Friday, June 5, 2009

Apa Kata Orang

Ayat bacaan: 2 Korintus 5:16
=======================
"Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian."

apa kata orang, menilai orang lain, menghakimiBeberapa waktu yang lalu saya akhirnya bertemu dengan seseorang yang sebelumnya hanya saya kenal lewat cerita teman saya. Dari apa yang saya dengar dari teman saya, orang ini adalah orang yang arogan. Tapi setelah bertemu langsung, ternyata orang itu jauh dari kesan arogan. Dia ternyata ramah, baik, malah sedikit pemalu. Benar-benar sebuah gambaran yang sangat berbeda dari apa yang digambarkan teman saya. Sadar atau tidak, betapa seringnya kita menilai seseorang bukan berdasarkan penilaian objektif, tapi hanyalah didasarkan pada penilaian atau cerita orang lain. Betapa mudahnya kita menilai orang lain negatif hanya berdasarkan apa kata orang. Padahal pada kenyataannya belum tentu demikian. Penilaian buruk serta merta kita jatuhkan kepada seseorang tanpa terlebih dahulu melihat kenyataan melainkan hanya dari cerita yang kita dengar.

Paulus mengingatkan mengenai hal ini dalam suratnya untuk jemaat Korintus. Ukuran manusia dalam menilai sungguh beragam. Ada faktor kepentingan pribadi, sentimen pribadi, perbedaan sifat, perbedaan pandangan, suasana hati pada saat-saat tertentu dan sebagainya yang dapat mempengaruhi sebuah kesimpulan. Paulus berkata: "Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian." (2 Korintus 5:16). Mengapa Paulus mengatakan bahwa mereka tidak lagi menilai seseorang menurut ukuran manusia? Ayat sebelumnya menjelaskan alasannya. "Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka." (ay 15). Ya, siapapun orangnya, baik atau buruk sifatnya, seperti apapun ia, Kristus telah mati baginya. Siapapun orangnya, mereka bernilai penting di mata Allah sehingga Kristus rela mati di atas kayu salib untuk dia, seperti halnya untuk kita sendiri. Tidakkah keterlaluan jika kita menilai atau menghakimi seseorang atas kekurangannya padahal Kristus sendiri menganggap mereka begitu berharga sehingga rela menanggung penderitaan untuk sebuah keselamatan? Terlebih jika kita menilai bukan berdasarkan kenyataan, tapi hanya didasarkan kepada apa kata orang. Yesus mengatakan hal ini juga. "Kamu menghakimi menurut ukuran manusia, Aku tidak menghakimi seorangpun" (Yohanes 8:15). Yesus menambahkan "dan jikalau Aku menghakimi, maka penghakiman-Ku itu benar, sebab Aku tidak seorang diri, tetapi Aku bersama dengan Dia yang mengutus Aku." (ay 16). Yesus menilai berdasarkan ukuran Bapa yang begitu mengasihi manusia, bukan berdasarkan ukuran manusia yang seringkali bias, tidak cukup objektif karena banyaknya faktor yang terlibat didalamnya. Alangkah ironisnya ketika Allah menganggap manusia itu berharga, kita malah sibuk membangun tembok-tembok pemisah dan menyebarkan aroma permusuhan kepada orang lain lewat sikap kita hanya berdasarkan apa yang kita dengar dari orang, atau hanya berdasarkan pendapat pribadi, dari pandangan atau imajinasi berlebihan kita sendiri yang sangat subjektif sifatnya.

Jangan mudah menelan apa kata orang sebelum mengetahui kebenarannya. Adalah sangat penting bagi kita untuk belajar menilai segala sesuatu secara objektif, dengan bukti atau fakta yang kita saksikan secara nyata. Itupun bukan dimaksudkan untuk membenci orang seandainya memang benar ada hal yang kurang baik dari mereka. Nobody's perfect. Tidak hanya orang lain, tapi kita sendiripun punya kekurangan-kekurangan juga. Terlalu cepat mengambil kesimpulan atas orang lain bisa mengarahkan kita untuk terpeleset dalam menghakimi orang lain, sesuatu yang tidak seharusnya kita lakukan. "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." (Matius 7:1-2). Tidak ada seorangpun dari kita yang mau dinilai negatif. Jika kita tidak mau dinilai negatif, janganlah kita melakukannya kepada orang lain. "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." (ay 12). Biar bagaimanapun, Yesus Kristus telah mati bagi mereka, anda dan saya. Jangan terlalu cepat menyimpulkan sesuatu, tapi selidikilah terlebih dahulu dengan benar. Kalaupun benar ada kekurangan, jadilah teladan dan doakan mereka agar mereka menjadi lebih baik. Setiap manusia punya kekurangan. Jauhlah dari menilai/menghakimi orang lain hanya karena kita menganggap diri kita lebih baik dari mereka, apalagi jika sampai membenci mereka hanya karena apa kata orang atau bentuk-bentuk pemikiran yang subjektif semata menurut diri kita. Karena biar bagaimanapun, Kristus rela mati bagi mereka, seperti halnya bagi kita.

Kita tidak lebih baik dari orang lain, karenanya jangan menilai orang lain apalagi hanya menurut apa kata orang

Thursday, June 4, 2009

Mark-Up

Ayat bacaan: Lukas 3:13
===================
"Jawabnya: "Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu."


mark-up, korupsi kecilKetika mengisi bensin beberapa hari yang lalu, saya melihat seorang supir di depan saya berbuat curang. Dia meminta sang petugas untuk menuliskan jumlah liter yang lebih tinggi dari yang diisinya pada bon. "Buat aja 40 liter.." katanya sambil senyum-senyum. Sang petugas sepertinya menuruti dengan menulis bon tanpa ada penolakan. Dan si supir pun berlalu. Kejadian seperti ini bukanlah hal baru di kalangan karyawan dan pekerja. Mulai dari mark-up kecil-kecilan hingga mark-up ratusan juta bahkan milyar. Saya pun ingat pada salah seorang siswa saya yang sehari-hari bekerja di instansi pemerintah di sebuah kota di salah satu pulau kecil. Saat itu ia bertanya mengenai berapa sebenarnya biaya untuk membuat sebuah situs resmi. Saya terkejut ketika ia berkata bahwa proposal dana yang diminta ke pusat mencapai 2 milyar(!). 2 milyar untuk sebuah situs? "yah.. pasti banyak jalur yang harus dilicinkan, pak.." katanya waktu itu. Bentuk mark-up seperti ini seperti sudah membudaya mulai dari skala kelas teri sampai kakap. Ada banyak orang yang membuat pembenaran dari pola kecurangan ini. Ada yang beranggapan bahwa mereka berhak untuk itu, karena mereka harus bersusah payah untuk pergi keluar membeli sesuatu atas perintah atasannya. Uang kopi, uang rokok, uang lelah, atau apapun istilah yang mereka pakai, dijadikan sebuah pembenaran agar penggelembungan harga beli dari kenyataan sebenarnya berhak mereka peroleh.

Saya tidak tahu dari mana awal kata mark-up menjadi berkonotasi negatif. Padahal dalam dunia bisnis, arti mark-up sebenarnya bukan sesuatu yang negatif. Mark-up dalam dunia bisnis diartikan sebagai selisih antara harga barang atau jasa dengan harga jualnya. Mark-up ini ditambahkan kepada sebuah produk untuk menghasilkan profit atau keuntungan. Metode penghitungannya pun beragam. Sistim selisih harga ini diterapkan banyak orang pula pada bentuk korupsi kecil-kecilan sampai besar-besaran, sehingga melekatlah kata mark-up itu kepada sebuah pengertian negatif. Yang pasti, hal seperti ini bukanlah bentuk penipuan baru. Setidaknya pada jaman Yohanes Pembaptis mulai melayani, pola seperti ini sudah ada.

Pada suatu ketika Yohanes datang ke sungai Yordan untuk membaptis, datanglah beberapa pemungut cukai alias penagih pajak. Mereka mengajukan pertanyaan kepada Yohanes. "Ada datang juga pemungut-pemungut cukai untuk dibaptis dan mereka bertanya kepadanya: "Guru, apakah yang harus kami perbuat?" (Lukas 3:12). Yohanes pun menjawab: "Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu." (ay 13). Dari jawaban Yohanes, kita bisa melihat bahwa pada saat itu pun korupsi sudah terjadi. Tampaknya para pemungut cukai sudah memiliki kebiasaan untuk memungut lebih dari yang seharusnya, untuk keuntungan mereka pribadi. Maka tidak heran, ada banyak kisah mengenai pemungut cukai dalam Alkitab yang menunjukkan mereka sebagai orang-orang dengan profesi yang dibenci sesamanya. Mereka sering disamakan dengan orang berdosa (Matius 9:11), orang yang tidak mengenal Allah (Matius 18:17) dan sebagainya.

Mengacu pada pengertian mark-up dalam konotasi negatif, perlukah kita menggelembungkan dana untuk keuntungan pribadi? Apakah kita memang harus melakukan demikian agar bisa hidup berkecukupan? Tuhan tidak pernah menginginkan kita untuk berbuat curang, walau sekecil apapun. Dalam kisah si supir dan petugas pompa bensin di atas, kita melihat adanya kerjasama antara sang supir dan petugas. Kurang tepat jika kita hanya menyalahkan sang supir, karena tanpa persetujuan petugas pengisi bensin ia akan gagal untuk korupsi. "It takes two to tango". Mungkin kita bisa menjaga diri agar tidak menjadi "pelaku utama", namun seringkali gagal menghindari menjadi "peran pembantu". Atau berkilah, "tidak sampai seratus ribu rupiah,kan tidak apa-apa?" Ingatlah korupsi tetap korupsi. Di mata Tuhan, itu sama saja.

"Orang benar makan sekenyang-kenyangnya, tetapi perut orang fasik menderita kekurangan." (Amsal 13:25). Lihatlah Tuhan memberi janji bagi orang benar sehingga mereka bisa dicukupkan. Korupsi yang salah satunya lewat mark-up mungkin bisa mendatangkan keuntungan instan, namun akibatnya bisa fatal. Ada begitu banyak pejabat yang sekarang harus meringkuk di dalam penjara karena kejahatannya terbongkar. Kita tidak perlu melakukan mark-up, karena Tuhan selalu punya jalan untuk memberkati kita. Percayalah akan hal itu. Lihat apa yang disediakan Tuhan bagi orang benar. "Orang yang hidup dalam kebenaran, yang berbicara dengan jujur, yang menolak untung hasil pemerasan, yang mengebaskan tangannya, supaya jangan menerima suap, yang menutup telinganya, supaya jangan mendengarkan rencana penumpahan darah, yang menutup matanya, supaya jangan melihat kejahatan, dialah seperti orang yang tinggal aman di tempat-tempat tinggi, bentengnya ialah kubu di atas bukit batu; rotinya disediakan air minumnya terjamin." (Yesaya 33:15-16).

Kalaupun ada diantara teman-teman yang pernah melakukan hal ini, bertobatlah. Tuhan telah menjanjikan sebuah pemulihan kepada yang bertobat dan berbalik dari jalan-jalan sesat. "Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang pindahan, belalang pelompat, belalang pelahap dan belalang pengerip, tentara-Ku yang besar yang Kukirim ke antara kamu. Maka kamu akan makan banyak-banyak dan menjadi kenyang, dan kamu akan memuji-muji nama TUHAN, Allahmu, yang telah memperlakukan kamu dengan ajaib; dan umat-Ku tidak akan menjadi malu lagi untuk selama-lamanya." (Yoel 2:25-26). Mulailah dari diri kita sendiri untuk menghindari mark-up - mark-up dalam bekerja. Mulailah mengambil langkah sederhana dengan tidak memberi toleransi pada korupsi sekecil apapun. Hindari pikiran-pikiran untuk berbuat curang. Sekali lagi, Tuhan tidak akan pernah kekurangan jalan untuk memberkati kita dengan berlimpah.

Kecil atau besar, korupsi tetaplah perbuatan yang sangat tidak disukai Tuhan

Wednesday, June 3, 2009

Bahagia Bersama Firman Tuhan

Ayat bacaan: Lukas 11:28
=====================
"Tetapi Ia berkata: "Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya."

firman Tuhan, bahagiaPengalaman berjalan bersama Tuhan secara penuh selama satu setengah tahun terakhir merupakan sebuah pengalaman yang sungguh mengesankan bagi saya. Sejak mulai menulis renungan di awal tahun 2008 saya setiap hari berhadapan dengan firman Tuhan. Semakin lama ayat demi ayat meresap dan bertumbuh di dalam diri saya. Dan hal itu sungguh berguna dalam meniti hidup yang tidak mudah ini. Dalam menghadapi masalah, ketika memerlukan sebuah jawaban, ketika tidak tahu bagaimana harus bertindak, atau dalam pelayanan, baik menulis renungan atau lainnya, saya melihat betapa firman-firman Tuhan yang tertulis di dalam Alkitab sungguh membantu. Satu kesimpulan saya saat ini adalah betapa lengkapnya Tuhan memberi panduan hidup lewat segala yang Dia firmankan di dalam Alkitab. Selalu saja ada ayat yang muncul pada saat-saat dibutuhkan, dan itu sangat membantu dalam segala aspek kehidupan saya. Saya belajar untuk terus bersyukur baik dalam suka maupun duka, saya belajar untuk tahu mana yang benar dan salah, saya dilatih menjadi lebih sabar, lebih tenang dan lebih kuat dalam menghadapi problema kehidupan. Dan saya diijinkan melihat besarnya kuasa Tuhan dalam banyak kesempatan.

Tuhan Yesus berkata, "Tetapi Ia berkata: "Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya." (Lukas 1:28). Hati yang lembut akan membuat firman-firman Allah yang kita baca jatuh pada "tanah yang baik", bagian yang baik dalam hati kita, sehingga bisa bertumbuh dengan subur di dalam diri kita. Bagi kita yang mendengarkan firman Allah dan mau memeliharanya untuk tumbuh subur di dalam diri kita, firman-firman itu akan bekerja membantu kita dalam menyikapi berbagai persoalan. Firman Tuhan di dalam diri kita bekerja untuk menyelidiki hati kita, melindungi diri kita, membantu kita dalam menyelesaikan masalah dan menguatkan atau menopang kita ketika lemah. Kitab Mazmur dibuka dengan hal yang sama. "Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:1-3). Firman Tuhan mampu menjadi solusi yang sungguh luar biasa, dan karenanya kita berbahagia.

Dalam perikop Perlengkapan Rohani yang dicatat dalam Efesus dikatakan bahwa firman Tuhan adalah pedang Roh. (Efesus 6:17). Ini adalah salah satu dari perlengkapan senjata Allah yang akan memampukan kita untuk melawan segala roh-roh jahat di udara. (ay 12-13). Lebih lanjut dalam surat Ibrani, Paulus mengatakan demikian: "Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita." (Ibrani 4:12). Firman Tuhan bagaikan pedang bermata dua yang sangat tajam yang bisa menghujam kedalam, untuk memperbaiki hati kita agar kehidupan yang terpancar terang adanya, dan menusuk keluar memberkati orang-orang lain. Mengetahui firman Tuhan akan membantu kita untuk mengalami pembaharuan budi sehingga kita bisa membedakan mana yang merupakan kehendak Allah dalam hidup kita. Apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna, seperti yang tertulis dalam Roma 12:2.

Mungkin bagi sebagian orang tidaklah mudah untuk mau mendengar apalagi memelihara firman Tuhan dalam hidup. Tapi ketahuilah bahwa dengan membuka diri dan hati kita untuk menerima firman, hidup kita akan menjadi bahagia. Lembutkan hati dan terimalah firman Tuhan, lalu peliharalah agar terus tumbuh subur. Tuhan mengingatkan dengan keras akan hal ini. "Selanjutnya firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, perhatikanlah segala perkataan-Ku yang akan Kufirmankan kepadamu dan berikanlah telingamu kepadanya." (Yehezkiel 3:10). Jangan biarkan firman-firman Tuhan jatuh sia-sia di bagian tanah yang keras dan berbatu, karena yang rugi adalah kita sendiri. Segala yang diberikan Tuhan lewat firmanNya sungguh besar manfaatnya. "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik." (2 Timotius 3:16-17). Tuhan telah memperhadapkan pilihan. "berkat, apabila kamu mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini; dan kutuk, jika kamu tidak mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, dan menyimpang dari jalan yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal." (Ulangan 11:27-28). Rajinlah membaca dan merenungkan Alkitab, dengarkan kotbah dengan sungguh-sungguh. Ada berkat yang siap Dia curahkan, ada perlindungan dan keselamatan bagi setiap orang yang mau mendengarkan, memelihara dan hidup dengan mengaplikasikan firman-firman Tuhan itu secara nyata dalam segala perbuatan dan pekerjaan kita. Hiduplah bahagia dengan firman Tuhan.

Ada banyak berkat yang disediakan Tuhan bagi orang-orang yang mau mendengar dan memelihara perintahNya

Tuesday, June 2, 2009

Malin Kundang

Ayat bacaan: Ulangan 8:11
=====================
"Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini"

malin kundang, anak durhaka, melupakan TuhanMasih ingat kisah Malin Kundang? Cerita rakyat yang berasal dari Sumatera Barat ini menceritakan mengenai seorang anak yang memutuskan untuk merantau karena tidak tahan lagi melihat ibunya hidup susah payah membesarkannya dalam kemiskinan. Tujuan baiknya membawa keberhasilan. Malin Kundang menjadi orang sukses dan terpandang. Ketika pada suatu kali ia pulang ke kampungnya, sang ibu pun melihatnya. Ia bergegas menyambut dan memeluk anaknya. Namun ibu yang lusuh, dekil dan kumal ini ternyata sudah tidak lagi ada di hati Malin Kundang. Ia malu dilihat orang sedang dipeluk-peluk oleh seorang ibu yang miskin dengan penampilan kumal. Ia menolak ibunya dan tidak mengakui bahwa ia adalah anak dari sang ibu yang ia tolak. Ibunya marah, kemudian mengutuknya, dan Malin Kundang, si anak durhaka, akhirnya dikatakan berubah menjadi batu. Batu Malin Kundang ini konon kabarnya masih dapat disaksikan di pantai Air Manis yang menjadi salah satu objek wisata favorit di Sumatera Barat. Malin Kundang adalah simbol dari anak durhaka, anak yang tidak tahu terimakasih kepada orang tua (dalam hal ini ibu) yang telah bersusahpayah melahirkan dan membesarkannya.

Jika kepada orang tua kita saja kita di cap durhaka ketika kita melawan perintah mereka, ketika kita melukai hati mereka, ketika kita menyakiti perasaan atau malah fisik mereka, apalagi terhadap Tuhan. Betapa ironis, ketika dalam kesesakan kita berseru-seru kepadanya, namun setelah kita lepas dan mendapat berkat dari Tuhan, kita malah terlena dengan segala kelimpahan dan kenyamanan sehingga lupa kepadaNya. Ini sebuah kebiasaan buruk yang cenderung terjadi pada kita semua. Ketika  tengah diamuk badai, biasanya orang akan lebih dekat pada Tuhan. Tapi ketika berlayar di laut tenang,  hidup yang penuh dengan kelimpahan, orang bisa dengan gampang lupa kepadaNya. Maka Tuhan memberikan peringatan serius atas kecenderungan ini. Ayat bacaan hari ini diambil dari peringatan Tuhan yang diberikan kepada bangsa Israel. "Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini" (Ulangan 8:11). Peringatan Tuhan terhadap bangsa Israel agar mereka tidak melupakanNya. Ini peringatan serius karena jelas sekali ada indikasi dan bukti penyelewengan mereka melupakan Tuhan. Memang bangsa ISrael benar-benar keterlaluan. Tuhan sendiri yang memimpin mereka keluar dari perbudakan di Mesir, memberi tiang awan dan tiang api dalam perjalanan mereka, membelah laut Teberau, memberi manna dari langit dan sebagainya. Mereka mengalami berbagai mukjizat silih berganti, meski mereka selalu bersungut-sungut dan terus mengeluh selama perjalanan mereka menuju tanah terjanji. Dan Tuhan pun masih bersabar dengan memberikan peringatan yang amat tegas ini. Taatkah Israel? Israel yang tegar tengkuk ternyata memang benar-benar melupakan Tuhan yang telah begitu baik kepada mereka. "Gunung batu yang memperanakkan engkau, telah kaulalaikan, dan telah kaulupakan Allah yang melahirkan engkau." (Ulangan 32:18). Di ayat sebelumnya kita melihat apa yang diperbuat Israel. "Lalu menjadi gemuklah Yesyurun (Israel), dan menendang ke belakang, --bertambah gemuk engkau, gendut dan tambun--dan ia meninggalkan Allah yang telah menjadikan dia, ia memandang rendah gunung batu keselamatannya. Mereka membangkitkan cemburu-Nya dengan allah asing, mereka menimbulkan sakit hati-Nya dengan dewa kekejian. mereka mempersembahkan korban kepada roh-roh jahat yang bukan Allah, kepada allah yang tidak mereka kenal, allah baru yang belum lama timbul, yang kepadanya nenek moyangmu tidak gentar." (ay 15-17). Dalam Hakim-Hakim dikatakan demikian: "Orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, mereka melupakan TUHAN, Allah mereka, dan beribadah kepada para Baal dan para Asyera." (Hakim Hakim 3:7). Kurang apa lagi kebaikan Tuhan kepada mereka? Tapi ternyata segala berkat dan perlindungan Tuhan itu malah membuat mereka lupa diri. Bukannya semakin taat pada Tuhan, tapi mereka malah terlena dan membuat segala sesuatu yang merupakan kekejian di mata Tuhan.

Pesan ini berlaku juga bagi kita. Mungkin pada suatu masa dulu kita pernah hidup susah, melarat dan dibelenggu banyak masalah. Namun ketika kini semuanya telah dipulihkan, ketika kini kita menjadi orang yang berhasil dan serba cukup, kita diingatkan dengan tegas agar tidak melupakan Tuhan, yang telah menyediakan segalanya itu bagi kita. Apalagi jika kita sampai meninggalkanNya dan memilih jalan yang salah untuk kemudian menjadi murtad. Adalah penting bagi kita semua untuk mengingat bahwa kita tidaklah ada apa-apanya tanpa Tuhan. Belajarlah untuk senantiasa mengucap syukur, baik ketika kita berada dalam fase "padang gurun" , atau ketika kita sedang menapak naik mengalami berbagai berkat Tuhan dalam kelimpahan. Kita harus terus mengingat bahwa segala-galanya berasal dari Tuhan. Ketika anda saat ini tengah hidup baik tanpa masalah, bersyukurlah kepada Tuhan. Daud pun mengajak kita untuk selalu mengingatkan jiwa kita untuk terus memuji Tuhan. "Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!" (Mazmur 103:2). Jangan pernah lupakan Tuhan dan melawan perintah serta ketetapanNya, karena semua itu bukanlah karena hasil kerja keras kita sendiri saja, melainkan berasal dari Tuhan yang begitu baik.

Ketika hidup bagai laut tenang, ingatlah pada Tuhan yang memberikan, dan bersyukurlah

Monday, June 1, 2009

Padang Gurun

Ayat bacaan: Markus 1:12
=====================
"Segera sesudah itu Roh memimpin Dia ke padang gurun."

padang gurun, pencobaanTidak ada orang yang ingin hidup menderita. Rasanya tidak ada orang yang berdoa meminta agar dirinya jatuh ke dalam berbagai masalah. Tapi dari pengalaman hidup saya, saya melihat arti penting dari hadirnya masalah yang membuat kita menderita. Maksud saya begini. Jika kita tidak pernah sakit, kita tidak akan bisa menghargai pentingnya menjaga kesehatan secara utuh. Justru karena kita tahu bagaimana rasanya sakitlah, maka kita akan tahu bagaimana bersyukur dan menghargai ketika kita berada dalam kondisi sehat. Kita tidak akan pernah menghargai sebuah kesuksesan jika kita tidak pernah gagal. Lewat kegagalan demi kegagalan, kita akan tahu bagaimana indahnya sebuah kesuksesan. Kita minum air setiap hari, rasanya hal itu biasa saja, tapi kita akan jauh lebih menikmati air ketika kita sempat berada dalam kehausan. Intinya, kita akan tahu bagaimana nikmatnya "seteguk air di oase", ketika kita sudah merasakan "perihnya sengatan matahari di padang gurun".

Ada kalanya Tuhan mengijinkan anak-anakNya untuk masuk ke dalam padang gurun, sebuah tempat yang jauh dari kenyamanan. Bayangkan diri anda berada sendirian di tengah padang gurun yang amat panas. Pasir yang begitu menyiksa ketika anda berjalan di atasnya. Berada di padang gurun membutuhkan kerja keras dan perjuangan yang lebih dari biasanya, dan pasti sangat melelahkan. Berjalan di padang gurun berarti kita dihadapkan pada tantangan, situasi yang sulit dan mungkin juga kegagalan. Sebuah situasi dimana kita akan tahu bahwa kekuatan dan kepintaran kita tidak lagi berarti. Di saat seperti itulah kita seharusnya mulai sadar bahwa satu-satunya cara untuk selamat adalah dengan bergantung sepenuhnya pada Tuhan. Begitu banyak tokoh-tokoh Alkitab yang harus mengalami masa-masa padang gurun terlebih dahulu sebelum mereka dipakai secara luar biasa. Yusuf, Abraham, Musa, Daniel, Daud, Paulus dan murid-murid  Yesus lainnya, bahkan Yesus sendiri, seperti ayat bacaan hari ini, pernah melewati masa kelam melewati padang gurun untuk sebuah proses. Orang Israel juga harus melewati padang gurun selama 40 tahun sekeluarnya mereka dari Mesir untuk memasuki tanah terjanji, tanah Kanaan. Untuk apa sebenarnya Tuhan mengijinkan kita, anak-anakNya untuk masuk ke dalam padang gurun? Apakah karena Tuhan ingin menyiksa anak-anakNya? Tentu tidak. Tuhan mengijinkan kita terdampar di padang gurun dengan tujuan agar kita menjadi kuat, teruji dan berkualitas. Tuhan tidak ingin kita menjadi orang-orang yang penuh kesombongan. Tuhan tidak ingin kita memiliki sikap hati yang salah. Tuhan tidak ingin kita terlena, menjadi manja dan lemah. Ketika Tuhan mengijinkan kita masuk ke dalam padang gurun, disana kita ditempa untuk memiliki otot-otot rohani yang kuat dan belajar untuk berpegang teguh pada Tuhan, belajar bahwa kehebatan kita tidaklah ada apa-apanya, dan nanti ketika kita keluar dari padang gurun, kita akan jauh lebih bisa menghargai kehidupan dan sang Pemilik kehidupan.

Tuhan berpesan demikian: "Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak. Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN." (Ulangan 8:2-3). Tanpa melewati berbagai ujian di padang gurun, kita akan menjadi orang-orang Kristen yang lemah. Mudah sombong, cepat menjadi lemah dan manja, karena iman kita belumlah teruji, karena kita belum merasakan bagaimana yang namanya penderitaan. Adalah sangat penting bagi setiap kita untuk dilatih memiliki iman yang teguh, tahu untuk mengandalkan Tuhan dalam setiap kehidupan kita lewat berbagai pengalaman di padang gurun. Jika saya ibaratkan padang gurun sebagai sebuah ujian, maka lulus atau tidak dari padang gurun tergantung dari bagaimana kita menyikapinya. Apakah kita tegar dan taat untuk belajar dari segala penderitaan dan bisa benar-benar menghargai "tanah terjanji" yang disediakan Tuhan di depan, atau kita memilih untuk menyerah dan "kembali ke Mesir", yang berbicara mengenai kembali kepada dosa-dosa lama kita. Apakah kita memilih untuk belajar bergantung pada Tuhan saja, atau kita malah memilih tawaran-tawaran instan yang penuh tipu daya iblis lewat penyembahan berhala atau okultisme. Semua ini penting untuk disikapi, karena lewat padang gurun inilah Tuhan ingin menguji bagaimana isi hati dan sikap kita sebenarnya.

Tidak mudah, tidak menyenangkan, menyakitkan, itu semua akan dirasakan ketika kita berada di padang gurun. Tapi ingatlah bahwa kita tidak akan pernah dibiarkan Tuhan menghadapinya sendirian. Tuhan berjanji bahwa dalam masa padang gurun sekalipun, Dia akan selalu menjaga kita layaknya biji mataNya sendiri! "Didapati-Nya dia di suatu negeri, di padang gurun, di tengah-tengah ketandusan dan auman padang belantara. Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya." (Ulangan 32:10). Seperti halnya Yesus yang tetap dilayani oleh para Malaikat ketika dibawa oleh Roh ke dalam padang gurun (Markus 1:13), demikian pula perjalanan anak-anakNya yang takut akan Dia di dalam kesesakan. Lihat apa kata Daud: "Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka." (Mazmur 24:8). Yakobus mengingatkan kita juga mengenai akhir indah dari sebuah perjalanan di padang gurun yang penuh pencobaan. "Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia." (Yakobus 1:12). Oleh sebab itu janganlah menyerah, jangan putus asa, dan jagalah diri anda agar jangan malah terjatuh ke dalam kesesatan ketika berada di padang gurun. Itu adalah sebuah proses menuju kepada kedewasaan rohani, yang menyiapkan kita untuk tidak lupa diri ketika kita mengalami keberhasilan dan berkat-berkat dari Tuhan. Jadikan saat-saat di padang gurun sebagai sebuah pengalaman berharga, sehingga seteguk air yang anda minum setelahnya akan terasa jauh lebih nikmat dan penuh dengan ucapan syukur.

Proses padang gurun adalah sebuah proses pendewasaan rohani agar kita menjadi umatNya yang layak