laut, dan hanya terpaut pada pasir atau bahkan tidak bisa mencapai dasar laut seperti kisah di atas, kapal pun bisa terapung-apung di laut yang ganas, dimana ada banyak bahaya yang mengancam keselamatan seisi kapal. Begitu pula kita. Sebagai sauh dari keluarga, kita pun tidak akan bisa berbuat banyak apabila kita tidak berpegang pada dasar yang kuat. Penulis Ibrani mengatakan: "Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita, ketika Ia, menurut peraturan Melkisedek, menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya." (Ibrani 6:19-20). Pengharapan adalah sauh yang kuat dan aman, ketika sauh itu ditambatkan hingga ke Ruang Mahasuci, dimana Yesus menjadi Imam Besar hingga selamanya. Yesuslah batu yang kokoh, yang bisa menjadi tambatan kuat dan aman bagi sauh-sauh untuk berpegang, sehingga kapal mereka akan tetap utuh dan terjaga. Dalam kesempatan lain kita pun diingatkan demikian: "Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur." (Kolose 2:6-7). Hanya di dalam Yesus Kristus-lah kita bisa berpegang dengan kuat dan aman. Yesus adalah dasar kehidupan yang kokoh, dimana kita akan menemukan pengharapan yang bisa dijadikan tambatan kuat bagi jiwa kita. Apa yang ditawarkan oleh Yesus sungguh indah. "Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?" (Yohanes 11:25-26). Percayakah kita akan hal ini? Sebagai kepala keluarga, kita mempunyai fungsi sebagai sauh. Seberat dan sekuat apapun sebuah sauh, sauh tetap perlu berpijak pada sesuatu yang lebih berat agar sauh dapat berpegangan dengan kokoh. Lindungi kapal keluarga kita sepanjang perjalanan, hingga selamat sampai tujuan, dengan tetap tertambat dan berakar kuat pada Kristus.

Ketika sauh tidak memiliki tambatan kuat, kapal akan hanyut menuju bencana

Saturday, June 6, 2009

Sebentuk Kepedulian

Ayat bacaan: Galatia 6:2
====================
"Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus."

kepedulian, tolong menolongSeberapa jauh kita peduli pada nasib orang lain? Kemiskinan terpampang dimana-mana disekitar kita. Hampir di setiap lampu merah kita melihat pengemis dan pengamen yang menadahkan tangannya meminta sedikit dari apa yang kita punya. Mungkin mudah bagi kita untuk berkata "masih sehat kok minta-minta... kerja dong.." Di sisi lain kita melihat ada banyak yang sudah sarjana sekalipun tapi masih sulit mendapat pekerjaan. Atau kita mungkin mudah berkata "itu akal-akalan saja.. itu ada agennya yang mencari uang dengan memanfaatkan rasa kasihan orang lain.." Mungkin ya, saya tidak menutup kemungkinan bahwa ada orang-orang yang berlaku demikian, memanipulasi perasaan orang dan mempekerjakan orang-orang tidak mampu demi meraup keuntungan. Tapi saya kembali kepada pertanyaan di awal renungan ini. Seberapa jauh kita peduli pada nasib orang lain? Diluar segala kemungkinan akan kemalasan atau manipulasi, apakah kita peka terhadap jeritan penderitaan orang lain? Apakah dengan memberi sedikit, katakanlah lima ratus rupiah, kita akan serta merta jatuh miskin? Sementara lima ratus rupiah itu mungkin sangat berarti bagi mereka yang kekurangan. Dan pastinya, di mata Tuhan apa yang kita lakukan itu sungguh mulia.

Ada begitu banyak orang yang sangat butuh bantuan saat ini. Bukan hanya soal uang, tidak selalu mengenai kelaparan, tapi juga yang disebut Bunda Teresa sebagai "kemiskinan sejati" (the real poverty, the greatest poverty), yaitu orang-orang yang tidak dipeduli, tidak dicintai, bahkan tidak diinginkan. Berkaca dari pelayanan Yesus Kristus, kita melihat bahwa Yesus tidak memandang enteng penderitaan siapapun. Dia melakukan begitu banyak mukjizat kepada berbagai orang dari latar belakang yang berbeda. Yesus bergerak berdasarkan kasih dan belas kasihan, tanpa melihat apakah orang itu orang Yahudi atau tidak, teman atau tidak, kenal atau tidak, dan sebagainya. Yesus pun rela dianiaya dan mati di atas kayu salib untuk menebus semua orang. Menganugrahkan sebuah keselamatan, pemulihan hubungan dengan Allah kepada semua orang, terlepas apakah orang itu orang baik atau tidak, siapapun mereka. Kristus mati bagi semua orang, termasuk mereka, anda dan saya. (2 Korintus 5:15). Itulah bentuk kasih Kristus yang sungguh luar biasa. Sebagai orang yang percaya pada Kristus, tidakkah aneh jika kita tidak mencerminkan kasih Kristus, setidaknya sedikit dari besarnya kasih Kristus jika kita belum mampu mencerminkan sepenuhnya? Yesus memberi keteladanan penting akan bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap orang lain yang mengalami kesusahan.

"Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus." (Galatia 6:2). Demikian pesan yang disampaikan kepada jemaat Galatia. Kerinduan untuk membantu adalah salah satu perwujudan nyata dari adanya kasih Kristus dalam hidup kita. Hal ini ditegaskan lagi pada ayat berikut: "Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu." (Efesus 4:2). Kerinduan untuk membantu sesama itu hendaklah dinyatakan secara tulus, bukan karena maksud-maksud tersembunyi, karena punya agenda tersembunyi dibelakangnya, karena ingin mendapatkan pujian dari orang dan lain-lain, seperti yang ditulis dalam Roma. "Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik." (Roma 12:9). Pesan kasih ini begitu penting. Yesus mengajarkan : "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi." (Yohanes 13:34). Kita diminta untuk bisa mencapai sebuah tingkatan untuk mengasihi orang lain bukan hanya seperti kita mengasihi diri kita sendiri, namun terlebih lagi seperti bagaimana Yesus sendiri telah mengasihi kita. Dan salah satu bentuk kasih itu akan terlihat dari kerinduan kita untuk membantu sesama. Hati yang penuh kasih akan gelisah ketika melihat ada orang yang membutuhkan bantuan, dan akan penuh dengan sukacita ketika bisa berbuat sesuatu untuk menolong mereka. Bukan atas jumlah nominal atau persentase waktu yang kita curahkan buat membantu, tapi dari kesungguhan dan ketulusan kita atas kasih Yesus yang hidup di dalam diri kita.

Mungkin hidup kita sendiri belum cukup mapan, mungkin kita sendiri masih kesulitan, namun sebentuk hati yang penuh kasih akan tetap berempati ketika melihat orang yang butuh pertolongan. Sedikit bantuan dari kita bisa berarti besar bagi mereka, dan hal itu bernilai tinggi di mata Tuhan. Sudahkah kita memiliki hati yang dipenuhi kasih Yesus? Bertolong-tolonglah, karena dengan demikian kita memenuhi hukum Kristus.

Nyatakan kasih Kristus lewat membantu orang lain yang membutuhkan